NovelToon NovelToon
Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:25.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.

Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.

Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.

Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.

Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22

Jumat malam, sebelum Keira sempat memikirkan cara keluar dari Mansion, Wulan menelepon.

"Kei, daftar Piala Gemilang belum?"

Keira sedang duduk di tepi ranjang, memasukkan cardigan ke tas kecil. "Apa?"

"Piala Gemilang. Kompetisi desain perhiasan tingkat universitas. Deadline malam ini. Lo anak desain perhiasan, masa nggak tahu?"

Keira mengingat tiket Pameran Gemilang dari Prof. Hartono, lalu menguap. "Aku tahu."

"Terus?"

"Tidak tertarik."

Di seberang telepon, Wulan terdiam tiga detik. "Lo sombong banget dengan suara datar. Aku sampai kagum."

Keira menatap sketsa lama Liora di laptop. "Aku sudah kerja sebagai desainer profesional. Ikut kompetisi mahasiswa rasanya seperti orang dewasa ikut lomba mewarnai."

"Tetap aja bisa menang hadiah, reputasi, dan bikin orang kampus berhenti ngomong sembarangan."

"Orang kampus akan selalu menemukan topik baru. Itu bakat kolektif."

Wulan mendecak. "Terserah. Aku daftar. Kalau lo berubah pikiran, deadline jam dua belas."

"Semangat."

"Jangan cuma semangat. Doain aku menang."

"Semoga juri punya selera."

"Mulut lo ya."

Wulan belum menutup telepon. "Oh, satu lagi. Seline juga kayaknya bakal daftar. Anak-anak kampus ribut karena katanya dia sudah punya sketsa baru yang sangat orisinal."

Keira menatap laptopnya.

Di layar, folder arsip Liora tertutup rapi.

"Kalau memang orisinal, bagus untuknya," kata Keira.

"Nada lo membuat kata orisinal terdengar seperti dakwaan."

"Itu keahlian sampingan."

Telepon ditutup dengan tawa pendek Wulan. Keira meletakkan ponsel, lalu keluar kamar.

Rencana awalnya sederhana. Turun lewat tangga samping, keluar pintu belakang, Grab, Grand Orchid.

Rencana itu mati di ruang keluarga.

Ko Kevin duduk di sofa, menonton dokumenter alam di televisi dengan volume kecil. Wajahnya sangat serius, seolah musim kawin di layar adalah operasi kepolisian tingkat nasional.

Remote TV berbisik, "Dia tidak peduli acara ini. Dia menjaga pintu."

Keira berhenti di tangga.

Ko Kevin tidak menoleh. "Mau ke mana?"

"Ambil air."

"Dapur di kiri. Tasmu kenapa ikut?"

"Hausnya kompleks."

Ko Kevin akhirnya menoleh. "Keira."

Keira menatapnya dengan wajah paling polos.

Ia kalah.

Selama hampir dua jam, ia duduk di ruang keluarga dengan segelas air, sementara Ko Kevin menonton dokumenter alam yang semakin aneh. Setiap kali Keira bergerak sedikit, Kevin ikut bergerak sedikit. Sofa, bantal, dan remote menyaksikan pertarungan diam itu dengan antusias.

Pukul sebelas tepat, ponsel Kevin berdering.

Wajahnya berubah begitu melihat layar.

"Tugas?" tanya Keira.

"Jangan terdengar terlalu bahagia."

"Aku prihatin."

"Wajahmu tidak."

Kevin berdiri, mengambil jaket. Sebelum keluar, ia menunjuk Keira. "Jangan melakukan hal yang membuatku harus menulis laporan."

"Aku benci laporan."

"Bagus. Kita sepakat."

Begitu pintu tertutup, remote TV bersorak, "Lari, Nona. Aku pura-pura tidak lihat."

Keira sudah berdiri.

Tiga puluh lima menit kemudian, ia tiba di Grand Orchid. Denny tidak terlihat di lobi. Lift kali ini seolah sudah mengenalnya. Tombol lantai lima berbisik, "Malam kedua. Wah, cepat juga."

Keira pura-pura tidak mendengar.

Di depan Suite 501, Denny memang tidak ada. Pintu terbuka setelah ia menekan bel sekali. Bukan Denny yang membukanya, melainkan sistem otomatis.

Di dalam, gelap seperti biasa.

"Kamu terlambat," suara Edric datang dari dekat pintu.

Keira terkejut. "Anda duduk di sana?"

Ia meraba sedikit, lalu menemukan kursi berlengan di dekat pintu. Sandarannya hangat. Kursi itu berbisik malu-malu, "Dia duduk sejak pukul sepuluh lewat. Katanya bukan menunggu."

Keira menahan senyum. "Saya tertahan."

"Oleh?"

"Kakak."

"Yang polisi?"

