NovelToon NovelToon
SANG UTUSAN

SANG UTUSAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:937
Nilai: 5
Nama Author: Alenda

Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malu

Sepasang mata yang mengawasi Wira itu ternyata adalah Arisuta. Sengaja dia hanya memberi surat, karena tidak ingin pemuda itu enggan meninggalkannya jika dirinya bicara secara langsung. Selain itu, Arisuta juga merasa pemuda itu harus mencari kehidupannya sendiri, kehidupan sebagai pangeran di kerajaan Sanggawana.

"Yang Mulia, tidak lama lagi cucumu akan berada di sampingmu. Hamba harap Yang Mulia mau menerimanya dengan tangan terbuka. Bagaimanapun juga, Wira adalah pewaris tahta kerajaan Sanggawana yang sah. Dan dia pantas untuk mendapatkannya," gumam Arisuta dalam hati.

Lelaki tua itu melompat turun dari atas pohon setelah memastikan Wira sudah berjalan jauh. Pikirannya benar-benar berkecamuk luar biasa. Ditinggalkan pemuda itu membuat batinnya begitu tersiksa. Karena baginya, Wira sudah seperti cucunya sendiri.

Setelah memasuki gapura desa, Wira berhenti di sebuah tempat makan yang ada di ujung desa. Beberapa pengunjung langsung menundukkan kepalanya begitu pemuda tersebut memasuki tempat makan kecil itu.

Suara riuh pembicaraan yang tadinya terdengar, langsung terasa hening. Tidak ada satu suara pun yang terlontar di bibir mereka. Semuanya takut jika Wira masih menyimpan dendam kepada mereka, yang dulu seringkali menghinanya.

Kemampuan pemuda itu yang bisa mengalahkan Subarda, sudah membuat mereka semua hanyut dalam rasa takut.

Melihat kejanggalan yang terjadi, Wira kemudian membuka suara dan menyapa semua pengunjung tempat makan itu. "Kenapa kalian semua diam? Apa aku seperti hantu yang begitu menakutkan buat kalian? Masa ada hantu keluar di siang hari dan memiliki wajah setampan aku ini?" berondongnya sambil tersenyum lebar.

Tidak ada satupun dari pengunjung tempat makan itu yang berani menyahuti pertanyaan Wira. semuanya tetap diam dan tak bersuara sedikitpun meski Wira bertanya sambil tersenyum. Mereka takut jika senyuman itu hanyalah sebuah pancingan semata yang berujung kepada kematian mereka.

Pada akhirnya, ada seorang pengunjung lelaki setengah baya yang memberanikan untuk mendekati Wira. Dengan kepala tertunduk, lelaki itu berdiri di depan pemuda tampan itu.

"Wira, aku minta maaf jika telah berbuat salah kepadamu dan orang tuamu. Sungguh aku tidak tahu jika dalang dari kejadian yang mengakibatkan kedua orang tuamu sampai meninggal adalah Pratama dan Subadra."

Wira tersenyum dan menepuk bahu lelaki itu, "Sudah, Paman. Tolong jangan dibahas lagi. Aku juga tahu kalau kalian sudah terprovokasi oleh Subadra dan Pratama. Dan mereka berdua juga sudah mendapat hukumannya, buka Semoga ke depannya tidak ada lagi kejadian yang sama terjadi di desa ini," jawabnya.

Semua pengunjung yang mendengar jawaban Wira akhirnya bisa bernafas lega. Ketakutan yang mereka rasakan mendadak lenyap seketika. Satu persatu pengunjung akhirnya berdiri dari tempat duduknya dan menyalami Wira sebagai bentuk permintaan maaf.

Setelah menyelesaikan makannya dan hendak membayar, Wira dibuat terkejut dengan yang dilakukan orang-orang di sekitarnya. Semua pengunjung tempat makan itu berebutan untuk membayar apa yang sudah dimakan pemuda tersebut.

"Sudah ... sudah! Biar aku membayarnya sendiri. Aku masih memiliki uang untuk membayar makanan yang telah aku makan," ucap Wira menengahi.

Pemilik tempat makan itu ternyata berpikir lain, dia menggratiskan makanan yang sudah dimakan pemuda tersebut. Hal itu dia lakukan juga sebagai permintaan maafnya kepada Wira karena dulu pernah menghina pemuda tersebut.

"Terima kasih, Bibi." Wira lalu melangkah keluar dari tempat makan dan berjalan menuju rumah Ki Anom.

Sesampainya di depan rumah sosok yang dianggap sesepuh desa, Wira mengetuk pintunya perlahan. Tak lama kemudian pintu tersebutpun terbuka lebar. Terlihatlah Sinta yang berdiri menatapnya tanpa berkedip sama sekali.

"Aku kira kau tidak kembali ke rumah ini?" tanya gadis cantik itu dengan senyum yang mengembang bahagia.

"Tidak mungkin aku mengingkari janjiku untuk kembali ke sini. Apalagi, ada seorang bidadari cantik yang sudah menungguku di rumah ini," sahut Wira cepat. Tanpa sadar jari tangannya memencet hidung mancung gadis cantik tersebut.

