NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Dari Timur

Pendekar Pedang Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ginza

Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.

Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.

Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.

Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 05 SANG PEDANG

Langit di atas Puncak Awan Putih selalu diselimuti kabut tipis yang menyerupai sutra. Di sinilah berdirinya kediaman Sekte Pedang Suci, tempat yang diagungkan oleh seluruh penjuru Dataran Tengah sebagai tiang penyangga keadilan dunia Murim.

Di dalam paviliun utama yang megah, aroma kayu cendana membumbung dari pedupaan perunggu. Lu Chen, pria yang dijuluki sang Pendekar Pedang Suci, duduk tenang di atas kursi ukir berlapis kain sutra putih. Wajahnya rupawan, tenang tanpa riak, dengan janggut tipis yang terawat rapi. Matanya memancarkan kedamaian seorang pertapa yang telah membuang seluruh nafsu duniawi.

Namun, di hadapannya, tiga orang tetua dari Sekte Burung Hong sedang berlutut dengan tubuh gemetar hebat.

“Pendekar Suci Lu...” tetua berambut perak bersujud hingga dahinya menyentuh lantai marmer yang dingin. “Sekte kami telah mengabdi pada Dataran Tengah selama lima puluh tahun. Kami hanya meminta waktu tambahan untuk menyerahkan wilayah tambang perak di kaki lembah...”

Lu Chen tidak memotong ucapan itu. Dia menyesap teh hijau dari cangkir porselennya dengan gerakan yang sangat anggun. Suara gesekan cangkir dengan tatakannya terasa begitu keras di dalam ruangan yang hening.

“Waktu adalah sesuatu yang tidak bisa kita tawar, Tetua Han,” suara Lu Chen terdengar lembut, mengalir bagai air jernih di pegunungan. “Perang di utara sudah di depan mata. Anak haram itu, Lin Yu, semakin hari semakin liar. Kita membutuhkan pasokan besi dan perak untuk menempa seratus ribu senjata baru demi melindungi rakyat jelata.”

“Tapi... tapi jika tambang itu diambil seluruhnya, ribuan murid dan warga sekte kami akan kelaparan di musim dingin ini!” tangis tetua itu pecah.

Lu Chen meletakkan cangkirnya perlahan. Dia berdiri, jubah putihnya melambai tanpa noda kotoran sedikit pun. Langkah kakinya mendekati tetua yang terbaring di lantai.

“Satu sekte kecil kelaparan adalah harga yang sangat murah untuk keselamatan seluruh Dataran Tengah,” kata Lu Chen pelan. Senyum tipis yang penuh kedamaian masih menghiasi bibirnya. “Bukankah kebaikan bersama selalu menuntut pengorbanan kecil?”

Sebelum Tetua Han sempat menjawab, Lu Chen menggerakkan ibu jari tangan kanannya, menggeser sarung pedang emas yang tergantung di pinggangnya sejauh satu senti.

Cring.

Sebuah dentingan tipis bergema. Tidak ada kilatan cahaya berapi-api. Tidak ada angin bertiup.

Tetua Han dan dua pengawalnya membeku. Ketiganya masih dalam posisi berlutut, namun garis merah halus mendadak muncul di sekeliling leher mereka. Tiga detik kemudian, tiga kepala menggelinding di atas marmer putih, disusul semburan darah kental yang mengotori karpet sutra.

Wajah Lu Chen tidak berubah sedikit pun. Kedamaian di matanya tidak terusik, seolah-olah dia baru saja memetik tiga tangkai bunga yang layu di tamannya.

Seorang pria bertopeng tembaga muncul dari balik bayangan pilar batu, langsung berlutut di tengah genangan darah yang masih hangat.

“Bersihkan ini,” perintah Lu Chen dingin. “Kirim pasukan bertopeng ke Sekte Burung Hong malam ini. Ratakan seluruh kediaman mereka. Jangan sisakan satu bernyawa pun, dari tetua hingga bayi di buaian.”

“Baik, Ketua,” jawab si pengawal bertopeng tembaga. “Bagaimana jika sekte-sekte lain mempertanyakan hilangnya Sekte Burung Hong?”

Lu Chen mengambil kain putih bersih untuk mengusap setitik noda darah yang terpercik ke ujung bajunya.

“Katakan pada dunia bahwa mereka telah membelot dan bersekutu dengan iblis dari utara, Lin Yu,” ujar Lu Chen lancar, tanpa ada keraguan sedikit pun dalam nadanya. “Kematian mereka akan menjadi alasan yang sempurna bagi kita untuk menyatukan seluruh sekte di Dataran Tengah di bawah komandoku.”

Dia melempar kain berdarah itu ke atas mayat Tetua Han.

“Dunia ini membutuhkan ketakutan untuk tetap tertib,” gumam Lu Chen sambil berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah utara. Matanya menatap tajam menembus awan-awan kelam yang berkumpul di batas horizon. “Siapkan seluruh pasukan. Kita akan membakar batas utara sebelum anak haram itu sempat melintasi sungai.”

Bagi dunia luar, Lu Chen adalah pelindung kebenaran. Namun di balik keagungan jubah putihnya, dia adalah arsitek pembantaian yang tidak segan menumbalkan ribuan nyawa demi menjaga takhta kepemimpinannya di atas puncak tertinggi Murim.

1
Ginza
bantu retting teman-teman
SilentNovels
saling support tor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!