NovelToon NovelToon
Sistem Mata Dewa Raja Fengshui

Sistem Mata Dewa Raja Fengshui

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Di mata teman-temannya yang sombong, Saka hanyalah "si beban" yang lamban, miskin, dan tak punya masa depan, sering kali menjadi bahan rongsokan ejekan dan perundungan. Namun, di balik senyum polos dan sikapnya yang kelihatannya bodoh itu, Saka menyembunyikan rahasia besar: dia adalah pewaris tunggal kemampuan mistis Raja Fengshui yang mampu melihat aliran Qi, pendar aura barang antik tak ternilai, hingga nasib malang-mujur seseorang hanya dalam sekali tatap. Sambil membiarkan musuh-musuhnya tertawa di atas ketidaktahuan mereka, Saka diam-diam meraup keberuntungan dari barang-barang pusaka yang dianggap remeh, menunggu momen paling tepat di sebuah pelelangan elit untuk membongkar kedoknya, menghancurkan harga diri mereka, dan memaksa dunia berlutut di hadapan sang Raja Fengshui yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Klek.

Suara gagang pintu yang ditarik Saka memecah keheningan di lorong lantai dua.

Tuan Adijaya dan Paman Surya langsung mengangkat wajah mereka dengan raut ketegangan yang sangat memuncak. Tuan Adijaya bahkan menahan napasnya tidak berani bertanya apa yang terjadi di dalam kamar tersebut.

Namun mata penguasa klan itu langsung tertuju pada celah pintu yang terbuka lebar di belakang Saka. Di atas ranjang putrinya sedang duduk bersandar dengan wajah yang sudah kembali merona merah dan segar.

"Anya putriku, astaga kamu sudah bangun sayang." Teriak Tuan Adijaya dengan suara bergetar menahan tangis yang akhirnya pecah.

Pria paruh baya itu langsung berlari menerobos masuk melewati Saka tanpa mempedulikan harga dirinya lagi.

Bruk.

Dia berlutut di tepi ranjang dan memeluk erat tubuh Anya yang kini terasa hangat.

"Maafkan Papa Anya, Papa pikir Papa akan kehilangan kamu untuk selamanya hari ini." Isak Tuan Adijaya menumpahkan seluruh air matanya di bahu sang putri.

Anya membalas pelukan ayahnya dengan senyum lembut sambil menepuk punggung pria kuat yang sedang rapuh itu. "Anya tidak apa-apa Pa, Saka sudah menarik semua rasa sakitnya dari dada Anya."

Mendengar nama itu disebut Tuan Adijaya langsung tersentak sadar dan melepaskan pelukannya. Dia berbalik menatap Saka yang sedang berjalan santai menyusuri lorong menuju tangga turun.

Rasa bersalah dan penyesalan yang luar biasa besar langsung menghantam dada konglomerat tersebut layaknya godam raksasa. Dia ingat betul bagaimana dia membentak dan mengancam pemuda yang ternyata adalah malaikat penyelamat putrinya.

"Tuan Saka tolong tunggu sebentar, jangan pergi dulu." Teriak Tuan Adijaya sambil berlari mengejar langkah Saka hingga ke ujung tangga.

Saka menghentikan langkahnya sejenak namun sama sekali tidak menoleh ke belakang menatap pria kaya tersebut. "Ada urusan apa lagi, bayaran saya sudah lunas dan nyawa putri Anda sudah kembali."

Tuan Adijaya menundukkan kepalanya dalam-dalam tepat di belakang punggung Saka dengan rasa malu yang luar biasa. "Saya mohon maaf atas kesombongan dan kebutaan saya tadi Tuan, saya benar-benar ayah yang bodoh."

"Tolong beri saya kesempatan untuk menjamu Anda dengan layak sebagai tanda terima kasih seumur hidup keluarga Adijaya." Lanjut pria itu merendahkan ego dan kekuasaannya hingga ke titik terendah.

Saka hanya mendengus pelan mendengar permintaan maaf yang terdengar sangat tulus dari pria paruh baya tersebut. "Simpan saja jamuan mewah Anda itu Tuan Adijaya, saya sedang tidak berselera makan bersama orang yang tidak tahu cara menghargai tamu."

"Lagi pula saya masih punya banyak urusan penting yang harus diselesaikan siang ini." Ucap Saka sambil kembali melangkahkan kakinya menuruni anak tangga tanpa ragu sedikitpun.