Pujian yang dilontarkan Wira kepadanya membuat Sinta seperti terbang ke awang-awang. Pipinya langsung merona merah merasakan kebahagiaan tak terkira.

"Wira, apa kau ingin membuat cucuku ini matang tanpa dipanggang?" tanya Ki Anom yang tiba-tiba saja muncul di belakang Sinta.

"Apa maksudnya, Kek?" tanya Wira keheranan.

"Apa kau tidak melihat pipinya yang merah merona seperti kepiting rebus itu? Jika kau terus memujinya seperti itu, bisa-bisa bukan hanya pipinya yang memerah, tapi seluruh tubuhnya juga." Ki Anom menjawab lalu tertawa. Wira pun tak urung ikut tertawa mendengar jawaban Ki Anom.

"Kakek jangan membuatku malu di depan Wira seperti itu," sahut Sinta manja.

"Kenapa harus malu? Apa kau mau menyimpan rahasia yang ada di hatimu itu sampai mati?"

"Kakeeek!" Sinta semakin malu dengan ucapan kakeknya. Dia langsung berlari dan masuk ke dalam kamarnya.

"Ada sesuatu hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu, Wira. Sebaiknya masuklah dulu ke dalam!"

"Kebetulan aku juga ingin menanyakan sesuatu yang penting kepada Kakek." Pemuda itu melangkahkan kakinya memasuki rumah Ki Anom.

Mereka berdua kemudian duduk berhadapan di ruang tamu rumah sederhana tersebut.

"Sebelum aku meminta sesuatu kepadamu, katakan dulu apa yang hendak kau tanyakan padaku?"

Wira mengangguk, kemudian mengeluarkan kalung milik ibunya, lalu menunjukkannya kepada Ki Anom.

"Aku mau bertanya tentang kedua orang tuaku, Kek. Kata kakek Arisuta, ibuku adalah putri dari raja kerajaan Sanggawana. Tapi kenapa kedua orang tuaku bisa tinggal di desa ini?"

Ki Anom menghela nafas berat sebelum menjawab pertanyaan Wira. "Akhirnya Arisuta membuka tentang jati dirimu, Wira. Memang benar kau adalah anak dari seorang putri raja. Dengan kata lain, kau adalah cucu dari Raja Dharmawangsa."

Sinta yang mendengarkan percakapan kakeknya dan Wira dari dalam kamar tidak bisa menahan keterkejutannya. Jika benar Wira adalah seorang pangeran, maka harapannya untuk bersanding dengan pemuda itu pupuslah sudah.

Sinta berpikir Wira tentu akan lebih memilih tinggal di istana dan juga akan ketemu jodohnya di istana juga. Apalagi dia juga sudah mendengar jika di kalangan istana banyak dihuni wanita-wanita cantik.

"Mengenai kenapa kedua orang tuamu tinggal di desa ini, aku akan menceritakannya kepadamu," sambung Ki Anom.

Sesepuh desa tersebut kemudian bercerita jika hubungan ayah dan ibunya tidak disetujui oleh Raja Dharmawangsa. Gayatri yang merupakan seorang putri raja, mempunyai hubungan khusus dengan Arga yang hanyalah seorang prajurit kepala di kerajaan Sanggawana. Hal itulah yang mendasari Raja Dharmawangsa untuk tidak menyetujui hubungan putrinya tersebut. Apalagi Raja Dharmawangsa saat itu sudah berpikir untuk menjodohkan Gayatri dengan seorang pangeran dari kerajaan Citraloka.

Karena tidak mendapat persetujuan dari ayahnya, Gayatri akhirnya meminta kepada Arisuta, yang saat itu menjadi guru ilmu kanuragan bagi semua prajurit, untuk melarikan diri dari istana. Dia juga menjelaskan kepada Arisuta tentang hubungannya dengan Arga yang sudah berjalan cukup lama.

Gayatri lebih memilih hidup dengan Arga dan menjadi orang biasa, dari pada di istana yang membuat hidupnya terkekang.

"Seperti itulah ceritanya, Wira. Akhirnya Arisuta membawa mereka ke desa asalnya ini dan menikah di sini juga," pungkas Ki Anom.

Wira berusaha mencerna setiap cerita yang disampaikan Ki Anom. Dalam hati, dia sangat mengagumi kesetiaan ibunya kepada ayahnya, meski harus mengorbankan kehidupannya yang penuh kemewahan.

"Jadi kau seorang pangeran?" tanya Sinta, yang tiba-tiba saja keluar dari kamarnya.

Raut muka gadis cantik itu terlihat cemberut, dan kedua bola matanya yang indah mulai berkaca-kaca, seakan hendak menumpahkan air bening yang akan membasahi pipinya.

 

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Gas🚬🗿
Vina Manis: belum🤣
total 3 replies
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Bagus lagi kalau namanya BAHLILudin 👍🏻☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!