NovelToon NovelToon
Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:TimeTravel / Bepergian untuk menjadi kaya / Hari Kiamat
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Putra

Setiap malam, Arka terbangun di dunia yang penuh zombie.

Setiap pagi, ia kembali ke dunia nyata dengan emas dan kristal yang bisa dijual miliaran.

Mantan pacarnya membuangnya karena ia "gila dan miskin."

Sekarang? Ia memiliki 128 properti, tubuh sempurna, dan kekuatan yang membuat jenderal berlutut.

Tapi ini baru permulaan. Karena dunia di luar Bumi jauh lebih berbahaya — dan Arka baru saja menjadi target nomor satu seluruh alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

"Kita lihat," katanya pelan, "seberapa besar utara itu sebenarnya."

Tetapi sebelum melihat utara, Arka harus memastikan satu hal.

Markas Masa Depan tidak boleh lapar.

Sembilan puluh orang membuat kebutuhan Markas Masa Depan melonjak. Piring, obat, pakaian hangat, peluru, dan solar harus masuk hitungan harian. Delapan AK-47 dari Rudi membantu, tetapi senjata tanpa peluru hanya besi yang terlihat galak. Pickup tanpa solar hanya kotak mati di halaman.

Semua kembali pada satu hal.

Uang.

Di Planet Biru, uang kertas sudah tidak berguna. Kartu bank, saham, sertifikat deposito, semua menjadi sampah kering di laci kantor. Tetapi emas berbeda. Manusia bisa kehilangan negara, jaringan listrik, bahkan kota, tetapi emas tetap punya berat yang diakui dua dunia.

Malam itu, Arka membuka buku transaksi Rudi dan peta lama pusat kota. Di salah satu halaman, ada catatan rute menuju gedung bank sentral lama. Rudi menulisnya dengan tanda silang besar.

Bahaya. Gudang bawah tanah. Jangan masuk tanpa tim berat.

Bagi Rudi, itu peringatan.

Bagi Arka, itu undangan.

Ia tidak membawa tim besar. Shadow ingin ikut, Merah lebih ingin lagi, dan Elang bahkan sudah menyiapkan Barrett .50 Cal. Arka menolak semuanya.

"Kalau aku membawa kalian, markas kehilangan tulang punggung," katanya. "Dan kalau gedung itu benar berbahaya, jumlah banyak justru membuatku sulit bergerak."

Kirana menatapnya di depan pintu ruang peta. "Koneksi Mental-ku bisa membantu dari jauh."

"Terlalu jauh. Kau baru pulih dari Jalan Megah."

"Kamu selalu bilang orang yang membuat pasukan tidak buta itu penting."

Arka berhenti sejenak, lalu menyerahkan radio kecil kepadanya. "Kalau sampai sinyal putus lebih dari sepuluh menit, bangunkan Shadow. Tapi jangan kirim orang sebelum aku memberi tanda."

Kirana menerima radio itu. "Kamu tidak suka orang khawatir, ya?"

"Aku lebih tidak suka orang mati karena mengkhawatirkanku."

Ia pergi sebelum Kirana sempat membalas.

Gedung bank sentral lama berdiri di pusat kota seperti peti beton raksasa. Bagian atasnya retak, papan nama jatuh, dan halaman depannya dipenuhi kendaraan yang berhenti tanpa arah. Angin dingin melewati kolom-kolom besar dan menggoyang bendera kusam di tiang pendek.

Arka masuk lewat sisi belakang.

Ia tidak mencari duel. Ia mencari rute.

Bilah Dimensi membuka kunci baja tanpa suara. Kalau ada zombi biasa muncul, Arka menyelesaikannya dengan satu gerakan pendek lalu terus turun.

Di lantai bawah, udara lebih dingin.

Lift mati. Tangga darurat setengah roboh. Arka turun melalui lorong servis, mengikuti tanda panah menuju ruang penyimpanan cadangan. Semakin dalam ia berjalan, semakin jelas terasa bahwa penjaga di bawah lebih kuat.

Dua zombi tingkat tiga berdiri di depan pintu baja besar. Mereka tidak berkeliaran seperti yang lain. Tubuh mereka diam, posturnya kaku, seolah menjaga sesuatu dengan naluri yang tersisa dari dunia lama.

Di belakang mereka, pintu vault setebal mobil tertutup rapat.

Arka mengangkat tangan.

Lima garis Bilah Dimensi muncul bersamaan. Engsel pengaman terpotong, rantai baja putus, dan dua penjaga tingkat tiga jatuh sebelum sempat memenuhi lorong dengan kekacauan.