Tuan Adijaya hanya bisa berdiri mematung menatap kepergian Saka dengan perasaan segan yang luar biasa mengakar di hatinya. Paman Surya yang baru saja menyusul ke ujung tangga ikut menunduk hormat melihat punggung pemuda itu menghilang di lantai bawah.

"Biarkan dia pergi Surya, pemuda itu bukan orang sembarangan yang bisa kita ikat dengan harta atau jamuan biasa." Gumam Tuan Adijaya dengan tatapan mata yang kini dipenuhi oleh rasa kagum.

Di dalam kamar Anya sudah menyingkap selimutnya dan bersiap untuk turun dari ranjang. Rasa lemas di tubuhnya benar-benar hilang tanpa sisa digantikan oleh tenaga yang sangat penuh.

Tuan Adijaya buru-buru masuk kembali ke kamar dan menahan bahu putrinya agar tidak banyak bergerak. "Kamu baru saja sembuh sayang, tolong istirahatlah dulu jangan paksakan dirimu."

Anya menepis tangan ayahnya pelan dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin dan serius. "Anya sudah sehat total Pa, dan sekarang ada urusan jauh lebih penting yang harus kita bereskan di rumah ini."

Tuan Adijaya mengerutkan dahinya bingung melihat perubahan sikap putrinya yang sangat drastis tersebut. "Urusan penting apa maksudmu Anya, tidak ada yang lebih penting dari istirahatmu saat ini."

"Penyakit Anya selama ini bukan murni penyakit medis Pa, tapi ada seseorang yang diam-diam menaruh racun spiritual di makanan Anya." Jawab Anya dengan suara pelan namun terdengar sangat mematikan.

Mata Tuan Adijaya seketika melotot lebar dan rahangnya mengeras mendengar kenyataan mengerikan tersebut. "Racun spiritual, dari mana kamu tahu hal gila seperti ini Anya."

"Saka yang memberitahukannya langsung padaku setelah dia menarik kutukan itu dari jantungku." Jawab Anya dengan penuh keyakinan pada ucapan pemuda tersebut.

Amarah yang sepuluh kali lipat lebih besar dari sebelumnya langsung meledak di dalam dada penguasa klan Adijaya itu. Dia tidak menyangka ada pengkhianat berdarah dingin yang berani menyusup dan melukai keluarganya dari dalam istananya sendiri.

"Surya, kunci semua pintu keluar masuk rumah ini sekarang juga dan kumpulkan semua pelayan serta koki di aula utama." Teriak Tuan Adijaya dengan suara menggelegar ke seluruh penjuru rumah.

"Kita akan melakukan perburuan besar-besaran siang ini dan aku sendiri yang akan menguliti pengkhianat itu hidup-hidup." Lanjutnya dengan tatapan mata yang menyala-nyala penuh dendam kesumat.

Anya mengangguk setuju dan langsung berjalan mendahului ayahnya menuju aula lantai bawah. Operasi pembersihan internal keluarga Adijaya akhirnya dimulai dengan sangat brutal berkat informasi tunggal dari Saka.

Sementara itu Saka sudah duduk santai di kursi penumpang taksi yang membawanya kembali ke Rumah Sakit Harapan. Dia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela menikmati pemandangan gedung-gedung tinggi ibukota yang terik.

Tubuhnya masih terasa cukup pegal namun rasa lelahnya mulai berkurang berkat istirahat sejenak di mobil. Saka mengeluarkan ponsel bututnya dan membuka aplikasi perbankan m-banking yang layarnya sedikit retak.

Angka empat belas koma tujuh miliar rupiah terpampang sangat jelas membuat Saka tersenyum penuh perhitungan. "Uang ini sudah lebih dari cukup untuk memulai permainan kotor menghancurkan keluarga Rio dari dalam." Batin Saka.

Saka tahu persis bahwa ayah Rio adalah pemilik PT Bangun Semesta yang bergerak di bidang penyuplai bahan bangunan. Perusahaan itu memang cukup besar namun keuangan mereka sedang goyah akibat hutang bank yang menumpuk.

Insiden Rio membeli kalung giok seharga dua ratus lima puluh juta semalam pasti sudah membuat arus kas perusahaan itu semakin berdarah. Saka akan menggunakan kelemahan finansial itu untuk menekan mereka sampai hancur berkeping-keping.

