NovelToon NovelToon
The CEO'S Private Doctor

The CEO'S Private Doctor

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:20.9k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

​"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."

​Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.

​Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Aroma Penghianatan

Selasa sore membawa angin kencang yang menghantam dinding kaca penthouse Pradipta Tower dengan suara berderit samar. Di luar, langit Jakarta tertutup awan mendung abu-abu yang pekat, seolah mengimbangi atmosfer di dalam ruangan yang kembali ditarik menuju titik ketegangan klinis.

Sesuai kesepakatan mereka di ambang jendela kemarin, hari ini adalah waktu bagi volume lima belas persen.

Ayana telah bersiap dengan posisinya. Ia duduk di atas karpet bulu, papan jalan terjepit di antara lututnya, sementara pulpen gel hitamnya mengetuk-ngetuk pelan permukaan kertas laporan medis. Di seberangnya, Arkananta duduk di tepi sofa dengan tubuh tegap yang tampak lebih rileks dibanding kemarin pagi—setidaknya secara visual. Namun, Ayana tahu, kestabilan luar seorang CEO adalah topeng paling menipu di dunia.

"Sesi ketiga, tingkat paparan lima belas persen," ujar Ayana, menatap lurus ke dalam manik mata elang Arka. "Pak Arka, aturan mainnya masih sama. Jangan memejamkan mata. Jika memorinya mulai menarik Anda kembali ke masa lalu, gunakan saya sebagai jangkar Anda. Pahami bahwa suara yang akan Anda dengar hanyalah gelombang audio digital, bukan kenyataan."

Arka mengangguk sekali, rahangnya mengetat samar. "Mulai, Ayana. Saya tidak punya waktu untuk mengkhawatirkan hal kecil seperti ini."

Ayana menggeser indikator volume di layar ponselnya. KLIK.

Wiuuu... wiuuu... wiuuu...

Frekuensi suara sirine itu melengking lebih nyata, memotong sunyinya ruangan dengan intensitas yang mulai mengintimidasi. Volume lima belas persen tidak lagi terdengar seperti kendaraan yang lewat di bawah gedung; suara itu kini memiliki bobot kedekatan spasial yang membuat ilusi seolah-olah mobil darurat tersebut berada tepat di depan lobi Pradipta Tower.

DEG!

Detak jantung Arka seketika melonjak. Ayana bisa melihat bagaimana pupil mata pria itu melebar dalam hitungan detik. Tangan kekar Arka yang berada di atas lutut langsung mengepal kuat, cengkeramannya begitu intens hingga guratan urat-urat darah di punggung tangannya menyembul kasar. Keringat dingin mulai merembes, membasahi dahi dan garis rahang tegapnya.

"Tetap di sini, Arka," suara Ayana mengalun tegas, menyusup di antara raungan sirine. Ia memajukan tubuhnya, meraih kedua pergelangan tangan Arka, mencoba menyalurkan kehangatan taktil untuk menahan kesadaran pria itu agar tidak hanyut. "Lihat saya. Sebutkan nama saya."

Arka mengatur napasnya dengan susah payah, dadanya naik-turun dalam ritme yang pendek dan cepat. "A... Ayana..."

"Bagus. Sebutkan di mana Anda berada sekarang."

"Pradipta Tower... lantai... lima puluh," jawab Arka, suaranya bergetar hebat. Di dalam kepalanya, badai memori itu sedang mengamuk. Suara sirine lima belas persen ini mulai merobek dinding pertahanan psikologisnya, memunculkan potongan gambar kabur tentang asap, pecahan kaca, dan bau bensin yang terbakar. Namun, genggaman tangan Ayana di pergelangan tangannya terasa seperti tali tambat yang menahannya agar tidak terseret ke dalam jurang kegelapan tersebut.

"Pertahankan fokus itu. Anda aman bersama saya," bisik Ayana lembut, menatap lekat-lekat mata Arka yang mulai memerah menahan tekanan mental yang masif.

Satu menit. Dua menit. Tiga menit.

Ketika alarm audio akhirnya mati secara otomatis, Arka tidak langsung melepaskan ketegangannya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan bahu yang merosot lelah. Cengkeramannya pada tangan Ayana melonggar perlahan, meninggalkan bekas kemerahan di kulit lembut sang dokter.

