Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.
Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.
Sampai Rayhan Liem kembali.
Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.
Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.
Dan Yola memang berlari. Dua kali.
Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.
Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?
Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?
⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 013
Pertanyaan Naomi
Kesadaran itu membuat Yola hampir salah menuang alkohol pembersih.
"Kak Yola?" Naomi memiringkan kepala. "Lo dengar aku nggak?"
Yola berkedip, lalu menutup botol alkohol kecil. "Dengar. Kamu tadi bilang tutup peraknya jangan direndam terlalu lama."
"Aku bilang kalau Kak Rayhan jalannya masih kaku."
Yola terdiam.
Naomi menyipitkan mata. "Tuh, kan. Nggak dengar."
"Maaf."
"Kenapa minta maaf kayak habis bikin kontrak gagal?" Naomi menarik kursinya lebih dekat. "Kak Yola capek?"
"Sedikit."
"Karena semalam?"
"Karena banyak hal."
Naomi mengangguk pelan. Kali ini ia tidak bercanda. "Aku juga. Tiap merem, aku masih dengar suara kaca pecah."
Yola meletakkan kain pembersih. "Kalau kamu masih takut, jangan memaksa datang ke sini."
"Justru kalau di rumah, semua orang melihat aku seperti vas retak. Papa bolak-balik nanya aku mau apa. Kak Adrian minta pengawal berdiri di depan pintu kamar. Stephanie masuk setiap setengah jam bawa air hangat." Naomi menghela napas. "Di sini aku bisa pegang botol dan pura-pura berguna."
"Kamu berguna."
"Aku hampir pecahin dua tutup botol."
"Hampir bukan berarti pecah."
Naomi tersenyum kecil. "Kak Yola kalau nenangin orang tuh aneh. Nggak manis-manis banget, tapi kena."
Yola tidak tahu harus menjawab apa.
Di meja, botol-botol antik yang sudah bersih disusun berdasarkan ukuran. Sinar sore masuk melalui jendela sayap timur, membuat kaca-kaca kecil itu berkilau lembut. Untuk sesaat, ruangan terasa jauh dari serangan, darah, dan gosip.
"Kak Yola," kata Naomi tiba-tiba, "boleh tanya sesuatu yang agak pribadi?"
Yola menatapnya hati-hati. "Tergantung."
"Kak Kevin dulu orangnya seperti apa?"
Pertanyaan itu tidak ia duga.
Yola menurunkan pandangan ke botol paling kecil. "Lembut."
"Cuma itu?"
"Sabar. Suka membaca. Kalau bicara pelan, orang otomatis ikut mengecilkan suara."
"Kebalikan Kak Rayhan banget."
Yola nyaris tersenyum. "Iya."
Naomi menopang dagu. "Aku dulu takut sama Kak Rayhan."
Yola menatapnya. "Dulu?"
"Sekarang juga sedikit." Naomi mengangkat jari telunjuk dan ibu jari, memberi jarak kecil. "Tapi dulu waktu aku masih kecil, dia pernah datang ke acara Papa. Semua anak main petak umpet di taman. Aku jatuh, lututku berdarah. Anak-anak lain panik, tapi Kak Rayhan cuma jongkok, kasih saputangan, terus bilang, 'Kalau masih bisa nangis, berarti masih bisa berdiri.'"
Yola diam.
Saputangan.
Kata itu terlalu kecil untuk membuat dadanya sakit, tetapi tetap saja sakit.
"Kasar," kata Yola.
"Banget." Naomi tertawa pelan. "Aku nangis lebih kenceng karena sebel. Tapi habis itu dia panggil pengawal buat ambil kotak P3K. Dia sendiri tetap di sana sampai Papa datang."
"Jadi sejak itu kamu..."
Yola berhenti sebelum menyelesaikan kalimat.
Naomi menatapnya. Pipinya memerah lagi, tetapi kali ini ia tidak langsung menghindar.
"Kagum," katanya cepat. "Cuma kagum. Anak kecil gampang kagum sama orang yang kelihatan kuat."
Yola mengangguk pelan.
Naomi mengambil kain pembersih, lalu melipatnya tanpa perlu. "Lagian Kak Rayhan kan jauh lebih tua. Terus dia orangnya dingin. Terus keluarga kami juga dekat secara bisnis. Jadi ya, nggak mungkin aneh-aneh."
Semakin banyak alasan, semakin jelas perasaannya.
Yola menatap botol-botol kaca. Di kepalanya muncul bayangan Rayhan semalam, duduk dengan bahu berdarah, berkata bahwa ia melindungi Yola karena ia memilih. Lalu bayangan Naomi kecil dengan lutut berdarah, menerima saputangan dan kalimat keras yang ternyata tetap ia simpan bertahun-tahun.
Rayhan meninggalkan bekas pada orang-orang dengan cara yang tidak lembut.
Mungkin itu sebabnya bekasnya sulit hilang.
"Kamu belum jawab," kata Naomi.
"Jawab apa?"
"Kak Kevin lembut. Kak Rayhan kebalikannya. Kalau menurut Kak Yola, orang seperti Kak Rayhan bisa berubah nggak?"
Yola menghela napas pelan. "Orang berubah kalau dia mau."
"Kalau nggak mau?"
"Maka orang di sekitarnya yang lelah."
Naomi meringis. "Jawaban Kak Yola realistis banget. Aku kira bakal lebih romantis."
"Hidup jarang seromantis novel."
"Tapi Kak Yola baca puisi Kak Kevin, kan?"
Yola tersenyum tipis. "Puisi tidak selalu sama dengan hidup."
Naomi memutar botol kosong di antara jemarinya. "Kalau Kak Rayhan nulis puisi, kayaknya isinya laporan audit."
Yola tidak tahan. Ia tertawa kecil.
Naomi langsung menunjuknya. "Nah! Aku berhasil bikin Kak Yola ketawa."
"Jangan terlalu bangga."
"Harus bangga. Ini pencapaian."
Suasana kembali ringan. Mereka menyusun botol-botol yang sudah kering ke dalam kotak kayu. Naomi salah memasukkan ukuran dua kali, Yola membetulkannya dua kali, dan tidak ada yang merasa perlu terburu-buru.
Menjelang sore, Sari datang membawa pesan bahwa mobil Naomi sudah siap jika ia ingin pulang sebelum macet. Naomi mengeluh sebentar, tetapi akhirnya berdiri.
Dari koridor, suara pintu ruang kerja di ujung lorong terbuka. Langkah berat terdengar sebentar, lalu berhenti ketika Ardi mengatakan sesuatu dengan suara rendah. Naomi langsung menoleh ke arah itu. Tangannya yang memegang tas menjadi lebih rapi, punggungnya tegak, seperti ia tiba-tiba ingat harus terlihat baik walau Rayhan belum tentu lewat.
Yola pura-pura tidak melihat.
Naomi juga pura-pura tidak sedang menunggu.
Di depan pintu ruang baca, ia berhenti.
"Kak Yola."
"Hmm?"
Naomi memegang tali tasnya, wajahnya tampak seperti menahan pertanyaan sejak tadi.
"Tadi lo bilang hidup jarang seromantis novel."
"Iya."
"Tapi menurut Kak Yola..." Naomi menunduk, lalu mengangkat mata dengan rasa ingin tahu yang terlalu jujur. "Kak Rayhan tipe yang romantis nggak?"
up lagi, Author. banyak-banyak!😅