Delapan tahun merajut kasih, hubungan Zacheriyya Tengiz dan Evander Vale-Knight hancur lebur dalam satu malam akibat pengkhianatan yang tak termaafkan.
Alih-alih menyesal, Evander justru menyebut tindakan kejamnya sebagai pembalasan ego yang setimpal atas kesalahan masa lalu.
Terluka dan murka, Zacheriyya pergi dengan sumpah tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai ia mati.
Dua tahun berlalu dalam pelarian, takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali.
Rasa cinta yang dulu membara kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi kebencian yang dingin dan mematikan. Pertemuan tak terduga ini seketika menyulut kembali sumbu dendam lama dan perang ego yang sengit di antara keduanya.
Mereka kini berdiri berseberangan sebagai dua mantan kekasih yang saling membenci setengah mati, siap saling menjatuhkan lewat tatapan tajam dan kata-kata berbisa.
Di tengah pusaran benci dan luka lama yang kembali menganga, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu dalam permainan rasa yang berbahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Ketegangan di basemen Museum Mobil Downtown Los Angeles perlahan menguap, berganti dengan suara riuh napas lega dan tim ahli peledak yang mulai membereskan sisa-sisa kabel yang sudah dilumpuhkan.
Namun, di tengah kesibukan area yang pelan-pelan disterilkan itu, sebuah pemandangan ajaib justru tercipta di tengah pelataran pameran.
Sejak bom rakitan C-4 itu berhasil dimatikan di detik terakhir, pelukan hangat Zacheriyya pada tubuh tegap Evander tidak pernah terlepas.
Sama sekali tidak terlepas!
Ketika Zacheriyya dan Evander berjalan keluar dari basemen menuju mobil taktis panjang berkapasitas sepuluh orang milik tim EOD, Zacheriyya masih merapatkan tubuhnya di samping Evander.
Dan begitu mereka duduk di kursi bagian tengah mobil panjang yang melaju kembali menuju markas, Zacheriyya bersandar penuh di dada tegap Evander. Tangan kekar Evander melingkar erat di pinggangnya, sementara tangan Zacheriyya mengelus lembut jemari kekasih di atas perutnya sendiri.
°°°
Di sepanjang perjalanan pulang, seluruh anggota tim EOD, teknisi, hingga Instruktur Hendrick yang duduk di dalam mobil panjang itu dibuat melongo tak percaya!
Pandangan mata mereka terus berganti—menatap Zacheriyya dan Evander bergantian dengan alis bertaut rapat.
Segitu bersyukurnya Instruktur Zacheriyya yang terkenal dingin itu pada peserta bernama Evander? Sampai-sampai tidak mau melepaskan dirinya dari dekapan peserta warga sipil itu sepanjang jalan?
Di sudut belakang mobil, dua teknisi EOD berbisik-bisik amat pelan di balik rompi mereka.
"Luar biasa..." bisik salah satu teknisi dengan mata membelalak heran. "Apa peserta Evander tidak takut istrinya yang sering dia ceritakan di markas mengetahui kalau dia memeluk wanita lain seperti ini?"
"Hush! Jangan asal bicara," bisik teknisi sebelahnya melirik Zacheriyya yang memejamkan mata di dada Evander.
"Hey, itu hanya cara Instruktur Zacheriyya berterima kasih atas aksi gilanya tadi! Kan nyawa kita hampir melayang!"
"Tapi tidak segitunya juga!" balas teknisi itu gemas sembari melirik jam tangannya. "Ini sudah hampir dua puluh tiga menit! Pelukan apa itu? Mana ada instruktur memeluk pesertanya sambil mengelus-elus tangan selama dua puluh tiga menit tanpa jeda?!"
Berbagai bisik-bisik dan tatapan keheranan dari seisi mobil panjang itu tampak sama sekali tidak dihiraukan oleh Zacheriyya.
Wanita itu benar-benar mengabaikan citra dingin dan gengsi profesinya. Rasa takut yang sangat dahsyat akan kehilangan Evander di bawah kolong mobil balap tadi membuat jiwanya enggan merenggangkan pelukan itu walau hanya satu sentimeter.
Evander yang merasakan detak jantung Zacheriyya yang masih memburu di dadanya mendudukkan kepala, berbisik teramat pelan di pucuk kepala wanita itu.
