NovelToon NovelToon
DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:669.1k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.

Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.

Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.

Talak.

Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.

Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.

Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12.Lamunan Raya

Raya memeluk lututnya, menyandarkan dagu di atasnya. Tatapannya kosong, tapi pikirannya penuh.

Terlalu penuh.

"Harusnya aku lebih peka…”

Kalimat itu kembali berulang di kepalanya, seperti kaset rusak yang tak mau berhenti.

Dulu, saat pertama kali bertemu Kamil, ada sesuatu yang mengganjal. Tatapannya terlalu dingin untuk seseorang yang katanya ingin mengenal lebih jauh. Cara bicaranya terlalu datar, seolah semua ini hanya formalitas.

Tapi Raya memilih diam. Memilih untuk tidak memperbesar hal-hal kecil yang ia rasakan. Karena dia percaya pada satu hal—

bahwa perasaan bisa tumbuh. Bahwa mungkin, Kamil hanya canggung. Bahwa mungkin, laki-laki memang seperti itu. Bahwa mungkin… semuanya akan membaik setelah menikah.

Raya tersenyum miris."Bodoh banget aku…”

Air matanya jatuh lagi, kali ini tanpa bisa ditahan.

Dia terlalu percaya. Bukan hanya pada Kamil… tapi juga pada harapan yang ia bangun sendiri.

Harapan tentang rumah tangga yang hangat.

Tentang suami yang akan menggenggam tangannya saat dia lelah. Tentang seseorang yang akan berdiri di sampingnya, bukan meninggalkannya.

Namun kenyataannya? Baru saja dia resmi menjadi istri, status itu sudah direnggut darinya. Bahkan sebelum dia sempat benar-benar merasakannya.

Dada Raya terasa sesak. Bukan hanya karena ditinggalkan. Tapi karena dia merasa… tidak pernah benar-benar dipilih. Seolah sejak awal, dirinya hanya pilihan yang dipaksakan. Air matanya mengalir semakin deras.

"Aku ini apa sih buat kamu, Mas?”

Suaranya bergetar, hampir tak terdengar.

"Cuma… pelarian? Atau… sekadar formalitas biar kamu kelihatan baik di mata orang tua?”Pertanyaan itu menggantung di udara.

Tak ada jawaban. Dan mungkin… memang tidak akan pernah ada.

Raya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar pelan. Yang paling menyakitkan bukan hanya perpisahan itu sendiri. Tapi kenyataan bahwa selama ini dia berjuang sendirian dalam hubungan yang bahkan belum sempat dimulai.

Raya mengusap air matanya dengan punggung tangan. Napasnya masih belum stabil, tapi pikirannya terus berputar, menyeretnya kembali ke masa itu.

Ke salah satu momen… yang sekarang terasa begitu jelas.

Hari ketiga setelah perkenalan. Saat itu, Kamil mengajaknya bertemu di sebuah kafe. Katanya, ingin “lebih mengenal”.

Raya datang lebih dulu.

Tangannya dingin, meski segelas minuman hangat sudah ada di hadapannya. Matanya sesekali melirik pintu masuk, menunggu sosok yang akan menjadi calon suaminya.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Hingga akhirnya, Kamil datang.

"Maaf,” ucapnya singkat sambil duduk, tanpa benar-benar menatap Raya.

Raya tersenyum kecil. “Gak apa-apa, aku juga baru—”

Belum selesai kalimatnya, Kamil sudah sibuk dengan ponselnya. Jempolnya bergerak cepat. Entah membalas pesan siapa.

Sunyi.

Raya menunggu. Berharap dia akan menyimpan ponselnya dan mulai berbicara. Tapi tidak.

Satu menit.

Dua menit.

Tiga menit.

"Ehm… kerjaan ya?” Raya mencoba membuka percakapan.

"Iya. Penting.” Jawabannya singkat. Datar.

Lagi-lagi hening.

Raya menggenggam gelasnya pelan. Ada rasa canggung yang perlahan menjalar, membuatnya tidak nyaman.

