NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku Ternyata Pewaris Konglomerat

Suami Kontrakku Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Pernikahan Kilat / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Menikahi tentara
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11: Perangkap

Telepon dari Gunawan Lim datang pada Minggu pagi.

Eve sedang mengganti perban di telapak tangannya saat nama Papa muncul di layar. Ia menatapnya lama. Dua tahun ia tidak pulang ke Rumah Lim. Dua tahun juga Gunawan nyaris tidak menghubunginya kecuali saat membutuhkan sesuatu.

"Evelina," suara Gunawan terdengar serak. "Hari ini peringatan meninggalnya Mama kamu."

Jari Eve berhenti.

"Papa ada sesuatu yang Mama tinggalkan untuk kamu. Bisa pulang sebentar?"

Kata Mama membuat seluruh pertahanan Eve retak di tempat yang paling lemah.

Edric yang sedang membuat kopi menoleh. Setelah panggilan selesai, ia bertanya, "Mau saya antar?"

"Urusan keluarga. Aku bisa sendiri."

"Eve."

"Aku cuma ambil barang Mama."

Edric tidak membantah lagi. Namun begitu Eve keluar, ia mengirim pesan kepada Fajar.

Ikuti dia. Jangan sampai ketahuan.

Rumah Lim di Pondok Indah masih terlihat besar dari luar, tetapi taman depannya tidak serapi ingatan Eve. Kolam kecil di sisi halaman berlumut. Cat pagar mulai kusam. Rumah yang dulu terasa seperti dunia, kini tampak seperti panggung lama yang dipaksa tetap mewah.

Gunawan membuka pintu dengan senyum kaku.

"Eve. Kamu makin cantik."

Eve hampir tidak mengenali kalimat itu. Papa-nya tidak pernah memuji.

Di ruang tengah, Melani sudah duduk dengan kebaya rumahan yang terlalu rapi. Jesslyn ada di sampingnya, tersenyum manis seolah Plaza Indonesia tidak pernah terjadi.

"Kak Eve, lama banget tidak pulang."

Eve duduk di kursi tunggal, menjaga jarak. "Barang Mama mana, Papa?"

Di meja kaca, Eve melihat album keluarga yang biasanya disimpan di lemari bawah. Sampulnya sudah dibersihkan, tetapi debu masih menempel di sela-sela kulit sintetis. Ada juga lilin putih kecil di dekat foto Mama Lili, baru dinyalakan, wangi vanilanya terlalu menyengat untuk ruang yang jarang dipakai berdoa. Semua itu seperti dekorasi yang dipasang terburu-buru demi membuatnya percaya bahwa hari ini benar-benar tentang mengenang Mama.

Eve menahan dorongan untuk menyentuh foto itu. Ia takut jika jarinya sampai menyentuh wajah Mama, ia akan lupa bahwa orang-orang di ruangan ini bukan lagi keluarga yang aman.

"Nanti. Minum dulu." Melani menyodorkan cangkir. "Teh melati. Kamu dulu suka."

Eve menatap cairan hangat itu. Semua di ruangan ini terasa salah. Terlalu ramah. Terlalu siap. Namun aroma melati membawa ingatan tentang Mama Lili yang menyeduh teh di sore hujan.

Ia menyesap sedikit.

Rasanya tidak seperti ingatan. Teh melati Mama dulu ringan, ada pahit tipis yang menenangkan. Teh dari tangan Melani terlalu manis, seolah gula sengaja dipakai untuk menutup sesuatu. Eve menaruh cangkir, tetapi Melani langsung mendorong piring kecil berisi kue ke arahnya.

"Makan sedikit. Kamu kurus sekali."

Perhatian palsu itu membuat tengkuk Eve meremang. Jess duduk sambil memainkan ponsel, tetapi kamera depannya sesekali mengarah ke Eve seperti sedang memastikan keadaan wajahnya. Gunawan berkali-kali membasahi bibir. Semua gerak kecil itu berteriak bahwa ada rencana di ruangan ini.

Eve seharusnya pergi.

Namun di dinding ruang tengah masih tergantung foto Mama Lili. Foto lama itu setengah tertutup vas bunga palsu. Eve menatapnya dan menahan diri. Kalau benar ada barang Mama di rumah ini, ia tidak boleh pulang dengan tangan kosong.

Gunawan mulai bicara tentang kabar kerja, tempat tinggal, biaya hidup. Pertanyaan-pertanyaannya berputar di sekitar uang seperti lalat di atas buah busuk.

"Gajimu cukup?"

"Cukup."

"Kos masih mahal?"

"Aku sudah pindah."

"Pindah ke mana?" Gunawan bertanya terlalu cepat.

Eve menatapnya. "Kenapa Papa ingin tahu?"

Gunawan tampak tersentak, lalu memaksakan senyum. "Papa cuma khawatir."

Kata khawatir terdengar asing dari mulutnya. Selama bertahun-tahun, Gunawan tidak pernah khawatir ketika Eve pulang malam karena lembur, tidak pernah bertanya ketika Eve sakit sendirian, tidak pernah datang ketika ia menerima penghargaan di kampus. Khawatir yang muncul hari ini pasti punya harga.

Melani tersenyum. "Pindah dengan suami tentara itu?"

Eve meletakkan cangkir. "Aku datang untuk barang Mama."

