NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Mereka tiba di kediaman Pratama, rumah besar milik Tuan Rahmat yang selama ini hanya Kiara yang mondar-mandir di dalamnya. Ini pertama kalinya Alvar menginjakkan kaki di rumah mertuanya. Padahal niat awalnya, ia ingin menyewa tempat tinggal sendiri selama di Jakarta. Namun, Rahmat menolak keras.

“Kamu tinggal di sini saja,” kata Rahmat waktu itu.

 “Kamu suami Kiara, rumah ini juga rumahmu.”

“Pelan-pelan, Pa,” ujar Alvar kini, menuntun Rahmat masuk dengan hati-hati. Tangannya sigap, penuh perhatian.

Kiara dan Melati menyusul di belakang. Melati memperhatikan pemandangan itu lama, cara Alvar menyesuaikan langkahnya dengan Rahmat, cara ia tak melepas pegangan meski hanya selangkah. Ada sesuatu yang tak bisa ia pungkiri di dadanya.

Di ambang pintu ruang tamu, Melati akhirnya bersuara, nadanya lebih pelan dari biasanya.

“Kamu serius tidak mau mempertahankan pernikahan ini?”

Kiara terdiam, dia tidak langsung menjawab. Melati menarik napas, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lembut.

“Kiara, Mama tahu kamu menikah karena dipaksa. Mama juga tahu kamu masih terluka. Tapi coba … coba belajar ikhlas menerima Alvar.”

Kiara menunduk.

“Kalau Mama lihat-lihat,” lanjut Melati, “Alvar itu anaknya baik. Mama bahkan malu sendiri tadi pagi sudah marah-marah sama dia. Mama yakin, kalau kamu pisah dari dia, belum tentu kamu akan dapat laki-laki setulus Alvar.”

Melati menatap putrinya serius.

“Kamu tahu kan dia dokter? Lulusan terbaik di luar negeri. Dokter obgyn. Harusnya kamu bangga, Kiara. Bangga bisa menikah dengan pria seperti itu.”

Nada Melati kemudian berubah kesal.

“Bukan seperti mantan kamu. Kerja saja dulu masih ngandelin kamu, dan sekarang masih punya muka buat kerja di perusahaan Papa kamu.”

“Ma,” potong Kiara lirih tapi tegas, “aku lagi nggak mau bahas mantan. Dia juga sudah bahagia sama selingkuhannya.”

“Itulah bodohnya kamu,” gerutu Melati.

“Kamu pelihara dua parasit itu. Apa sih yang nggak kita kasih ke Lala? Bisa-bisanya dia nikung milik sahabatnya sendiri.”

Melati lalu menatap Kiara dengan sorot menyelidik.

“Eh, Kiara … kamu serius kerja sama Darius?”

Kiara mengangguk pelan.

“Iya, Ma. Tapi bukan karyawan tetap.”

“Hm,” Melati menyipitkan mata. “Mama perhatikan … sepertinya Darius suka sama kamu.”

Kiara langsung menggeleng.

“Mama kebanyakan mikir. Aku sama Mas Darius cuma teman. Rekan kerja, aku cuma bantu desain proyek barunya.”

Saat itu mereka sudah tiba di ruang tamu. Alvar membantu Rahmat duduk di sofa, lalu mengambilkan bantal kecil untuk menopang punggungnya tanpa diminta, Rahmat tersenyum puas.

Melati menyaksikan semuanya dalam diam.

“Bi, siapkan kamar tamu ya,” pinta Melati pada bibi rumah tangga dengan nada otomatis. Belum sempat bibi menjawab, Tuan Rahmat langsung menyela, suaranya tenang tapi tegas.

“Untuk apa kamar tamu? Alvar itu suami Kiara. Dia bisa tinggal di kamar Kiara.”

“Papa!” Kiara spontan berseru. Semua pasang mata langsung tertuju padanya, Melati, Alvar, bahkan Rahmat sendiri. Kiara tersadar ia terlalu keras bereaksi. Bibirnya mengatup, dadanya naik turun.

“Itu … anu,” ucapnya gugup, lalu mencari alasan cepat.

“Kamarnya masih berantakan. Belum sempat Kiara beresin.”

Padahal bukan itu masalahnya, Rahmat tersenyum tipis.

“Tidak apa-apa. Rumah ini tidak perlu sempurna.”

“Tidak masalah,” sahut Alvar ringan, tanpa ragu.

“Kita bisa bereskan sama-sama.”

Kiara menoleh padanya, tersenyum canggung. Senyum yang hanya formal, karena ia tahu, yang berantakan bukan sekadar kamar.

Isi kamar itu masih penuh kenangan. Rahmat lalu menepuk sandaran sofa pelan.

“Kiara, bawa Alvar ke kamar. Biar dia mandi dulu. Nanti kita makan malam bersama.” Nada suaranya bukan permintaan, lebih seperti keputusan.

