NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Zombie / Misteri / Horor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: novelisnewbie

Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.

Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27: Langkah Mundur Seorang Pemburu, Bidak Pertama Sang Pelacak

Tidak semua kemenangan lahir dari langkah maju. Ada kalanya seorang pemburu justru memperpanjang usia buruannya dengan memilih mundur, sementara di balik keputusan itu, perang yang sesungguhnya baru saja menemukan bentuknya. Di lereng pegunungan yang mulai diselimuti kabut sore, dua orang yang belum pernah saling mengenal sedang memainkan permainan yang tidak lagi ditentukan oleh kekuatan, melainkan oleh cara mereka membaca pikiran lawan.

Angin pegunungan berembus pelan di antara pepohonan pinus, membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan bau logam dari fasilitas logistik di bawah bukit. Dari balik semak yang menutupi tubuhnya, Arga tetap mengamati modul penekan resonansi yang berada di dalam gudang kecil itu tanpa sedikit pun mengubah posisi. Sensor Dimensinya masih berdenyut pelan, tetapi kali ini bukan karena kristal ataupun zombie, melainkan karena instingnya terus berteriak bahwa sesuatu sedang menunggunya.

Tik... tik...

Detik jam di pergelangan tangannya terdengar jauh lebih jelas dibanding biasanya. Arga perlahan menarik napas, lalu mengendurkan genggaman pada gagang parang yang sejak tadi siap dicabut. Tatapannya menyapu setiap sudut bangunan, mulai dari jendela yang terlalu bersih, kamera pengawas yang sengaja dipasang mencolok, hingga posisi para penjaga yang justru tampak terlalu santai.

Ia tersenyum tipis.

"Kalau semuanya terlihat mudah..." gumamnya lirih sambil menggeleng pelan, "berarti memang sengaja dibuat agar terlihat mudah."

Tanpa ragu sedikit pun, Arga mematikan resonansi Ruang Dimensi yang telah siap diaktifkan. Tubuhnya bergerak mundur perlahan mengikuti bayangan pepohonan, menghapus setiap jejak keberadaannya seolah ia tidak pernah datang ke tempat itu. Bahkan dedaunan yang terinjaknya kembali jatuh dengan tenang tanpa menyisakan bekas.

Srrt...

Beberapa ratus meter dari sana, di atas puncak bukit lain, Raven masih berdiri diam di balik teropong beresolusi tinggi. Lensa itu tidak pernah benar-benar menangkap sosok Ghost Collector, tetapi perubahan kecil pada pola lingkungan sudah cukup baginya untuk memahami apa yang baru saja terjadi. Sudut bibir pria itu perlahan terangkat membentuk senyum yang nyaris tak terlihat.

Salah seorang bawahannya melangkah mendekat sambil membawa radio komunikasi. "Komandan, Tim Delta melaporkan tidak ada penyusup yang terdeteksi. Apakah kami mulai menyisir area?"

Raven menurunkan teropongnya tanpa terburu-buru. "Tidak."

Bawahannya tampak bingung. "Kalau memang ada penyusup, ini kesempatan terbaik untuk menangkapnya."

"Justru karena itu," jawab Raven tenang. "Jangan bergerak."

Pria itu memandang ke arah gudang yang masih sunyi. "Mangsa yang bodoh akan tergoda oleh hadiah yang diletakkan di depan matanya. Mangsa yang cerdas akan bertanya kenapa hadiah itu dibiarkan begitu terbuka."

Ia mengembuskan napas panjang sebelum melanjutkan, "Sekarang aku sudah tahu jawabannya. Ghost Collector tidak pernah mempertaruhkan seluruh operasinya demi satu target, sehebat apa pun nilainya."

Di sisi lain lereng, Arga telah mencapai jalur setapak yang mengarah ke jalan raya pegunungan. Ia berhenti sejenak di balik batu besar sambil menoleh ke belakang. Sensor Dimensi tidak lagi merasakan ancaman yang mendekat, tetapi justru itulah yang membuatnya semakin yakin.

"Lawan ini..." bisiknya pelan. "Dia tidak mengejarku."

Kesimpulan itu membuat pikirannya bergerak lebih cepat. Seandainya Raven memerintahkan pasukan mengejar, Arga masih bisa memahami pola berpikir seorang pemburu biasa. Namun membiarkannya pergi berarti pria itu sedang mempelajari keputusan yang diambilnya.

"Jadi begitu caramu berburu," gumam Arga. "Kau tidak mengejar langkahku. Kau mempelajari alasannya."

