"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."
Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.
Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?
Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Kecurigaan Baru
Bunyi klik dari kunci pintu yang diputar terdengar begitu nyaring di telinga Arga, seolah suara itu adalah palu yang memaku jarak di antara mereka. Arga berdiri mematung di depan pintu kamar, menatap permukaan kayu walnut yang dingin. Di balik pintu itu, ada perempuan yang baru saja ia yakinkan bahwa ia adalah satu-satunya, namun kini justru membangun benteng tertinggi untuk menghalaunya.
Arga menyandarkan keningnya pada pintu. Napasnya terasa berat. Ia tahu, penjelasan apa pun yang ia berikan saat ini akan terdengar seperti pembelaan diri yang basi. Namun, membiarkan Nadira tenggelam dalam asumsinya sendiri adalah kesalahan yang tidak bisa ia toleransi.
"Nad..." panggil Arga lirih. Suaranya serak. "Tolong buka pintunya. Aku mohon."
Hening. Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang berdesir pelan di koridor lantai dua.
"Aku tahu kamu marah. Aku tahu kamu merasa dikhianati," lanjut Arga, suaranya kini lebih tegas namun tetap terselip nada memohon. "Tapi apa yang terjadi semalam bukan seperti yang kamu bayangkan. Aku tidak ke sana untuk kembali pada Bianca. Ada hal mendesak yang harus aku selesaikan. Hal yang berkaitan dengan keselamatan kita, Nad."
Di dalam kamar, Nadira duduk meringkuk di atas tempat tidur, memeluk lututnya erat-erat. Matanya menatap kosong ke arah jaket hitam yang tergeletak di atas kursi. Jaket yang menjadi bukti nyata bahwa suaminya menghabiskan waktu di rumah perempuan lain saat ia terlelap dalam rasa percaya.
"Keselamatan kita?" suara Nadira terdengar dari balik pintu, tipis dan bergetar. "Sejak kapan Bianca menjadi bagian dari keselamatan kita, Mas? Atau mungkin, 'keselamatan' itu hanya kata lain untuk memberi ruang bagi masa lalu yang belum selesai?"
Arga memejamkan mata. Rasa sakit itu menjalar hingga ke dadanya. "Bianca tahu sesuatu tentang Proyek Aurora. Dia merasa terancam, dan dia menghubungi aku karena dia tidak tahu harus percaya pada siapa lagi. Aku pergi ke sana bukan sebagai mantan tunangannya, tapi sebagai seseorang yang mencoba mencari tahu siapa yang sebenarnya mengincar kita."
Nadira tertawa kecil, sebuah tawa hambar yang lebih menyakitkan daripada tangisan. "Lucu, ya. Kita sudah sepakat untuk saling terbuka. Tapi ternyata, kamu masih punya rahasia yang begitu rapi. Kamu pergi jam satu pagi, tanpa pesan, tanpa kabar. Dan sekarang kamu bilang itu demi aku?"
"Aku tidak ingin kamu khawatir, Nad! Aku tidak ingin kamu terbeban dengan ketakutan yang mungkin tidak perlu kamu tahu," seru Arga, kini sedikit meninggikan suaranya karena frustrasi.
"Tapi aku justru lebih takut ketika aku tidak tahu apa-apa, Mas! Aku merasa seperti orang asing di rumah ini. Aku merasa... aku hanya istri kontrak yang tugasnya hanya menemani kamu sampai warisan itu cair, sementara hati kamu masih tertinggal di tempat lain."
Mendengar kata 'istri kontrak', Arga tersentak. Ia memukul pintu itu pelan dengan telapak tangannya. "Hentikan. Jangan bawa-bawa kontrak itu lagi. Aku sudah mengatakannya di Bali, aku mencintaimu. Aku memilihmu bukan karena wasiat, tapi karena kamu adalah rumah yang aku cari."
Nadira tidak menjawab. Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu, namun ia tidak membukanya. Ia hanya bersandar di sisi pintu, terpisah oleh lembaran kayu yang dingin.
"Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu tidak akan membiarkan aku merasa sekecil ini," bisik Nadira. "Tolong pergi, Mas. Aku butuh waktu."
