Di Kekaisaran Tianming, Pangeran Ke-14 bernama Mu Xuanyuan dikenal oleh seluruh penjuru istana sebagai pangeran yang "cacat": bodoh, tidak bisa bertarung, gila, dan selalu tersenyum ceria tanpa peduli situasi. Ia menjadi bahan tertawaan para pejabat dan target perundungan utama dari Pangeran Ke-3 (Lu Cangqiong) yang arogan. Dari 21 bersaudara (8 kakak laki-laki, 5 kakak perempuan, 4 adik laki-laki, dan 3 adik perempuan), hampir tidak ada yang menganggap Xuanyuan sebagai ancaman.
Namun, di balik topeng ceria dan tingkah konyolnya, Mu Xuanyuan adalah entitas paling berbahaya di seluruh benua. Ia secara rahasia telah mencapai ranah Immortal Emperor Puncak (Ranah Kaisar Abadi). Tak hanya itu, ia adalah pemilik sah dari Paviliun Lelang Xingzhou (balai lelang terbesar di benua) dan raja di balik Pasukan Bayaran Po Jun (tentara bayaran paling menakutkan). Ia juga memiliki Ruang Dimensi Portabel yang berisi ladang tanaman obat langka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19: Pushing the Third Prince’s Buttons
Pagi hari menjelang lelang akbar di ibu kota Kekaisaran Tianming disambut oleh riak keramaian yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jalanan utama yang menghubungkan kompleks istana kekaisaran menuju Balai Lelang Xingzhou dipenuhi oleh jajaran kereta kuda berlapis emas, hewan tunggangan bertanduk spiritual, serta iring-iringan pengawal berzirah berat dari berbagai sekte dan clan raksasa.
Namun di tengah deretan kereta mewah tersebut, sebuah kereta kayu tua yang ditarik oleh seekor kuda kurus meringkik pelan, berjalan terseok-seok di tengah barisan.
Di dalam kereta reyot itu, Mu Xuanyuan duduk bersandar santai seraya menaikkan satu kakinya ke atas bangku. Pakaian biru mudanya sedikit kusut, sementara tangannya sibuk memegang sebuah buah persik emas ajaib dari ruang dimensinya. Di sampingnya, Feng Wuchen dan Gu Juechen duduk dengan wajah tenang, terbiasa dengan metode penyamaran majikan mereka yang selalu mengundang perhatian negatif dari publik.
"Pangeran," bisik Gu Juechen seraya melirik keluar jendela kayu, "kereta Pangeran Ke-3 Lu Cangqiong berada tepat tiga puluh meter di depan kita. Tampaknya dia membawa seluruh pasukan pengawal pribadi dan belasan tetua dari Sekte Pedang Bintang."
Xuanyuan mengunyah buah persik dengan manis, lalu menyunggingkan senyum konyol khasnya. "Bagus sekali. Semakin ramai rombongannya, semakin seru saat gertakannya runtuh nanti."
Tepat saat kereta reyot Xuanyuan tiba di alun-alun utama depan Balai Lelang Xingzhou gedung delapan lantai bertingkat giok yang berdiri megah dengan susunan formasi spiritual kuno kereta berlapis emas murni milik Pangeran Ke-3 mendadak berhenti keras, sengaja memotong jalur kereta Xuanyuan.
Gedebuk!
Kuda kurus penarik kereta Xuanyuan meringkik kaget dan berhenti mendadak.
Xuanyuan langsung meloncat keluar dari dalam kereta dengan gaya konyol, berpura-pura terlempar seraya memeluk burung kayu mainannya erat-erat ke dada.
"Aaaah! Gempa bumi! Kereta kayuku menabrak gunung emas!" jerit Xuanyuan dengan suara cempreng nyaring yang menggelegar di seluruh alun-alun balai lelang.
Pintu kereta emas di depannya terbuka. Lu Cangqiong melangkah keluar dengan gaya yang sangat anggun dan arogan. Ia mengenakan jubah sulaman naga merah berlapis benang perak, memegang kipas jade, dan dikelilingi oleh lima tetua berwajah dingin dengan tingkatan kultivasi Ranah Pendekar Spirit Puncak.
"Siapa yang berani berteriak-teriak konyol di depan Balai Lelang Xingzhou?!" bentak Lu Cangqiong dengan suara bernada meremehkan. Namun begitu pandangannya jatuh pada Mu Xuanyuan yang sedang bersimpuh konyol di tanah, senyum ejekannya langsung mengembang lebar.
"Oho! Ternyata Adik Ke-14!" tawa Lu Cangqiong pecah, memancing perhatian ratusan kultivator dan pejabat yang berkumpul di sekitar pintu masuk lelang. "Mengapa si idiot dari kediaman timur ini bisa sampai ke sini? Dan naik kereta kayu busuk yang hampir roboh ini? Apakah kau ingin mengemis makanan di dalam balai lelang?"
Para pengawal Lu Cangqiong dan beberapa kultivator di sekitarnya ikut tertawa sinis.
"Pangeran Ke-3 benar," bisik seorang tetua sekte. "Balai Lelang Xingzhou adalah tempat berkumpulnya kekayaan dan kekuatan puncak benua. Mengapa seorang pangeran cacat dan gila diizinkan berkeliaran di sini?"
Xuanyuan melompat berdiri seraya menepuk-nepuk debu di jubahnya. Ia menatap Lu Cangqiong dengan mata berkedip-kedip polos, lalu melangkah mendekati pangeran ketiga itu tanpa rasa takut sedikit pun.