Kesadaran itu membuat Arga tidak merasa kalah. Sebaliknya, ia justru memperoleh gambaran pertama tentang cara berpikir lawannya. Raven tidak memburu tubuh Ghost Collector, melainkan sedang membangun profil psikologisnya sedikit demi sedikit.

Namun permainan belum selesai.

Beberapa kilometer dari fasilitas logistik itu, salah satu rombongan konvoi yang sejak awal dianggap sekadar umpan mulai bergerak memasuki sebuah terowongan militer yang tersembunyi di balik lereng pegunungan. Kendaraan-kendaraan itu melaju tanpa lampu mencolok, hanya ditemani beberapa personel bersenjata lengkap yang menjaga setiap pintu masuk terowongan.

Brummm...

Di dalam salah satu koper logistik yang tampak biasa, terdapat sesuatu yang bahkan Organisasi Hitam sendiri tidak menyadarinya.

Beberapa jam sebelumnya, tepat sebelum konvoi terpecah menjadi tiga jalur berbeda, Arga telah memanfaatkan celah sepersekian detik saat Ruang Dimensi beresonansi. Bukan untuk mencuri apa pun, melainkan menyisipkan penanda mikro berbasis resonansi dimensi pada lapisan logam salah satu koper logistik.

Penanda itu terlalu kecil untuk dideteksi alat mana pun.

Saat Arga menghentikan mobilnya di sebuah rest area pegunungan, Sensor Dimensi tiba-tiba berdenyut sangat halus.

Deng...

Ia segera menutup mata.

Di dalam kesadarannya, satu titik resonansi yang nyaris tak terlihat mulai bergerak perlahan menuju arah timur laut, jauh meninggalkan lokasi fasilitas logistik tempat modul penekan resonansi berada.

Tatapan Arga berubah tajam.

"Benar," katanya lirih. "Profesor Adrian memang tidak pernah berada di dekat modul itu."

Ia membuka peta digital di tabletnya lalu membandingkan arah pergerakan penanda tersebut dengan jaringan jalan militer yang tersimpan di hard drive Sektor-9. Jalur yang ditempuh konvoi sama sekali tidak mengarah ke laboratorium mana pun yang telah ia ketahui sebelumnya.

Sebaliknya, jalur itu menghilang ke wilayah yang selama ini kosong dari seluruh data.

Senyumnya kembali muncul.

"Jadi akhirnya..." gumamnya. "Aku menemukan jejak pertama yang benar-benar mengarah pada Omega."

Sementara itu, jauh di markas pusat Organisasi Hitam, ruang rapat bawah tanah dipenuhi layar holografik yang menampilkan jalur konvoi dari berbagai wilayah Indonesia. Raven berdiri di depan meja bundar bersama beberapa pimpinan cabang, termasuk pria berambut perak yang sejak awal memburu Ghost Collector.

Suasana ruangan dipenuhi keheningan sebelum salah seorang ilmuwan membuka laporan terbaru.

"Kemampuan deteksi Ghost Collector tidak lagi dapat dijelaskan menggunakan teknologi konvensional," katanya sambil memperbesar grafik resonansi energi. "Ia mampu membedakan kendaraan asli dan umpan tanpa menyentuh keduanya."

Pria berambut perak mengusap dagunya perlahan. "Berarti seluruh sistem penyamaran kita tidak cukup."

Raven mengangguk pelan. "Kemungkinannya hanya satu. Dia memiliki metode pendeteksian energi yang belum pernah kita dokumentasikan."

Ucapan itu membuat ruangan kembali sunyi.

Beberapa saat kemudian, pimpinan tertinggi Organisasi Hitam akhirnya membuka suara. "Kalau begitu, kita ubah aturan permainannya."

Seluruh mata langsung tertuju kepadanya.

"Aktifkan Operasi Jaring Hitam."

Perintah itu segera diteruskan ke seluruh cabang.

Dalam hitungan menit, jaringan komunikasi internal mulai mengirimkan instruksi baru ke berbagai kota. Modul penekan resonansi kristal diperintahkan dipasang di laboratorium, gudang logistik, jalur distribusi, hingga kendaraan pengangkut personel penting. Tidak hanya itu, seluruh ilmuwan Project Genesis diwajibkan berpindah lokasi secara acak setiap beberapa jam agar tidak pernah berada di tempat yang sama terlalu lama.

Bip... bip...

Sinyal persetujuan bermunculan dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar, hingga Balikpapan.

