NovelToon NovelToon
Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Dosen / CEO
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".

Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.

Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.

*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*

Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 21: Drama Kampus

Kirana berdiri di ambang panggung baru, sementara ujung pena hampir menyentuh formulir.

“Satu tanda tangan,” desak Winda.

“Kalau saya berubah pikiran?”

“Boleh mundur setelah audisi. Tapi kalau nggak coba, gue teror pakai voice note setiap jam.”

Kirana tahu ancaman itu nyata. Ia akhirnya menulis namanya pada baris terakhir sebelum pendaftaran ditutup.

Winda mengangkat formulir seperti piala. “Selamat datang di Hujan Terakhir.”

Empat hari kemudian, aula pusat kegiatan mahasiswa dipenuhi peserta audisi. Kertas naskah berserakan, relawan membawa properti, dan Winda berlari dari meja suara ke panggung sambil berbicara melalui headset murah.

“Kenapa kabel lampu belum dipasang? Cindy, kostum nanti, bukan sekarang. Fajar, tunggu giliran!”

“Sutradara galak,” komentar Kirana.

“Sutradara kurang tidur.” Winda menyerahkan naskah. “Feby mendarat tadi pagi dan langsung ke sini. Jangan bikin gue malu.”

Feby muncul dari belakang tirai dengan blazer hitam dan kopi besar. Ia memeluk Kirana singkat, lalu berbisik, “Jadi ini kampus tempat dosen kriminal itu bekerja?”

“Pelan.”

“Nanti tunjukkan orangnya.”

Winda memanggil semua peserta. Feby menjelaskan Hujan Terakhir adalah kisah dua kekasih yang dipisahkan ambisi keluarga dan pilihan hidup, tanpa hubungan darah atau konflik murahan. Pemeran utama membutuhkan kemampuan menahan emosi, bukan sekadar menangis keras.

“Chemistry penting,” kata Feby. “Tapi batas aktor juga penting. Semua adegan sentuhan akan dibahas dan disetujui saat latihan.”

Kirana menyukai aturan itu.

Cindy, mahasiswi yang sudah aktif di teater dua tahun, maju lebih dulu. Aktingnya baik, suaranya kuat, dan ia menerima tepuk tangan. Saat turun, ia berhenti di dekat Kirana.

“Semoga pemilihannya benar-benar berdasarkan kemampuan,” katanya. “Bukan karena wajah atau kedekatan dengan panitia.”

Winda mendengar. “Kalau ada keberatan, sampaikan ke seluruh panel. Bukan sindir peserta.”

“Aku cuma bicara umum.”

“Umumnya mengarah ke Kira.”

Kirana menyentuh lengan Winda. “Biar saya jawab di panggung.”

Gilirannya tiba. Ia berdiri di bawah satu lampu putih dengan tangan dingin. Bagian yang dipilih adalah monolog tokoh Aluna saat meninggalkan kekasihnya di stasiun.

Kirana membaca kalimat pertama terlalu kaku. Lalu ia teringat Arya yang berkata tidak akan membuatnya lebih kecil. Teringat semua pintu yang terbuka dan satu rahasia yang tetap tertutup.

Emosi itu masuk ke dalam suara.

“Aku pergi bukan karena tidak cinta,” ucapnya sebagai Aluna. “Aku pergi karena setiap kali berdiri di sampingmu, aku takut suatu hari dunia membuatku lupa caranya berdiri sendiri.”

Aula menjadi sunyi.

Kirana menurunkan naskah. Kalimat terakhir keluar tanpa melihat kertas.

“Kalau kau benar mencintaiku, jangan kejar keretanya. Tunggu sampai aku memilih pulang.”

Winda tidak langsung bicara. Feby menulis sesuatu, lalu mengangguk.

“Terima kasih, Kirana,” katanya profesional.

“Boleh saya minta pembanding?” Cindy berdiri dari kursi peserta. “Monolognya bagus, tapi karakter utama punya banyak dialog. Kita belum tahu dia bisa merespons lawan main.”

Salah satu panel dosen mempertimbangkan usul itu. “Masuk akal. Kirana, bersedia membaca satu adegan berpasangan?”

Kirana mengangguk. “Bersedia.”

Cindy sendiri maju menjadi lawan baca, mengambil peran kakak Aluna yang memaksanya meninggalkan kota. Ia sengaja meningkatkan tempo dan memotong jeda. Kirana nyaris tertinggal pada dua kalimat pertama, lalu memilih berhenti melawan kecepatan. Ia membiarkan Cindy menyerang dan menjawab dengan keheningan tajam.

“Kamu pikir cinta bisa membayar rumah sakit Papa?” tanya Cindy sebagai karakter.

