NovelToon NovelToon
Tuan Muda Dingin, Pembantu Manisnya

Tuan Muda Dingin, Pembantu Manisnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Pengasuh / Ibu susu
Popularitas:172
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.

Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**

Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.

Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**

Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**

"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."

Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:

*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8: Perjanjian Pertama

Jantung Lia melonjak sampai ke tenggorokan.

Ia mencoba meraih kunci di belakang Sebastian, tetapi pria itu bergeser dan menutup jalan tanpa menyentuhnya.

“Buka pintunya, Ko Sebas.”

“Setelah kita bicara.”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”

“Kamu baru wangi kalau kenyang.”

Kalimat itu jatuh pelan, tetapi seluruh tubuh Lia membeku.

Suara kipas dinding terdengar terlalu keras. Uap dari mangkuk sup masih bergerak di antara mereka, membawa aroma ayam, jahe, dan sesuatu yang jauh lebih manis dari kulit Lia.

“Tidak,” bantahnya cepat. “Ko Sebas salah paham.”

Sebastian menatap piring kosong, susu yang tinggal setengah, lalu pipi Lia yang merah karena panas tubuh.

“Saat kamu belum makan, wanginya hampir tidak ada. Setelah Popo menyuruhmu menghabiskan sup, wanginya memenuhi gudang. Malam ini aku melihat sendiri.”

Lia menggeleng, tetapi tak ada jawaban lain yang bisa dipakai. Sabun, bumbu, dan ramuan sudah menjadi alasan yang habis satu per satu.

“Itu cuma...”

“Jangan bohong lagi.”

Sebastian tidak menaikkan suara. Ia malah mundur satu langkah, memberi ruang di depan Lia. Lalu ia menarik kursi dan duduk, membuat posisi mereka tidak lagi seperti seorang pria yang menyudutkan perempuan di kamar terkunci.

“Aku tidak akan berteriak. Aku tidak akan memanggil siapa pun. Jelaskan.”

Lia memeluk lengannya sendiri. Panas dari makanan masih mengalir di bawah kulit, membuat rahasianya semakin jelas pada setiap tarikan napas.

“Kalau saya menjelaskan, Ko Sebas akan menyuruh saya pergi.”

“Aku yang memutuskan reaksiku. Bukan kamu.”

“Orang akan menganggap saya aneh.”

“Aku tidak bertanya apa kata orang.”

“Lalu apa yang Ko Sebas mau?”

“Kebenaran.”

Lia menatap pintu yang terkunci. Bukan karena ia mengira Sebastian akan berbuat buruk. Justru karena pria itu menunggu dengan tenang, seolah kebenaran paling memalukan pun masih layak didengar tanpa ejekan.

Pertahanan di dadanya retak sedikit.

“Waktu kecil saya sering sakit,” ucapnya akhirnya. “Popo Hwa membuat ramuan keluarga. Akar, rempah, buah kering. Saya minum bertahun-tahun karena badan saya lemah.”

Sebastian menyimak tanpa memotong.

“Setelah saya besar, tubuh saya berubah. Kalau makan sampai kenyang, suhu badan naik. Kulit jadi panas dan...” Lia menelan ludah. “Wangi ini keluar sendiri.”

“Hanya itu?”

“Tubuh saya juga terasa lebih lemas. Bukan sakit. Hanya lebih sensitif pada panas.”

Sebastian memperhatikan napas Lia yang pendek dan warna merah yang menyebar sampai leher. “Ramuan itu masih kamu minum?”

“Tidak. Sudah lama berhenti. Tapi akibatnya tidak hilang.”

“Kamu pernah diperiksa?”

“Tidak punya uang untuk pemeriksaan lengkap. Popo Hwa bilang ini bukan penyakit dan bukan hal gaib. Tidak menular. Saya juga tidak pernah pingsan atau sakit karena wanginya.”

“Tapi kamu memilih lapar.”

Lia menunduk. “Itu satu-satunya cara agar tidak tercium.”

“Kenapa harus disembunyikan sejauh itu?”

Jarinya mencengkeram lengan kaos. Ia teringat para lelaki yang sengaja berdiri terlalu dekat di pasar, tatapan tetangga, dan suara Herman yang pernah berkata tubuh cantiknya akhirnya bisa berguna untuk membayar utang.

