Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.
Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.
Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.
Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.
Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.
Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06
Setahun setelah menikah, mereka menghadiri pesta ulang tahun salah satu kerabat. Di sana berkumpul banyak anggota keluarga besar, beberapa sepupu Arga datang bersama anak-anak mereka yang masih kecil. Suasana terasa sangat ramai dan penuh tawa, namun Arga melihat hari itu sebagai awal dari luka yang selalu diderita oleh istrinya.
Arga memperhatikan Rania yang sedang membantu menata makanan di meja, lalu tanpa sengaja mendengar percakapan beberapa kerabat yang berdiri agak jauh di belakangnya. Bahkan Arga sendiri juga mendengarnya. Semua orang membicarakan Rania yang belum hamil. Mempertanyakan kesuburannya. Arga hanya bisa mendekat, menenangkan dengan menggenggam tangannya.
Pesta belum usai ketika Arga memilih mengajak istrinya pulang daripada semakin tertekan. Sepanjang perjalanan Rania sama sekali tak henti menangis. Dan malam itu juga, pertanyaan itu mulai menggema menghadirkan luka.
"Bagaimana kalau ternyata aku benar-benar tidak bisa punya anak..."
Arga langsung memotong ucapannya dengan tegas namun lembut. "Ngapain sih ngomong kayak gitu? Kita nikah baru setahun. Gak usah pedulikan omongan orang. Yang penting aku dan kamu."
"Tapi bagaimana kalau ternyata memang begitu?"
Arga segera memegang kedua tangan Rania, menatap matanya dalam-dalam dengan penuh kesungguhan.
"Dengar aku baik-baik. Aku menikahimu bukan karena ingin punya anak, tapi karena aku mencintaimu. Aku tidak peduli berapa lama kita harus menunggu, atau apa pun hasilnya nanti. Aku akan selalu ada di sampingmu."
Air mata Rania jatuh bukan karena sedih, melainkan karena rasa bahagia yang meluap. Rania percaya sepenuh hati pada setiap janji yang ia ucapkan. Dan itulah yang membuat Arga bagai kehilangan harga diri sekarang. Karena janji yang sering ia ucapkan sama sekali tak bisa ia tepati.
"Pak Arga?"
Suara seseorang memanggilnya, membuat Arga tersadar seketika. Semua mata di ruangan itu tertuju padanya.
"Kami menunggu keputusan Bapak," lanjut salah satu klien dengan nada sopan.
Arga berkedip beberapa kali, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Ia bahkan tidak ingat apa yang baru saja dibahas. Ia benar-benar kehilangan fokus sepenuhnya. Sesuatu yang belum pernah terjadi sepanjang ia meniti karirnya.
"Maaf," ucapnya singkat, merasa canggung.
Suasana ruang rapat mendadak terasa kaku. Tidak pernah sebelumnya Arga Pratama terlihat bingung dan tidak terkendali seperti ini.
Arga memejamkan matanya sesaat kemudian membukanya kembali. Kenangan itu terasa begitu jelas, seolah baru terjadi kemarin. Namun kenyataannya kini sudah berubah total.
Arga kembali membuka ponselnya, jari-jarinya bergerak pelan menuliskan pesan untuk satu-satunya orang yang ingin ia temui saat ini.
"Aku tahu aku tidak pantas meminta apa pun darimu sekarang. Tapi tolong, temui aku sekali saja. Hanya sekali."
Setelah selesai mengetik, ia mengirimkan pesan itu, lalu menatap layar dengan napas tertahan. Menunggu. Satu menit, dua menit, lima menit berlalu… tetap tidak ada balasan.
*
*
*
Pagi berikutnya, Rania akhirnya menyalakan kembali ponselnya. Bukan karena ia sudah siap menerima kenyataan, tapi ia sadar tidak mungkin bersembunyi selamanya.
Begitu layar menyala, puluhan notifikasi langsung bermunculan bertumpuk. Panggilan tak terjawab, pesan singkat, hingga pesan di aplikasi obrolan. Semuanya datang dari satu nama… Arga.
Jari Rania terasa bergetar saat membacanya satu per satu.
“Aku mencarimu ke mana-mana.”
“Tolong jawab pesanku.”
“Aku ingin bicara.”
“Aku benar-benar minta maaf.”
Pesan terakhir dikirim sekitar pukul tiga dini hari. Setelah itu tidak ada lagi pesan masuk. Mungkin Arga sudah kehabisan tenaga, atau akhirnya menyerah.
Rania menarik napas panjang, berusaha menenangkan dada yang terasa sesak, kemudian menghapus seluruh pesan itu. Ia tidak mau ada sesuatu yang berkaitan dengan Arga lagi, yang akhirnya hanya akan membuka Luka semakin lebar.
Setelah membersihkan diri, Rania bersiap untuk kembali bekerja. Karena meski luka dalam hatinya masih menganga, tapi hidup harus tetap berjalan. Dia tidak mau terpuruk hanya karena masalah perceraian dengan Arga.
*
“Pagi, Mbak Rania,” sapa beberapa rekannya begitu ia tiba di kantor.