"Maaf..." gumam Arka serak, menatap pergelangan tangan Ayana yang memerah akibat ulah fisiknya yang impulsif. "Saya menyakitimu lagi."

Ayana tersenyum tipis, mengibaskan tangannya dengan santai seolah hal itu bukan masalah besar. "Ini hanya bekas kemerahan ringan, Pak Bos. Tidak sebanding dengan kemajuan syaraf Anda. Hari ini, Anda tidak mengalami hiperventilasi ekstrem seperti kemarin pagi. Otak Anda mulai terbiasa memisahkan antara stimulus suara dan memori visual masa lalu. Ini adalah kemenangan kecil yang sangat berarti."

Arka menatap Ayana dengan tatapan yang mendalam, ada rasa hangat yang tak terucap yang terpancar dari sana. Namun, sebelum momen keheningan yang intim itu bisa berlanjut, suara ketukan pintu yang tergesa-gesa memecah kedamaian mereka.

TOK! TOK! TOK!

"Pak Arka! Dokter Ayana! Tolong buka pintunya!"

Itu suara Karina. Nada suaranya tidak lagi terdengar cemas seperti biasanya; kali ini, ada kepanikan yang teramat nyata dan ketakutan yang mendalam di dalam seruannya.

Arka berdiri dengan cepat, mode CEO-nya seketika aktif kembali dalam sekejap mata. Ia melangkah lebar menuju pintu, lalu membukanya dengan sentakan keras. "Ada apa, Karina? Kenapa kamu berteriak di koridor privat?"

Karina berdiri di ambang pintu dengan napas terengah-engah, wajahnya sepucat kain kafan, dan tangannya gemetar hebat saat menyodorkan sebuah tablet digital ke hadapan Arka.

"Pak... ini... ini gawat. Seseorang baru saja meretas portal berita bisnis utama dan mengunggah sebuah artikel investigasi anonim," lapor Karina dengan suara yang bergetar. "Artikel itu... artikel itu berisi tentang riwayat medis rahasia Anda, Pak. Mereka menyebutkan bahwa Anda menderita gangguan jiwa akut dan sedang menjalani terapi rahasia di dalam penthouse oleh seorang dokter pribadi yang tidak kompeten."

DEB!

Jantung Ayana seolah berhenti berdetak mendengar laporan tersebut. Ia langsung berdiri dari karpet, melangkah cepat mendekati Arka untuk ikut membaca layar tablet tersebut.

Di sana, di halaman utama sebuah portal berita finansial yang memiliki reputasi tinggi, terpampang sebuah judul besar dengan huruf cetak tebal yang teramat provokatif:

> "Krisis Kepemimpinan di Pradipta Group: CEO Arkananta Pradipta Diduga Alami Gangguan Mental Akut, Terapi Rahasia Berlangsung di Penthouse!"

Di dalam artikel tersebut tertulis detail yang teramat spesifik tentang kecelakaan belasan tahun lalu, penggunaan obat penenang dari Swiss, hingga keterlibatan Dokter Ayana Sheenaz sebagai dokter pribadi baru yang dituduh melakukan metode terapi eksperimental berbahaya tanpa persetujuan dewan komisaris. Bahkan, di bagian bawah artikel, terdapat sebuah foto buram yang diambil dari jarak jauh—menampilkan siluet Ayana yang sedang memegang wajah Arka di dekat jendela ruang kerja kemarin sore.

"Ini... ini tidak mungkin," bisik Ayana, matanya melebar menatap foto tersebut. "Foto ini diambil dari gedung seberang menggunakan lensa telefoto tingkat tinggi. Seseorang telah mengintai kita sejak kemarin."

Rahang Arka mengetat hingga urat-urat di lehernya menyembul kasar. Sepasang mata elangnya memancarkan kilat amarah yang begitu masif, sanggup membuat siapa pun yang melihatnya langsung berlutut ketakutan. Atmosfer di dalam penthouse seketika berubah menjadi sedingin es di kutub.

"Tante Elena..." desis Arka, suaranya terdengar sangat rendah dan berat, bergetar penuh dengan amarah yang tertahan. "Dia benar-benar menggunakan cara kotor ini untuk menjatuhkan saya."