“Karena tatapan orang berubah,” jawabnya lirih. “Perempuan seperti saya mudah dituduh mengundang, padahal saya tidak melakukan apa-apa. Kalau orang di rumah ini tahu, mereka bisa mengira saya sengaja memakai sesuatu untuk menggoda. Ci Vanessa bahkan tanpa tahu apa pun sudah bicara begitu.”

Sebastian menegang mendengar nama Vanessa.

“Ada orang yang pernah menyakitimu karena ini?”

Lia tidak menjawab.

“Ayahmu?”

Kepalanya terangkat. “Ko Sebas melihat pesan itu?”

“Aku tidak sengaja melihat sebagian.”

“Itu bukan urusan Ko Sebas.”

“Mungkin belum.”

“Tidak akan pernah.”

Nada Lia menjadi lebih keras, tetapi matanya mulai basah. Ia membenci air mata yang datang saat ingin terlihat kuat.

“Saya cuma ingin bekerja,” katanya. “Kumpulkan uang, lalu hidup sendiri. Jangan beri tahu Tante Cornelia atau Popo. Tolong. Kalau mereka takut pada saya, saya akan kehilangan pekerjaan ini.”

Sebastian berdiri.

Lia refleks mundur. Kali ini pria itu berhenti sebelum mendekat.

“Lihat aku.”

Lia menggeleng.

“Lia.”

Ada sesuatu dalam cara Sebastian memanggil namanya, tegas tetapi tidak merendahkan. Lia perlahan mengangkat wajah.

“Aku tidak menganggapmu aneh.”

Napas Lia tersangkut.

“Aku juga tidak akan mengatakan ini kepada Mamah, Popo, atau siapa pun.”

“Termasuk Ko Edwin? Ko Robby?”

“Termasuk mereka.”

“Kalau suatu hari Ko Sebas marah kepada saya?”

“Rahasiamu tidak berubah menjadi senjata hanya karena aku marah.”

Lia mencari tanda main-main di wajahnya dan tidak menemukannya. Sebastian memberi janji seperti ia memberi keputusan bisnis, tanpa hiasan, tetapi justru karena itu terdengar sulit dibatalkan.

“Kenapa?”

“Karena ini milikmu. Bukan bahan omongan keluarga.”

Jawaban itu begitu sederhana sampai Lia tak segera memahaminya. Seumur hidup, orang lain selalu merasa berhak menentukan tubuhnya, berapa harga yang bisa didapat darinya, bagaimana ia harus menunduk agar tidak menarik perhatian. Sebastian menjadi orang pertama yang menyebut rahasia itu miliknya sendiri.

Air mata jatuh sebelum sempat ia tahan.

Lia cepat-cepat mengusapnya. “Ko Sebas tidak takut?”

“Pada wangi buah?”

“Pada saya.”

Tatapan Sebastian turun ke wajahnya yang memerah, lalu berhenti pada kedua tangan yang masih memeluk tubuh sendiri.

“Yang kutakutkan justru kamu terus menyiksa diri dengan lapar.”

Kata-kata itu menghantam tempat paling rapuh di dada Lia.

Sebastian mengambil saputangan bersih dari saku dan meletakkannya di meja, tidak langsung menyentuh wajah Lia. “Keringkan air matamu.”

Lia mengambilnya. Kain itu berwarna abu-abu gelap, berbau samar kayu dan parfum pria. Ia menekan ujungnya ke mata.

“Kalau Ko Sebas benar-benar menyimpan rahasia ini, saya akan berterima kasih seumur hidup.”

“Aku tidak butuh terima kasih.”

“Lalu apa?”

Sebastian terdiam.

Ia seharusnya menjawab tidak ada. Seharusnya ia membuka pintu, pergi, lalu melupakan semua ini. Namun bayangan Lia memotong nasi menjadi dua suap kecil, perutnya berbunyi dalam kamar sunyi, dan wajahnya yang berubah hangat setelah makan membuat pilihan itu terasa mustahil.

Ia ingin memastikan perempuan ini makan.

Ia juga ingin aroma yang membuat kendalinya retak tidak menjadi milik tatapan lelaki mana pun.

Keinginan kedua jauh lebih egois. Sebastian cukup jujur untuk menyadarinya, tetapi belum cukup siap mengatakannya.

“Mulai sekarang,” ucapnya perlahan, “kamu hanya boleh makan sampai kenyang di depanku.”

