Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LIMA
"Ini kunci motor kamu. Makasih" ucap Bio.
Arun langsung menghentikan kegiatannya mengelap meja di cafe tersebut lalu melihat ke arah Bio. "Sama-sama pak" balas Arun sambil memasukan kunci tersebut ke dalam kantong apron miliknya.
Arun kembali melanjutkan kegiatannya, tapi berbeda dengan Bio yang masih setia berdiri.
"Ehm, sebagai ucapan terima kasih saya lagi" ujar Bio penuh penekanan, membuat Arun melihat Bio kembali. "Bensin kamu saya isi full" lanjut Bio.
"Eh! Gak usah pak. Biar saya aja, hari ini jadwal saya isi bensin" ucap Arun.
"Udah saya isi! Lain kali kalo isi bensin jangan sesuai jadwal, kamu cek aja karna bensin motor bakal cepet abis kalo kamu sering pake motornya. Kamu kira bensin unlimited!" balas Bio dengan nada bicara sedikit tinggi.
Arun mengerutkan dahinya, "Kok bapak marah-marah, kan saya gak nyuruh buat bapak isi bensin motor saya!" ujar Arun yang mulai tersulut emosi.
"Saya itu cuman kasih tau kamu, kalo kemaren malem kamu yang kehabisan bensin gimana? Untung saya yang bawa motor kamu" ujar Bio lalu meninggalkan Arun.
Arun tidak ingin membuat hari ini menjadi hari terburuknya. Arun lebih memilih melanjutkan pekerjaannya. Namun baru beberapa menit, Arun melihat sepasang sepatu tepat didepannya saat ini.
"Apalagi sih pak?!!" tanya Arun dengan nada ketus.
"Arun?" ucap Akbar, "Kamu baik-baik aja kan?" tanya Akbar dengan nada khawatir.
Arun menggigit bibirnya dengan ekspresi kagetnya, "Eh, Akbar. Gue kira pak Bio" ujar Arun.
"Kamu berantem sama pak Bio?" tanya Akbar.
"Enggak"
"Kenapa kamu ngomongnya ngegas?"
"Enggak, biasa aja"
"Kenapa pulang duluan?"
"Ha? Oh iya helm gue di lo kan?" tanya Arun saat mengerti arah pembicaraan Akbar.
"Kamu pulang naik apa?" tanya Akbar tanpa menjawab pertanyaan Arun.
"Ish, gue tanya juga, Malah gak dijawab!" ujar Arun.
"Emangnya pertanyaan awal aku, kamu jawab juga?" ucap Akbar dengan santai.
Arun menghela napas sambil merapikan apron miliknya yang sedikit kusut, "Gue ada urusan tadi makanya pulang duluan dan gue naik ojol makanya helm gue titip in lo. Kasian soalnya mamangnya bawa helm kalo gak dipake, terkesan gak menghargai" jelas Arun.
"Kenapa kamu gak bilang ke aku dulu? Terus aku telpon in juga gak diangkat" ujar Akbar.
"Gue buru-buru, makanya gak sempet kasih tau lo sama angkat telpon lo itu" balas Arun.
Arun melirik kearah Akbar yang sepertinya siap melayangkan pertanyaan kembali, "Udah ah Bar! Kerjaan gue belum kelar nih, nanti gue di marahin pak Bio lagi. Gue ke depan dulu, okee" ucap Arun lalu pergi meninggalkan Akbar.
Arun memang bukan tipe orang yang membuat suatu masalah menjadi sulit. Menurut Arun masalah akan semakin rumit saat orang lain ikut terlibat didalamnya.
"AKBAR??" panggil Dimas dari arah pintu menuju belakang cafe.
Akbar menoleh lalu berjalan menghampiri Dimas, "Iya bang, kenapa?" tanya Akbar.
"Bantuin gue ya di belakang, soalnya si Erik lagi beresin didepan" ujar Dimas.
"Oke bang" ucap Akbar sambil menganggukkan kepala.
Dimas merangkul bahu Akbar sambil berjalan menuju belakang cafe. Hari ini cafe kedatangan barang, jadi mereka harus mengeceknya agar tidak ada kesalahan.
Arun melempar lap yang ada ditangannya ke atas meja yang akan dia bersihkan, "Kenapa sih dia peduli?" ucap Arun dengan nada kesal.
