Takdir tak akan berubah jika kau tak ingin merubahnya, berjuanglah untuk mendapatkan kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhaze, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Ren sudah sampai di cafe milik Fay. Mereka pun masuk, Fay langsung mengajak Ren duduk di bangku favoritnya.
"Duduk dulu ya gw ambilin daftar menu" Fay pun beranjak ke arah meja kasir untuk mengambil buku menu, dia ingin Ren memilih sendiri minumannya.
"Wih siapa kak! ganteng banget, pacarnya ya?" tanya karyawannya yang bernama Tari.
"Shuut! ' meletakan jari telunjuk di bibirnya' bukan, temen kok!" Fay membantah. Dia tak memungkiri saat dia dan Ren memasuki cafe, banyak pengunjung yang langsung melirik penuh minat ke arah Ren, terutama para kaum hawa.
Fay segera menghampiri meja Ren dan membuka buku menu "Nih Ren....pilih yang mana aja, gratis!" Fay menambahkan.
"Ngga boleh gitu lu pengusaha gw pelanggan masa gratis!" sergah Ren.
"Ha....ha....lu bales omongan gw waktu di rumah lu ya!" tukasnya.
"Nah tuh tau" Ren membuka lembar perlembar untuk melihat semua menu yang ada di cafe Fay.
"Ya beda lah Ren waktu itu gw kan datang sebagai pelanggan bawa rombongan yang bener aja masa ngga bayar! gw juga tau kok ibu juga asal aja ngasih harga" tebaknya mengenai sasaran.
"Nah klo lu kan tamu, gw yang nyuguhin" sambil menaik turunkan kedua alisnya. Ren hanya mengedikan bahunya.
"Gimana klo gw pilihin menu andalan cafe gw?" tawar Fay saat melihat Ren seperti bingung harus memesan apa.
"Nah gitu kek dari tadi, gw kagak repot-repot milihkan!" langsung menutup buku menunya.
"Okey sip....gw ke dapur dulu ya?" Fay langsung bangkit bersiap menghidangkan minuman untuk tamunya.
.
.
Di dapur ......
"Kak! siapa namanya?" Tanya Tari penasaran.
"Ishhhh....kamu ini" Fay yang sibuk memblender es dan coklat itu.
"Kan bukan pacar kk, jadi boleh dong aku gaet!" ucap Tari tanpa basa basi.
"Ngaco....dah ah kk mau ke depan Ren udah nunggu!" Fay segera berlalu dari dapur, mendadak dia kesal entah karena apa.
"oh namanya Ren " Tari bergumam, dia pun meringis sendiri, membayangkan hal-hal aneh bersama Ren.
.
.
"Nih Ren...." menaruh gelas dan cake di hadapan Ren, dia sendiri memilih meminum teh hangat.
"Enak" ucap Ren segera setelah dia mencicipi hidangannya.
"Makasih...." jawab Fay.
"Jam berapa emang acaranya ntar malem?" tanya Ren kemudian.
"Jam delapan, cuma 2 jam, soalnya jam 10 cafe dah tutup" Fay memberitahu.
"Kamu ntar malem tanding jam berapa?" giliran Fay bertanya agenda Ren.
"Malem klo gw mah bisa jam 11 or 12 malem lah!" jujur Ren.
"Hemmmm.......gw boleh ikut ngga Ren?" tanyanya dan itu sukses membuat Ren terkejut dan tersedak minumannya.
"Ishhh cuma nanya gitu aja ampe kaget" Fay bangkit mencondongkan tubuhnya untuk menepuk punggung Ren yang duduk di seberangnya.
"Kagak!" sergahnya langsung.
"Kenapa?" tanya Fay bingung.
Ren pun bangkit dan langsung keluar dari cafe, tapi di cekal oleh Fay di luar cafe.
"Lu marah?" masih dengan tanda tanya kenapa laki-laki di hadapannya ini tampak kesal.
"Ngga!" jawab Ren singkat.
"Bisa ngga ngomong selain engga?" paksa Fay.
"Ngga!" masih dengan jawaban singkatnya.
Fay langsung menekuk wajahnya, terlihat bulir bening sudah
memenuhi pelupuk matanya. Hampir terjatuh.
Ren langsung menyekanya, ia menghela nafas "jangan terlalu mengenal gw!" perintahnya.
"Gw bukan orang baik yang bisa lu jadiin temen!" Ren pun segera berlalu pergi.
Sakit....hati Fay sakit dia amat sangat terluka, dia pun tak tau kenapa, apa karena Ren dengan terang-terangan menolaknya? atau karena Ren tak sudi berteman dengan gadis cengeng seperti dirinya, dia tak tau.
