RAVEN KRISHNAWARDHANA (18 tahun ) adalah putra tunggal dari keluarga pengusaha kaya yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Namun sosoknya yang angkuh, susah diatur, dan sering menghabiskan waktu untuk nongkrong bareng geng motornya.
Membuat kedua orang tua Ravan langsung menyetujui usulan perjodohan yang di usulkan rekan bisnisnya, mereka berharap dengan menikah Raven bisa berubah. Namun bukan Raven namanya jika tak menolaknya mentah-mentah, ia tidak mau terikat perasaan sama wanita manapun, ia hanya ingin menikmati masa mudanya bersama geng motornya.
Sampai suatu hari, ia bertemu Sara, murid baru yang misterius yang baru pindah dari luar negeri.
Gadis itu bernama SAVIRA AURELIA alias Sara 17 tahun. Sara, cantik pintar, ceria tapi misterius. Karena kecantikan alaminya, ia tak jarang jadi rebutan para remaja laki-laki di sekolah barunya dan itu membuat seorang Raven Krishnawardhana terpaksa menarik kata-katanya, karena kini perasaannya yang terjebak dalam pesona murid baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2 Murid baru
Keesokan harinya, Sara sudah berpakaian rapi mengenakan seragam sekolah barunya. Ia berdiri tegak di depan cermin besar, memastikan penampilannya sempurna sebagai murid baru. Seragam putih‑abu yang pas di badan itu membuatnya tampak makin anggun, bersahaja namun memancarkan pesona yang tak terlukiskan.
Setelah puas memastikan segala sesuatunya, ia membuka pintu kamar dan berjalan menuju ruang tamu. Di sana Leon sudah menunggu dengan tenang, mengenakan setelan olahraga rapi lengkap, serta kartu identitas baru yang tergantung di lehernya. Ia kini resmi terdaftar sebagai guru olahraga baru di SMA Bina Bangsa.
“Apakah Nona Sara sudah siap menyambut hari pertamanya di sekolah baru?” sapa Leon dengan nada sopan.
"Siap dong! Oh ya jangan panggil aku Nona terus, panggil Sara aja! Ingat Kak Leon misi kita di sini!"
"Siap Nona... eh maksudnya Sara. Aku mengerti."
"Bagus, kalau gitu kita sarapan dulu biar enggak telat di hari pertama sekolah!"
Keduanya sudah duduk di meja makan yang sebelumnya sudah Leon siapkan.
Tak lama kemudian, mereka berangkat berpisah kendaraan, Leon berangkat dengan mobil lebih dulu menuju sekolah, sementara Sara memilih mengendarai sepeda motor sport berwarna gelap yang telah disiapkan khusus untuknya.
Lima belas menit kemudian, deru mesin yang berat dan berirama halus terdengar bergema di halaman sekolah.
Bruumm!
Sepeda motor itu berhenti dengan mulus tepat di area parkir utama.
Sara gegas mematikan mesin motornya dan menyimpan kuncinya kedalam saku jaket kulitnya lalu membuka helm full facenya dengan gerakan pelan, begitu helm itu terlepas sempurna rambut cokelat tuanya terurai bebas indah membingkai wajah cantik alami yang memukau siapa saja yang memandang.
Tatapan matanya yang tajam namun tenang, dan percaya diri membuat semua siswa yang ada di sekitarnya seketika berhenti bergerak dan terpaku menatapnya dengan penuh kagum.
beberapa siswa yang ada di sekitar seketika mengalihkan pandangan mereka pada sosok murid asing di sekolah mereka.
“Lihat deh… cantik banget gak sih! Chelsea mah kalah jauh sama nih cewek." bisik seorang gadis takjub.
"Iya jir, lihat deh kulitnya bening bangat, terus bodynya juga ideal bangat jir!" tambah yang di sebelahnya.
"Apalah dayaku yang hanya remahan rengginang ini, hu hu hu!" sahut yang lainnya.
Berbagai bisikan kagum dan penasaran terdengar samar-samar di sekitar area parkir, namun Sara berjalan santai seolah tak mendengar apapun, tatapannya lurus ke depan tanpa terganggu.
Saat langkahnya masuk ke koridor sekolah yang ramai, tiba‑tiba seorang pemuda dari arah berlawanan berjalan dengan langkah lebar dan tegas, dikelilingi beberapa teman-temannya yang tampak setia mengikutinya.
