"Meja bundar.. apa itu??"
"Meja yang jadi mitos kelam warga sini. Katanya, kalau sampai ada pendatang yang masuk ke sini dan hilang, udah pasti nggak akan balik, mereka semua pasti mati."
"Siapa kakek sebenarnya??"
"Kakek bukan orang biasa, dia.."
Kara, seorang gadis berusia tujuh belas tahun, terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke desa terpencil bersama ayahnya. Desa itu sunyi, tertutup, dan dipenuhi tatapan curiga dari warga yang enggan berbicara tentang masa lalu. Di rumah peninggalan kakeknya, Kara menemukan sebuah meja bundar tua yang tergeletak di ruang bawah tanah berukuran pas untuk delapan orang, dengan ukiran aneh di setiap sisinya yang seolah menyimpan rahasia terpendam.
Bisakah Kara mengungkap apa sebenar nya meja bundar itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.21. Cari bantuan.
Dan keesokan harinya, Kara di temani Putri untuk pergi ke rumah ki Brojo yang Putri bicarakan.. Itu adalah kali pertama Kara keluar jauh di desa itu setelah di kali pertama dia yang malah mendapat julukan "Setan" Oleh ibu - ibu yang Kara temui hari itu.
Kara baru tahu bahwa desa itu sebenar nya cukup luas, hanya saja jalanan nya masih berupa jalanan setapak jika masuk kedalam gang - gang.. dan rumah - rumah di sana memang masih sangat asri karena kebanyakan masih menggunakan rumah tradisional yang di bangun menggunakan kayu dan bergenting ijuk sebagai material utama nya.
"Pagi, bu.." Sapa Kara pada salah satu ibu - ibu yang memang sedang melakukan aktivitas di depan rumah nya, dan di balas dengan senyuman oleh ibu itu.
Tapi meski di balas dengan senyuman, sedetik kemudian senyuman di wajah ibu itu pun memudar dan di ganti dengan tatapan penuh tanya dan curiga.. karena mereka baru melihat Kara di sana dan meyakini bahwa Kara adalah seorang pendatang.
"Teteh nggak usah nyapa - nyapa, teh.. semakin teteh nyapa, mereka makin ngeh ada teteh di sini." Ucap Putri, Kara pun tertegun..
"Lho, kenapa? Kan bagian dari silaturahmi." Ucap Kara yang tidak mengerti apapun.
"Teteh tau kan ada yang aneh di rumah kakek nya teteh? Orang - orang di sini semua nya benci sama kakek nya teteh, termasuk ke keturunan nya." Ucap Putri, barulah Kara akhir nya mengerti.. mungkin karena hal itulah dia di sebut "Setan" oleh ibu - ibu beberapa hari lalu.
Jika mengingat rekam jejak kakek nya Kara yang di ceritakan oleh ayah Putri pun memang tidak mengherankan jika semua warga membenci kakek nya Kara, jika ada akibat.. pasti ada sebab nya.
"Pemandangan nya bagus banget." Gumam Kara setelah menuruni beberapa jalan setapak dan menemukan ada pemandangan pegunungan yang begitu indah.
"Kalo sore lebih bagus lagi, teh.. bisa lihat matahari terbenam." Ucap Putri, Kara terkesima.. tapi dia jadi sedih mengingat kedua teman nya malah hilang sebelum mereka sempat pergi kemanapun.
"Masih jauh, Put?" Tanya Kara, Putri kemudian menunjuk ada satu rumah yang di bangun di paling dasar dan sendirian, Rumah yang juga masih menggunakan rumah tradisional yang di beberapa bagian dinding kayu nya yang di cat warna biru tosca.
"Rumah nya yang itu, teh." Ujar Putri dan Kara pun manggut - manggut.
Mereka melanjutkan perjalanan dan tak lama kemudian mereka pun sampai di depan rumah ki Brojo yang Putri maksudkan, Kara diam di depan halaman rumah sementara Putri yang menghampiri seorang nenek - nenek yang terlihat sudah sangat tua dengan rambut nya yang memutih keseluruhan.
Kara tidak tahu apa yang Putri katakan pada nenek itu, Putri menggunakan bahasa daerah sana dan nenek itu kemudian tampak menoleh menatap Kara. Kara yang di tatap pun akhir nya tersenyum sambil sedikit membungkuk tanda dia menyapa dan menghormati nenek - nenek itu. Tapi tidak tahu kenapa.. lagi - dan lagi, nenek itu juga seperti warga yang lain nya.. menatap Kara dengan tatapan penuh curiga.
