NovelToon NovelToon
Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:24
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.

This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.

Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.

Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 028: Jebakan Kecantikan

Dua hari setelah urusan Mbah Warno masuk jalur hukum, Bima akhirnya duduk sendirian di sebuah kafe Naga Kota.

Ia hanya ingin kopi pahit dan nasi ayam. Itu saja.

Kafe itu populer di pusat kota, penuh mahasiswa, pekerja kantor, dan orang-orang yang membuka laptop agar terlihat sibuk. Bima memilih meja dekat dinding agar bisa melihat pintu, kasir, dan pantulan kaca.

Kebiasaan buruk setelah terlalu sering dijebak: tempat duduk pun dihitung.

Seorang perempuan masuk lima belas menit kemudian. Cantik, terlalu sadar bahwa dirinya cantik, dengan kamera kecil tergantung di tas. Dua temannya duduk di meja belakang, memesan minuman, lalu mengarahkan ponsel terlalu sering ke arah Bima.

Perempuan itu berhenti di samping meja Bima.

"Mas, boleh duduk? Meja lain penuh."

Ada tiga meja kosong.

Bima menatapnya sebentar. "Silakan kalau mau berdiri. Duduknya jangan di meja saya."

Senyum perempuan itu tidak retak. Profesional.

"Galak sekali. Aku Mimpi. Mimpi Anggraeni. Mungkin Mas pernah lihat kontenku?"

"Tidak."

[Pembaca Mikro-ekspresi aktif.]

[Niat: pendekatan palsu, mencari reaksi kompromi.]

[Perisai Reputasi: siaga pasif.]

Mimpi tertawa kecil, lalu duduk juga tanpa izin. "Aku suka cowok yang dingin. Biasanya yang dingin itu justru paling perhatian."

Bima menggeser gelas kopinya menjauh. "Mbak Mimpi, saya akan bilang sekali. Saya tidak kenal Anda. Jangan menyentuh barang saya, jangan menyentuh saya, dan meja ini direkam CCTV."

Mimpi mengedip. "Aduh, formal banget. Takut sama cewek cantik?"

"Takut pada orang yang butuh kamera untuk merasa benar."

Dua temannya di belakang mulai merekam lebih jelas. Drone Bayangan bergerak diam-diam ke sudut atas, menangkap seluruh meja, tangan Mimpi, posisi kursi, dan ponsel teman-temannya.

Mimpi mulai agresif. Ia menjatuhkan sendok, membungkuk terlalu dekat, lalu menyentuh lengan Bima seolah tidak sengaja. Bima menarik tangannya sebelum sentuhan penuh terjadi.

"Mas, kok tegang? Aku cuma mau kenalan."

"Kenalan yang baik dimulai dari izin."

Ia mengambil tas kecilnya, meletakkannya di pangkuan Bima. "Pegang sebentar, ya. Aku mau ke toilet."

Bima tidak menyentuh tas itu. Ia berdiri, memanggil pelayan. "Mbak, tolong saksikan. Tas ini bukan milik saya dan ditaruh tanpa izin."

Pelayan mendekat bingung. Beberapa pengunjung menoleh.

Mimpi melihat skenarionya mulai bocor. Ia mengambil gelas minuman merah dari meja, lalu menumpahkannya ke kemeja Bima.

Detik berikutnya, ia menjerit.

"Dia megang-megang saya!"

Kafe langsung pecah.

Dua temannya berdiri sambil merekam. "Kita lihat sendiri! Dia dari tadi ganggu Mimpi!"

Seorang pengunjung laki-laki langsung berkata, "Mas, kalau benar salah, minta maaf dulu."

Bima menatap noda merah di kemejanya, lalu tersenyum kecil.

"Silakan panggil polisi," katanya. "Saya yang minta."

Mimpi tersendat. Itu bukan respons yang ia harapkan.

"Kamu mau sok berani? Aku punya followers. Aku bisa hancurin nama kamu malam ini."

"Sudah banyak orang mencoba. Antreannya panjang."

Bima menghubungi Briptu Dodik, kontak polisi Naga Kota yang diberikan Pak Wanto untuk urusan kota. Sambil menunggu, ia meminta manajer kafe mengamankan CCTV dan meminta pelayan tadi tidak pergi.

Mimpi mencoba menangis lebih keras. Namun tangis tanpa kendali panggung cepat lelah. Ketika Bima memutar rekaman dari ponselnya, hasil feed Drone yang sudah dipotong hanya bagian meja dan tangan tanpa menampilkan sumber sistem, wajahnya berubah.