“Pagi juga,” jawab Rania memaksakan diri untuk tersenyum.
“Mbak Rania udah sehat? Kemarin katanya sakit” tanya salah satu dari mereka lagi.
“Ia, aku udah baikan.”
Mungkin itu adalah kebohongan pertamanya hari itu. Karena sebenarnya ia sama sekali tidak baik-baik saja, tapi ia harus tetap kuat.
Sepanjang perjalanan menuju ruang kerjanya, ia berusaha menjaga raut wajahnya agar terlihat biasa saja. Namun rupanya keberuntungan tidak berpihak padanya. Saat melintas di dekat ruang pantry, suara obrolan dua karyawan terdengar jelas sebelum mereka sempat menyadari kehadirannya.
“Eh… kamu udah dengar berita tentang Rania, belum?”
“Berita apa?"
“Katanya dia mau diceraikan."
“Ya Tuhan, kasihan banget sih.”
“Ya mau bagaimana lagi? Sudah tiga tahun menikah belum juga punya anak. Keluarga kaya pasti butuh penerus.”
Langkah Rania terhenti seketika. Jantungnya langsung berdegup kencang menahan rasa sakit. Secepat itu berita tentang perceraiannya dengan Arga tersiar?
Kedua karyawan itu terkejut melihat kedatangan Rania, dan langsung terdiam dengan wajah mereka pucat karena ketahuan.
“Maaf, Mbak… kami tidak bermaksud…”
Rania hanya mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis. “Tidak apa-apa.”
Rania segera melanjutkan langkahnya seolah tidak mendengar apa-apa, padahal di dalam dada, setiap kalimat itu terasa seperti duri yang menusuk satu per satu. Kenapa selalu dirinya yang menjadi sasaran?
*
Di lantai paling atas gedung, seorang pria duduk dengan wajah kaku di depan layar laptop yang menyala. Tatapannya tertuju lekat pada sosok Rania yang terekam kamera CCTV. Sorot matanya begitu tajam, wajahnya dingin dan tegas. Namun saat menatap wajah wanita itu, pandangannya terlihat begitu lembut, penuh perhatian.
Dialah Alvino Mahendra. Pemilik sekaligus direktur utama perusahaan ini. Sudah bertahun-tahun ia menyimpan perhatian khusus pada Rania, bahkan jauh sebelum wanita itu menikah dengan Arga, yang adalah saudara sepupu Alvino. Namun saat itu Rania sudah memiliki pilihan hatinya, dan Alvino bukanlah tipe pria yang ingin merebut kebahagiaan orang lain. Oleh karena itu ia memilih diam, menjaga jarak, dan memendam rasa cintanya sendirian selama ini.
Namun pagi ini, ia bisa melihat jelas ada yang salah. Wajah Rania terlihat pucat, matanya sembab, dan senyum yang biasanya terasa hangat kini terlihat begitu dipaksakan.
Tok… tok… tok…!
Ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
“Masuk.”
Pintu terbuka, dan masuklah Soraya Mahendra, ibunya, wanita yang dulu mendirikan perusahaan ini bersama dengan ayahnya yang saat ini sedang berada di luar negeri untuk memantau bisnis mereka yang lain.
“Apa yang sedang kamu pandangi begitu lama?” tanya Soraya sambil melangkah mendekat.
Ia mengikuti arah pandangan putranya, dan segera menyadari sosok yang dimaksud. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya.
“Masih memikirkan wanita itu, ya?”
Alvino menghela napas panjang. “Bu… jangan mulai lagi.”
“Kenapa? Ibu sudah tahu isi hatimu sejak lama,” jawab Soraya lembut. “Bahkan sebelum dia menikah.”
Alvino hanya terdiam. Ia tidak bisa menyangkalnya. “Tapi sekarang dia sudah menjadi istri orang lain,” gumamnya pelan, nadanya terasa pahit.
Soraya menatap wajah putranya dengan penuh pengertian. Lalu ia berkata pelan namun tegas, “Belum tentu selamanya akan tetap begitu.”
Alvino langsung mengernyit bingung. “Apa maksud Ibu?”
Soraya hanya tersenyum samar tanpa menjawab. Ia sudah mendengar kabar yang sedang menjadi bisikan di kalangan keluarga Pratama kemarin. Dan satu rencana sudah tersusun rapi dalam otaknya.
mak semangat truus menulis ny ,, sehat2 trus mamak ku ,, 🫰🫰🫰🫰
nonis tidak ada pakai ijab kabul ya.kita adanya pemberkatan di gereja.
tidak harus ada orang tua yang jadi wali jabat tangan dengan mempelai pria...
pemberkatan di lakukan oleh pendeta atau pastor,diantara dua pengantin.
mohon di perhatikan lagi kk Thor
setau saya nikah di gereja itu namanya pemberkatan nikah oleh Pendeta.
tolong lebih diperluas referensinya. karena ketika kita membaca maka yang diharapkan ada bertambahnya pengetahuan bukan makin keliru.
tp dtggu penjellasan ny di bab berikut ny ,, 😁😁😁😁😁