Pemuda dengan wajah tampan yang nyaris sempurna itu memancarkan wibawa yang membuat siapa saja secara tidak sadar memberi jalan. Dia adalah Raven Krishnawardhana, pewaris tunggal keluarga Wardana, kapten basket sekaligus ketua motor Geng Phoenix yang di segani seluruh sekolah.
Saat berpapasan, bahu Raven tak sengaja menyenggol tas yang tersampir di bahu Sara hingga melorot jatuh ke lantai. Raven berhenti sejenak, sedikit terkejut, ia hendak menegur namun gadis itu hanya membungkuk tenang mengambil tasnya kembali, lalu menatap sekilas pemuda di hadapannya tanpa kemarahan maupun kekaguman, lalu kembali melanjutkan langkahnya begitu saja tanpa sepatah kata pun.
Raven terpaku di tempatnya, takjub sekaligus penasaran. Belum pernah ada gadis yang berpapasan dengannya namun bersikap seolah ia tak ada.
“Siapa gadis itu?” gumamnya pelan, matanya tak lepas dari sosok gadis yang makin menjauh itu.
"Sepertinya dia murid pindahan deh! Aku belum pernah melihatnya!" sahut Arga dengan mata masih tertuju pada punggung Sara yang mulai menjauh.
"Wah! Jadi tambah semangat aku ke sekolah, kalau ada bidadari secantik itu di sekolah!" tambah Andra dengan senyum lebar, mata berbinar cerah.
Belum sempat Raven menanggapi ocehan teman-temannya, seorang siswi dengan penampilan modis berlari kecil mendekatinya dengan senyum yang sudah terlatih sempurna. Chelsea Amanda Wijaya yang di kenal sebagai ratu bully di SMA Bina Bangsa.
"Raven! Ternyata kau ada di sini,” sapanya akrab sambil berdiri tepat di hadapan pemuda itu. "Daddy dan Mommy bilang nanti malam mereka akan datang ke rumahmu. Ada hal penting yang ingin dibicarakan bersama orang tuamu…"
Raven hanya mendengarkan dengan wajah dingin dan kaku. Ia tahu persis apa maksud kata‑kata itu, yang tak jauh dari acara perjodohan demi keuntungan bisnis keluarga. Tanpa menanggapi lebih jauh, ia hanya berdeham pelan lalu berjalan melewati gadis itu begitu saja.
"Hmm! Sudahkan! Aku ada urusan penting sama teman-teman,” ucapnya singkat, membuat Chelsea berdiri diam menatap punggungnya yang menjauh dengan rasa kesal yang mulai menyusup di hati.
"Awas aja kau Raven,aku yakin tak lama lagi kamu pasti akan mengemis cinta padaku, setelah perjodohan ini!" desis Chelsea penuh percaya diri.
***
***
Sementara itu, di ruang kelas Sara baru saja duduk di bangku tengah dekat jendela saat dua siswa lain mendekat dengan ramah, seorang pemuda bertubuh tegap bernama Bima, dan gadis ceria dengan rambut di kepang dua bernama Dewi.
"Hai! Aku Bima, ini Dewi. Kau pasti siswi baru pindahan, kan?” sapa Bima antusias. "Kalau butuh teman berkeliling sekolah atau tanya tentang aturan sekolah, tanya saja pada kami!”
Sara tersenyum tulus, senyum yang jarang ia tunjukkan pada orang baru. “Terima kasih Bim, Dewi. Aku Sara.
***
***
Tak lama kemudian, suara langkah kaki teratur terdengar mendekat, dan seketika seluruh ruangan menjadi hening seketika, semua siswa duduk tegak di tempatnya masing‑masing. Seorang wanita masuk dengan senyum ramah, Bu Sofi, guru Bahasa Inggris sekaligus wali kelas mereka. Di belakangnya berjalan tenang seorang pria berbadan tegap mengenakan seragam olahraga. Keduanya berdiri tegak di depan ruangan.
“Selamat pagi, anak‑anak!” sapa Bu Sofi ceria.
“Selamat pagi, Bu!” jawab mereka serentak.
“Baiklah! Kalian pasti sudah penasaran dengan sosok yang berdiri di sebelah Ibu ini, bukan? Langsung saja Ibu perkenalkan ya,” ucapnya sambil menunjuk ke arah pria itu. “Ini Pak Leon! Beliau akan menjadi guru olahraga baru kita, menggantikan Pak Bram untuk waktu yang belum ditentukan.”
