BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!
Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Pekerjaan Aditya sekarang sebenarnya tidak sulit. Hampir semua orang bisa melakukannya. Setiap pagi, ia datang paling awal ke kantor untuk menyapu lantai yang masih sepi. Setelah itu mengepel ruangan satu per satu sebelum para karyawan datang. Kalau galon air habis, ia yang mengangkat dan menggantinya. Saat jam kerja dimulai, ia sibuk membuat kopi atau teh sesuai pesanan para staf kantor. Kadang belum selesai membereskan pantry, ia sudah dipanggil untuk membersihkan toilet atau membuang sampah.
Pekerjaan sederhana.
Pekerjaan yang dulu bahkan tidak pernah ia bayangkan akan ia jalani.
Dulu, ia terbiasa memberi perintah. Orang-orang yang bekerja di peternakannya selalu bergerak setelah mendengar suaranya. Ia datang memakai pakaian bersih dan sepatu mahal, lalu pulang dengan mobil nyaman berpendingin udara.
Sekarang? Tangannya yang dulu jarang menyentuh pekerjaan kasar mulai kasar terkena cairan pembersih dan sabun. Punggungnya sering pegal karena terlalu banyak mengangkat barang. Bahkan beberapa kali ia dimarahi staf kantor hanya karena telat membuat kopi.
Awalnya, semua itu terasa sangat berat. Bukan karena lelah fisiknya, tetapi karena harga dirinya seperti diinjak sedikit demi sedikit. Ia masih ingat hari pertamanya bekerja. Saat seorang karyawan perempuan meletakkan gelas kopi di mejanya tanpa menoleh sedikit pun sambil berkata, “Mas, tolong dicuci.”
Kalimat sederhana, tetapi entah kenapa saat itu dada Aditya terasa panas. Dulu orang-orang memanggilnya “Pak Adit” dengan penuh hormat.
Sekarang ia dipanggil sambil lalu, bahkan kadang tidak dianggap ada.
Namun, hidup tidak memberinya banyak pilihan. Kalau tidak bekerja, ia tidak makan. Kalau tidak bertahan, siapa yang akan mengirim uang untuk Bu Ratih di kampung? Karena itu, sekeras apa pun rasa malunya, Aditya tetap datang bekerja setiap hari.
Pagi itu, setelah mengunci pintu kontrakan kecilnya, Aditya berjalan menuju halte. Langkahnya pelan sambil sesekali merapikan tas lusuh di bahunya.
Begitu bus datang, ia langsung ikut berdesakan masuk bersama penumpang lain. Tubuhnya berhimpitan dengan banyak orang sampai hampir tidak ada ruang untuk bergerak. Bau keringat bercampur parfum murahan memenuhi udara sempit di dalam kendaraan.
Seorang bapak di sampingnya sibuk mengipas wajah dengan map plastik. Di belakangnya, ada anak kecil menangis minta digendong ibunya.
Aditya memejamkan mata sebentar.
Dulu, sedikit noda di jok mobil saja sudah membuatnya kesal. Ia bahkan sering komplain kalau mobilnya terlambat dicuci. Sekarang ia berdiri sambil berpegangan di besi bus yang lengket oleh tangan banyak orang. Ironis.
“Bang Adit!”
Suara nyaring membuat Aditya membuka mata dan menoleh.
Daniel bersama tiga rekan kerja lainnya berjalan mendekat sambil tertawa-tawa. Wajah mereka terlihat segar meski sama-sama berangkat kerja pagi-pagi.
“Hei,” balas Aditya tipis.
“Nanti malam jadi karaoke, ya!” seru Guntur penuh semangat sambil menepuk bahu Aditya cukup keras. “Aku ulang tahun, nih!”
“Iyaaa!” Daniel langsung menyambut heboh. “Pokoknya malam ini harus pecah!”
Yang lain ikut tertawa dan mulai membahas lagu-lagu yang akan mereka nyanyikan nanti. Aditya hanya tersenyum kecil sambil mendengarkan.
