Selama tujuh tahun, Zahira Narapati mengorbankan karier dan mimpinya demi mendampingi Deris Adikara membangun usaha. Namun, saat kesuksesan akhirnya diraih, Deris justru menceraikannya karena menganggap Zahira tak lagi sejalan dengan kehidupannya dan memilih wanita lain.
Semua orang mengira perceraian itu akan menghancurkan Zahira. Nyatanya, ia bangkit dari nol, membangun kembali kariernya hingga menjadi perempuan sukses yang berdiri di atas kakinya sendiri.
Dalam perjalanan itu, Zahira bertemu Revan Wiranata, pria yang menghargai kesetiaan dan memberinya kebahagiaan baru. Ketika Deris menyesali keputusannya dan ingin kembali, Zahira memilih melangkah bersama seseorang yang benar-benar menghargainya. Sebab, setiap luka bukanlah akhir, melainkan awal dari kebangkitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode — 33.
Lampu ballroom diredupkan, seluruh perhatian tertuju pada layar LED raksasa di depan ruangan. Rekaman CCTV mulai diputar, terlihat jelas koridor lantai dua puluh beberapa menit sebelum gala dinner dimulai.
Di layar, Zahira keluar dari kamar nomor 2020 dengan mengenakan gaun biru tua. Ia mengunci pintu kamarnya, lalu berjalan menuju lift.
"Time stamp sesuai dengan waktu registrasi peserta," jelas kepala keamanan hotel.
Beberapa detik setelah Zahira menghilang dari koridor, seorang pria berseragam staf hotel muncul sambil mendorong troli. Tatapan para tamu mulai berubah serius. Pria itu melihat ke kanan dan ke kiri, memastikan koridor sepi. Kemudian, Ia mengeluarkan sebuah kartu akses dari sakunya.
Bip...
Lampu indikator pintu kamar 2020 berubah hijau.
Klik.
Pintu terbuka, dan pria itu masuk ke dalam kamar.
Ruangan ballroom langsung dipenuhi gumaman. "Dia bukan penghuni kamar."
"Kenapa dia bisa masuk?"
"That's illegal."
Rekaman terus berjalan.
Empat puluh tujuh detik kemudian, pria itu keluar kembali. Sebelum menutup pintu, tangannya tampak memasukkan sesuatu ke dalam saku. Lalu ia mendorong troli dan pergi begitu saja.
Video berhenti.
Suasana ballroom mendadak sunyi.
Ketua panitia langsung menoleh ke arah kepala keamanan hotel. "Itu staf hotel kalian?"
"Tidak." Jawaban itu membuat suasana semakin tegang.
"Kami sudah memeriksa seluruh daftar karyawan. Seragam yang dipakai identik dengan milik hotel, tetapi pria itu bukan pegawai kami."
Wajah para peserta mulai berubah, berarti seseorang memang menyamar.
Namun ketua panitia masih mempertahankan sikap profesional. "Rekaman ini hanya membuktikan ada orang masuk ke kamar Ms. Zahira."
"Benar, karena itu masih ada rekaman berikutnya," lanjut Revan.
Almira yang semula mulai gelisah, kembali berusaha menenangkan diri.
Tidak mungkin, dia tidak mungkin punya lebih banyak bukti.
"Putar rekaman kedua." Revan memberi isyarat.
Layar kembali berubah. Kali ini berasal dari kamera tersembunyi yang dipasang tim keamanan internal Wiranata Corp di ujung koridor. Sudut pengambilannya lebih dekat. Terlihat jelas pria penyamar itu membuka tas tangan Zahira yang berada di atas meja dekat pintu kamar. Lalu... Ia mengeluarkan sebuah flashdisk hitam dari sakunya. Perlahan, flashdisk itu dimasukkan ke dalam tas Zahira. Setelah itu ia menutup tas kembali hingga tampak seperti tidak pernah disentuh.
Ruangan sontak gempar.
"Oh my God..."
"She was framed."
"Itu jebakan."
Beberapa CEO berdiri dari kursinya, Ketua panitia ikut membelalakkan mata. Sementara Zahira hanya menatap layar tanpa berkedip. Jadi, flashdisk itu memang sengaja diselipkan.
Di sisi lain ruangan wajah Kayla seketika memucat, tangannya mulai gemetar.
"Bagaimana..." Ia menoleh ke arah Almira. "...bagaimana mereka bisa mendapatkan rekaman itu?"
Almira tidak mampu menjawab, ekspresinya benar-benar berubah.
Namun Revan belum selesai, Ia memandang ketua panitia.
"Kalau bukti itu masih belum cukup..." Ia menganggukkan kepala kepada anggota tim keamanan. "Berikan map itu padaku...."
Pria tim keamanan menyerahkan sebuah map berisi beberapa lembar dokumen pada Revan. "Pelaku sudah kami amankan tiga puluh menit yang lalu."
Ruangan kembali riuh.
"Apa?"
"Sudah ditangkap?"
Revan menerima map tersebut. "Setelah menjalankan aksinya, dia memang sempat keluar dari hotel. Namun tim kami terus membuntutinya hingga berhasil bekerja sama dengan kepolisian Singapura untuk mengamankannya."
Revan menyodorkan map itu pada Ketua panitia, orang itu segera membuka dokumen itu. Di halaman pertama terdapat foto pria penyamar. Di halaman berikutnya, bukti transfer sejumlah uang. Nominalnya mencapai puluhan ribu dolar Singapura, dan pengirimnya menggunakan perusahaan cangkang. Namun di halaman terakhir, terlampir hasil pelacakan transaksi. Pemilik rekening terakhir... semua mata membelalak.
Tatapan para peserta perlahan beralih ke arah salah satu sudut ballroom. Almira merasakan seluruh tubuhnya membeku, tangannya yang memegang gelas mulai bergetar hebat.
Revan menatap lurus ke arahnya, sorot matanya tetap tenang, tetapi kali ini terasa jauh lebih tajam.
"Sepertinya..." Suara Revan terdengar jelas memenuhi ballroom. "...kita sudah menemukan siapa dalang di balik upaya menjatuhkan General Manager Wiranata Corp."
Ballroom kembali sunyi, tak ada lagi yang berani berbicara. Semua orang menunggu, siapa nama yang akan disebut Revan berikutnya.
Dan kesalahan tu yg bikin mereka gx ingin melihat Dunia luar lgii ,, 😏😏😏😏😏😏
dsnii bakal keliatan ,,
mana yg berdiri dg kaki ny ,,
Dan mana yg berdiri msh menggunakan kaki orang tuany ,, 😒😒😒😒🤭🤭🤭🤭