"Tulung atuh, nyai.."
Itu yang Kara dengar dari apa yang Putri ucapkan pada nenek itu. Kara juga melihat nenek itu sepertinya menolak dari ekspresi nya, bahkan Putri di dorong pelan agar pergi, Putri di usir. Melihat itu.. akhir nya Kara sendiri yang maju ke sana dan berdiri di depan nenek itu.
"Assalamualaikum, nyai.. Saya Kara." Ucap Kara memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangan nya hendak salim.
"Nggak usah kamu salim - salim sama saya, dah kamu mah keturunan setan!" Ucap nya, meski memang beda cara penyampaian bicara tapi Kara tau intinya.
"Nyai.. nggak apa - apa nyai mau bilang saya apa, tapi saya nggak ada kaitan nya sama apa yang kakek saya lakukan dulu. Saya kesini mau minta tolong sama ki Brojo, buat nyari kedua temen saya yang hilang, nyai." Ucap Kara, dia sampai berkaca - kaca.
"Saya nggak tau tentang masalalu kakek saya, saya bahkan baru tahu kalo saya punya kakek di sini." Ucap Kara lagi, nenek itu menatap Kara dari atas sampai bawah.
"Nyai, dia teh nggak ada sangkut paut nya sama masalalu kakek nya.. tolong atuh nyai, temen nya teh hilang.. kasian kan kalo sampe jadi korban." Ucap Putri, ikut bicara.
"Saya nggak peduli!" Ucap nenek itu, dan kemudian pergi masuk ke rumah nya, sampai di kunci dari dalam.
Kara yang melihat itu akhir nya ambruk di tanah, dia menutup wajah nya dan menangis di sana. Dia tidak menyangka dampak dari apa yang di lakukan kakek nya di masalalu bisa begitu ber efek padanya, padahal dia sama sekali tidak tahu menahu tentang apa yang di lakukan kakek nya dulu.
"Gimana ini, Put.. hiks! hiks!" Kara menangis sesenggukan.
"Putri juga bingung, teh.. satu - satu nya yang bisa bantu cuma ki Brojo aja." Ucap Putri, Kara pun makin frustasi.
Sementara itu di dalam rumah ki Brojo, nenek tadi masih mengintip Kara yang menangis dari jendela rumah nya sambil memegangi dada nya dengan tatapan khawatir. Lalu tak lama datang kakek - kakek tua yang rambut nya juga sudah memutih berjalan bungkuk dan menghampiri nenek itu.
"Naon (kenapa)?" Tanya nya pada si nenek. Si nenek hanya menunjuk keluar jendela dimana Kara sedang menangis sesenggukan di tanah.
"Keturunan nya setan jagal!" Ucap nenek it, wajah si kakek itu tampak terkejut.
Kara di luar masih menangis, dia tidak menangis karena pandangan orang - orang di sana yang menatap nya dengan tatapan sinis dan penuh curiga, tapi dia menangis karena dia mengkhawatirkan kondisi kedua teman nya.. Usi dan Caca yang sudah hilang sejak kemarin.
Putri sendiri juga kebingungan, karena jika sesepuh desa saja tidak mau turun tangan membantu.. sudah bisa di pastikan yang lain pun tidak akan membantu. Tapi setelah beberapa saat Kara menangis kebingungan, ternyata terdengar pintu rumah sesepuh desa itu yang kembali terbuka, dan kali ini yang keluar bukan lagi nenek yang sebelum nya melainkan kakek - kakek..
"Aki Brojo.." Putri langsung berjalan menghampiri kakek itu dan kemudian bersalim tangan, ya kakek - kakek tadi adalah ki Brojo yang Kara dan Putri cari.
Kara juga buru - buru bangun saat melihat pintu rumah itu akhir nya terbuka, Kara langsung bersimpuh di depan kakek itu yang masih berdiri sambil memegang lintingan tembakau di tangan nya, dan berkata..
"Aki, tolong saya.. kedua teman saya hilang. Tolong saya, ki.. saya mohon, mereka nggak bersalah." Ucap Kara, sambil menangis.
BERSAMBUNG!