Arka tidak mendekat terlalu cepat. Ia menunggu tiga detik, memastikan tidak ada gerakan kedua. Setelah itu, dua Kristal tingkat tiga masuk ke ruang penyimpanan.

Pintu vault masih tertutup.

Ancaman sebenarnya bergerak di balik pintu.

Saat Arka menempelkan telapak tangan ke baja dingin, suara benturan pelan terdengar dari dalam. Satu kali. Dua kali. Berat. Teratur. Penjaga di dalam jelas lebih kuat dari zombi biasa.

Tingkat empat.

Arka menarik napas.

Jika beberapa minggu lalu ia bertemu makhluk seperti itu, ia hanya punya satu pilihan: lari.

Sekarang, ia punya pilihan kedua.

Mengubah ruang.

Ia tidak membuka pintu sepenuhnya. Ia memotong celah sempit, menahan penjaga tingkat empat dari jarak aman, lalu menjatuhkannya dengan dorongan pintu baja dan satu Bilah Dimensi terakhir.

Gerakan berat di dalam vault berhenti.

Arka menunggu lebih lama kali ini.

Satu menit.

Dua menit.

Baru setelah Koneksi Mental lemah dari radio Kirana memberi tanda tidak ada arus besar mendekat, ia masuk.

Ruang vault itu luas dan gelap.

Lampu darurat mati, tetapi senter Arka memantulkan cahaya ke sesuatu yang membuat napasnya tertahan.

Emas.

Rak demi rak.

Batang demi batang.

Sebagian masih tersusun dalam peti resmi. Sebagian jatuh karena gempa lama, menumpuk di lantai seperti bata kuning yang menunggu pemilik baru. Di dunia ini, tidak ada pejabat yang datang memeriksa. Tidak ada teller. Tidak ada kamera aktif. Tidak ada negara yang masih mampu berkata, itu milikku.

Arka berjalan ke tengah ruangan.

Pada salah satu dinding, dokumen inventaris yang setengah robek masih bisa dibaca. Angka terakhir ditulis dalam tonase.

Cadangan fisik: sekitar 200 ton.

Dua ratus ton emas.

Satu kilogram emas bisa mengubah hidup orang biasa. Dua ratus ton sudah melewati ukuran uang biasa.

Itu kekuasaan yang dipadatkan.

Arka mengangkat tangan.

Ruang di belakang pikirannya terbuka.

Setelah mencapai Evolvor tingkat tiga, Kekuatan Dimensi (Penyimpanan) tidak lagi terasa seperti kamar sempit. Luasnya mengembang menjadi sekitar lima ratus meter kubik. Bahkan setelah menyimpan senjata, logistik, beberapa peti Kristal, dan barang darurat, ruang itu masih cukup untuk menelan seluruh cadangan emas di depannya.

Peti pertama lenyap.

Lalu rak kedua.

Lalu barisan ketiga.

Emas menghilang satu per satu dari dunia mati, masuk ke ruang yang hanya Arka kuasai.

Setengah jam kemudian, vault itu kosong.

Arka berdiri di ruangan yang tadi bernilai lebih dari banyak perusahaan besar, lalu mematikan senter.

"Kirana," katanya lewat radio.

Suara Kirana terdengar setelah desis pendek. "Arka? Kamu baik-baik saja?"

"Aku baik. Kita punya modal."

"Seberapa banyak?"

Arka menatap vault kosong.

"Cukup untuk membuat Markas Masa Depan tidak perlu menghitung butir beras satu per satu."

Dua belas jam berikutnya, dunia berganti.

Ketika Arka membuka mata di Villa WD8, udara Jakarta Selatan terasa hangat sampai hampir tidak nyata. Di luar jendela, kolam renang memantulkan cahaya pagi. Di atas meja kerja, ponselnya sudah berisi tiga pesan dari Hendry Wibisana dan satu dari Steven Wibisana.

Arka tidak menjawab dulu.

Ia mengeluarkan satu peti kecil Emas Batangan dari ruang penyimpanan.

Lantai ruang kerja terasa seperti menerima keputusan baru.

Pukul sepuluh, Hendry dan Steven tiba di Villa WD8. Kali ini, mereka tidak dibawa ke ruang tamu utama. Arka membawa mereka ke garasi tertutup di sisi belakang, tempat beberapa peti logam sudah tersusun rapi.

Steven berhenti di pintu.

"Bos," katanya pelan, "tolong bilang itu bukan semua emas."

"Bukan."

Steven menghela napas lega.