"Pak Arka, efeknya sudah mulai terasa di pasar saham," lanjut Karina dengan air mata yang mulai mengenang di sudut matanya. "Hanya dalam waktu lima belas menit sejak artikel ini naik... harga saham Pradipta Group di bursa efek langsung merosot tajam sebesar empat koma dua persen. Para investor panik. Pihak humas perusahaan kebanjiran telepon dari jurnalis, dan... dewan komisaris baru saja mengirimkan undangan rapat darurat besok pagi jam sembilan."

Karina melirik ke arah Ayana dengan pandangan bersalah. "Dan... mereka secara khusus meminta Dokter Ayana untuk hadir untuk menghadapi tuntutan pelanggaran kode etik dan konspirasi medis."

Ayana merasakan tubuhnya mendadak dingin. Ini bukan lagi sekadar pertempuran internal keluarga; ini adalah upaya pembunuhan karakter secara sistematis yang dirancang untuk menghancurkan karier medismu sekaligus meruntuhkan kekuasaan Arka dalam satu pukulan telak. Taruhan kontrak tiga bulan dari Hermawan Pradipta kini mendadak bergeser menjadi hitungan jam yang kritis.

Namun, di tengah kepanikan yang mulai merayap di dalam ruangan itu, Arka mendadak membalikkan tubuhnya. Ia menatap Ayana dengan pandangan mata yang tidak lagi dipenuhi oleh amarah, melainkan oleh sebuah ketenangan protektif yang teramat kuat.

Pria itu melangkah mendekat, lalu mencengkeram kedua bahu Ayana dengan mantap. "Jangan takut, Ayana. Ingat apa yang saya katakan kemarin sore di ruang kerja saya? Kamu sudah menjadi perisai saya. Maka sekarang... giliran saya yang akan menjadi pedang yang menghancurkan mereka."

Arka menoleh ke arah Karina, suaranya keluar dalam nada komando militer yang mutlak. "Karina, hubungi tim hukum utama di Singapura sekarang juga. Suruh mereka siapkan tuntutan pencemaran nama baik dan pelanggaran privasi dengan nilai nominal tertinggi dalam sejarah hukum negara ini. Dan satu lagi... jadwalkan konferensi pers resmi tepat satu jam setelah rapat dewan komisaris besok pagi."

Arka kembali menatap Ayana, seulas senyuman sinis yang penuh dengan kepercayaan diri seorang penguasa sejati terukir di wajah tampannya. "Tante Elena ingin bermain dengan api di media massa, Dokter Ayana. Maka besok pagi... saya akan memastikan dia sendiri yang akan terbakar habis oleh apinya. Bersiaplah... babak pertempuran kita yang sesungguhnya baru saja dimulai."

Bersambung.

1
yeyen Hondro
Ceritanya bagus banget.....👍👍👍
neyrfly: makasi ya kakk😍
total 1 replies
Alissia
awas lo arka nanti kamu jatuh cinta sama doktet aya🤭🤭🤣🤣
Wardah Wilda
wuuiihh..Thor..kata2 nya bagus banget ..sangat presisi .akurat..tanpa membuat bingung...alur nya jelas..👍👍
good job Thor..up yg banyak LG ya Thor...👍👍🙂🙂👏👏
Hennyy exo
wah makin banyak musuhnya ayana
Hennyy exo
wow arka aku padamu😍
Hennyy exo
ingin sekali ku tampar bibi elena 🤣
Hennyy exo
wow alurnya makin menarik

btw terima kasih thor upnya🤭
Susilawati Susilawati
up lagi thor
neyrfly: syiapp🫡
total 1 replies
Wardah Wilda
up nya yg banyak dong thor..biar semangat baca nya... please...🙏🙏
neyrfly: siap kakk🫡
total 1 replies
Hennyy exo
thor pliss up yg banyak ya🤭
💪💪
neyrfly: siap kakk🫡
total 1 replies
Hennyy exo
suka banget sama alur ceritanya😍
neyrfly: makasih kakk😍🙏
total 1 replies
Hennyy exo
ahh suka banget sama alurnya thor
Hennyy exo
awas ya Arka nanti kamu jatuh cinta loh sama dokter aya🤣🤣
Hennyy exo
awal yg bagus thor
Wardah Wilda
awas ya Thor..klau up nya lama..🤭🤭🤭
neyrfly: siap kakk😍🤭
total 1 replies
Sri Rahayu
baru baca seru cerita na
neyrfly: makasi kakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!