Di Benua Shenzhou yang dipenuhi oleh energi spiritual (Qi), hukum rimba berlaku: yang kuat dihormati, yang lemah diinjak-injak. Ye Chen, seorang pemuda dari Klan Ye, terlahir dengan meridian yang cacat sehingga ia tidak bisa menyerap Qi. Selama enam belas tahun, ia hidup sebagai lelucon dan bahan hinaan klannya.
Namun, takdirnya berubah drastis di suatu malam yang berdarah. Saat ia dipukuli dan dibuang ke dasar Jurang Kematian oleh sepupunya sendiri, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah liontin batu giok hitam peninggalan ibunya. Liontin itu ternyata menyimpan jiwa seorang Kaisar Naga Kuno yang telah tersegel selama puluhan ribu tahun. Dengan bimbingan sang Kaisar Naga, Ye Chen memulai jalan kultivasi yang menentang langit untuk membalas dendam dan mencari kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jimat Darah dan Janji Pembalasan
Asap dan debu masih mengepul tebal di udara malam. Angin berhembus perlahan, menyingkap kawah raksasa dan reruntuhan tebing batu tempat Lei Kuang terhempas.
Ye Chen memanggul Pedang Besi Hitamnya yang masih memancarkan sisa-sisa hawa panas, berjalan dengan langkah lambat namun penuh tekanan menuju tumpukan batu tersebut. Ia tidak pernah meremehkan musuh; di dunia kultivasi, selama kepala musuh belum terpisah dari badannya, pertarungan belum benar-benar selesai.
Uhuk... uhuk...
Suara batuk darah yang berat dan menyakitkan terdengar dari balik puing-puing. Bebatuan bergeser, dan sosok Lei Kuang yang mengenaskan merangkak keluar.
Keadaannya sungguh memprihatinkan. Lengan kanannya yang tadi memegang palu kini patah dan terpelintir pada sudut yang tidak wajar. Dadanya melesak ke dalam, dan darah segar terus mengalir dari hidung serta mulutnya. Jika bukan karena zirah pelindung tingkat menengah yang ia kenakan di balik bajunya, hantaman pedang Ye Chen pasti sudah membelahnya menjadi dua.
Melihat Ye Chen mendekat layaknya dewa kematian di bawah sinar bulan, mata Lei Kuang dipenuhi oleh kengerian yang absolut. Kesombongannya sebagai jenius Sekte Pedang Petir telah hancur lebur menjadi debu.
"J-jangan mendekat..." Lei Kuang menyeret tubuhnya mundur dengan satu tangan yang tersisa, suaranya bergetar hebat. "Jika kau membunuhku... ayahku... Ketua Sekte Pedang Petir, tidak akan pernah melepaskanmu! Kau akan diburu sampai ke neraka!"
Ye Chen berhenti beberapa langkah di depannya. Matanya menatap dingin. "Ancaman yang sangat klise. Bukankah kau baru saja mengatakan hal yang sama di aula lelang? Di dunia ini, yang lemah akan menjadi makanan yang kuat. Jika kau takut mati, jangan pernah memprovokasi orang lain."
Ye Chen mengangkat pedangnya, bersiap mengakhiri nyawa pemuda sombong itu dan mengambil cincin penyimpanannya.
"TIDAK! AKU TIDAK AKAN MATI DI TANGAN TIKUS SEPERTIMU!"
Tepat saat pedang Ye Chen hendak mengayun turun, Lei Kuang menggigit lidahnya sendiri dan menyemburkan seteguk esensi darah ke sebuah jimat kertas berwarna kuning yang sedari tadi ia genggam erat di tangan kirinya.
BZZZTT!
Jimat itu seketika terbakar habis, melepaskan fluktuasi energi spasial yang sangat kuat. Cahaya merah darah meledak, membentuk sebuah kubah energi pelindung yang menolak pedang Ye Chen, sekaligus menyelimuti seluruh tubuh Lei Kuang.
"Bocah, itu Jimat Pelarian Darah! Sebuah harta pelindung nyawa tingkat tinggi yang bisa menteleportasi penggunanya sejauh ratusan mil dalam sekejap!" seru Ao Tian memperingatkan.
Mata Ye Chen menyipit tajam. Ia mengalirkan seluruh kekuatan Api Roh Emas Ungu ke pedangnya dan menebas kubah cahaya itu sekuat tenaga.
BAM!
Kubah merah itu bergetar hebat dan retak, namun sayangnya, kecepatan teleportasi jimat itu terlalu cepat. Tubuh Lei Kuang perlahan memudar menjadi partikel cahaya darah.
Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa dari efek samping jimat tersebut, Lei Kuang menatap Ye Chen dengan mata merah penuh kebencian yang mendalam.
"Iblis Berpedang Hitam... ingat baik-baik wajahku! Rasa sakit ini akan kubalas seribu kali lipat! Sekte Pedang Petir akan mengirimkan seluruh tetua untuk memenggal kepalamu! TUNGGU SAJA!"
WUSSH!
Bersamaan dengan gema teriakan dendam itu, sosok Lei Kuang menghilang tanpa jejak, meninggalkan tanah kosong dan bau darah yang menguap di udara.