"Kamu udah gak niat kerja?" tanya Bio dari arah belakang.
Kemunculan Bio yang tiba-tiba membuat Arun kaget dan langsung meraih lap yang dia lempar, "Pak! B--buat kaget aja!" ucap Arun.
"Kenapa kamu masih diem aja? Itu bersihin meja sama kursinya, jangan sampe pelanggan liat meja kotor itu. Bisa-bisa kabur dia!" ujar Bio lalu pergi meninggalkan Arun.
"Iya pak" balas Arun sambil mengelap meja tersebut.
Beberapa orang mulai keluar masuk cafe. Ada yang sedang sibuk mengerjakan tugas, mengobrol atau hanya sekedar menikmati secangkir kopi.
Keadaan hati seseorang tidak ada yang tahu. Biasanya suasana hati yang kurang baik, sebagian orang mengatasinya dengan sekedar duduk dan menikmati minuman atau makanan favorit mereka.
"ARUN!!" teriak seseorang.
Arun dengan mata membulat melihat ke arah Tia, yang sudah berdiri didepannya dengan wajah kesal, menahan marah.
"Tia?!! Sumpah ya mulut lo!" tegur Arun sambil melihat sekeliling karena beberapa pengunjung melihat ke arah mereka.
Tia mengikuti arah pandangan mata Arun, "Lagian lo juga sih! Gue mau pesen minum malah ngelamun" ujar Tia.
"Kan bisa lo manggil gue pelan-pelan! Gak perlu teriak!" ucap Arun.
"Gue manggil lo udah lebih dari tiga kali ya, Run" ujar Tia. "Lagian kenapa sih lo ngelamun? Ada masalah?" tanya Tia lagi.
Arun menggelengkan kepalanya, "Sorry kalo gitu. Gue gak papa, lo mau pesen apa?" tanya Arun.
Tia memutar bola matanya malas, "Gue nanya sampe mulut berbusa juga, lo bakal tetep bilang gak papa!" gumam Tia.
"Lo ngomong apa? Gue gak denger" ujar Arun.
"Americano satu" ujar Tia.
"Udah? Itu doang?" tanya Arun.
Tia menganggukkan kepalanya, sambil sesekali kepalanya melihat ke arah kanan dan kiri serta memperhatikan sekeliling cafe tersebut.
"Udah sana! Nanti gue anterin pesenan lo. Ada yang mau pesen tuh" ujar Arun sambil menunjuk orang yang sedang berdiri tepat di belakang Tia saat ini.
Tia menoleh ke arah belakang sambil tersenyum, "Oh, okee gue tunggu. Byee" ucap Tia lalu pergi.
Sedangkan di tempat lain Dimas dan Akbar sedang menyusun beberapa barang pada tempatnya.
Brukk
Kardus terakhir sudah tepat tersusun di atas kardus lainnya.
"Akhirnya kelar juga" ucap Dimas sambil menepuk-nepuk telapak tangannya.
Akbar hanya tersenyum sambil menatap sekelilingnya. "Bar?" panggil Dimas.
"Iya bang" sahut Akbar sambil melihat ke arah Dimas.
"Menurut lo Arun orangnya gimana?" tanya Dimas.
"Hah?" Akbar terkejut mendengar pertanyaan Dimas, "Oh, Arun baik kok bang. Bang Dimas kan juga udah lama kenal Arun, memangnya kenapa bang?" tanya balik Akbar.
"Gak, gak papa. Gue cuma pengen tau menurut lo aja" ujar Dimas sambil menepuk bahu Akbar pelan. "Udah, ke depan yuk. Kasian Erik sama Arun" lanjut Dimas lalu pergi meninggalkan Akbar.
Akbar masih diam sambil melihat punggung Dimas yang perlahan menghilang.
Kemudian Akbar menghela napasnya pelan, lalu melangkah meninggalkan tempat tersebut untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Bar?" panggil Arun dari arah kasir cafe.
Akbar menghampiri Arun, "Ehm, kenapa An?" tanya Akbar.
Mendengar nama panggilan itu, Arun hanya terdiam sambil memandang Akbar.
"L--lo ngapain manggil gue An, sih!" ucap Arun dengan gugup.
"Emang kenapa? Itukan nama panggilan waktu pertama kita ketemu dulu" ucap Akbar.
