NovelToon NovelToon
Harga Turun Sejuta Kali

Harga Turun Sejuta Kali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Kaya Raya
Popularitas:298
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad

Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol

Lalu dunia berubah

Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah

Rp 350000 Rp 350 MILIAR

Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri

Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu

Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34: Layar-Layar yang Berbeda

"Dulu dia cuma pelayan di restoran saya!"

Herman membanting remote ke sofa, tetapi tangannya tetap gemetar. Televisi di ruang tengah menayangkan Festival Budaya Surabaya. Wajah Raka memenuhi layar: batik gelap, mikrofon, logo PT Langit Sembilan di belakang, orang-orang bertepuk tangan.

Istri Herman keluar dari dapur. "Siapa?"

"Bukan siapa-siapa."

Tetapi suara pembawa berita menghancurkan kebohongan itu: Raka Surya Pratama, sponsor utama festival, pengusaha muda yang namanya terus dibicarakan setelah membeli sejumlah aset besar di Surabaya.

Herman meraih ponsel, melihat rating Restoran Taman yang belum pulih. Setelah komentarnya tentang Raka viral, mantan karyawan seperti menemukan pintu untuk bicara. Manajemen mulai memeriksa potongan gaji. Pak Darma tidak lagi melindunginya. Bahkan beberapa pelanggan tetap bertanya apakah benar supervisor restoran itu pernah melempar uang ke lantai.

Herman mematikan televisi. Layar hitam memantulkan wajahnya sendiri. Ia terlihat lebih tua daripada kemarin.

Di apartemen kecil, Vera Anggraini berbaring miring sambil menggulir ponsel. Perutnya yang mulai membesar membuat geraknya lambat. Setelah pertunangan gagal, keluarga Ahmad tidak menerimanya sebagai calon menantu, hanya memberi uang secukupnya untuk kontrol kehamilan dan menyuruhnya tidak membuat skandal baru.

Di layar, Raka tersenyum kepada pedagang kecil. Komentar di bawah video penuh pujian.

Ini baru laki-laki sejati.

Dulu katanya dia diselingkuhi? Gila, ceweknya nyesel seumur hidup.

Vera mematikan ponsel, tetapi tangannya menyalakannya lagi. Ia membuka chat lama dengan Raka, mencari kalimat yang dulu ia abaikan: Sudah makan? Aku antar pulang. Kalau butuh uang, bilang.

Air mata keluar. Bukan semua karena cinta. Sebagian karena ia akhirnya melihat tangga yang ia buang ternyata menuju gedung yang tidak akan pernah ia masuki.

Di kantor Mutiara Emas, Wulan Sari menonton siaran ulang di laptop sambil menyelesaikan laporan. Rekan kerjanya bertanya, "Mbak Wulan benar kenal Pak Raka sejak awal?"

Wulan tersenyum kecil. "Saya hanya melayani dia saat orang lain menilai bajunya."

"Beruntung sekali."

"Bukan beruntung. Itu pekerjaan saya. Kita tidak pernah tahu orang di depan meja akan menjadi siapa. Jadi layani dengan benar saat dia belum jadi siapa-siapa."

Kalimat itu membuat ruangan diam sesaat. Wulan tidak menyombongkan kedekatan. Ia bangga karena pada hari semua orang tertawa, ia memilih prosedur yang benar.

Di warung Pak Maman, televisi kecil dipasang lebih tinggi karena pelanggan membludak. Sejak liputan menyebut Raka sering makan nasi goreng di sana, orang berdatangan ingin mencicipi. Pak Maman berkali-kali berkata bahwa nasi gorengnya sama saja seperti dulu, tetapi pelanggan tetap mengambil foto.

Istrinya berbisik, "Pak, kita harus tambah meja."

Pak Maman mengusap mata. "Nak Raka itu dari dulu baik. Waktu belum punya apa-apa saja masih bayar kalau makan. Sekarang dia bikin warung kita ramai."

Seorang pelanggan bertanya, "Pak, Raka sering pesan apa?"

"Nasi goreng telur dua. Tapi jangan semua pesan telur dua kalau tidak lapar. Saya bukan pabrik telur."

Tawa meledak di warung kecil itu.

Di ruang koordinasi belakang panggung, Raka sempat mengirim pesan kepada Pak Maman: Besok tim saya datang bantu tenda. Jangan tolak. Balasan Pak Maman masuk dengan stiker tertawa dan kalimat, Dasar anak keras kepala.