Taksi itu akhirnya tiba di depan Rumah Sakit Harapan dan Saka segera membayar ongkosnya. Dia berjalan santai menyusuri koridor rumah sakit menuju lift khusus VVIP dengan wajah yang sangat segar.

Sesampainya di kamar Presiden Suite Saka melihat ibunya sedang menonton televisi sambil memakan buah apel. Wajah wanita paruh baya itu terlihat sangat ceria seolah dia tidak pernah mengalami koma berbulan-bulan.

"Kamu sudah pulang Nak, cepat sekali perginya." Sapa ibunya sambil meletakkan potongan apel di atas meja kecil.

"Iya Bu, urusannya sudah selesai dan Saka cuma jalan-jalan sebentar cari udara segar." Jawab Saka sambil duduk di sofa empuk kamar tersebut.

"Ibu lihat di berita televisi tadi katanya ada perusahaan bahan bangunan besar yang sahamnya anjlok parah pagi ini." Ucap ibunya memulai obrolan ringan untuk membunuh kebosanan.

Saka langsung menajamkan telinganya mendengar topik yang sangat kebetulan berhubungan dengan target balas dendamnya. "Perusahaan apa namanya Bu, Saka jarang ikutin berita saham akhir-akhir ini."

"Namanya PT Bangun Semesta kalau tidak salah, direkturnya sedang diperiksa polisi karena kasus penipuan barang lelang." Jelas ibunya tanpa menyadari bahwa itu adalah keluarga dari musuh anaknya sendiri.

Saka nyaris tertawa terbahak-bahak mendengar berita yang luar biasa menggembirakan tersebut. Ternyata pihak balai lelang benar-benar melaporkan Rio dan ayahnya ke polisi tadi malam atas tuduhan penipuan.

Skandal memalukan di acara Lelang Agung itu pasti sudah tersebar ke telinga para investor dan merusak reputasi perusahaan mereka. "Ini adalah momen yang paling tepat untuk memberikan pukulan terakhir yang mematikan." Batin Saka menyeringai lebar.

"Wah kasihan sekali ya Bu, makanya orang kalau berbisnis harus jujur biar tidak kena batunya sendiri." Balas Saka dengan nada suara yang dibuat sok prihatin.

Saka langsung mengirim pesan singkat ke nomor kontak Tuan Darmawan yang kartu namanya dia dapatkan tadi pagi. Kolektor tua itu memiliki koneksi bisnis properti yang sangat luas dan pasti tahu cara bermain saham.

"Pak Darmawan, ini Saka. Saya butuh bantuan Bapak untuk membeli paksa seluruh surat hutang PT Bangun Semesta siang ini juga, dana saya siapkan secara tunai." Tulis Saka dalam pesannya lalu menekan tombol kirim.

Hanya butuh waktu kurang dari lima menit ponsel Saka langsung bergetar menandakan ada balasan masuk.

Tring.

"Tentu saja Saka, orang tua ini siap membantumu kapanpun, saya akan suruh orang kepercayaan saya mengurusnya segera." Balas Tuan Darmawan yang masih merasa sangat berhutang budi pada pemuda tersebut.

Saka meletakkan ponselnya ke atas meja dan menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan perasaan yang luar biasa lega. "Nikmatilah hari-hari terakhir kalian sebagai orang kaya Rio, karena besok pagi kalian akan resmi menjadi gembel jalanan."

Balas dendam Saka tidak menggunakan kekerasan fisik atau pertumpahan darah yang melanggar hukum negara. Dia menggunakan kekuatan uang dan koneksi orang dalam untuk memiskinkan musuhnya secara elegan tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.

Sistem di dalam kepala Saka mendadak berbunyi memberikan notifikasi baru yang sudah lama dia tunggu.

Ding.

[Stamina Master telah pulih mencapai angka lima puluh persen.] [Sistem siap digunakan kembali untuk memindai barang antik skala kecil.]

"Baguslah, besok pagi aku akan mulai mencari rumah mewah untuk tempat tinggal baru kita Bu." Gumam Saka pelan agar tidak terdengar oleh ibunya yang sedang asyik menonton televisi.

Hari ini Saka akan menikmati waktu istirahat penuh menemani ibunya di rumah sakit setelah melewati hari yang sangat panjang. Badai kehancuran kini sedang bergerak cepat menuju keluarga Rio dan tidak ada satupun yang bisa menghentikannya.

1
pricilia
sangat seru alur certanya
Angel
cerita nya tidak membosan kan😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!