Arga terdiam. Ia bisa merasakan kesedihan yang menguar dari balik pintu itu. Ia ingin mendobrak pintu tersebut, memeluk Nadira, dan meyakinkannya bahwa Bianca hanyalah bagian dari teka-teki yang harus mereka pecahkan bersama. Namun, ia tahu bahwa memaksa masuk hanya akan membuat Nadira semakin menjauh.
Dengan berat hati, Arga melangkah mundur. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti menarik paksa sebuah benang yang baru saja mulai tersambung. Ia berjalan kembali menuju ruang kerjanya dengan perasaan hampa.
Begitu sampai di mejanya, Arga menghempaskan tubuhnya ke kursi kerja. Ia menatap layar laptop yang masih menyala, menampilkan data-data audit lama yang masih belum memberikan jawaban pasti. Pikirannya berkecamuk. Di satu sisi, ia harus melindungi Nadira dari ancaman misterius di luar sana. Di sisi lain, ia justru menjadi sumber luka bagi perempuan itu.
Ia meraih ponselnya, hendak menghubungi Rizky untuk meminta laporan terbaru mengenai pengawasan terhadap Bianca. Namun, sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal mengalihkan perhatiannya.
Pesan itu singkat, namun cukup untuk membuat darah Arga membeku.
“Jangan terlalu percaya pada orang-orang di sekitarmu, Arga. Terkadang, musuh yang paling berbahaya adalah mereka yang tersenyum paling ramah di meja makanmu.”
Arga mengerutkan kening. Ia mencoba membalas pesan tersebut, menanyakan siapa pengirimnya, namun pesan itu segera dihapus oleh pengirimnya. Unsend.
Arga bersandar di kursinya, menatap langit-langit ruangan yang luas. Kalimat itu bukan sekadar ancaman, melainkan peringatan. *Orang yang tersenyum paling ramah di meja makan*.
Seketika, bayangan wajah-wajah anggota keluarganya terlintas. Ratih yang ambisius, Kevin yang dingin namun baru saja bersikap manis, dan Bram... Bram yang selalu menjadi sosok paling bijaksana, paling ramah, dan paling setia kepada keluarga Wijaya selama puluhan tahun.
Arga teringat bagaimana Bram selalu membantu segala urusan administrasinya dengan sigap. Bagaimana Bram selalu memberikan nasihat menenangkan setiap kali Arga merasa tertekan. Selama ini, Arga menganggap Bram sebagai sosok paman kedua, seseorang yang bisa dipercaya sepenuhnya.
Namun, jika peringatan itu benar, maka tidak ada satu pun orang di rumah ini yang benar-benar aman.
Tepat saat itu, pintu ruang kerjanya diketuk pelan.
"Pak Arga? Saya membawa dokumen tambahan yang diminta," suara Bram terdengar dari balik pintu, hangat dan tenang seperti biasanya.
Arga terdiam. Ia menatap ponselnya, lalu menatap pintu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arga merasa ragu untuk mempersilakan seseorang masuk ke dalam ruang pribadinya.
"Masuk, Pak Bram," jawab Arga, suaranya kini terdengar datar dan waspada.
Bram melangkah masuk dengan senyum tipis di bibirnya, membawa sebuah map hitam. Namun, saat mata mereka bertemu, Arga menangkap sesuatu yang berbeda. Ada kilatan kecil di mata Bram, sesuatu yang tidak bisa didefinisikan, namun terasa seperti pengawasan yang tajam.
"Ada apa, Pak Arga? Anda terlihat pucat," ujar Bram dengan nada khawatir yang terdengar sangat alami.
Arga memaksakan sebuah senyum tipis. "Hanya kurang tidur, Pak Bram. Terima kasih dokumennya."
Bram meletakkan map itu di meja, namun ia tidak segera pergi. Ia berdiri di sana selama beberapa detik, menatap Arga dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Hati-hati dengan pilihanmu, Arga. Terkadang, rasa ingin tahu bisa menjadi bumerang yang menghancurkan diri sendiri," ucap Bram pelan, hampir seperti bisikan, sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan ruangan.
Arga terpaku di tempatnya. Kalimat Bram barusan tidak terdengar seperti nasihat seorang mentor. Itu terdengar seperti sebuah ancaman yang dibungkus dengan keramahan.
Kini, Arga tidak hanya harus berjuang memenangkan kembali hati Nadira, tetapi ia juga harus mulai mencari tahu siapa sebenarnya musuh yang sedang bermain peran di dalam rumahnya sendiri.