Kirana mengangkat wajah. “Tidak. Tapi menjual hidupku juga tidak akan menyembuhkan siapa pun.”

Nada suaranya pelan. Justru karena itu, seluruh ruangan mendengarkan.

Cindy menaikkan volume. “Kamu egois.”

“Mungkin.” Kirana melangkah mendekat sesuai arahan panggung. “Tapi untuk pertama kalinya, keegoisan itu milikku sendiri.”

Feby mengangkat tangan. “Cukup.”

Cindy mundur dengan napas sedikit kasar. Panel dosen memberi nilai pada lembar masing-masing.

“Terima kasih sudah mengusulkan pembanding,” kata Winda. “Sekarang kami punya data lebih lengkap.”

Kirana turun tanpa senyum kemenangan. Ia tidak ingin mempermalukan Cindy, hanya membuktikan bahwa dirinya datang bukan sebagai wajah cantik titipan sahabat.

Di belakang panggung, Feby menyusul membawa botol air. “Lo tahu kenapa adegan kedua lebih bagus?”

“Karena Cindy benar-benar marah?”

“Karena lo berhenti mencoba terlihat baik. Simpan keberanian itu.”

Winda bergabung. “Panel dosen kasih nilai tertinggi ke lo. Jadi kalau nanti ada yang bilang nepotisme, rubriknya bisa ditempel di jidat mereka.”

“Jangan ditempel di mana-mana.”

“Kiasan, Kira.”

Mereka tertawa, ketegangan audisi akhirnya turun.

Begitu Kirana turun, Cindy memalingkan wajah.

Audisi pemeran laki-laki dimulai. Fajar masuk membawa energi berbeda dari lapangan basket. Ia membaca dengan percaya diri dan menunjukkan kemampuan yang cukup baik. Setelah selesai, ia menghampiri Kirana.

“Kalau kita dapat peran utama, gue janji profesional.”

“Kak Fajar ikut karena teater?”

“Sebagian.” Senyumnya jujur. “Sebagian karena gue belum siap berhenti tanpa mencoba mengenal lo dalam keadaan normal.”

Kirana menghela napas. “Saya sudah jawab.”

“Gue tahu. Di luar panggung, gue hormati itu. Di dalam, gue cuma aktor.”

“Pastikan benar begitu.”

Fajar mengangguk.

Sore menjelang malam ketika audisi selesai. Panel berdiskusi tertutup. Peserta menunggu di depan ruang latihan sambil menebak hasil.

Feby keluar lebih dulu. “Pemeran Aluna: Kirana.”

Winda langsung memeluknya. Beberapa peserta bertepuk tangan. Cindy menyilangkan lengan, jelas kecewa.

“Pemeran Nara belum diumumkan?” tanya Fajar.

“Ada perubahan,” jawab Winda. “Nama final ditempel sepuluh menit lagi.”

Kirana menarik Feby ke samping. “Kenapa saya?”

“Karena lo berhenti membaca dan mulai bicara dari luka sendiri.” Feby menatapnya penuh arti. “Siapa pun lawan main lo nanti, jangan biarkan dia mengambil suara itu.”

Sepuluh menit kemudian, lembar pemeran ditempel. Kerumunan langsung rapat di papan.

Kirana melihat namanya di baris pertama.

ALUNA: KIRANA ANINDYA SARASWATI.

Di bawahnya tertulis pemeran Nara.

ARYA D.

“Apa?” Kirana menoleh kepada Winda.

“Jangan lihat gue. Nama itu masuk lewat rekomendasi panel kehormatan.”

Pintu aula terbuka.

Arya berdiri di sana dengan naskah Hujan Terakhir di tangan.

“Selamat malam,” katanya kepada seluruh tim, lalu menatap Kirana. “Saya harap lawan main saya sudah siap.”

Jantung Kirana melewatkan satu detak.

“Mas ikut audisi kapan?” tuntutnya ketika Arya mendekat.

Feby mengangkat tablet. “Dia kirim rekaman dan dinilai panel yang sama. Nilainya unggul tipis dari Fajar.”

“Saya tidak tahu Kirana akan terpilih saat mengirim,” kata Arya.

“Bohong.”

“Saya berharap.”

Fajar membaca lembar kedua. Namanya tertera sebagai Raka, tokoh yang memisahkan sepasang kekasih dalam cerita. Ia menatap Arya, lalu mengulurkan tangan.

“Di panggung kita profesional, Prof.”

Arya menjabatnya singkat. “Pastikan begitu.”

Winda bertepuk tangan untuk menarik perhatian. “Besok pembacaan naskah. Nggak ada drama di luar naskah, paham?”

Semua menjawab, tetapi mata Kirana tetap terpaku pada nama Arya di daftar.

Drama sebenarnya baru saja masuk ke dalam pemeran utama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!