NovelToon NovelToon
Berpijak Di Antara Batu Karang

Berpijak Di Antara Batu Karang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:250
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

meylani yang sedang putus cinta dengan Andrian membuat nya mengambil keputusan untuk menerima tawaran dipindahkan ke Surabaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hujan, Kereta Api, dan Rindu yang Tak Terucap

Musim hujan di Surabaya memiliki karakter yang unik. Tidak seperti hujan rintik-rintik yang melankolis di Semarang, hujan di Surabaya datang dengan tiba-tiba, deras, dan disertai angin kencang yang seolah ingin merobohkan apa saja yang tidak kokoh. Langit berubah dari biru cerah menjadi abu-abu pekat dalam hitungan menit, disusul oleh gemuruh petir yang menggetarkan kaca jendela.

Sore itu, Meylani terjebak di kantor cabang Surabaya. Rapat evaluasi triwulan berjalan lebih lama dari perkiraan karena adanya revisi mendadak dari pusat Jakarta mengenai strategi penetrasi pasar Jawa Timur. Saat ia akhirnya keluar dari gedung kantor, hujan sudah turun sangat deras. Genangan air setinggi betis orang dewasa menutupi jalan raya depan kantor, membuat lalu lintas lumpuh total.

Meylani berdiri di bawah kanopi, menatap derasnya hujan dengan cemas. Ponselnya berdering. Nama "Mas Bima" muncul di layar.

"Halo, Mas? Aku masih di kantor. Hujannya parah banget, macetnya nggak ketulungan," kata Meylani, suaranya terdengar lelah.

"Aku tahu, Yang. Aku lihat berita. Jalan Ahmad Yani banjir parah. Kamu jangan pulang naik mobil sendiri. Nanti mogok di tengah jalan, repot. Tunggu di sana, aku jemput," suara Bima terdengar tegas, meski ada latar belakang suara hujan dan klakson di ujung sana.

"Tapi kamu kan lagi di lokasi proyek di Gresik, Mas. Jauh sekali. Pulang dulu sana, nanti kita cari ojek online kalau sudah agak reda," tolak Meylani khawatir. Ia tidak ingin suaminya berkendara jauh dalam kondisi cuaca buruk hanya untuk menjemputnya.

"Nggak usah banyak alasan. Aku udah di jalan balik. Sekitar 30 menit lagi sampai. Kamu tunggu di lobi, jangan basah-basahan. Kalau dingin, beli teh hangat dulu. Tagih ke aku," perintah Bima sebelum menutup telepon.

Meylani hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Pria ini memang keras kepala. Tapi di balik kekasaran itu, ada kepedulian yang membuatnya merasa dilindungi.

Tiga puluh menit kemudian, sebuah motor matic berwarna hitam berhenti di depan lobi kantor. Bima turun dengan jas hujan kuning neon yang mencolok, wajahnya basah kuyup meski memakai helm. Ia segera membuka jaket hujan bagian belakangnya, menciptakan ruang untuk Meylani.

"Cepat naik, Mey! Dingin!" teriak Bima mengalahkan suara hujan.

Meylani bergegas naik ke belakang motor, memeluk pinggang Bima erat-erat. Aroma basah, bensin, dan keringat Bima menyergap indra penciumannya. Di balik jaket hujan yang tipis, ia bisa merasakan otot punggung Bima yang tegang karena menahan dingin dan fokus berkendara.

Perjalanan pulang terasa seperti petualangan epik. Mereka menerobos genangan air, menghindari lubang-lubang jalan yang tertutup air keruh, dan bermanuver di antara kemacetan yang frustrasi. Angin dingin menusuk kulit Meylani, namun pelukan erat pada pinggang Bima memberikan kehangatan tersendiri.

"Sabar ya,! Bentar lagi sampai!" teriak Bima ke belakang, suaranya serak karena diterpa angin.

Meylani mengangguk, meski Bima tidak bisa melihatnya. Ia menyandarkan pipinya di punggung Bima, membiarkan hujan membasahi wajah mereka berdua. Dalam kekacauan itu, Meylani merasa anehnya tenang. Ia percaya pada Bima. Ia tahu pria ini akan membawanya pulang dengan selamat, apa pun rintangannya.

Setibanya di rumah, keduanya basah kuyup. Sepatu mereka penuh lumpur, rambut mereka lepek, dan pakaian mereka menempel di tubuh karena basah.

