NovelToon NovelToon
KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Tina Martince

Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon

"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."

Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.

Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.

Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.

Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Pria yang Nekat

Warna langit di atas kampung tidak pernah lagi benar-benar bersih. Bagi mereka yang memiliki mata batin atau sekadar kepekaan insting yang tajam, udara di sekitar perimeter rumah Sekar tampak seperti genangan minyak hitam yang pekat di atas air. Statis, berbau anyir tanah, dan menolak berbaur dengan dunia luar. Namun, bagi Sekar, isolasi itu kini terasa semakin absolut sejak Gelang Sangker Bumi menyatu dengan urat nadinya.

Setiap manusia yang mendekat akan bertekuk lutut karena ketakutan. Efek pengasihan dari Sang Kalingga telah menutup seluruh akses bagi Sekar untuk mendapatkan simpati yang tulus. Orang-orang tidak lagi mencintainya, mereka hanya takut dan tunduk pada otoritas siluman yang menguasai tubuhnya.

Namun, di tengah rantai gaib yang nyaris sempurna itu, sebuah anomali muncul.

Nama pemuda itu adalah Bintang. Dia adalah sepupu kandung Dinda yang baru saja menyelesaikan masa pengabdiannya di sebuah padepokan kuno di kaki Gunung Raung. Bintang datang ke kampung itu dua hari lalu setelah menerima pesan teks terakhir dari Dinda yang janggal, disusul kabar bahwa sepupunya itu mendadak jatuh sakit misterius dan kehilangan kemampuan bicaranya secara total setelah mengunjungi rumah Sekar.

Bintang bukanlah seorang dukun sakti dengan sorban mentereng, melainkan seorang pemuda berusia dua puluh empat tahun yang tenang, bermata teduh, dan memiliki kedalaman spiritual yang terlatih dari laku tirakat yang panjang.

Siang itu, matahari menggantung terik di atas pelataran parkir fakultas, namun bagi Bintang, hawa di sekitar area tersebut terasa seperti es yang membeku. Dia berdiri di bawah naungan pohon beringin tua dekat kantin kampus, sepasang matanya tidak berkedip menatap sosok Sekar yang baru saja keluar dari gedung kuliah.

Di mata mahasiswa lain, Sekar adalah sosok gadis cantik yang luar biasa anggun dengan kulit seputih porselen, memancarkan wibawa yang membuat mereka otomatis menunduk segan. Namun, di dalam pandangan batin Bintang, pemandangan itu adalah visualisasi neraka yang berjalan.

Bintang menahan napas, jemarinya perlahan memutar butiran tasbih kayu gaharu di dalam saku celananya dengan tempo yang cepat.

Di atas pundak Sekar, menggelayut sebuah pusaran kabut hitam yang teramat tebal dan pekat. Kabut itu tidak diam; ia bergerak dinamis, membentuk siluet seekor ular raksasa bermata emas menyala seukuran cawan yang melingkari seluruh tubuh Sekar dari tengkuk hingga ke kaki. Setiap kali ada manusia yang berniat menatap atau mendekati Sekar, moncong kabut ular itu akan mendesis ghaib, memancarkan gelombang intimidasi magis yang langsung meremukkan mental ego manusia biasa.

"Laa hawla wa laa quwwata illa billah..." bisik Bintang, bibirnya kering. Dia bisa merasakan dadanya sendiri mendadak sesak, seolah-olah ada beban seberat ratusan kilogram yang tiba-tiba menekan paru-parunya dari jarak tiga puluh meter. Aura Kalingga mencoba mengusirnya, memperingatkannya agar tidak mencampuri urusan sang penguasa sendang.

Namun, Bintang tidak bergerak mundur. Berbeda dengan Dimas atau para dosen yang langsung takluk karena ketakutan ego mereka hancur, Bintang memiliki benteng iman yang kokoh. Dia melihat ada sisa-sisa jiwa manusia di dalam pusaran kabut hitam itu—jiwa Sekar yang sedang menangis, meronta di balik jeruji sisik emas yang kian mengunci kesadarannya.