Permainan telah berubah.

Beberapa hari sebelumnya, Sensor Dimensi milik Arga hampir selalu menjadi mata yang mampu melihat segala sesuatu. Kini, untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke masa lalu, keunggulan mutlak itu mulai dipaksa menghadapi batasnya sendiri.

Malam semakin larut ketika Arga kembali mengemudikan mobilnya menuruni pegunungan. Lampu-lampu kendaraan memanjang seperti aliran cahaya yang membelah gelap, sementara pikirannya terus menyusun ulang seluruh kejadian hari itu.

Ia tidak merasa gagal.

Sebaliknya, semakin lama ia memikirkan modul penekan resonansi itu, semakin banyak celah yang mulai terlihat.

"Teknologi sebesar itu..." gumamnya sambil mengetukkan jari ke setir. "Tidak mungkin bekerja tanpa biaya."

Ia mengingat kembali ukuran modul, jumlah kristal yang dipasang sebagai sumber tenaga, serta pola distribusi logistik yang sempat dilihatnya di fasilitas tadi. Semua itu membutuhkan suplai kristal secara terus-menerus agar medan penekan tetap aktif.

Arga tiba-tiba menghentikan mobil di bahu jalan.

Ckit...

Ia membuka laptop, lalu mulai menggambar bagan sederhana mengenai kebutuhan energi modul tersebut. Semakin lama dihitung, semakin jelas satu kesimpulan muncul di hadapannya.

"Kalau modul ini membutuhkan kristal sebanyak itu..." bisiknya pelan. "Berarti harus ada jalur distribusi khusus."

Ia menyandarkan tubuh ke kursi sambil tersenyum puas.

"Kalau kalian menutupi jejak energi..." katanya pelan dengan mata yang tetap menatap layar peta, "aku akan mengikuti jejak logistiknya."

Pada saat yang hampir bersamaan, Raven menyerahkan laporan terakhirnya kepada pimpinan pusat sebelum meninggalkan ruang rapat.

Pria berambut perak menatapnya. "Kalau nanti berhasil menemukan Ghost Collector... apa perintahmu?"

Raven berhenti melangkah.

Ia memandang layar yang menampilkan seluruh lokasi penyerangan beberapa minggu terakhir, lalu menggeleng perlahan.

"Jangan bunuh Ghost Collector."

Seluruh ruangan menoleh kepadanya.

Raven melanjutkan dengan suara yang tetap tenang, tetapi penuh keyakinan. "Aku ingin menangkapnya hidup-hidup... karena hanya dia yang bisa menunjukkan siapa musuh kita sebenarnya."

Di tempat yang berbeda, Arga kembali menyalakan mesin mobil dan melanjutkan perjalanan malamnya tanpa mengetahui keputusan yang baru saja dibuat Raven. Namun keduanya kini telah memilih jalur yang sama-sama berbahaya.

Yang satu memburu manusia.

Yang lain memburu sistem.

Dan di antara dua jalur itu, sebuah nama terus muncul seperti bayangan yang menunggu waktunya untuk memperlihatkan wajah.

Kompleks Omega.

1
arya_v2
lanjutkan terus ceritanya💪🏻
Rene
kalo dia mau jadi Awakener seharusnya gak terlalu butuh obat"an biasa kan?
Rene
ada cctv🤭
Rene
harusnya dikutil aja dikit dikit🤭 kan punya ruang dimensi
novelisnewbie: sikap macam apa itu, nanti kena pelanggaran kalo ngutil barang umum, tapi kalo ngutil punya villain gpp sih🤣
total 1 replies
Rene
kalo ngomong paling dibilang orang gila🤣
Rene
buat top up🤭
Rene
jelas lah bjir, cuma sebulan, bisa apa🤭 apalagi posisinya kismin
Rene
nah, mending bantai aja mereka dulu, mumpung masih jadi cunguk🤭
Rene
ya gak papa mau nagis lagi juga🤭
Rene
subrek, mungkin aku bakal ngikutin seri ini, soalnya lagi nulis genre kiamat juga🤭 semangat thor
Rene: siap💪
total 2 replies
Rene
mampir dulu🤭
Blueria
mantap, latar Indonesia 💪
novelisnewbie: iyaa karena saya udah muak sama pemerintah jadi saya buat aja genre kiamat biar kalang kabut tuh pemerintahnya wkwk, btw terimakasih banyak semoga betah👍
total 1 replies
adib
bagus..
novelisnewbie: terimakasih banyak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!