"Gila, dingin banget!" keluh Bima sambil melepas helm dan jaket hujannya dengan kasar. Ia langsung menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.

Meylani mengikuti jejaknya, tapi ia terhenti di dapur. Perutnya keroncongan. Sejak siang ia hanya makan camilan ringan di rapat. Ia membuka kulkas, berharap ada makanan siap saji. Namun, yang ia temukan hanyalah telur, bawang merah, cabai, dan sisa nasi kemarin.

"Makan apa malam ini, Mey?" tanya Bima yang sudah muncul dengan kaos kering dan celana pendek, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

"Ada nasi sisa sama telur. Mau dimasakin nasi goreng?" tawar Meylani ragu. Ia bukan koki hebat, tapi ia bisa memasak dasar-dasar masakan Indonesia.

Bima tertawa. "Wah, istriku bisa masak? Ayo, tunjukkin skill-mu. Aku bantu potong-potong bahan."

Mereka memasak bersama di dapur kecil itu. Bima dengan cekatan mengiris bawang dan cabai, sementara Meylani mengocok telur dan menumis bumbu. Suara desisan minyak panas bercampur dengan aroma bawang goreng yang harum memenuhi ruangan kecil itu. Suasana domestik yang sederhana itu terasa begitu intim.

Saat nasi goreng sudah matang, mereka duduk bersila di lantai ruang tamu, makan langsung dari wajan (karena malas mencuci piring tambahan).

"Enak banget, Mey! Pedasnya pas, asinnya nendang," puji Bima sambil menyuap nasi goreng dengan lahap menggunakan sendok kayu.

Meylani tersenyum bangga. "Syukurlah. Aku takut keasinan."

"Nggak. Ini otentik. Rasanya kayak masakan ibu-ibu kampung. Jujur dan nyata," kata Bima sambil mengunyah.

Tiba-tiba, ponsel Meylani berdering. Bukan Bima kali ini, melainkan panggilan video dari Bu Mellysa. Meylani panik sejenak. Ia cepat-cepat membersihkan sudut mulutnya yang kotor oleh kecap, lalu menerima panggilan tersebut.

Di layar, terlihat wajah Bu Mellysa yang sedang duduk di ruang tamu Joglo Langit, dengan Pak Bramasta di sebelahnya membaca buku.

"Mey? Kok mukamu kelihatan capek? Dan... kok background-nya gelap gitu? Kalian di mana?" tanya Bu Mellysa curiga.

Meylani tersenyum gugup. "Kami di rumah, Bu. Baru selesai makan malam. Hujan deras tadi, jadi agak berantakan sedikit."

Kamera ponsel bergeser sedikit, memperlihatkan Bima yang sedang duduk di samping Meylani, masih memegang sendok kayu, dengan kaos oblong lusuh dan rambut acak-acakan.

Bu Mellysa mengerutkan kening saat melihat penampilan Bima. "Lho, Bima? Kok pakaiannya begitu? Apa kalian habis kehujanan?"

Iya, Bu. Tadi hujan deras, kami terjebak macet, jadi Bima jemput pakai motor," jelas Meylani cepat, mencoba membela suaminya.

Pak Bramasta yang mendengar percakapan itu menoleh dari bukunya. Ia menatap layar ponsel dengan tatapan tajam. "Motor? Di hujan deras? Itu berbahaya, Mey. Kenapa tidak menunggu hujan reda atau memanggil taksi?"

Bima, yang menyadari tatapan serius Pak Bramasta melalui layar, segera menegakkan posturnya. Ia meletakkan sendok kayunya, lalu berbicara dengan nada hormat namun tetap lugas.

"Maaf, Pak. Saya pikir lebih cepat menjemput Mbak Meylani daripada menunggu taksi yang pasti antreannya panjang saat banjir. Saya pastikan berkendara dengan hati-hati dan membawa jas hujan lengkap. Alhamdulillah, kami sampai dengan selamat," jelas Bima.

Pak Bramasta diam sejenak, seolah menimbang jawaban itu. Lalu, ia menghela napas. "Yang penting selamat. Tapi lain kali, utamakan keselamatan. Jangan terburu-buru. Kesuksesan karir tidak ada artinya jika nyawa taruhannya."

"Siap, Pak. Saya catat," jawab Bima singkat.

