NovelToon NovelToon
JATUH CINTA SAMA ORANG YANG PALING NYEBELIN DI SEKOLAH

JATUH CINTA SAMA ORANG YANG PALING NYEBELIN DI SEKOLAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: silasepentin

Bagi Raina, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mengukir prestasi, bukan untuk berurusan dengan makhluk ajaib bernama Devan Adhitama. Devan adalah definisi hidup dari kata "NYEBELIN". Dia berisik, pamer, sering melanggar aturan, dan entah kenapa, selalu punya cara untuk mengacaukan hari Raina yang tertata rapi.

Raina bersumpah akan menjaga jarak radius satu kilometer dari Devan. Namun, takdir berkata lain ketika mereka dipaksa bekerja sama dalam proyek besar sekolah yang mempertaruhkan reputasi mereka berdua. Di antara prank konyol Devan, hukuman bersama di perpustakaan, dan rahasia-rahasia keluarga yang perlahan terkuak, Raina mulai melihat sisi lain dari si raja nyebelin.

Apakah Raina bisa mempertahankan hatinya, atau justru dia akan melakukan hal paling konyol sedunia: Jatuh cinta sama cowok yang paling ingin dia tenggelamkan ke laut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon silasepentin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: PUNCAK LENTERA DAN ABADIKAN JANJI Ini Bab terahir Tamat

Bagian I: Kibaran Bendera di Nagoya

Gemuruh suara lima belas ribu penonton memadati Nagoya Civic General Gymnasium, Jepang. Papan skor digital di atas lapangan indoor megah itu mengunci angka sengit di menit-menit akhir babak final Kejuaraan Basket Antarklub Asia-Pasifik: 82 - 80.

Devan Adhitama berdiri di garis tengah arena dengan jersei bernomor punggung 8. Seragam tim nasional yang kini ia bela tampak basah oleh keringat. Di usia dua puluh lima tahun, Devan bukan lagi sekadar pemuda yang mengejar ketertinggalan nilai Fisika; ia adalah point guard utama yang disegani di kancah profesional Asia.

"Devan, atur tempo!" teriak pelatih dari pinggir lapangan.

Tiga puluh detik tersisa. Devan mendribel bola rendah dengan ketenangan luar biasa. Pandangannya menyapu pergerakan rekan-rekan timnya. Tiga pemain bertahan lawan yang berpostur jauh lebih tinggi mencoba menutup ruang geraknya. Namun, di dalam kepala Devan, rumus ruang dan momentum yang dulu diajarkan Raina bekerja secara otomatis.

Ia melakukan manuver step-back secepat kilat, melepaskan diri dari himpitan bek lawan, lalu mendorong tubuhnya ke udara. Dengan dorongan siku kanan yang sempurna, bola meluncur dalam kurva tinggi yang presisi.

Swish!

Bola menembus jaring bersih tepat saat sirine tanda pertandingan berakhir memekik panjang. Papan skor berubah: 85 - 80! Indonesia memastikan gelar juara!

Di tengah hujan confetti keemasan dan selebrasi riuh para pemain, Devan langsung berlari ke tepi lapangan. Di barisan paling depan tribun kehormatan, Raina berdiri dengan senyum paling manis yang pernah ada. Di leher Raina, tergantung id-card peneliti tamu dari Nagoya University—tempat ia baru saja menyelesaikan sesi presentasi paten riset kimia hijaunya pagi tadi.

Devan melompati pembatas arena, menarik Raina ke dalam pelukannya yang erat tanpa peduli kilatan kamera wartawan internasional yang mengabadikan momen tersebut.

"Kita menang, Na... aku berhasil!" bisik Devan serak di dekat telinga Raina.

Raina membalas pelukan Devan rapat-rapat, mengusap punggung Devan dengan bangga. "Aku gak pernah ragu sedikit pun sama kamu, Devan. Kamu luar biasa."

Bagian II: Janji di Bawah Langit Semarang

Satu tahun kemudian.

Halaman belakang sebuah gedung bernuansa taman tropis di kota Semarang dipenuhi oleh pendar lampu gantung hangat dan keharuman bunga melati. Tempat itu dipilih khusus—kembali ke kota di mana seluruh takdir perjuangan mereka pertama kali dirajut.