Gunawan mengusap wajah. Tiba-tiba ia tampak lebih tua. "PT Lim Jaya sedang sulit. Utang menumpuk. Kalau tidak ada investasi, perusahaan bisa tutup."

"Lalu?"

"Ada investor," kata Melani lembut. "Dia tertarik membantu. Tapi dia ingin mengenal kamu lebih dekat."

Eve menatap ayahnya. "Siapa?"

Gunawan tidak berani menatap balik. "Hartono Mulya. Pengusaha properti. Umurnya lima puluh."

Ruangan itu dingin, meski AC tidak terlalu kuat.

"Papa mau jual aku?"

"Jangan pakai kata seperti itu," Gunawan berbisik.

"Lalu pakai kata apa? Investasi keluarga?"

Jess tertawa kecil. "Kak Eve, kamu dramatis sekali. Pak Hartono orang baik. Kaya juga."

Eve berdiri. Dunia bergerak setengah detik lebih lambat.

Ia memegang sandaran kursi.

Melani tidak lagi tersenyum. "Duduk saja. Obatnya mulai bekerja."

Untuk satu detik, Eve tidak mengerti. Lalu lidahnya terasa kebas, dan suara AC di ruangan itu mendadak terdengar jauh. Perutnya berputar. Ia menatap cangkir di meja, sisa teh melati yang masih beruap tipis, dan seluruh kepingan peringatan yang tadi ia abaikan jatuh bersamaan.

"Kalian benar-benar..." Napasnya tersangkut. "Di hari peringatan Mama?"

Melani mengangkat bahu. "Justru karena hari ini kamu pasti datang."

Kalimat itu membuat Eve lebih mual daripada obat.

Darah Eve seolah turun ke telapak kaki. "Apa yang kamu masukkan ke teh?"

"Cuma obat tidur. Dosis ringan." Melani merapikan ujung lengan bajunya. "Kalau kamu dari awal patuh, tidak perlu begini."

Eve meraih tasnya, tetapi jari-jarinya sulit menurut. Ponsel terasa jauh, padahal ada di depan mata. Ia melihat Gunawan duduk membungkuk di sofa, wajah pucat, tetapi tidak bergerak.

Detik itu membelah sesuatu di dalam Eve. Selama ini ia masih menyisakan ruang kecil untuk alasan: Papa lemah, Papa ditekan Melani, Papa tidak tahu semua detail yang terjadi di rumah. Namun lelaki di depannya tidak sedang dibohongi. Ia menyaksikan putrinya dibius, dan yang ia pilih hanyalah diam.

Lebih buruk lagi, diamnya bukan terkejut. Diamnya adalah persetujuan yang terlalu pengecut untuk berdiri.

"Papa," suara Eve pecah, "kamu tahu?"

Gunawan menutup mata.

Jawaban itu lebih kejam daripada kata iya.

Jess berdiri, mengambil tas Eve dari meja. "Jangan repot-repot telepon siapa pun. Suami tentaramu tidak akan bisa masuk ke sini."

Eve memaksa langkah ke samping. Kepalanya berat. Ia harus keluar. Harus sampai pintu. Harus membuat suara. Fajar, Edric, siapa pun.

Ia sempat mencapai meja kecil dekat pintu. Jari-jarinya menyentuh bingkai foto. Di dalamnya ada foto keluarga lama: Mama Lili, Gunawan, dan Eve kecil. Tidak ada Melani. Tidak ada Jess. Eve menjatuhkan bingkai itu sengaja.

Kaca pecah.

Suara itu membuat Jess menoleh, tetapi tidak cukup keras untuk memanggil orang luar. Eve menggigit bagian dalam pipi sampai terasa darah, memakai rasa sakit untuk menahan kesadarannya.

Bel rumah berbunyi.

Melani langsung berdiri dan merapikan rambutnya. Wajahnya kembali menjadi nyonya rumah yang anggun.

"Pak Hartono datang."

Pintu terbuka.

Seorang pria bertubuh tebal dengan jas mahal masuk ke ruang tengah. Matanya menyapu Eve dari wajah sampai kaki, lalu berhenti terlalu lama di bibirnya.

Eve mencengkeram kursi sampai kukunya sakit.

Pandangan mulai kabur.

1
aku
🌹 lgi biar semangat 😁
aku
next tor 🌹
aku
kok malah ingat masha yg dihukum berdiri di pojokan sama bear?? 🤣🤣
aku
lagi mewek ini, malah dikasih istilah kocak 😭😭
aku
OMG eevveeeee 😭😭 sabar
aku
msh ada rahasia besar lg ed 😭
aku
wow!! 😃🤣
aku
haih jgn smpe ya eve mati rasa ed.
aku
minta bonus jer 😁
aku
mewakili jerry 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
aku
eveee 😭😭😭
aku
halal disantet gunawan ini 🤬🤬
aku
fix kamu dieleminasi otomatis calista 😃
aku
gpp ed, meriah jd nya 😂
aku
mamvu* 😃 puass kali duo sampah kena malu 🤣
aku
cocok pasangan sm ed, killer 😭😭
aku
ada satu yg tegasnya ngalahin guru killer ya fel 🤣
aku
nah kan syokk semua 😃
aku
klo masih ngomel brti msh strong ya ed 🤣🤣
aku
jemput bahagyamu eve 😭😭 bawang oey bawang 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!