Bu Mellysa masih tampak kurang puas dengan penampilan mereka. "Lani, kamu harus jaga kesehatan. Makan yang bergizi. Jangan cuma makan nasi goreng terus. Nanti sakit. Dan Mas Bima, tolong jagakan Mey baik-baik. Dia itu manja soal makanan."

"Siap, Bu. Nanti saya belikan sup ayam langganan kalau dia batuk," janji Bima santai.

Percakapan berlanjut selama sepuluh menit, diisi dengan pertanyaan standar tentang pekerjaan dan kabar keluarga. Setelah panggilan berakhir, Meylani menghela napas lega.

"Duh, hampir saja kena ceramah panjang lebar," keluh Meylani sambil merebahkan diri di sofa.

Bima tertawa. "Ya namanya juga orang tua. Mereka khawatir. Lagian, mereka lihat kita 'berantakan', jadi otomatis mode protektif mereka nyala. Nggak apa-apa, Lan. Kita hidup kita. Biarkan mereka punya opini, kita punya realita."

Meylani menatap Bima. "Kamu nggak marah dihakimi begitu?"

Bima menggeleng. "Nggak. Justru aku respek sama Bapak. Dia peduli. Kalau dia nggak peduli, dia nggak akan nanya. Lebih baik dihakimi karena peduli daripada diabaikan karena nggak dianggap."

Kalimat itu menyentuh hati Meylani. Bima selalu menemukan sisi positif dari segala situasi, bahkan dari kritik yang tajam.

Malam semakin larut. Hujan di luar mulai reda, menyisakan gerimis halus dan suara jangkrik yang mulai berkicau. Meylani dan Bima duduk berdampingan di sofa, menonton film lama di televisi. Tangan mereka saling bertautan, jari-jari mereka saling menyelip.

"Mas," panggil Meylani pelan.

"Iya, ada apa?"

"Apakah kamu pernah merasa... kurang? Maksudku, dibandingkan dengan teman-temanku yang suaminya direktur bank atau pemilik pabrik? Apakah kamu pernah merasa iri?"

Bima menoleh, menatap mata Meylani dengan serius. Ia melepaskan genggaman tangan Meylani sebentar, lalu meraih dagu istrinya, memaksanya menatap lurus ke matanya.

"Dengar baik-baik, Meylani. Aku mungkin nggak punya rekening sebesar mereka. Aku mungkin nggak bisa beli tas Hermes buat kamu setiap ulang tahun. Tapi aku punya sesuatu yang mereka mungkin nggak punya."

"Apa itu?" tanya Meylani penasaran.

"Aku punya waktu buat kamu. Aku punya telinga buat dengerin keluh kesah kamu tanpa sibuk cek email. Aku punya kaki buat jemput kamu di hujan deras pakai motor butut ini. Dan aku punya hati yang cuma buat kamu. Kalau itu disebut 'kurang', maka aku bangga jadi orang yang 'kurang' itu," ucap Bima tegas.

Air mata Meylani menetes. Kata-kata sederhana itu lebih berharga daripada permata manapun. Ia memeluk Bima erat-erat, menyembunyikan wajahnya di dada suami yang bidang dan hangat.

"Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah menjadi cukup untukku."

Bima mengecup puncak kepala Meylani. "Sama-sama, Yang. Sekarang tidur. Besok kita masih harus kerja. Dan ingat, besok pagi aku mau sarapan nasi goreng lagi. Spesial, ya. Tambah telur dua."

Meylani tertawa di tengah isak tangisnya. "Dasar rakus."

Mereka tertawa bersama, lalu beranjak ke kamar tidur. Di luar, langit Surabaya mulai bersih, menampilkan bintang-bintang yang jarang terlihat di kota besar. Dan di dalam rumah kecil di Wonocolo, dua jiwa yang berbeda telah menemukan titik temu yang sempurna: cinta yang tidak membutuhkan kemewahan untuk bertahan, hanya butuh kejujuran dan kehadiran.

Namun, di kejauhan, ada kabar burung yang mulai beredar di kalangan bisnis properti Surabaya. Sebuah konglomerat besar dari Jakarta berencana mengakuisisi lahan-lahan strategis di Genteng, termasuk area proyek "Ruang Pulang". Jika kabar ini benar, posisi Meylani dan Bima akan diuji bukan hanya secara emosional, tapi secara profesional dan etika bisnis. Badai baru sedang mendekat, dan kali ini, bukan hujan yang harus mereka hadapi, melainkan gelombang kapitalisme yang dingin dan tak kenal ampun.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!