"Kakak Ke-3! Kakak Ke-3!" seru Xuanyuan gembira seraya menyodorkan burung kayunya tepat ke depan wajah Lu Cangqiong. "Lihat! Burung kayuku mau masuk ke gedung tinggi itu! Katanya di dalam ada banyak buah-buahan enak dan orang-orang berbaju mewah seperti Kakak!"
Lu Cangqiong mendengus jijik dan mengibaskan tangannya, menepis burung kayu itu hingga terlempar beberapa meter ke udara.
Puk!
Feng Wuchen dengan gerakan amat cepat namun tersembunyi menangkap burung kayu tersebut di udara sebelum menyentuh tanah, lalu mengembalikannya ke tangan Xuanyuan dengan raut wajah kaku.
"Mu Xuanyuan!" gertak Lu Cangqiong, menyipitkan matanya penuh kebencian atas kekalahannya di perjamuan perburuan lalu. "Tempat ini bukan taman bermainmu! Di dalam sana ada Kotak Giok Bersegel Kaisar yang akan kubeli dengan sepuluh juta Kristal Spiritual! Pangeran sepertimu bahkan tidak sanggup membayar biaya secangkir teh di lantai VVIP!"
Xuanyuan memiringkan kepalanya, berpura-pura bingung seraya menghitung dengan jarinya. "Sepuluh juta? Apakah sepuluh juta itu sama banyaknya dengan Sepuluh Ribu Ubi Manis? Wah, Kakak Ke-3 kaya sekali! Tapi... apakah Kakak Ke-3 yakin uangnya cukup?"
Mendengar kata-kata "apakah uangnya cukup" dari mulut seorang pangeran gila, wajah Lu Cangqiong mendadak memerah karena merasa dihina.
"Apa kau bilang?!" bentak Lu Cangqiong, urat di lehernya menegang. "Uangku tidak cukup?! Aku membawa dana dari Putra Mahkota dan seluruh tabungan istanaku! Tidak ada satu pun orang di benua ini yang bisa menandingi tawaran Kekaisaran Tianming!"
"Tapi... tapi..." Xuanyuan menggoyangkan jarinya seraya tersenyum polos yang amat memprovokasi. "Aku dengar dari paman-paman penjual sayur di jalan, orang yang suka berteriak kaya biasanya justru yang paling cepat bangkrut! Nanti kalau Kakak Ke-3 kehabisan uang di dalam, jangan menangis minta ubi manisku ya!"
"KAU IDIOT SIALAN!" raung Lu Cangqiong kalap. Ia mengangkat tangannya hendak melayangkan pukulan berenergi Qi ke wajah Xuanyuan untuk memberi pelajaran di depan umum.
Namun sebelum tangan Lu Cangqiong sempat terayun....
Wusss!
Aroma wangi bunga peony yang amat pekat mendadak melingkupi alun-alun. Sebuah kipas emas terkuak di udara, menahan pergelangan tangan Lu Cangqiong dengan tekanan energi spiritual yang begitu dingin dan pekat hingga membuat seluruh tetua sekte di belakang Lu Cangqiong membelalak kaget.
"Oho~ Pangeran Ke-3 yang terhormat... berani bertindak kasar di depan gerbang Balai Lelang Xingzhou sungguh bukan sikap seorang bangsawan," suara mendayu-dayu yang sangat memikat menggema merdu.
Leng Yan melangkah keluar dari dalam pintu balai lelang dengan jubah sutra merah menyala yang berkibar anggun. Di sampingnya, Leng Shuang berdiri dengan tangan terlipat di dada, menatap Lu Cangqiong dengan pandangan dingin.
"Leng Yan?!" gertak Lu Cangqiong seraya menarik tangannya kembali dengan wajah bergetar menahan tekanan Qi. "Kau mau mencampuri urusan keluarga kekaisaran lagi?!"
Leng Yan mengibaskan kipas emasnya seraya tersenyum flamboyan, lalu melirik Mu Xuanyuan dengan binar pemujaan yang pekat di matanya.
"Hamba tidak mencampuri urusan kekaisaran," tutur Leng Yan manis. "Hamba hanya bertindak sebagai tuan rumah sementara di balai lelang ini. Dan Pangeran Ke-14 yang sangat tampan ini... adalah tamu kehormatan yang telah memesan Bilik VVIP Nomor Satu!"
"APA?!" jerit Lu Cangqiong tak percaya. "Si idiot ini di Bilik VVIP Nomor Satu?! Bilik paling megah di seluruh balai lelang?! Itu tidak mungkin! Berapa banyak uang yang dia bayar?!"
Leng Yan terkekeh gembira, menyodorkan tangannya mengundang Xuanyuan untuk melangkah masuk. "Pesona dan keagungan Pangeran Xuanyuan tidak bisa diukur dengan uang fana. Silakan masuk, Pangeran yang manis~ Tempat duduk terindah telah disiapkan untukmu."
Xuanyuan melompat-lompat girang seraya berteriak cempreng. "Horeee! Orang cantik baju merah memberiku kamar bagus! Kakak Ke-3, aku duluan ya! Jangan lupa beli ubi manisnya!"
Dengan cengiran paling polos dan gaya konyol yang luar biasa, Xuanyuan melangkah masuk ke dalam Balai Lelang Xingzhou dikawal oleh Leng Yan, Leng Shuang, serta dua pengawal pribadinya—tinggal meninggalkan Lu Cangqiong yang berdiri kaku di luar dengan dada meledak-ledak menahan amarah yang tiada tara.