“Bang Adit dulu sering karaoke juga enggak?” tanya Guntur penasaran.
“Lumayan,” jawab Aditya singkat.
Padahal kenyataannya jauh lebih dari sekadar lumayan. Dulu ia sangat sering datang ke tempat karaoke mewah bersama rekan bisnisnya. Room VIP, minuman mahal, meja penuh makanan, lampu remang-remang, dan perempuan cantik yang menemani mereka tertawa semalaman.
Dan hampir di setiap malam itu Lavanya selalu ada di sampingnya. Wanita itu suka menyandarkan kepala di bahunya sambil tertawa genit meminta dibelikan tas atau perhiasan.
Dulu Aditya merasa bangga membawa Lavanya ke mana-mana. Sekarang kalau mengingatnya, dadanya justru terasa sesak..Rahangnya sedikit mengeras.
“Nanti kita sewa Miss LV lagi!” seru Daniel sambil tertawa nakal.
“Wajib!” sahut yang lain heboh.
Aditya hanya diam karena tidak mengerti siapa yang mereka maksud. Ia mengira mungkin itu hanya nama panggilan LC langganan mereka.
Hari kerja terasa lambat sampai akhirnya malam tiba. Sekitar pukul delapan, Guntur datang menjemput Aditya ke kontrakan menggunakan motor tua miliknya.
Begitu Aditya keluar dari pintu kontrakan dengan kemeja hitam sederhana dan celana jeans, Guntur langsung bersiul kagum.
“Wah, Bang, keren banget!”
Aditya hanya tersenyum tipis. “Biasa aja.”
Padahal memang harus diakui, wajah Aditya masih jauh lebih menarik dibanding pria seusianya. Tubuhnya juga masih tegap dan terawat meski hidupnya sekarang berantakan.
“Kalau gue punya muka kayak Bang Adit, tiap hari gue live di medsos kali,” canda Guntur sambil tertawa.
Aditya hanya menggeleng kecil lalu naik ke motor.
Mereka sampai di tempat karaoke yang cukup ramai. Lampu warna-warni menyala terang di depan gedung. Musik berdentum dari dalam sampai terdengar keluar.
Beberapa perempuan berpakaian seksi terlihat keluar masuk sambil tertawa dengan para tamu pria.
“Langsung masuk aja,” kata Guntur sambil menepuk bahu Aditya. “Anak-anak udah booking room.”
Aditya berjalan di belakang sambil membuka ponselnya. Ada pesan masuk dari Bu Ratih.
[Jangan lupa makan, Adit.]
Hanya satu kalimat sederhana. Namun, entah kenapa, pesan itu membuat dada Aditya terasa sedikit sesak. Ibunya pasti sedang sendirian di rumah sekarang. Memikirkan dirinya. Memikirkan uang belanja.
Memikirkan hidup mereka yang berubah total. Aditya belum sempat membalas saat suara Daniel terdengar keras dari dalam room.
“Akhirnya datang juga!”
Daniel duduk sambil merangkul seorang LC berpakaian ketat. Meja di depan mereka sedangkan penuh botol minuman dan camilan.
“Eh! Miss LV keluar tuh!” pekik Guntur heboh sambil menunjuk ke arah pintu masuk.
Semua langsung menoleh antusias. Aditya ikut mengangkat kepala dengan malas.Namun begitu matanya melihat sosok perempuan yang baru masuk tubuhnya langsung membeku. Wajahnya berubah tegang dan matanya terbelalak lebar.
Napas Aditya tertahan begitu saja. Perempuan itu berjalan dengan gaun ketat berwarna merah marun. Rambut panjangnya digerai rapi. Makeup di wajahnya tampak mahal dan mencolok. Dan wajah itu sangat ia kenal.
“Lavanya …?” bisik Adit pelan, nyaris tidak terdengar.
hhmmm lavanya, skrg kamu makin terjerumus