"Iya gue tau! Tapi kan lo udah lama gak pernah manggil gue pake nama itu. Gue jadi kayak aneh aja gitu dengernya" jelas Arun.
An, memang nama panggilan yang Akbar buat khusus untuk Arun. Saat pertama kali mereka bertemu, Akbar merasa kesulitan saat memanggil Arun. An, dibuat berdasarkan huruf depan dan belakang Arun.
Tidak ada arti khusus didalamnya, tapi panggilan tersebut istimewa bagi Arun karena hanya Akbar yang memanggilnya dengan sebutan 'An'.
"Itu punya siapa?" tanya Akbar sambil menunjuk gelas berisi cofee didepan Arun.
Arun menepuk keningnya, "Astaga, gue lupa! Gue tadi mau minta tolong lo jaga disini, soalnya ini pesenan Tia belum gue anterin!" ujar Arun.
"Udah sana cepetan kamu anterin biar aku yang disini. Kasian dia teh nungguin dari tadi" sahut Akbar.
Arun menganggukan kepala sambil membawa gelas tersebut menuju tempat duduk Tia.
Saat Arun tiba, Tia sudah menatapnya dengan horor. "Sorry, tadi nunggu ada yang gantiin di kasir" ucap Arun sambil meletakkan gelas di depan Tia.
"Bukan temen aja, udah gue complain!" balas Tia.
Arun hanya tersenyum cangghng lalu menarik kursi untuk duduk, "Eh, bos lo mana?" tanya Tia.
"Katanya lo gak mau complain! sekarang nanyain bos gue, temen apaan!" keluh Arun dengan nada kesal.
"Heh! Gue nanyain bukan mau complain kali! Gue bermaksud untuk .." ucapan Tia terpotong.
"Oh, tau gue! Lo kesini dalam rangka modus kan?! Bukan mau nemuin gue?" ucap Arun.
Tia tersenyum manis, "Iya lah gila aja! Ngapain nemuin lo, tiap hari aja ketemu di kampus!" ujar Tia.
Arun hanya terdiam dengan ekspresi tidak habis pikir memiliki teman modelan Tia.
Tiba-tiba suara hp Arun berbunyi dan terdapat panggilan disana. Arun menggeser layar untuk menjawab panggilan tersebut, saat hp menempel pada kuping Arun, dia langsung berdiri dan berusaha melepas apron yang sedang dikenakan.
"Eh, Run? Lo kenapa sih?!" tanya Tia saat melihat Arun tergesa-gesa melepas apronnya.
Arun melihat ke segala arah mencari seseorang, "Pak?!!" teriak Arun saat melihat Bio yang tengah berdiri di tempat kasir.
"Kenapa?" tanya Bio santai.
"Saya izin pulang" ucap Arun.
Bio terdiam sambil menunduk, "Gak bisa. Saya perhatiin dari tadi kerjaan kamu gak bener, lempar lap lah, duduk-duduk lah terus sekarang mau pulang! Kamu kira cafe ini punya kakek moyang kamu?!" ucap Bio tegas.
Arun mengerutkan keningnya dan tidak mengerti maksud dari bosnya tersebut. Tiba-tiba Arun meletakkan apron miliknya di meja kasir.
"Pak ini penting, jadi saya harus pulang" jelas Arun.
"Terus sekarang pekerjaan kamu ini gak penting, gitu?" ucap Bio.
"Terserah bapak mau anggap saya apa, tapi sekarang ini saya harus pulang" ujar Arun sambil membalikkan badan nya untuk pergi.
"Kalo kamu pergi, kamu saya pecat" ucap Bio.
"Pak?" ujar Akbar yang sedari tadi hanya diam.
Arun kembali memutar badannya menghadap Bio. Arun menganggukan kepalanya, "Oke, saya setuju!" ucap Arun lalu berlari pergi keluar dari cafe.
Akbar yang melihat kejadian tersebut langsung mengejar Arun. Saat berada di pintu cafe, Akbar melihat Tia yang sedang berdiri sambil melihat Arun yang pergi dengan tergesa-gesa.
"Arun?!!" panggilan Tia tidak dihiraukan Arun.
"Tia, Arun kenapa?" tanya Akbar.
"Gue juga gak tau! Dia tadi dapet telpon terus pergi gitu aja" ucap Tia panik sedangkan Akbar hanya menghela napas kasar sambil melihat ke arah Bio yang masih berdiri disana.
Tbc.