"Salah satunya."

Edric diam sebentar. "Kamu punya banyak kakak?"

"Terlalu banyak untuk operasional rahasia."

Sudut bibir Edric bergerak sangat tipis. "Masuk."

"Anda menunggu dari jam berapa?"

"Aku tidak menunggu."

Kursi di dekat pintu langsung berbisik, "Bohong. Dia bahkan menolak pindah ke sofa."

Keira menahan tawa. "Kursinya hangat."

"Kursi bisa hangat karena suhu ruangan."

"Tentu."

"Naira."

"Ya?"

"Jangan terdengar seperti percaya padahal tidak."

"Baik. Saya tidak percaya."

Edric terdiam, lalu berkata pelan, "Lebih baik."

Keira mengikuti suara langkahnya ke kamar utama. Malam ini Edric tidak mengalami serangan. Napasnya stabil, gerakannya tenang. Namun ia tetap menyentuh tepi meja sebelum berjalan, menghitung posisi ruang lewat ingatan dan suara.

"Tuan Liem," kata Keira.

"Jangan panggil begitu."

Keira berhenti. "Pak Edric?"

"Lebih buruk."

"Bos?"

"Aku bukan bosmu."

"Lalu harus panggil apa?"

Edric berdiri di sisi tempat tidur. Dalam gelap, wajahnya tidak terbaca, tetapi suaranya lebih pelan dari biasanya.

"Ric."

Keira merasa lidahnya mendadak tidak patuh.

"Itu terlalu akrab."

"Kamu tidur di tempat tidurku sambil memegang tanganku. Kita sudah melewati batas formal."

"Poin yang tidak enak dibantah."

"Panggil aku Ric. Kamu bukan karyawanku. Kamu..." Ia berhenti sebentar. "Temanku."

Kata itu sederhana.

Entah kenapa, justru karena sederhana, dada Keira terasa hangat.

Ia menunduk, lalu berkata pelan, "...Ric."

Untuk pertama kalinya, Keira melihat Edric tersenyum.

Sangat kecil. Hampir tidak ada. Tetapi di wajah dinginnya, senyum itu seperti lampu pertama di ruangan gelap.

Mereka berbaring seperti malam sebelumnya, dengan satu bantal panjang di antara mereka. Namun malam ini, Keira tidak langsung meraih tangan Edric.

Ia menatap gelap di atasnya.

"Mulainya bagaimana?"

"Apa?"

"Pegang tangan."

Edric diam. Lalu ia mengulurkan tangan ke atas bantal.

Keira menyentuhkan ujung kelingkingnya ke kelingking Edric.

Ringan. Hati-hati. Seolah sedang mengetuk pintu.

Edric berkata, "Terlalu mudah lepas."

Keira menggigit bibir. Ia menggeser tangan, membiarkan empat jarinya menutup punggung tangan Edric.

Edric membalik telapak tangannya.

Jari mereka bertemu.

Satu per satu, sepuluh jari saling mengunci.

Keira menahan napas.

Telapak tangan Edric hangat. Denyut nadinya terasa di pergelangan, pelan tetapi nyata. Begitu kulit mereka menyatu, semua suara benda lenyap. Tidak ada kasur. Tidak ada bantal. Tidak ada AC. Tidak ada dunia yang ikut campur.

Hanya genggaman itu.

"Begini cukup?" tanya Edric.

Keira ingin menjawab dengan tenang.

Yang keluar hanya, "Cukup."

Dalam hitungan menit, napasnya melambat. Tubuhnya yang sepanjang hari menahan banyak rahasia akhirnya menyerah pada sunyi. Ia tertidur dengan jari masih terkunci pada jari Edric.

Edric tidak langsung tidur.

Ia berbaring dalam gelap yang sudah ia kenal sepuluh tahun, merasakan tangan kecil di tangannya, hangat, nyata, dan tidak membuatnya sakit.

Nama yang ia tahu mungkin palsu.

Wajah yang tidak bisa ia lihat.

Namun untuk pertama kalinya setelah begitu lama, gelap terasa tidak kosong.

Edric mengencangkan genggamannya sedikit, hati-hati agar tidak membangunkan Keira.

Aku ingin melihat wajahnya.

Ia pernah menolak operasi, menolak harapan, menolak semua kalimat dokter yang terdengar seperti undian mahal. Melihat lagi dulu terasa tidak perlu, karena tidak ada yang ingin ia lihat.

Sekarang ada.

Untuk pertama kalinya, aku ingin bisa melihat lagi.

1
lin sya
kluarga gk tahu malu, stlh tau kbnarannya ngomong ttg kluarga. pdhl dulu kei anak yg diabaikan dan disakitin. skrg dtg dgn tmpg gk brsalah🤭
Dey77
baru awal baca,
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!