Suasana pernikahan berlangsung khidmat dan anggun. Devan tampak sangat gagah mengenakan beskap modern berwarna putih perak, sementara Raina tampil memesona dalam balutan kebaya anggun dengan kacamata berbingkai tipis yang tetap menjadi ciri khas keindahannya.

Di antara para undangan yang hadir, tampak Coach Farhan, Pak Hendra dari SMA Garuda, rekan-rekan tim basket masa sekolah, serta sahabat-sahabat akademis mereka dari Bandung dan Jepang.

Saat sesi mengheningkan cipta, Devan dan Raina berdiri berdua di sudut gazebo taman yang menghadap ke arah bukit. Devan menggenggam jemari Raina, menatap sebuah foto berbingkai kayu di meja altar—foto almarhumah Nenek yang tersenyum hangat.

"Nenek pasti tersenyum di atas sana melihat kita hari ini, Dev," bisik Raina lembut.

Devan mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca oleh rasa haru yang mendalam. "Iya, Na. Semua impian yang dulu kita tulis di lembar kertas lusuh itu... hari ini resmi jadi kenyataan."

Devan memutar tubuhnya, menghadapi Raina sepenuhnya. Ia meraih kedua tangan istrinya, menatap lurus ke dalam mata jernih yang selalu menjadi kompas hidupnya.

"Raina Natasya," ucap Devan dengan nada suara tulus dan mantap. "Terima kasih sudah mematahkan masa depanku yang kelam dan menggantinya dengan harapan. Terima kasih sudah jadi guru, sahabat, dan pelindung terbesarku. Hari ini, di depan semua orang yang kita sayangi, aku berjanji akan selalu menjaga kamu, mencintai kamu, dan berjalan di samping kamu di setiap babak kehidupan kita."

Raina tersenyum dengan air mata bahagia yang mengalir perlahan di pipinya. "Devan Adhitama... terima kasih sudah mengajarkanku arti keberanian dan cinta yang tak pantang menyerah. Selama jantungku berdetak, hatiku cuma milik kamu."

EPILOG: RUMUS YANG TAK PERNAH SELESAI

Lima tahun kemudian.

Sore hari yang hangat di halaman rumah asri mereka di Bandung. Sebuah ring basket portabel terpasang di tepi halaman yang rindang.

Seorang anak laki-laki berusia empat tahun dengan wajah sangat mirip Devan sedang tertawa lepas sambil memantulkan bola basket kecil di atas semen. Tak jauh dari sana, Devan duduk di bangku taman kayu, memangku seorang bayi perempuan yang baru berusia beberapa bulan.

Raina melangkah keluar dari pintu teras membawa nampan berisi dua cangkir teh manis dan camilan sore. Ia meletakkan nampan di atas meja kayu, lalu duduk di samping Devan, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh sang suami.

"Bumi!" panggil Devan pada anak laki-lakinya. "Coba lempar bolanya pakai sudut parabola yang diajarin Ibu kemarin!"

Anak kecil itu tertawa girang, melempar bola kecilnya hingga masuk ke dalam ring plastik dengan gaya yang menggemaskan. Devan dan Raina tertawa bersama, menikmati harmoni sore yang sempurna.

Di atas meja taman, dua buah tas kerja mereka tergeletak berdampingan. Di masing-masing gantungan tas itu, gantungan kunci kayu bola basket dan kacamata bulat—benda kecil yang dulu menjadi saksi bisu insiden di SMA Garuda—masih terpasang rapi dan berkilat diterpa sinar matahari senja.

Kisah yang diawali dari lemparan bola nyasar, kacamata yang patah, dan aturan disiplin sekolah itu telah menemukan muara terindahnya. Bukan lagi tentang siapa yang menang atau siapa yang benar, melainkan tentang dua jiwa yang saling melengkapi, saling menguatkan, dan mengukir takdir cinta abadi yang tak akan pernah usai oleh waktu.

TAMAT SEPENUHNYA

1
sila
novel goot
sila
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!