Kiara mengangguk pelan.

“Iya, Pa.”

Ia berdiri, lalu menoleh ke Alvar.

“Mas … ayo ikut aku.”

Alvar bangkit tanpa banyak bicara. Saat mereka berjalan berdampingan menuju tangga, jarak di antara mereka terasa aneh, tidak terlalu dekat, tapi juga bukan asing.

Di depan pintu kamar Kiara, langkahnya terhenti sejenak. Tangannya terangkat, ragu sebelum memutar kenop. Alvar memperhatikan dari samping, menangkap kegugupan kecil itu.

“Kalau kamu belum siap—”

Kiara menggeleng cepat.

“Enggak, bukan begitu ... Mas masuk saja.”

Pintu terbuka, kamar itu bersih, rapi tapi terlalu personal.

Begitu Alvar masuk, pandangannya langsung menyapu kamar Kiara yang tertata rapi. Namun, kerapian itu tak mampu menutupi jejak masa lalu. Langkahnya terhenti di depan meja belajar, tepat saat matanya menangkap beberapa bingkai foto, Kiara dan Yoga, tersenyum mesra, begitu nyata seolah waktu belum pernah bergerak.

Dada Alvar mengeras, rasa cemburu menyesak tanpa aba-aba.

Kiara panik.

“Itu … itu belum sempat aku bereskan,” ucapnya cepat.

“Hari aku berangkat ke desa, itu baru hari aku pulang dari Bali.”

Alvar menoleh perlahan, tatapannya tajam.

“Jadi di hari pernikahan kita, kamu masih berduaan dengan pria ini?” Langkah Alvar maju satu kali, Kiara refleks mundur.

“Kamu menghabiskan waktu bersamanya, sementara aku menanggung malu di pernikahan kita,” lanjut Alvar dengan suara tertahan.

 “Apa itu adil, Kiara?”

Kiara gugup, kata-kata menumpuk di tenggorokannya.

“Itu masa lalu—”

Kalimatnya terpotong saat punggungnya menyentuh dinding. Alvar sudah berdiri di hadapannya. Kedua tangan pria itu bertumpu di sisi kepala Kiara, mengurungnya tanpa menyentuh tubuhnya, namun justru itulah yang membuat jantung Kiara berdegup liar.

“Malam itu kamu masih di Bali,” ujar Alvar rendah.

“Aku yakin kalian lebih dari sekadar liburan.”

Tangannya terangkat, menyentuh pipi Kiara. Napas Kiara memburu, ibu jari Alvar bergeser pelan, menyentuh bibir ranum istrinya sekadar sentuhan, tapi cukup membuat tubuh Kiara membeku.

Dia tak pernah melihat Alvar sedekat ini. Tak pernah merasakan tatapan sedingin dan setajam itu, bercampur sesuatu yang jauh lebih berbahaya dan rasa memiliki.

Pria yang biasanya cuek dan dingin itu kini berdiri di hadapannya, protektif, posesif, dan penuh gejolak.

“Jawab aku, Kiara,” suaranya rendah, sedikit serak.

“Di hari aku berdiri sendirian di pelaminan, kamu masih bersama dia?”

Kiara menelan ludah, dadanya naik turun, bukan karena sentuhan Alvar, melainkan karena rasa bersalah yang lama ia pendam.

“Aku … tidak selingkuh,” ucapnya lirih namun tegas.

“Hari itu aku memang baru pulang dari Bali. Tapi itu bukan karena aku ingin menyakitimu.”

“Lalu apa?” tanya Alvar cepat. Matanya tajam, tapi ada retak di sana.

“Apa kamu tahu rasanya berdiri di depan semua orang, menanggung bisik-bisik, sementara istriku masih menyimpan wajah pria lain di kamarnya?”

“Itu masa laluku,” jawab Kiara dengan suara bergetar.

“Dan aku tidak pernah membawanya ke desa. Aku datang ke sana mencoba … mencoba menjadi istrimu.”

Perlahan, Alvar menarik diri, satu langkah mundur.

“Aku cemburu,” akunya akhirnya, jujur.

“Dan aku benci perasaan ini. Tapi lebih dari itu, aku benci membayangkan kamu pernah menangis karena pria lain.”

Kiara menyandarkan punggungnya ke dinding, menghela napas panjang.

“Aku tidak ingin menangis lagi, Mas. Aku lelah.”

Keheningan jatuh di antara mereka, bukan lagi penuh amarah, melainkan ketegangan yang belum selesai.

Alvar menarik Kiara ke dalam pelukannya. Pelukan itu hangat, menenangkan, seolah ingin meredam semua kecemburuan dan amarah yang tadi sempat membara di dadanya. Kiara terpaku sesaat, jantungnya berdetak cepat, belum sempat membalas saat Alvar justru melepas pelukan itu.