Arka melanjutkan, "Itu sampel pertama."

Hendry Wibisana hampir menjatuhkan kotak dokumen yang ia bawa.

Sampel pertama itu sendiri sudah beberapa ton.

Butuh lima menit sebelum Hendry kembali menjadi pedagang yang bisa berpikir. Ia memeriksa cap lama, kadar, berat, dan keseragaman batang. Wajahnya makin serius setiap kali alat uji berbunyi.

"Pak Arka," katanya akhirnya, "berapa totalnya?"

"Sekitar dua ratus ton."

Kali ini Steven benar-benar duduk di kursi lipat garasi.

"Dua ratus... ton? Bukan kilogram?"

"Ton."

Hendry menutup mata sebentar. Ketika membukanya lagi, ia sudah tidak terlihat seperti pemilik toko perhiasan. Ia terlihat seperti orang yang sadar sedang berdiri di depan operasi keuangan yang bisa mengguncang pasar jika salah satu bautnya lepas.

"Tidak bisa masuk pasar Indonesia langsung," katanya. "Terlalu besar. PPATK, bea cukai, bank, semua akan melihat. Kita perlu jalur bullion internasional. Singapura untuk clearing awal. Dubai untuk pembeli besar. London untuk validasi harga dan kontrak jangka panjang. Semua harus bertahap."

Steven menambahkan, suaranya masih berat, "Kita bentuk beberapa perusahaan investasi khusus. Nama Anda tidak muncul langsung. Ada kontrak penyimpanan, audit kadar, asuransi, dan laporan pajak yang bersih. Kalau dilakukan kasar, kekayaan ini berubah menjadi ledakan."

Arka mendengar tanpa memotong.

Inilah alasan ia membutuhkan mereka.

Kekuatan bisa mengambil emas dari dunia mati. Tetapi di dunia modern, emas sebesar gunung kecil harus melewati meja, dokumen, tanda tangan, pajak, dan bank sebelum berubah menjadi kekuasaan yang bisa dipakai.

"Kerjakan," kata Arka. "Bertahap. Jangan kejar cepat. Kejar aman."

Hendry mengangguk. "Saya akan hubungi jaringan lama keluarga Wibisana. Tapi Pak Arka harus siap: sebagian dana akan tertahan di luar negeri. Sebagian masuk sebagai investasi. Sebagian baru cair setelah kontrak selesai."

"Berapa estimasi bersih?"

Hendry dan Steven saling pandang.

Steven menjawab lebih dulu. "Dengan harga konservatif dan potongan jalur aman... sekitar Rp 100 Triliun. Bisa lebih, bisa kurang, tergantung harga dan waktu."

Rp 100 Triliun.

Angka itu tidak terdengar seperti saldo rekening.

Itu terdengar seperti anggaran kementerian, nilai konglomerasi, atau kekuatan yang membuat orang mengetuk pintu dengan dua tangan.

Arka menatap peti emas di garasi.

Kemarin, kampus ribut karena Phantom.

Mereka tidak tahu bahwa harga Phantom bahkan tidak cukup menjadi koma dalam angka yang baru saja disebutkan.

"Baik," katanya.

Steven menatapnya tidak percaya. "Cuma baik? Bos, saya baru bilang seratus triliun."

"Aku dengar."

"Reaksi Anda kadang menghina kerja jantung saya."

Hendry menarik napas panjang. "Saya akan mulai hari ini. Tapi setelah ini, Pak Arka tidak bisa lagi bergerak seperti mahasiswa biasa. Dengan nilai sebesar ini, Anda perlu struktur holding, pengacara, keamanan pribadi, dan orang yang bisa dipercaya."

Arka mengangguk.

Ia memang tidak bisa terus bermain kecil.

Markas Masa Depan butuh makanan untuk sembilan puluh orang hari ini, mungkin sembilan ratus orang bulan depan. Markas Bahari mulai terlihat. Galang sudah mengamati. Darian Pradipta cepat atau lambat akan muncul.

Di dunia modern, Viona dan Revano hanyalah sisa bab lama.

Di Planet Biru, perang sebenarnya baru mulai membuka pintu.

Arka menutup salah satu peti emas.

Suara logamnya pendek, berat, final.

Seratus triliun rupiah.

Angka itu sudah melewati ukuran kaya biasa.

Di negara ini, orang yang bisa memegang kekayaan seperti itu tanpa berlutut kepada siapa pun bisa dihitung dengan dua tangan.

Dan mulai hari ini, Arka Surya Wijaya masuk ke hitungan itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!