NovelToon NovelToon
Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:46.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.

Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.

Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.

Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.

Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ayo Sarapan!

Setelah selesai membersihkan diri, Mo Yuuran duduk anggun di depan cermin perunggu. Hanfu biru muda membalut tubuhnya dengan elegan, sementara tusuk konde berbentuk phoenix menghiasi rambutnya yang setengah tersanggul rapi.

Tatapannya tenang, namun jauh lebih dalam dari biasanya.

“Xia Lu,” panggilnya lembut dan berwibawa.

“Ya, Yang Mulia,” jawab Xia Lu sambil menunduk.

Xia Lu masih belum percaya dengan sikap Permaisuri di depannya ini.

“Di mana Kaisar saat ini?” tanya Mo Yuuran sambil berdiri perlahan.

Xia Lu mengangkat wajah sedikit. “Hamba mendengar Yang Mulia Kaisar sedang melakukan rapat dengan para menteri dan pejabat tinggi.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Namun sepertinya rapat itu telah selesai.”

Mo Yuuran mengangguk kecil. “Apa beliau sudah sarapan?” tanyanya lagi.

Xia Lu menggeleng. “Sepertinya belum, Yang Mulia.”

Mo Yuuran terdiam sesaat, lalu berkata, “Katakan pada koki istana, siapkan makanan.”

Xia Lu tampak sedikit terkejut. “Yang Mulia?”

“Aku akan memanggil Kaisar untuk sarapan bersama, ya ... meski ini bukan pagi lagi,” lanjut Mo Yuuran singkat.

“Baik, Yang Mulia,” jawab Xia Lu cepat, lalu segera pergi menyiapkan perintah tersebut.

Mo Yuuran melangkah keluar dari kamarnya dengan tenang. Langkahnya ringan, namun setiap gerakannya memancarkan wibawa seorang Permaisuri sejati.

Lorong istana terasa hidup, para pelayan dan penjaga langsung menunduk hormat saat ia melintas.

Saat itulah, tanpa sengaja, ia berpapasan dengan seorang pria paruh baya yang baru keluar dari aula utama.

Pria itu langsung menunduk dalam. “Salam hormat hamba, Yang Mulia Permaisuri.”

Mo Yuuran berhenti. Matanya menatap pria itu dengan tenang, ia adalah menteri, Lu Yan. Menteri keuangan yang dulu ia hancurkan dengan tangannya sendiri.

“Salammu kuterima,” ucapnya datar. Ia melangkah sedikit lebih dekat. “Kebetulan kita bertemu. Ada yang ingin aku katakan.”

Jantung Lu Yan berdegup lebih cepat. Ingatan buruk langsung menghampiri. Terakhir kali ia dipanggil ia dipaksa menaikkan gaji Jenderal Mo dan pejabat Bo Wen hingga tiga kali lipat tentu hal itu membuat para pejabat lain merasa tidak adil tapi tentu mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

“Ada apa, Yang Mulia Permaisuri?” tanyanya hati-hati.

Mo Yuuran menatapnya tanpa ekspresi. “Turunkan gaji Jenderal Mo dan pejabat Bo Wen,” katanya lugas.

Lu Yan terdiam. Wajahnya jelas menunjukkan keterkejutan.

“Yang … Yang Mulia? Apa yang Anda katakan?” suaranya tertahan. “Apakah hamba salah dengar?”

“Kau tidak salah dengar,” jawab Mo Yuuran dingin. “Samakan gaji mereka dengan pejabat istana lainnya. Tidak ada pengecualian.”

Lu Yan menelan ludah. Namun keraguannya belum hilang.

“Yang Mulia … bukankah mereka keluarga Yang Mulia Permaisuri dan pejabat Bo itu .…” ucapnya ragu.

Ia tidak berani melanjutkan, semua orang tahu. Permaisuri sangat mencintai Bo Wen. Bahkan konflik antara Kaisar dan Permaisuri selama ini berakar dari pria itu.

Suasana mendadak menegang. Beberapa pelayan yang berada tak jauh dari sana langsung menahan napas.

Mo Yuuran menyipitkan matanya sedikit. Tatapannya berubah tajam.

“Menteri Lu Yan,” ucapnya pelan, namun dingin.

Lu Yan langsung menunduk lebih dalam.

“Di istana ini, aku adalah Permaisuri,” lanjut Mo Yuuran. “Seseorang yang menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi tidak pantas mendapatkan keistimewaan.”

Kata-katanya terdengar seperti tamparan.

“Termasuk keluargaku sendiri,” tambahnya tegas.

Lu Yan terkejut. Para pelayan juga tak kalah terkejut. Ini benar-benar berbeda dari Permaisuri yang mereka kenal dan rumor jika Permaisuri telah berubah itu memang benar.

Mo Yuuran menatap lurus ke depan. “Jangan ulangi pertanyaan yang sama,” katanya dingin. “Laksanakan perintahku.”

Lu Yan segera menunduk dalam. “Baik, Yang Mulia Permaisuri. Hamba akan melaksanakannya.”

Mo Yuuran mengangguk singkat. Tanpa berkata lagi, ia berbalik dan melanjutkan langkahnya.

Hanfu birunya berkibar pelan, meninggalkan suasana yang masih dipenuhi keterkejutan.