Sekar berjalan menyusuri jalan setapak taman kampus, langkahnya lambat dan dingin. Mahasiswa di kanan-kirinya langsung membelah diri, menunduk kaku seumpama mayat yang dipaksa berdiri.

Saat itulah, Bintang melangkah keluar dari bayangan pohon beringin. Dengan langkah yang teratur, pasti, dan tanpa keraguan sedikit pun, dia berjalan memotong jalur langkah Sekar.

Tindakan nekat Bintang langsung memicu reaksi berantai secara gaib.

Begitu jarak antara Bintang dan Sekar tersisa lima meter, atmosfer di sekitar taman kampus mendadak turun drastis. Angin kencang yang entah datang dari mana berembus memutar, menerbangkan daun-daun kering di atas paving blok. Pusaran kabut hitam di pundak Sekar mendadak bergolak liar. Mata ular ghaib yang menggelayuti tubuh gadis itu menyala merah darah, memancarkan gelombang energi penolak yang teramat masif.

Sreeet... sssss...

Sebuah suara desisan kolektif yang teramat nyaring berdengung langsung di dalam telinga Bintang, membuat gendang telinganya seakan mau pecah. Kepala Bintang mendadak pening luar biasa, seolah ada ribuan jarum gaib yang ditusukkan ke pangkal otaknya. Hidungnya mendadak mencium bau anyir darah bercampur bunga sedap malam yang memuakkan—sebuah serangan metafisik instan yang dikirimkan oleh Gelang Sangker Bumi untuk merubuhkan pertahanannya.

Langkah Bintang sempat terhenti. Tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin sebesar biji jagung langsung membasahi dahinya. Namun, pemuda itu segera menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, menggunakan rasa sakit fisik itu untuk mempertahankan kesadarannya. Bibirnya terus merapal ayat-ayat penjaga dengan kecepatan penuh.

Sekar menghentikan langkahnya. Pupil matanya yang berbentuk silet vertikal menyusut tajam saat menatap pria asing yang berani berdiri menghalangi jalannya. Selama beberapa hari terakhir, tidak ada satu pun manusia yang sanggup berdiri tegak di hadapannya dalam radius tiga meter. Namun pria di depannya ini, meskipun wajahnya pucat pasi dan tubuhnya gemetar menahan tekanan gaib, tetap menolak untuk berlutut.

"Pergi..." desis Sekar.

Suara desisan gandanya keluar begitu kuat, bergetar di udara hingga membuat beberapa lembar kaca jendela gedung di dekat mereka bergetar halus. "Jangan mendekat... atau kamu akan hancur."

Bintang memejamkan matanya sejenak, menata debar jantungnya yang berdentang liar seumpama dipukul gada besi. Dia tahu, jika dia lengah satu detik saja, energi hitam yang memancar dari gelang di tangan Sekar bisa memutuskan urat saraf otaknya secara ghaib.

"Mbak Sekar..." Bintang membuka mata, menatap langsung ke dalam sepasang mata ular milik Sekar dengan pandangan yang penuh rasa iba, sama sekali tidak ada ketakutan atau ketundukan di sana. "Saya Bintang, sepupu Dinda. Saya datang bukan untuk memusuhi Mbak. Saya datang karena Dinda... dan karena saya tahu, jiwa Mbak sedang menjerit meminta pertolongan di dalam sana."

Mendengar nama Dinda disebut, pergelangan tangan kiri Sekar mendadak berdenyut sangat kencang. Gelang Sangker Bumi itu mendadak menghangat, menghantarkan rasa sakit yang membakar di sepanjang lengannya sebagai bentuk kemurkaan Kalingga. Siluman itu tidak menyukai ada manusia yang mencoba menyentuh kesadaran manusianya.

Sekar mengerang pelan, memegangi pergelangan tangan kirinya yang tertutup kemeja. "Pergi! Aku bilang pergi!" jerit Sekar, suaranya kini terdengar semakin monster, dipenuhi distorsi energi yang membuat mahasiswa di sekitar taman mulai berlarian ketakutan.