"Kerjaan kamu lagi sibuk banget ya?” tanyanya lagi, berusaha mencairkan suasana.

"Biasa.”

Hanya itu. Tak ada usaha untuk bertanya balik.

Tak ada ketertarikan untuk mengenalnya. Seolah… ia memang tidak benar-benar ingin ada di sana.

Saat itu, Raya sempat menatap wajah Kamil lebih lama. Mencari sesuatu. Satu saja… tanda bahwa pria itu benar-benar ingin mengenalnya. Tapi yang ia temukan hanya wajah datar. Kosong. Jauh.

Dan untuk pertama kalinya… hati kecilnya berbisik—

"Dia gak tertarik sama kamu, Ray.”

Raya menelan ludah. Namun, seperti biasa… dia mengabaikannya.

"Ah, mungkin dia capek,” pikirnya waktu itu.

"Mungkin dia memang gak banyak bicara.”

"Mungkin nanti juga akan lebih baik.”

Raya tersenyum kecil, pahit. Sekarang dia sadar…

Bukan Kamil yang sulit dipahami. Tapi dirinya sendiri… yang terlalu keras meyakinkan hati, bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Padahal sejak awal semuanya sudah terasa salah.

Raya memejamkan mata lagi. Kenangan itu seperti pisau kecil—tidak langsung membunuh, tapi melukai berkali-kali.

"Harusnya aku berhenti waktu itu…”

Suaranya lirih, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri.

"Tapi aku malah lanjut… sampai sejauh ini.”

Air matanya jatuh lagi. Dan kali ini… bukan hanya karena disakiti. Tapi karena dia sadar—

dia ikut membiarkan dirinya terluka.

Raya masih duduk di ujung ranjang, tenggelam dalam lamunannya sendiri. Ingatan tentang masa lalu itu belum sepenuhnya pergi, masih menggantung seperti bayangan yang enggan memudar.

Tiba-tiba…Suara ramai terdengar dari luar kamar.

Tidak seperti biasanya. Ada nada panik. Tergesa. Dan… berat.

Raya mengernyit pelan. Dia bangkit, melangkah mendekati pintu, mencoba menangkap lebih jelas apa yang sedang terjadi.

"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Bu Aida meninggal… katanya kena serangan jantung juga.”

Langkah Raya terhenti. Tubuhnya seketika kaku.

Suara itu… suara Om Doni.

"Siapa yang ngasih tahu, Mas?” suara Tante Irma menyusul, terdengar lebih pelan tapi penuh keterkejutan.

"Hakim, anak tertua Pak Hasan.”

Deg.

Seolah ada sesuatu yang jatuh tepat di dadanya. Raya tidak langsung bergerak. Otaknya seperti butuh waktu untuk mencerna kabar itu.

Tante Aida… meninggal? Baru kemarin…

Baru kemarin mereka bertemu.

Perlahan, Raya membuka pintu kamarnya. Langkahnya terasa ringan tapi juga berat di saat yang bersamaan. Dia berjalan menuju ruang keluarga, di mana Om Doni dan Tante Irma terlihat duduk dengan wajah tegang.

"Siapa yang meninggal, Om?” tanya Raya, meski sebenarnya dia sudah mendengar jawabannya.

Om Doni menoleh. Tatapannya melembut, tapi menyimpan duka.

"Bu Aida, Ray. Katanya serangan jantung.”

Raya terdiam.

"Innalilahi wa inna ilaihi rajiun…” ucapnya pelan. Suara itu keluar hampir seperti bisikan.

Wajah Tante Aida langsung terlintas di benaknya.

Kemarin, saat di pemakaman ayahnya, wanita itu masih berdiri di sana. Wajahnya memang terlihat pucat, matanya sembab, tapi dia masih sempat menggenggam tangan Raya. Menguatkan… meski dirinya sendiri terlihat rapuh.

"Yang sabar ya, Nak!”