Namun, jarak di antara mereka tak benar-benar tercipta. Alvar menunduk, bibirnya menyentuh bibir Kiara. Ciuman itu lembut, penuh kehati-hatian, seolah ia memberi waktu bagi Kiara untuk menolak jika memang tak menginginkannya.

Getaran merambat di dada Kiara. Semua rasa sakit, kecewa, dan marah bercampur menjadi satu. Tanpa sadar, tangannya terangkat, jemarinya mencengkeram pelan jaket Alvar. Ia membalas ciuman itu, pelan, ragu, tapi jujur.

Alvar menarik napas di sela ciuman, dahinya menempel di dahi Kiara.

“Aku cemburu,” bisiknya lirih. “Karena aku peduli. Karena aku ingin kamu … bersamaku, Kiara.”

Kiara memejamkan mata sejenak, sampai terdengar suara ketukan pintu dari luar.

Tok! Tok!

1
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
tapi emang harusnya gini ga sih kan logika nya yg makan adalah konsumen harusnya dikasihin yg sesuai pesanan konsumen kok jd nurutin orang lain tanpa konfirmasi 😌
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
naahhh wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini kagak ada cctv nya di ruangan kerja pribadi? harusnya kalo level manager yg nanganin proyek ada ya slnya buat jaga2 kalo ada kejadian begini hehe
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
orang stress nya ilang satu tumbuh satu lagi 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini jatohnya apa sih? stress? depresi atau apa? tapi aku bingung lho kok bisa orang dengan gangguan kejiwaan gini dia lolos sekolah jd dokter kandungan 🤔 emang selama proses belajar mengajar sampe sumpah dokter ga ada psikotes nya ya? kok bisa ngelolosin orang sakit jiwa 😌
Soleh Sudarna
tuu kaaannn.. beneran gillaa.. sedeng.. sableng.. sinting.. eddaann.. 😠😡😡
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
beneran stress ternyata, slnya patah hati nya sampe ngebunuh orang 😩
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
bukan apa ya tp kayak pantes aja si pradi akhir hidupnya ngenes, si bahrul juga wkwk ternyata makan hasil uang orang 🙂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
inilah kalo siluman ular sm siluman lipan di satukan wkwk tp aku suka keributan ini, pengen tau di antara sesama siluman siapa yg menang 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kaaan wkwk perempuan ini bikin repot, harusnya dr awal gausah segala acara ngeboncengin dan berusaha cari tau dr ini orang, salah strategi kan 🙂
Soleh Sudarna
dr hesti terbangsat.. iblizz gila 😡😡😡
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kok bisa ga kepikiran ngabarin isteri nya, aku ga di kabarin suami ku dia udah sampe kantor apa belum ada tantrum 🙏🙂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
better di bakar sih wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kalo gua mah ga ridho gua tarik kalung nya 🤣😂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kok bisa hamil duluan jd kebanggaan sih wkwk padahal itu top tier aib bikin malu keluarga selain jd gundik/pelakor 😂 slnya di bahas nya sepanjang segala abad sm ibu2 satu kampung 😅
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
buset 10 ga bayar sewa tanah jatohnya gatau diri sih 🙂 bukan apa ya tp takutnya dia aja ga menuhin kewajiban dia, sama aja mencurangi hak orang lain trus gara2 ngasih makan keluarga nya dr cara begini si supradi jd begitu kelakuannya, suka KDRT 😅
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
mungkin aku jahat tp aku ga suka kalo situasi alvar terjadi di kenyataan, niat nya mungkin baik ya belain mantan dr kdrt atau apalah tp kalo bikin berantem sama pasangan kita sekarang aku mending di bilang jahat gapapa deh slnya kelakuan nya si hesti juga begini, niat alvar nolong tp di tanggap nya masih ada rasa jd ya repot sih kataku mending manggil warga aja kalo mau nolongin ramean 🙏🏻
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
penasaran banget sama pencetus mitos ini, pengen nanya slnya dia awalnya mencetuskan ini dr mana 🙏🙂 slnya bingung sm korelasi hamil sm ngelayat, nanti giliran ga ngelayat di omongin juga di bilang suami berduka kok isterinya ga ikut ☺️
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢: aku malah baru tau ada mitos ini kak 😅
total 2 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini buat dokter hesti: wleeeeek 😛😛😛
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ya kata gua juga lu aneh, kenal enggak deket apalagi tp nyeritain kisah cinta dokter (yg mungkin dia tau kiara isteri nya alvar) kayak buat apa coba? 🤷🏻‍♀️ gua kalo jd pasien biasa aja kayak hah lu stress tiba2 ngomong gini, mau itu mantan pacarnya kek mantan isteri nya kek bodo amat 🙏🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!