Fay mencengkram erat dadanya, entah kenapa kata-kata Ren terlalu menusuk hatinya, apa karena ia sudah terlalu nyaman dekat dengan lelaki itu jadi ia seperti merasa di campakan?.
Fay segera masuk ke cafenya menuju ke ruangannya, mengunci diri dan menangis disana.
.
.
.
Ren mengemudikan kendaraannya sangat kencang, dia pun ketempat favoritnya untuk menyendiri.
Dia sebenarnya tau kata-katanya terhadap Fay sangat keterlaluan, tapi dia tak ingin menjerat gadis itu ke dunianya.
Sudah cukup para sahabatnya yang terikat dengannya, jangan gadis itu.
Ren sadar diri, orang seperti dirinya tak pantas berharap dekat dengan seorang gadis seperti Fay, gadis baik yang tak padang bulu saat berteman.
Biarlah dirinya dan Fay terluka sekarang, dari pertemanan mereka berlanjut terlalu jauh dan menyebabkan luka di kemudian hari.
Setelah tenang Ren memutuskan untuk kembali ke bengkel, kembali kedunianya, dia akan melupakan rasa bersalahnya tadi dengan melakukan hobinya.
Ren kembali ke bengkel dan mengecek mesinnya, disana sudah ada para sahabatnya, mereka bingung dengan raut wajah Ren yang nampak tak bersahabat, mereka memutuskan untuk tak banyak bertanya, membiarkan Ren dengan fikirannya sendiri. Setelahnya mereka kembali kerumah masing-masing masih dalam keadaan yang hening, tanpa celotehan seperti biasanya. Mereka tau pasti telah terjadi sesuatu, yang mengakibatkan sahabat mereka itu terlihat murung.
.
.
.
Berkali kali tlpnya berdering, Ren berusaha mengacuhkannya, karena nama yang tertera di sana adalah gadis yang baru saja ia lukai hatinya.
Ren pun memejamkan matanya, setelah lama terlelap, ada suara ketukan di pintu, Ren tau itu pasti ibunya, karena jika Saka tak mungkin ia mengetuk.
Ren membuka pintu dan langsung duduk di tepi ranjangnya, ibu pun menyusul duduk di sampingnya.
"Kamu cape?" ucap sang Ibu sambil menyugar rambut anaknya.
"Ngga sih bu, ngga ada kerjaan jadinya ya tidur." jawab Ren.
"Di bawah ada teman-teman kamu, katanya kalian mau pergi ke cafe Fay kan?" tanya ibu.
"Bilangin mereka aku ngga ikut bu!" Ren merasa sudah tak pantas dia datang memenuhi undangan gadis itu.
"Kenapa?" sang ibu heran "kamu berantem sama Fay?"
"Bu...pantes ngga sih orang kaya aku nih deket sama gadis baik-baik kaya Fay? aku ngga mau gadis itu kena masalah karena aku bu?" baru kali ini Ren mencurahkan isi hatinya.
"Emangnya kamu kenapa? kamu anak ibu, anak baik, ganteng lagi!" seloroh sang ibu mencairkan suasana.
Sang ibu tau ada yang terjadi terhadap anaknya, saat pulang dia melihat raut wajah anaknya itu nampak murung.
"Ibu aku serius!" Ren merasa malu dengan pujian sang ibu.
Dia bergumam dalam hati apa Fay pun melihat hanya dari fisiknya? jadi apa gadis itu tertarik dengan dirinya? dia menolak fikiran itu, dia yakin Fay tak senaif itu.
"Ibu juga serius" menghela nafas dan melanjutkan "kamu menghindari Fay karena masalah ini?."
Ren pun mengangguk, "Ngga baik nolak undangan orang, Fay kamu atau siapapun berhak berteman, toh takdir yang mempertemukan kalian, ibu yakin itu" lanjut sang ibu bijak.
"Mandi gih, dandan yang ganteng, ngomong baik-baik sama Fay, ngga baik nyakitin gadis sebaik Fay" pinta sang ibu.
Ren pun mengangguk dan berjalan ke kamar mandi. Mungkin benar kata ibunya pertemuan mereka memang sudah takdir.
Hanya Ren berharap jika ini bukanlah Takdir yang buruk untuk gadis itu.
.
.
...****************...
-YOU'RE MINE, SERRA
-POSESSIVE PILOT
-"AFFAIR WITH UNCLE++"
-My best friend's Daddy is my husband
-Pengantin Pengganti Tersakiti