Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 : Konfrontasi Garu Depan Altar Utama
Hawa Dingin di Hadapan Penguasa Bayangan
Gemuruh reruntuhan batu di belakang pintu utama perlahan memudar, meninggalkan kesunyian yang mencekam di dalam Ruang Altar Utama. Udara di dalam ruangan raksasa ini terasa sangat berat, dipenuhi bau belerang dan aroma darah yang menusuk hidung. Di tengah-tengah altar batu melingkar yang melayang di atas pusaran lava keunguan, berdiri Lord Malakor dengan jubah hitam berkibar-kibar ditiup angin sihir.
Mata merah Lord Malakor berkilat dingin menatap Cassian dan Aurelia yang baru saja menginjakkan kaki di pelataran bawah altar. Di tangannya, sebilah tongkat tengkorak berwarna hitam mengalirkan energi pekat yang terus-menerus diserap oleh orb kristal ungu di atas puncaknya.
"Kalian berdua datang tepat waktu untuk menyaksikan kelahiran era baru," ucap Lord Malakor dengan suara serak yang bergema menembus dinding-dinding basalt benteng. "Pengorbanan prajurit kalian, termasuk Kaelen, tidak sia-sia. Jiwa-jiwa mereka telah menjadi bahan bakar terbaik untuk membuka Gerbang Jurang Maut."
Cassian menggenggam erat gagang pedang esnya hingga pergelangan tangannya memutih. Amarah yang membakar dadanya menyatu dengan sihir dingin yang memancar dari matanya. "Pengorbanan Kaelen adalah untuk menghentikan kejahatanmu, Malakor! Hari ini, giliranmu yang akan menerima penghakiman!"
Awal Pertempuran Puncak
Tanpa menunggu aba-aba, Cassian melesat maju dengan kecepatan luar biasa. Langkah kakinya meninggalkan jejak es membeku di atas lantai batu yang panas. Dengan satu tebasan horizontal yang kuat, ia meluncurkan gelombang tebasan es berbentuk sabit raksasa ke arah podium Lord Malakor.
Lord Malakor hanya menggerakkan tongkatnya sedikit. Sebuah dinding api hitam meletus dari bawah tanah, menahan dan mencairkan serangan es Cassian menjadi uap panas yang membubung tinggi. Namun, di balik kabut uap tersebut, Aurelia telah merapalkan mantra sihir Mawar Emas.
"Akar Pemurni: Penjara Emas!" teriak Aurelia. Dari retakan lantai batu, sulur-sulur tanaman berduri berlapis cahaya keemasan melilit cepat ke kaki Lord Malakor, mencoba memutus alirannya ke orb kristal.
Lord Malakor meringgis saat sihir pemurni membakar jubah hitamnya. Dengan dengusan kasar, ia memukulkan ujung tongkatnya ke lantai, melepaskan gelombang kejut hitam yang menghancurkan seluruh akar emas Aurelia dan melempar Cassian beberapa langkah ke belakang.
*•*
*•*
Adu Sihir dan Pelindung Diri
"Sihir Mawar Emasmu memang merepotkan, Putri Varencia," kata Lord Malakor seraya melayang turun dari podiumnya. "Tapi di ruangan ini, aliran sihir jiwaku tidak terbatas!"
Lord Malakor mengangkat kedua tangannya ke udara. Dari orb kristal ungu, puluhan panah api hitam meluncur cepat menyasar Cassian dan Aurelia. Cassian berdiri di depan Aurelia, memutar pedang besarnya untuk menciptakan perisai badai salju, sementara Aurelia memperkuatnya dengan barisan kelopak mawar emas yang bercahaya.
Dentuman bersahut-sahutan memenuhi ruangan saat panah-panah api hitam menghantam perisai gabungan mereka. Tekanan energi yang begitu kuat memaksa Cassian berlutut menahan tumpuan kakinya. Namun, matanya tetap menatap tajam musuh di hadapannya.
"Aurelia, fokuskan sihirmu untuk menghancurkan orb kristal di atas podium!" bisik Cassian terengah-engah. "Aku yang akan menarik seluruh perhatian Lord Malakor!"
Pertaruhan Menuju Babak Akhir
Aurelia mengangguk mantap, meskipun wajahnya tampak pucat karena menguras terlalu banyak energi sihir sejak pertempuran di luar. "Hati-hati, Cassian. Sihir hitamnya menyerap daya hidup setiap kali senjatamu bersentuhan dengannya."
Dengan teriakan membahana, Cassian memicu seluruh potensi Sihir Es Abadi di dalam dirinya. Rambutnya perlahan memutih dan aura biru dingin menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia melompat kembali menerjang Lord Malakor, bertukar tebasan pedang dengan kecepatan membabi buta untuk memberi celah bagi Aurelia.
Di belakangnya, Aurelia memejamkan mata, memusatkan seluruh konsentrasinya untuk mengumpulkan energi Mawar Emas puncak demi menghancurkan sumber energi ritual. Ruang Altar Utama menjadi arena pertempuran sengit yang akan menentukan nasib seluruh benua, membawa perselisihan ini kian dekat.
ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"