NovelToon NovelToon
Legacy Of Soryu: In The Name Of Love And Blood

Legacy Of Soryu: In The Name Of Love And Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno / Balas Dendam
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: AzhuraAstra

Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.

Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.

Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.

Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.

Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.

Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

𖣂|Bab 27 Davian Diculik|

...|Legacy of Soryu|...

......· · ─ ·𖥸· ─ · ·......

Tiga hari setelah kunjungan singkat yang berakhir dengan ketegangan di depan kediaman keluarga Adama, suasana di markas tersembunyi Shu Hades di Jakarta Barat terasa sangat dingin. Shu berdiri di depan sebuah meja panjang yang dipenuhi dengan monitor dan lembaran kertas hasil investigasi.

Di sampingnya, Andrew—seorang asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Shu dalam urusan informasi.

"Aku punya kabar tentang Bara Soryu," ujar Andrew tanpa basa-basi.

Shu menoleh, matanya menatap Andrew dengan penuh minat. "Katakan."

"Bara Soryu adalah benteng yang sulit ditembus, Tuan muda. Pengawalannya cukup ketat, dan dia jarang sekali berada di tempat yang tidak aman. Tapi," Andrew menjeda kalimatnya, memberikan penekanan pada kata terakhir, "dia punya satu titik lemah yang sangat menarik.Yaitu seseorang yang selalu ada di sampingnya."

"Siapa?"

"Asisten pribadinya, Davian. Anak itu sudah bersama Bara sejak lama. Dia bukan sekadar karyawan, dia adalah tangan kanan sekaligus orang paling dekat dengan Bara. Namun, ada satu hal yang unik dari asistennya ini."

Andrew memperlihatkan sebuah foto Davian yang diambil dari kejauhan. "Dilihat dari pembawaannya, dia tampak... yah, sedikit gemulai. Penampilannya rapi, memakai kacamata bulat, dan gerak-geriknya sangat jauh dari kesan orang-orang Soryu yang biasanya garang. Dia kelihatan seperti target yang sangat mudah untuk diincar."

Shu menatap foto Davian lama, sebuah senyum tipis yang sarat akan niat buruk muncul di bibirnya. "Jadi, Bara Soryu yang sedingin es itu punya asisten seperti ini? Menarik. Kita bisa memanfaatkan orang ini untuk memaksa Bara keluar dari zona nyamannya."

"Apakah sulit mencari tahu jadwal asisten itu?" tanya Shu kemudian.

"Tidak sulit," jawab Andrew mantap. "Aku sudah memantaunya selama tiga hari terakhir. Setiap malam, dia selalu pulang sendirian melewati jalan utama menuju apartemennya di Jakarta Selatan. Dia tipe orang yang cukup rutin dan bisa diprediksi."

Shu mengangguk, otaknya mulai menyusun rencana. "Bagus. Aku tidak mau membuang waktu. Kita akan menjemputnya malam ini. Tapi aku tidak mau ada kekerasan di awal. Kita gunakan cara yang halus."

"Maksudmu?"

"Suruh anak buahmu menyamar di jalanan yang biasa dia lewati. Jadikan motor atau mobil yang mogok sebagai umpan. Davian ini sepertinya tipe orang yang terlalu baik hati untuk mengabaikan orang yang butuh bantuan. Manfaatkan itu."

"Akan segera aku laksanakan, Tuan muda Shu," jawab Andrew patuh.

...***...

Disisi lain, Bara Soryu berdiri mematung di depan jendela kaca ruang kerjanya. Di luar, langit Jakarta perlahan meredup, digantikan oleh kerlip lampu gedung yang mulai mendominasi pemandangan.

Suara pintu yang terbuka perlahan memecah keheningan. Davian melangkah masuk dengan langkah ragu.

"Wakadanna," panggil Davian pelan. "Ini sudah setengah enam. Anda sudah berdiri di sana sejak siang tadi."

Bara tidak bergeming. "Aku tahu."

Davian mendekat, meletakkan tabletnya di atas meja kerja. "Sebaiknya Anda pulang. Besok jadwal rapat dengan investor dimulai sejak pagi buta. Tubuh Anda butuh istirahat, bukan sekadar kopi dan lamunan."

Bara mengembuskan napas panjang, akhirnya memutar tubuhnya. "Belum ada laporan dari tim pemantau?"

"Nihil, Wakadanna," jawab Davian dengan nada menyesal. "Rumah itu tertutup rapat. Tidak ada aktivitas keluar-masuk yang mencurigakan. Mereka seperti sengaja mengisolasi diri."

Bara terdiam, matanya menatap tajam ke arah Davian. "Jangan berhenti mencari, Davian. Gunakan cara apa pun."

"Saya mengerti. Saya akan kembali ke apartemen sekarang untuk merapikan beberapa berkas yang tersisa," ujar Davian. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu. Ia memegang dadanya sejenak, wajahnya tampak gelisah.

Bara mengangkat alisnya. "Ada apa? Kau sakit?"

Davian menoleh, dahinya berkerut. "Entahlah, Wakadanna. Tiba-tiba saja perasaan saya tidak enak. Rasanya seperti ada sesuatu yang mengganjal di sini." kata Davian menunjuk dadanya.

