Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kafan putih
Langit mulai berubah jingga ketika Zafran tiba di halaman rumah. Rumah itu begitu sunyi tak ada satu orang pun yang menyambut Zafran seprti biasanya. Tak ada suara Ibu memanggil dari dapur, Tak ada aroma masakan yang biasanya menyambut begitu pintu dibuka. Yang tersisa hanyalah kesunyian yang terasa asing.
Zafran berdiri cukup lama di depan pintu dia menatap setiap bagian sudut rumah itu. Tangannya yang memegang kunci terus bergetar.
"Aku minta maaf, Bu..." bisiknya lirih.
Pintu terbuka perlahan.
Cklek...
Ruangan yang biasanya hangat kini terasa dingin, Ia melangkah menuju kamar orang tuanya. Setiap langkah terasa semakin berat.
Di atas meja rias masih tergeletak sisir kayu milik Ibu. Sebuah mukena putih tergantung rapi di balik pintu, seolah pemiliknya hanya pergi sebentar dan akan kembali memakainya untuk salat Magrib nanti.
Dada Zafran sesak...
Ia membuka laci meja rias dengan tangan gemetar. Kotak beludru biru itu masih berada di tempatnya. dia Perlahan ia mengangkatnya.
Tatapannya kosong.
"Bu..."
"Aku pinjam dulu."
"Bukan buat foya-foya."
"Aku cuma mau jemput Kak Husna pulang."
Air mata menetes membasahi tutup kotak beludru itu, Dengan napas memburu, ia memasukkan seluruh perhiasan ke dalam tas ransel.
Tangannya kembali meraih tumpukan kain batik di sudut laci.
Benar saja.
Amplop cokelat berisi tabungan darurat keluarga masih tersimpan di sana.
Ia memejamkan mata.
Seandainya ada pilihan lain, Ia tidak akan melakukan ini. Namun baginya, waktu terus berjalan.Jika Husna benar-benar masih hidup, setiap menit sangat berarti.
"Aku janji bakal balikin semuanya..."
bisiknya sebelum menutup laci perlahan.
Tak berani menoleh lagi ke arah kamar itu, Zafran segera meninggalkan rumah.
Pintu kembali tertutup.
Menyisakan rumah yang kini terasa semakin kehilangan penghuninya.
Sementara itu...
Di rumah sakit, waktu seolah berhenti. Haseena masih duduk di kursi yang sama. Tak sekali pun ia beranjak. Tangannya menggenggam tas di pangkuan, sementara matanya terus menatap pintu ICU tanpa berkedip.
Di sebelahnya, Abah masih setia melafalkan doa dalam hati. Bibir lelaki itu terus bergerak, meski suaranya tak pernah terdengar.
Hanya doa dan harapan...
Beberapa menit kemudian...
Pintu ICU akhirnya terbuka, dokter keluar dengan langkah pelan.
Masker yang menutupi wajahnya dilepas perlahan. Tatapannya jatuh kepada Abah. Kemudian kepada Haseena.
Tak seorang pun berani bertanya.
Keheningan itu justru terasa lebih menakutkan daripada jawaban apa pun.
Dokter menarik napas panjang.
"Keluarga Ibu Syafa?"
Abah berdiri lebih dulu dan segera menghampiri dokter.
"Iya, Dok."
Haseena ikut berdiri di sampingnya.
Jantungnya berdegup begitu keras hingga telinganya sendiri seolah dipenuhi suara detaknya.
Dokter menundukkan kepala sesaat.
"Kami mohon maaf..."
Kalimat itu membuat tubuh Haseena membeku.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin."
"Tapi..."
"...Allah berkehendak lain."
"Ibu Syafa telah berpulang."
Sunyi.
Tidak ada suara, Tidak ada tangisan. Hanya keheningan yang terasa begitu panjang.vHaseena menatap dokter tanpa berkedip.
Wajahnya datar.
Seolah otaknya menolak memahami setiap kata yang baru saja didengar.
"Dokter..."
Suaranya lirih.
"...bercanda, kan?"
Dokter hanya menggeleng pelan.
Air mata mulai memenuhi pelupuk mata Haseena.
"Tidak..."
"Ini salah."
"Ibu tadi cuma pingsan."
"Ibu nggak mungkin..."
Kalimatnya terputus.
Langkahnya perlahan bergerak memasuki ruang ICU.
Di sana...
Tubuh Ibu telah terbujur diam dan seluruh tubuhnya tertutup kain putih. Hanya wajahnya yang masih terlihat Begitu damai dan Begitu tenang.
Namun...
Terlalu tenang.
"Ibu..."
Suara Haseena pecah.
Ia menghampiri ranjang itu dengan langkah yang limbung.
Tangannya yang gemetar menyentuh pipi sang Ibu.
Dingin.
"Ibu..."
"Bangun, Bu..."
"Haseena datang..."
Tidak ada jawaban.
Ia menggenggam tangan Ibu yang sudah Dingin. Tak lagi membalas genggaman kecil putrinya dan Air mata Haseena akhirnya runtuh.
"Buka mata, Bu..."
"Tolong..."
"Haseena belum sempat bikin Ibu bangga."
"Haseena belum jadi ustazah seperti kata Abah..."
"Belum jadi pengusaha seperti keinginan Ibu..."
"Belum sempat pakai toga..."
Suaranya berubah menjadi isakan.
"Bu..."
"Nanti siapa yang nyiapin kebaya buat wisuda Haseena...?"
"Nanti siapa yang bilang Haseena cantik...?"
"Nanti..."
"...siapa yang manggil Haseena pulang?"
Kalimat terakhir itu membuat seluruh tubuhnya kehilangan tenaga.
Ia bersimpuh di samping ranjang.
Kepalanya bersandar di sisi tubuh sang Ibu, seolah masih berharap bisa menemukan kehangatan yang selama ini menjadi tempatnya pulang.
Namun yang ia rasakan hanyalah dingin.
Dingin yang perlahan menyadarkan bahwa pelukan itu tak akan pernah kembali.
Abah berdiri beberapa langkah di belakang kemudian Matanya perlahan memerah, Bibirnya bergetar Namun lelaki itu tetap berusaha berdiri tegak. Dengan langkah pelan, ia menghampiri putrinya. Tangannya mengusap kepala Haseena.
"Ikhlaskan Ibu ya, Nak..."
Suara itu terdengar pecah untuk pertama kalinya.
"Ibu pasti ingin kita kuat."
Kalimat itu justru membuat air mata Abah jatuh.
Satu tetes.
Lalu satu lagi.
Lelaki yang selama ini menjadi tiang keluarga itu akhirnya ikut menangis. Bukan dengan suara keras. Melainkan dalam diam. Tangis yang jauh lebih menyakitkan. Karena bahkan kesedihannya pun masih ia tahan agar putrinya tidak semakin hancur.
Beberapa menit kemudian, seorang perawat menghampiri dengan berkas administrasi.
"Pak..."
"Silakan mengurus administrasi di bagian depan."
Abah mengangguk pelan.
Ia menatap Haseena yang masih memeluk tubuh Ibu.
"Abah sebentar ya, Nak."
Haseena tak menjawab.
Tatapannya masih terpaku pada wajah sang Ibu.
Seolah berharap...
Jika ia terus menunggu sedikit lebih lama...
Ibu akan membuka mata.
Dan berkata...
"Haseena... ayo pulang."
Namun harapan itu...
Tak pernah datang.