“Selamat bergabung dan salam kenal, Pak Leon!” seru seluruh siswa serentak.
Leon mengangguk sopan sambil tersenyum ramah. “Terima kasih semuanya. Salam kenal juga untuk kalian semua.”
"Apa ada yang ingin kalian tanyakan lagi sebelum kita ke lapangan?" tanya Leon ramah.
Salah satu siswi yang duduk paling depan langsung mengangkat tangannya. "Apa bapak punya kekasih atau sudah menikah? Kalau masih jomblo aku mau jadi calon ibu dari anak-anak kita nanti"
Suara sorakan terdengar memenuhi ruangan. Leon menggeleng pelan menghadapi tingkah remaja di hadapannya.
"Hmm! Untuk saat ini belum, saya masih sendiri."
“Wah… ternyata guru olahraga baru kita tampan sekali, persis seperti tokoh utama dalam drama Korea yang sering kutonton! Tapi ini versi nyatanya!” bisik Dewi berbinar penuh kekaguman Sara di sebelahnya.
“Dasar pencinta dunia halu!” sahut Bima sambil tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya itu.
Dewi hanya memutar bola matanya malas menanggapi Bima.
Suasana kelas menjadi riuh rendah oleh bisikan kagum para siswi yang tak menyangka akan memiliki guru muda baru yang begitu berkarisma dan tampan. Di sudut ruangan, Sara hanya tersenyum geli dalam hati melihat bagaimana asisten setianya kini menjadi pusat perhatian dan siswi SMA. Matanya melirik sekilas ke arah Leon dengan tatapan bercanda seolah berkata: Siapa sangka kau begitu populer, Kak Leon?
"Sudah, sudah! Jangan berisik, ya!” tegur Bu Sofi dengan nada tegas namun tetap ramah. “Selain itu, di kelas ini juga ada teman baru yang pindah dari luar negeri. Silakan maju ke depan untuk memperkenalkan dirimu!”
Sara segera bangkit tegak dan berjalan tenang menuju depan ruangan sekilas tatapannya bertemu dengan tatapan Leon yang kini juga menatapnya.
“Silahkan perkenalkan namamu dan asal tempatmu,” pinta Bu Sofi lembut.
Sara mengangguk sopan, lalu menatap seluruh teman sekelasnya dengan pandangan tenang dan percaya diri.
“Salam kenal semuanya. Namaku Savira, pindahan dari Italia. Kalian cukup memanggilku Sara saja.”
"Salam kenal Sara!" serentak para murid.
***
***
Saat jam istirahat tiba, Sara, Bima, dan Dewi duduk bersama di meja sudut kantin sekolah yang ramai.
"Kau mau makan apa, biar aku pesan?" tanya Dewi.
"Aku tidak tahu makanan di Indonesia yang enak, bagaimana kalau kamu aja yang pesan sesuai seleramu aku akan mencobanya!"
"Ah iya juga ya, kau kan bukan orang Indonesia mana tahu makanan Indonesia! Kalau gitu aku yang pesan saja."
Tak berapa lama Dewi kembali dengan nampan berisi beberapa mekanan kesukaannya.
Sara menatap penuh rasa ingin tahu pada hidangan yang ada di hadapannya, nasi goreng hangat lengkap dengan lauk dan sambal yang harum semerbak. Ada bakso, soto dan juga batagor.
“Wah… warnanya begitu indah, dan aromanya sungguh menggugah selera,” ucapnya takjub, menatap makanan itu seolah sedang mempelajari sesuatu yang penuh makna mendalam.
Dewi dan Bima saling berpandangan lalu tertawa renyah mendengar ucapan itu. “Ini makanan yang sangat umum dan disukai semua orang di sini, Sara! Namanya nasi goreng, dan yang ini Bakso dan terus yang ada bubu kacangnya itu namanya batagor!” jelas Dewi sambil tersenyum ramah.
"Cobain deh, aku yakin kau pasti ketagihan dengan rasa gurihnya!" tambah Bima menyakinkan.
Di sudut lain kantin, Raven duduk diam bersama teman‑temannya, namun pandangannya tak lepas sedikit pun dari gadis yang sedang bercakap‑cakap riang dari meja yang tak jauh darinya.
Bersambung…