Rekaman itu memperlihatkan semuanya: Mimpi datang sendiri, duduk tanpa izin, menyentuh lengan, menaruh tas, mengambil gelas, lalu menumpahkan minuman.

Kafe yang tadi hampir menghakimi berubah sunyi.

Pelayan berkata pelan, "Saya juga lihat tasnya ditaruh ke pangkuan Mas itu."

Salah satu teman Mimpi menurunkan ponsel.

Briptu Dodik datang dua puluh menit kemudian. Ia masih muda, tetapi matanya cepat membaca situasi.

"Siapa pelapor?"

"Saya," kata Bima. "Dugaan fitnah, pemerasan reputasi, dan skema jebakan. Saya punya rekaman, saksi pelayan, CCTV kafe, dan video teman-temannya."

Dodik menatap Mimpi. "Mbak ikut kami untuk klarifikasi."

Mimpi langsung menangis asli. "Pak, saya cuma bercanda. Konten sosial eksperimen."

Bima mengangkat alis. "Tuduhan pelecehan bukan eksperimen. Itu pisau."

Di kantor polisi, Mimpi mencoba meminta maaf. Dua temannya mengaku dibayar untuk merekam dan menguatkan cerita. Dari ponsel Mimpi, Dodik menemukan chat dengan beberapa korban laki-laki sebelumnya: transfer damai, ancaman unggah, dan video yang dipotong.

Bima menandatangani laporan tanpa banyak bicara.

"Mas Bima," kata Dodik setelah melihat namanya di sistem, "Anda yang kasus 1.317 akun itu?"

"Korban yang sama. Masalah yang berbeda."

Dodik tersenyum tipis. "Sepertinya masalah sering mencari Anda."

"Tidak apa-apa. Selama mereka datang membawa bukti sendiri."

[SBE: Misi Jebakan Kecantikan selesai]

[Peringkat: A]

[Poin +3.000]

Malam itu, potongan video kafe menyebar: seorang wanita menjerit, lalu wajahnya pucat ketika rekaman lengkap diputar. Namun kali ini publik lebih hati-hati. Perisai Reputasi bekerja halus. Komentar teratas berupa satu kalimat sederhana:

Jangan langsung percaya potongan video.

Bima membaca komentar itu dan menutup ponsel.

Salah satu pengunjung yang tadi hampir membela Mimpi mendekati Bima sebelum polisi datang. "Mas, maaf. Saya tadi hampir salah ngomong."

Bima meliriknya. "Hampir salah masih bisa berhenti. Yang bahaya kalau sudah salah lalu mencari alasan."

Pengunjung itu mengangguk, lalu memberikan nomor kontak sebagai saksi. Dua orang lain ikut maju setelah melihat rekaman. Efeknya cepat: saksi palsu Mimpi kehilangan kerumunan yang biasa ia pakai sebagai dinding.

Manajer kafe juga tidak mau kafenya menjadi tempat pemerasan. Ia menyerahkan salinan CCTV dengan tanda terima internal dan menulis kronologi singkat. Briptu Dodik terlihat puas. "Kalau semua TKP serapi ini, kerja kami lebih ringan."

"Seringnya tidak begitu?" tanya Bima.

"Seringnya orang sudah hapus video, saksi pulang, pelaku nangis, korban panik."

"Berarti hari ini kita ubah urutannya."

Dodik menatap Bima sebentar. "Saya mulai paham kenapa Pak Wanto bilang kalau ada nama Bima, siapkan map tambahan."

Di ruang pemeriksaan, Mimpi masih mencoba memakai wajah korban. Ia menunduk, berbicara pelan, lalu sesekali menatap Dodik seperti berharap polisi muda itu luluh.

"Pak, saya perempuan. Saya takut. Saya cuma panik tadi."

Dodik membuka rekaman. "Mbak takut sebelum atau setelah menumpahkan minuman?"

Mimpi diam.

Bima tidak ikut menekan. Ia membiarkan bukti bekerja. Dua teman Mimpi akhirnya saling menyalahkan. Yang satu mengaku diminta merekam dari awal. Yang lain mengaku sudah beberapa kali ikut skema serupa di kafe berbeda.

Dodik mencatat nama-nama lokasi. "Kalau ada korban lain, ini bisa panjang."

Mimpi menoleh ke Bima, matanya memohon. "Mas, aku minta maaf. Aku enggak tahu kamu orang penting."

Bima menatapnya datar. "Jadi kalau saya bukan orang penting, tuduhan palsu itu boleh?"

Tangis Mimpi berhenti seperti dipotong.

"Maaf itu bukan tombol undo," kata Bima. "Apalagi untuk tuduhan yang bisa menghancurkan hidup orang."

Pelajaran mulai menular.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!