Di kejauhan, aula istana mulai terlihat lengang. Para pejabat satu per satu keluar, sementara di tengah lorong panjang itu tampak Kaisar Zi Xuan berjalan dengan langkah mantap, diiringi beberapa prajurit serta Li Han di sisi kanannya.

Aura dingin dan wibawanya seperti biasa membuat siapa pun enggan mendekat.

Mo Yuuran mempercepat langkahnya tanpa ragu. Hanfu birunya berkibar tertuip angin, sementara tatapannya lurus tertuju pada pria yang selama ini selalu ia hindari.

Para pejabat yang masih berada di sekitar langsung menyadari situasi itu.

Mereka saling pandang.

“Permaisuri?”

“Apa akan terjadi lagi?”

“Jangan-jangan—”

Bisikan pelan mulai terdengar. Ketegangan langsung menyelimuti suasana.

Mo Yuuran berhenti tepat di depan Zi Xuan. Langkah sang Kaisar otomatis terhenti. Tatapan mereka bertemu, suasana hening sejenak.

Para pejabat menahan napas, bersiap melihat pertengkaran seperti biasanya. Tapi, hal yang terjadi berikutnya benar-benar di luar dugaan.

Mo Yuuran tiba-tiba melangkah maju dan memeluk lengan Zi Xuan, lalu bersandar manja di dada bidang pria itu.

Semua orang membeku, mata mereka membesar.

“Apa?”

Zi Xuan sendiri tampak sedikit terkejut, meski wajahnya tetap berusaha datar.

“Ada apa?” tanyanya singkat.

Nada suaranya dingin seperti biasa.

Mo Yuuran langsung berdecak pelan, wajahnya sedikit mengerucut kesal. “Baru semalam kau bersikap lembut,” katanya dengan nada manja.

Ia mengangkat wajahnya, menatap Zi Xuan dengan sorot mata tajam dan menggoda.

“Sekarang kau kembali dingin seperti orang asing.”

Kalimat itu membuat udara seakan berhenti.

“Baru semalam kau memperlakukan memperk*sa istrimu dengan lembut,” lanjutnya tanpa ragu. “Dan sekarang kau bahkan tidak mau bersikap hangat?”

“Uhuk! Uhuk!”

Suara batuk tersedak langsung terdengar dari berbagai arah. Beberapa pejabat hampir tersedak ludah sendiri. Li Han sampai menoleh ke samping, berusaha menahan ekspresi.

Wajah para pejabat memerah. Sebagian langsung menunduk dalam, pura-pura tidak mendengar.

Zi Xuan terdiam, untuk sesaat, ekspresi dinginnya retak. Ujung telinganya memerah. Namun ia cepat mengendalikan diri. Ia menarik napas pelan, lalu menunduk sedikit ke arah Mo Yuuran.

“Ada apa … hm?” tanyanya, kali ini suaranya jauh lebih rendah dan lembut.

Perubahan nada itu begitu jelas. Mo Yuuran tersenyum tipis. Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya di hadapan orang banyak.

“Ayo kita sarapan bersama,” ujarnya ringan.

Zi Xuan sedikit mengernyit. Ia belum sempat menjawab.

Namun Mo Yuuran sudah lebih dulu menggenggam tangannya.

“Ayo,” ulangnya, kali ini sambil menariknya.

Zi Xuan benar-benar tidak diberi kesempatan untuk menolak. Langkahnya ikut tertarik maju. Para prajurit dan pejabat hanya bisa terpaku. Tak ada yang berani bersuara.

Mo Yuuran berjalan santai seolah tidak terjadi apa-apa, sementara tangannya masih menggenggam tangan sang Kaisar.

Zi Xuan meliriknya sekilas. Tatapannya dalam, penuh pertanyaan, tapu ia tidak menarik tangannya.

Di belakang mereka para pejabat masih berdiri kaku.

Wajah mereka merah, pikiran mereka kacau.

“Ini … benar-benar Permaisuri?”

“Apa aku sedang bermimpi?”

“Sejak kapan hubungan mereka seperti itu?”

1
tinie
ya lagian jadi pelayan aja
belagu tidur nyenyak dikasur empuk
eeh justru anak kaisar malah dikasih kasur tikar
RheaAdelya
😍
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
ini siapa yg tak tau malu
mama_im
mantap👍👍🤣🤣🤣
FAISHAL GAMING
luar biasa
💟노르 아스마💟
whuuuhhhh...keren!!!👏👏👏👏
Allfa Rizky
suka sama cerita spt ini FL nya Badas keren banget gak menye-menye,, sar set eksekusi man taappp
Allfa Rizky
sadiiisss,, tpi kereenn Badas
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Uuuhhh mantaaapp itu baru Permaisuri /Applaud/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
/Drowsy//Scream/ Tumaaaann mang enak disiram aer nanaasss
SENJA
mantabs🔥
SENJA
yaelaaah kurang lah segitu😳
SENJA
lu yang mati 😤
SENJA
udah langsung hukum langsung siksa
SENJA
siksa udah buseh dah ga beres nih 😤
SENJA
emang ga ada ingatan yuran sebelumnya?
Vika Lestari
uf lagi kaka🙏
Sribundanya Gifran
lanjut
Maydian li Maydian
lanjut thor 😍
Atik Kiswati
mantap....🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!