Ye Chen menurunkan pedangnya. Matanya menatap titik tempat Lei Kuang menghilang dengan tenang. Tidak ada kepanikan, hanya kilatan rasionalitas yang dingin.
"Mengecewakan, tapi cukup masuk akal. Tuan muda dari sekte besar pasti selalu dibekali mainan pelindung nyawa oleh tetua mereka," gumam Ye Chen, mengibaskan debu dari jubahnya.
"Hahaha! Kenapa kau terlihat begitu santai, Bocah? Menyinggung sebuah sekte menengah berarti kau akan segera dihadapkan pada ahli-ahli di Tahap Pembentukan Fondasi. Dengan kekuatanmu sekarang, satu tetua tingkat menengah saja cukup untuk meremukkanmu!" Ao Tian tertawa sinis, sengaja menguji mental pewarisnya.
"Aku tahu," jawab Ye Chen sambil berbalik. Ia berjalan ke arah empat mayat bawahan Lei Kuang, menggeledah tubuh mereka dengan cekatan, dan memanen empat Cincin Penyimpanan serta beberapa ratus Batu Spiritual. "Tapi dia butuh waktu untuk melapor, dan sektenya butuh waktu untuk melacak jejakku. Rentang waktu itu sudah cukup bagiku."
Ye Chen menatap cincin penyimpanannya sendiri yang berisi Fosil Cakar Naga Bumi.
"Lagipula, begitu aku menyerap Cakar Naga ini, siapa yang akan memburu siapa... masih belum bisa dipastikan."
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Ye Chen melesat pergi menggunakan Langkah Teratai Api. Pertarungan dahsyat barusan dan fluktuasi dari Jimat Pelarian Darah pasti akan segera memancing para kultivator kuat dari Kota Bintang Jatuh untuk datang memeriksa. Ia harus segera menghilang dari wilayah ini.
Tiga jam berlalu. Ye Chen berlari menembus malam hingga ia memasuki sebuah wilayah pegunungan yang sangat terjal dan diselimuti kabut tebal, jauh dari jalur perdagangan manusia.
Ia menemukan sebuah gua yang tertutup rapat oleh air terjun kecil dan akar-akar pohon beringin raksasa. Tempat ini sempurna; suara air terjun akan menyamarkan suara dari dalam, dan kabut air akan meredam fluktuasi energi Qi.
Setelah masuk ke dalam gua, Ye Chen memindahkan sebuah batu raksasa seberat ratusan kilo untuk menutupi mulut gua dari dalam. Ia kemudian duduk bersila di atas batu yang datar, mengatur napasnya yang sedikit memburu.
Malam ini benar-benar menguras tenaganya. Bertarung melawan kultivator tingkat kedelapan puncak tidaklah mudah, bahkan dengan Tulang Naga Api. Ia menyadari bahwa batas kekuatan fisiknya saat ini hanya mampu menahan ahli di bawah Tahap Pembentukan Fondasi.
"Senior," Ye Chen membuka telapak tangannya. Cahaya samar berkedip, dan Fosil Cakar Binatang Kuno berwarna hitam legam itu muncul di tangannya. Hawa brutal dan purba seketika memenuhi gua yang sempit itu. "Apa yang harus kulakukan sekarang?"
"Fosil ini telah membatu selama puluhan ribu tahun. Jika manusia biasa yang mencoba menyerapnya, mereka akan meledak karena tidak mampu menahan tekanan garis keturunan naga," jelas Ao Tian, suaranya berubah menjadi sangat serius dan penuh rasa hormat pada pusaka rasnya. "Tapi kau memiliki Meridian Naga dan telah berlatih Seni Transformasi Sembilan Naga Ilahi. Tubuhmu adalah wadah yang tepat."
"Gunakan belatimu. Sayat telapak tanganmu dan teteskan darah segarmu ke atas fosil itu. Biarkan darah naga di dalam tubuhmu memancing esensi murni naga bumi yang tertidur di dalam batu itu untuk terbangun!"
Ye Chen tidak ragu. Ia mengeluarkan belatinya dan langsung menyayat telapak tangan kirinya. Darah segar yang mengandung untaian Qi keemasan menetes ke atas fosil hitam tersebut.
Satu tetes... dua tetes... tiga tetes...
Pada awalnya, tidak terjadi apa-apa. Namun, saat tetesan kelima menyentuh permukaan batu yang keras itu, sesuatu yang ajaib terjadi. Darah Ye Chen tidak mengalir jatuh, melainkan meresap masuk ke dalam batu seolah fosil itu adalah spons yang kehausan!
Tiba-tiba, fosil yang selama lelang dianggap sebagai batu mati itu mulai bergetar hebat.
KRAK... KRAAAK...
Retakan-retakan kecil muncul di permukaannya. Dari balik celah retakan itu, memancar cahaya keemasan pekat yang begitu menyilaukan hingga menerangi seluruh isi gua. Bersamaan dengan cahaya itu, terdengar sayup-sayup raungan naga ilusi yang mengguncang jiwa.
"Waktunya tiba," mata Ye Chen berkilat penuh tekad. Ia mengepalkan tangan kirinya dan bersiap menghadapi penderitaan penempaan tulang tahap kedua yang akan jauh melampaui rasa sakit saat ia menelan Api Roh Emas Ungu.