Mata Lia membesar. “Apa?”

“Jangan lapar lagi untuk menyembunyikan wangi. Kalau aku di rumah, makan bersamaku atau cari aku. Aku akan memastikan tidak ada orang lain yang masuk.”

“Kalau Ko Sebas tidak di rumah?”

“Kirim pesan. Aku akan atur tempat dan waktunya supaya kamu bisa makan dengan aman.”

“Itu merepotkan.”

“Biar aku yang menilai.”

“Ko Sebas sibuk. Saya tidak mungkin menghubungi hanya untuk bilang mau makan.”

“Lebih baik ponselku berbunyi daripada kamu menyimpan tiga kotak nasi basi di lemari.”

Lia kehilangan jawaban.

Sebastian mengambil satu langkah lebih dekat. “Ini syaratku untuk menyimpan rahasiamu.”

“Jadi ini ancaman?”

“Perjanjian.”

“Perjanjian seharusnya menguntungkan dua pihak.”

Sudut bibir Sebastian bergerak tipis. “Kamu makan cukup. Aku tahu rahasiamu aman. Dua pihak diuntungkan.”

“Bagian keuntungan Ko Sebas apa?”

Pertanyaan itu membuat udara berubah.

Sebastian menatap Lia, dan untuk sesaat kendali dingin di wajahnya menipis. Aroma manis memenuhi paru-parunya. Ia ingin mengatakan bahwa melihat Lia kenyang memberi ketenangan aneh. Bahwa hanya dirinya yang mengetahui rahasia ini menyalakan rasa puas yang tak pantas.

Ia memilih jawaban yang lebih aman.

“Aku tidak suka masalah yang belum selesai.”

“Saya bukan masalah.”

“Kalau begitu, jangan bertingkah seperti masalah dengan membuat dirimu sakit.”

Lia menekan saputangan ke telapak tangan. “Ko Sebas selalu memerintah seperti ini?”

“Kalau orangnya keras kepala.”

“Saya tidak keras kepala.”

Sebastian melirik kotak-kotak makanan di lemari.

Pipi Lia makin merah. “Baik. Saya setuju untuk sementara.”

“Bukan sementara.”

“Ko Sebas tidak bisa mengatur saya selamanya.”

“Kita bicarakan lagi saat kamu berhenti menyembunyikan makanan.”

Lia mengembuskan napas. “Baik. Perjanjian.”

Sebastian mengulurkan tangan, lalu berhenti di tengah gerakan. Ia tidak ingin membuat Lia merasa harus disentuh untuk mengesahkan sesuatu. Namun Lia melihat telapak tangan itu dan, setelah ragu sesaat, meletakkan tangannya di sana.

Jari mereka bertemu.

Telapak Lia hangat sekali. Wangi manis naik di antara kulit yang bersentuhan. Sebastian menutup jemarinya satu detik lebih lama dari jabat tangan biasa, lalu segera melepaskan sebelum keinginan lain mengambil alih.

“Mulai besok kamu sarapan,” katanya.

“Di depan Ko Sebas?”

“Di depanku.”

“Kalau ada Popo?”

“Kita cari cara.”

Lia memandang tangan yang baru dilepas. Ada rasa hangat yang tak lagi berasal dari makanan.

Sebastian membuka kunci pintu. Sebelum keluar, ia menoleh pada ransel tua di bawah ranjang, lalu kembali menatap Lia.

“Tentang pesan dari ayahmu, aku tidak akan memaksamu bicara malam ini.”

“Tidak perlu dicari tahu.”

“Aku belum berjanji soal itu.”

Lia mengerutkan kening. “Ko Sebas...”

“Urusanmu akan kucari tahu. Kalau ada yang terlalu berat, aku juga yang akan menanggungnya.”

Ia keluar sebelum Lia sempat menolak.

Pintu tertutup pelan. Lia berdiri di tengah kamar, memegang saputangan abu-abu dan menatap piring yang benar-benar kosong. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rasa kenyang tidak datang bersama penyesalan.

Di lantai atas, Sebastian masuk ke kamarnya sendiri. Ia mencuci tangan, tetapi aroma Lia masih terasa di ujung jarinya.

Malam itu, ia kembali tidak tidur.

Kali ini bukan karena menolak keinginan, melainkan karena sudah memutuskan untuk mendekatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!