Bintang tidak mundur. Dia justru mengambil satu langkah maju yang berani. Dari dalam tas ranselnya, dia mengeluarkan sebotol kecil air bening yang telah didoakan melalui riyadhoh ayat-ayat syifa dan pembakar sihir selama berhari-hari di pesantrennya.

"Minum ini, Mbak! Demi keselamatan jiwamu!" teriak Bintang sembari menyodorkan botol tersebut tepat di depan wajah Sekar.

Melihat botol air doa itu mendekat, kabut ular hitam di atas pundak Sekar mendadak meliuk ganas. Udara di sekitar mereka berdua mendadak memancarkan suara letupan ghaib yang nyaring—seperti minyak panas yang disiram air—saat dua energi yang saling bertolak belakang itu bertabrakan di udara terbuka.

Botol kaca kecil berisi air doa di tangan Bintang berguncang hebat, bukan hanya karena jemarinya yang bergetar menahan gelombang intimidasi, melainkan karena air di dalamnya mendadak bergolak ganjil. Gelembung-gelembung udara muncul dari dasar botol, memanas secara instan di bawah kepungan hawa pekat yang memancar dari tubuh Sekar.

"Minum ini, Mbak Sekar! Kembalikan kesadaran manusiamu!" teriak Bintang lagi, suaranya membelah keheningan taman yang telah ditinggalkan lari oleh mahasiswa lainnya.

"Menjauh... argghh!" Sekar mengerang parau.

Di balik pakaiannya, Gelang Sangker Bumi mendadak memanas seumpama besi yang baru saja diangkat dari tungku pembakaran. Rasa panas itu membakar kulit sisik emas di pergelangan tangannya, mengalirkan rasa sakit yang membuat seluruh sendi di tubuh Sekar terasa lumpuh. Kalingga di dalam dimensi ghaibnya sedang mengamuk; dia tidak sudi wadah pengantinnya disentuh oleh berkah kesucian.

Namun, batin manusia Sekar yang terdalam—yang selama ini terkunci dalam kehampaan—mendadak bergetar saat mendengar nama Dinda. Secuil kewarasannya yang tersisa mengenali ketulusan di mata Bintang. Di tengah dunia yang mendadak tunduk karena ketakutan, pemuda ini adalah satu-satunya manusia yang menatapnya dengan rasa iba, bukan sebagai monster yang menjijikkan.

Dengan sisa kekuatan manusianya yang nyaris habis, Sekar tidak menyerang Bintang. Dia justru mengulurkan tangan kanannya yang gemetar, menyentuh botol kaca tersebut.

Cessss!

Begitu ujung jari Sekar menyentuh permukaan botol, suara letupan ghaib yang teramat nyaring terdengar di udara. Asap putih tipis berbau belerang dan cendana busuk mengepul keluar dari sela-sela jari mereka. Bintang merasakan telapak tangannya seperti menyentuh sebongkah es batu yang diambil dari dasar neraka, membekukan aliran darahnya hingga ke siku.

"B-Bismillah..." Bintang memaksakan jarinya untuk membuka tutup botol, lalu dengan nekat mengarahkan cairan itu ke bibir Sekar.

Beberapa tetes air doa berhasil masuk ke dalam tenggorokan Sekar.

Efeknya instan dan mengerikan.

Sekar terbelalak. Tubuhnya mendadak kaku seumpama papan seiring raungan ghaib yang meluncur dari dalam dadanya. Raungan itu bukan lagi suara manusia, melainkan desisan ganda yang masif, berat, dan bergaung kuat hingga meretakkan pot-pot bunga di sekitar taman kampus. Air doa yang masuk ke dalam tubuhnya bereaksi keras melawan racun pengasihan Kalingga. Sekar memuntahkan cairan kental berwarna hitam pekat yang berbau anyir bangkai ular di atas paving blok.