Bara menarik napas pendek, lalu sebuah seringai tipis muncul di wajahnya yang kaku.

"Mungkin itu hanya efek samping karena kau terlalu banyak menonton drama China sampai larut malam. Jantungmu mungkin saja mulai protes."

"Ini serius, Wakadanna! Ini bukan soal drama!" seru Davian, sedikit tersinggung. "Insting saya biasanya jarang meleset. Saya merasa... seperti sedang diawasi."

Bara terkekeh rendah, suara yang jarang sekali terdengar. "Diawasi siapa? Hantu di kantor ini? Atau kau takut dikejar oleh tagihan kartu kreditmu sendiri, hmm..?"

"Wakadanna! Anda tega sekali meledek saya di saat seperti ini," gerutu Davian sambil membetulkan kacamatanya.

"Pulanglah, Davian. Perasaan tidak enak itu hanya karena kau butuh tidur," kata Bara sembari mengambil kunci mobil di meja. "Aku akan membawa mobil sendiri. Kau tidak perlu khawatir."

Davian menghela napas panjang, menyerah. "Baiklah. Tapi jika terjadi sesuatu, tolong hubungi saya segera."

"Pergilah. Jangan sampai insting konyolmu itu membuatmu menabrak tiang listrik di jalan."

Davian keluar dengan wajah cemberut, sementara Bara kembali menatap jendela. Meskipun ia baru saja meledek asistennya, ada bagian dari dirinya yang mulai merasakan hal yang sama. Sesuatu yang besar sedang bergerak di balik kegelapan Jakarta, dan ia tahu, ketenangan ini tidak akan bertahan lama.

...-Jalan Raya Menuju Apartemen Davian-...

...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...

Davian menghela napas panjang sembari membetulkan letak kacamatanya. Hari ini terasa sangat berat baginya. Sejak kejadian di rumah Nana, Bara Soryu berubah menjadi sosok yang jauh lebih pendiam dan sulit di prediksi.

Sebagai asistennya, Davian bisa merasakan beban rasa bersalah yang dipendam majikannya, meskipun Bara tidak pernah mengatakannya secara langsung.

"Duh, mendingan tadi aku langsung pulang aja ya... Perasaanku kok nggak enak begini," gumam Davian pada dirinya sendiri.

Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pikirannya melayang pada drama China yang rencananya akan ia tonton malam ini untuk melepas penat. Namun, konsentrasinya terpecah saat ia melihat seorang pria berdiri di pinggir jalan yang mulai sepi, di sampingnya ada sebuah motor matic yang tampak berasap.

Pria itu terlihat kebingungan, mencoba mendorong motornya namun tampak kesulitan.

Davian memperlambat kendaraannya. "Aduh, kasihan banget itu Masnya. Mana jalanan mulai sepi lagi," gumamnya. Sisi kemanusiaan Davian yang tinggi mulai bergejolak.

"Berhenti jangan ya? Tapi kalau nggak ditolong takutnya orangnya kenapa-kenapa, kalo kenapa-kenapa aku juga yang dosa!"

Akhirnya, Davian menepikan mobilnya. Ia menurunkan kaca jendela.

"Permisi, Mas. Motornya mogok?" tanya Davian sopan.

Pria itu, yang sebenarnya adalah anak buah Andrew yang menyamar, menoleh dengan wajah yang dibuat seolah sangat kelelahan.

"Iya, Mas. Tiba-tiba mati total. Saya sudah dorong jauh, tapi bengkel masih jauh di depan."

Davian turun dari mobil. "Mau saya bantu dorong sampai bengkel terdekat? Kebetulan saya searah."

"Beneran, Mas? Aduh, saya nggak enak merepotkan Masnya yang kelihatannya orang kantoran sibuk," ujar pria itu dengan akting yang sempurna.

"Enggak apa-apa, Mas. Santai aja sama saya mah," jawab Davian sambil mulai memosisikan dirinya di belakang motor.

Mereka mulai mendorong motor tersebut. Davian berceloteh pelan, mencoba mencairkan suasana dengan gaya bicaranya yang sedikit cerewet. Namun, saat mereka sampai di area yang lebih gelap dan tertutup pepohonan besar, pria itu tiba-tiba saja berhenti.

"Kenapa berhenti, Mas?" tanya Davian bingung.

Tiba-tiba, sebuah van putih meluncur cepat dari arah belakang dan berhenti tepat di samping mereka. Pintu samping terbuka dengan sentakan kasar.

"Eh! Ini ada apa?!" pekik Davian.

Dua pria bertubuh besar dengan penutup wajah melompat keluar. Sebelum Davian sempat berteriak lebih keras, sebuah tangan besar membekap mulutnya.

"Mmph!! Mmph!!" Davian meronta, kakinya menendang-nendang ke arah udara, namun kekuatannya tidak sebanding dengan dua pria itu.

"Diam atau aku patahkan lehermu!" ancam salah satu pria itu.

Davian langsung lemas. Tubuhnya langsung dilemparkan ke dalam van layaknya karung beras. Pintu tertutup rapat, dan van itu melesat pergi meninggalkan jalanan yang kembali sunyi.

1
Alia Chans
Hadir Thor
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉
AzhuraAstra: Terimakasih 🫡
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!