Setelah itu, Raka melihat potongan layar-layar itu melalui ringkasan Mimpi. Herman marah, Vera menyesal, Wulan bangga, Pak Maman terbantu. Hidupnya seperti batu yang dilempar ke air; lingkarannya menyentuh orang yang berbeda dengan cara berbeda.

Fajar mengira Raka akan senang melihat Herman dan Vera hancur pelan.

"Rasanya gimana, Bang?"

"Tidak seperti yang dulu aku bayangkan."

"Kurang puas?"

"Bukan. Dulu aku pikir melihat mereka menyesal akan membuat semuanya selesai. Ternyata hidupku sudah bergerak terlalu jauh. Mereka hanya layar lama."

Fajar mengangguk, lebih serius dari biasa.

Di sisi lain ruangan, koordinator media meminta Raka hadir di sesi wawancara penutup. Hendra sudah siap mengambil alih, tetapi beberapa wartawan tetap meminta wajah sponsor utama. Raka melihat jam. Ia ingin pulang sebentar, memastikan Bibi dan Bintang sudah makan, lalu kembali jika perlu.

"Pak Hendra yang jawab," kata Raka. "Fokusnya festival, pedagang, dan panitia. Jangan geser semua kamera ke saya."

Fajar mengangkat ponsel. "Pembayaran vendor sudah beres. Transport staf loket juga sudah jalan. Sri ikut mobil kedua."

"Bagus. Pastikan tidak ada yang pulang sendiri lewat pintu belakang."

Fajar menatapnya sebentar. "Bang, kadang lo lebih galak soal hal kecil daripada soal orang yang hina lo."

"Hal kecil yang dibiarkan biasanya jadi cara orang lemah diinjak."

Kalimat itu membuat Fajar berhenti bercanda. Ia baru mau menjawab ketika layar ponsel Raka menyala dengan nama Bibi Lestari.

Bayu mengirim pesan terpisah dari kantor: draf rilis media sudah bersih, tanpa klaim berlebihan. Raka membalas singkat agar semua angka pengunjung dan transaksi diberi catatan sumber. Kemenangan yang tidak rapi bisa berubah menjadi bahan serangan.

Hendra muncul di pintu ruang koordinasi, jasnya sudah tidak serapi awal acara. "Media menunggu. Saya bisa pegang, tapi mereka akan tetap tanya soal Anda."

"Jawab seperlunya. Kalau mereka tanya alasan sponsor, bilang karena festival ini menghasilkan uang untuk orang yang benar-benar bekerja."

"Dan kalau mereka tanya soal masa lalu Anda?"

Raka memasukkan ponsel ke saku. "Bilang saya masih hidup, jadi ceritanya belum selesai."

Hendra tertawa pendek. Fajar juga ikut tersenyum.

Di luar, suara panggung masih keras, tetapi di ruangan itu semua orang mulai menunggu keputusan Raka berikutnya.

Lalu telepon Bibi datang.

Dalam hitungan detik, semua layar lama kehilangan arti.

Raka berlari melewati koridor belakang panggung, Fajar di belakangnya membuka jalur. Orang-orang memanggil namanya, kamera mencoba mengikuti, tetapi ekspresi Raka membuat mereka mundur. Ini bukan momen publik. Ini keluarga.

Di mobil, Fajar menyalakan sirene darurat kendaraan keamanan yang sah terdaftar untuk pengawalan event. Ia tidak melanggar lampu sembarangan, tetapi memilih rute tercepat ke RS Harapan Mulia.

"Bibi bilang apa lagi?" tanya Fajar.

Raka memegang ponsel terlalu kuat.

"Bintang pingsan. Mereka menunggu di IGD."

[Mimpi: deteksi stres host meningkat. Saran: pertahankan kontrol napas. Informasi medis belum cukup.]

"Jangan suruh aku tenang," gumam Raka.

[Tidak. Saya menyarankan Anda tetap tajam.]

Raka menutup mata satu detik, lalu membukanya.

"Fajar, hubungi Bayu. Kalau rumah sakit mempersulit, saya mau semua prosedurnya siap."

"Siap, Bos."

Lampu kota memanjang di kaca mobil.

Kali ini Raka tidak datang untuk membeli panggung.

Beberapa menit kemudian, semua urusan reputasi berubah menjadi latar. Nama besar tidak berguna saat keluarga sendiri sedang takut.

Fajar menekan pedal lebih dalam ketika jalan kosong terbuka.

Ia datang untuk memastikan Bintang hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!