Kalimat itu masih terngiang jelas. Raya menelan ludah. Dadanya kembali terasa sesak.

"Cepat banget…” gumamnya lirih.

Air matanya kembali menggenang. Entah kenapa, kehilangan itu terasa seperti datang bertubi-tubi.

Seolah hidup tidak memberinya jeda untuk bernapas.

Baru saja dia kehilangan sosok ayah…

dan sekarang… Tante Aida menyusul.

Padahal, di tengah semua kekacauan yang terjadi, diam-diam Raya merasa… wanita itu dan suaminya adalah orang dari keluarga Kamil yang benar-benar melihatnya. Yang tulus. Yang tidak menghakimi.

Raya menunduk. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyusup—bukan hanya sedih…

tapi juga kehilangan tempat untuk bersandar, meski hanya sedikit.

Tangannya mengepal pelan. Dan untuk pertama kalinya sejak kabar itu terdengar—

Raya tidak hanya merasa ditinggalkan oleh keadaan…tapi juga oleh orang-orang yang, meski sebentar, pernah membuatnya merasa tidak sendirian.

1
Hadi Mulyono
namanya kedzoliman di bayar kontan .siapapun orangnya
Mama Lilik
syukurin kamil itu hukumanmu... karma berjalan
Hadi Mulyono
di tinggal nikah Kamil
Hadi Mulyono
Andra lama banget sih timbang bilang suka aja .tar raya di ambil orang baru nyesel.
Yuyun Zampiet
tetap semangat raya apapun yg terjadi, demi ibu dan adik2mu💪
Hadi Mulyono
jangan bilang plng mau balikan sm Andra ya
Hadi Mulyono
kalo tau anak Amanda bukan anaknya pasti jg Amanda bakal di tinggalin
Hadi Mulyono
Kamil di bodohin Amanda ..ee Tar maknya Amanda sadar liat kamil
shesil
5tahun baca di aplikasi ini dan baru sekarang ketemu cerita yg bagus banget.
Asli keren banget ini alurnya, bikin penasaran pengen baca terus. Udah gitu authornya bisa bawa emosi readernya. Jarang² saya baca novel sampe kebawa emosi dan ini salah satu novel tsb. Terharu waktu Raya di podcast dani sumarno dan saat Andra mau ngelamar dia
Top pokoknya deh
fatmiatun sahono
orang tua nya Aldo kemana
kan itu viral....semestinya tau media online itu habat lho efek nya. orang tua Aldo yg nolak tempo hari ke di ujung dunia ya....Ampe TDK muncul🙏💪
echa purin
👍
Ria Gazali Dapson
kasian bu anisa, ank nya 22 nya bikin onar kel
Ria Gazali Dapson
punya temen bukan nasehatin yg bagus, malahan d suruh tambah zinah nya, amel amanda, perempuan durjana, naudzubillah
Na Lyna: raya menuju kesuksesan.. sikamil ma panda menuju kehancuran...
total 1 replies
shesil
jangan² Ananda = Amanda
Ria Gazali Dapson
mil lol tukang tipu ketemu amando lol tukang tipu, klop banget, ntar ank nya jdi mafianis lol🤣
Ria Gazali Dapson
sukron yuh , dapet barang rongsok, gadis rasa joken😄😄😄, g ush pke rem lagi, langsung jozzz😄😄, bablas 😄
Ria Gazali Dapson
ya x , kalo cow cew nginep , cuma men hape doangan , yg laen nya ber gercep lla , mil lol mil lol 🤣
Anonim
sebenarnya pemeran utama nya siapa ada raya, amanda,ananda jd bingung
Kale
semoga nnti amanda lahiran,anaknya plek ketiplek wajah ayah biologisnya si Dion,,dn jngn ada orang ketiga diantara raya dn dokter andra Thor,jika mereka berjodoh,jngn sampai raya terluka untuk yg kedua kalinya
Kale
justruh yg lbh bahagia nnti raya sama dokter andra
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!