Bersamaan dengan itu, kabut hitam berbentuk ular raksasa di pundak Sekar melesat ganas. Siluet kepala naga ghaib dengan sepasang mata emas menyala langsung menerjang dada Bintang.

Bhaam!

Bintang terpental ke belakang sejauh dua meter. Tubuhnya menghantam batang pohon beringin dengan keras sebelum akhirnya tersungkur di atas paving blok. Tasbih kayu gaharu di dalam saku celananya mendadak putus; butiran-butirannya berhamburan di atas tanah, menghitam seolah-olah baru saja terpanggang api ghaib yang tak kasat mata.

Bintang terbatuk, darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Dada dan rusuknya terasa remuk, dihantam oleh ekor energi yang luar biasa kuat. Pandangannya mendadak buram, namun di sisa kesadarannya, dia melihat pusaran hitam di sekitar Sekar sempat menipis selama beberapa detik.

Mata ular Sekar perlahan memudar, kembali menampilkan sepasang pupil mata manusia yang jernih, dipenuhi oleh rasa takut dan air mata yang berlinang.

"B-Bintang... lari..." bisik Sekar dengan suara aslinya yang rapuh, tanpa ada distorsi desisan ganda. "Jangan ke rumahku... dia... dia akan membunuhmu..."

Namun, kelonggaran itu hanya bertahan sekejap.

Klik.

Gelang Sangker Bumi di pergelangan tangan kiri Sekar berdenyut sekali lagi dengan kekuatan yang jauh lebih tirani. Aliran energi hitam yang baru, lebih pekat dan lebih dingin dari sebelumnya, langsung menyembur keluar dari ukiran naga purba tersebut, membanjiri kembali seluruh pembuluh darah Sekar.

Dalam hitungan detik, sepasang pupil mata Sekar kembali menyusut menjadi silet vertikal yang dingin dan mati. Rona manusia di wajahnya lenyap, digantikan kembali oleh kecantikan porselen yang kaku dan dominan. Aura pengasihan itu kembali mengunci kesadarannya dengan paksa, menghapus sisa-sisa pemberontakan batin yang baru saja dipicu oleh air doa Bintang.

Sekar berdiri tegak kembali, menatap Bintang yang terkapar di bawah pohon beringin dengan pandangan yang sepenuhnya kosong seolah-olah dia sedang melihat seonggok daging tak bernyawa.

"Manusia bodoh," sebuah suara bariton yang teramat halus namun dingin bergema langsung di dalam kepala Bintang, bukan dari mulut Sekar, melainkan transmisi fikiran langsung dari Sang Kalingga. "Kau pikir doamu bisa memutus sumpah darah yang telah mengakar di dalam bumi selama ratusan tahun?"

Udara di sekitar taman mendadak semakin menghimpit paru-paru Bintang, membuatnya nyaris kehilangan kesadaran sepenuhnya. Dari sudut matanya yang kian menggelap, Bintang melihat Sekar berbalik arah dengan keanggunan yang mengerikan. Gadis itu berjalan meninggalkan taman kampus dengan langkah kaki yang teratur, membiarkan Bintang terkapar sendirian dalam kesakitan yang menyiksa.

Bintang mencengkeram tanah dengan jemarinya yang gemetar, berusaha menahan kesadarannya agar tidak runtuh. Sembari menatap punggung Sekar yang kian menjauh, dia tahu bahwa apa yang dihadapi mereka saat ini bukanlah sekadar guna-guna atau kutukan santet biasa. Ini adalah klaim mutlak dari seorang raja penguasa kegelapan bumi, dan waktu Sekar sebagai manusia sudah benar-benar berada di tepi jurang kepunahan.

1
Tina Martince
Halo! Terima kasih banyak sudah membaca Kutukkan Darah Sabtu kliwon dan meluangkan waktu untuk memberikan pesan ini. Senang sekali mendengar kalau kamu menyukainya! Dukungan dari pembaca seperti kamu sangat berarti buat saya. Semoga karya-karya selanjutnya juga bisa menghibur, ya!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!