"Sayang... semua orang melihat kita," bisik Evander dengan suara bass yang halus dan geli. "Apa tidak apa-apa?"
Zacheriyya menyembunyikan wajahnya lebih dalam di celah leher Evander, mengocok kepalanya pelan. "Tidak. Aku tidak peduli," jawabnya singkat dan tegas, sembari mengelus punggung tangan Evander yang bertengger di atas perutnya.
Evander tersenyum amat manis. Pria Knight itu mengecup kening Zacheriyya perlahan, membiarkan wanita pahlawannya menyerap seluruh kehangatan dan rasa aman di dadanya sepanjang sisa perjalanan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya di Markas Komando EOD Pusat, mereka berdua akhirnya berpura-pura berpisah secara profesional di pelataran parkir. Evander melangkah menuju arah asrama bawah, sementara Zacheriyya berjalan naik bersama jajaran pelatih menuju lantai atas.
Zacheriyya melangkah masuk ke dalam kamarnya, lalu menutup dan mengunci pintunya rapat-rapt.
Begitu sendirian di dalam kamar yang sunyi, Zacheriyya langsung menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu. Wajah cantiknya seketika memerah padam sempurna bagaikan kepiting rebus!
Ia meremas rambutnya sendiri, merutuki kebodohannya yang kelewat batas selama perjalanan pulang tadi.
"Wah... aku benar-benar sudah kehilangan akal," desis Zacheriyya parau, memejamkan matanya rapat-rapt. "Bagaimana mungkin aku melakukan hal sedramatis itu di depan semua anggota tim EOD dan Hendrick?! Memeluknya Sepanjang jalan?! Jatuh sudah wibawaku sebagai instruktur..."
Zacheriyya menghela napas panjang, merapikan kaus taktisnya dan melangkah menuju tepi ranjang untuk melepaskan sepatu boots militernya.
Satu... dua... tiga...
Dalam hitungan mundur tak sampai dua puluh detik, terdengar bunyi klik pelan pada slot kunci pintunya.
Gagang pintu kayu itu memutar halus dari luar, lalu sesosok pria bertubuh tegap melangkah masuk dengan santai dan kembali mengunci pintu di belakangnya.
Zacheriyya bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa sosok gila yang memiliki kunci cadangan pintunya itu.
Evander berjalan mendekat dengan langkah tegap yang elegan. Pria Knight itu langsung berlutut di depan Zacheriyya yang duduk di tepi ranjang, menatap mata kekasihnya dengan binar mata yang teramat dalam dan penuh kerinduan.
"Kita menikah saja, Sayang," ujar Evander tanpa basa-basi, menyunggingkan senyuman miring yang menggoda. "Agar kau bisa memelukku empat puluh delapan jam nonstop tanpa perlu merasa malu di depan anggota timmu."
Mendengar godaan spontan itu, Zacheriyya mendengus pelan meski matanya menatap Evander dengan kehangatan tersembunyi.
"Kita kan sudah sepakat untuk tidak dulu membahas soal pernikahan, Evan," sahut Zacheriyya, memalingkan wajahnya tipis. "Dan aku..."
"Iya, iya..." potong Evander cepat, mengangguk pasrah dengan raut wajah melamun yang dibuat-buat kasihan. "Kau masih belum memaafkanku sepenuhnya atas kesalahan masa lalu..."
Evander jeda sejenak, lalu mengulurkan tangannya mengelus lembut paha dan perut bawah Zacheriyya yang sedang tertutup celana taktis.
"Tapi bagaimana jika bayi kita sudah ada di sana, Sayang?" bisik Evander lembut, menatap perut Zacheriyya dengan binar mata penuh harapan.
Zacheriyya mematung sejenak. Ia menarik napas pendek, menatap lurus ke dalam iris cokelat suaminya.
"Yah... aku akan memaafkanmu sepenuhnya setelah terbukti aku bisa hamil lagi," sahut Zacheriyya pelan, nada suaranya terdengar begitu datar namun sarat akan getaran ketakutan yang teramat dalam.
DEG!
Evander terdiam seketika. Binar senyuman di wajah tampannya menguap, digantikan oleh raut terkejut dan rasa kepedihan yang luar biasa saat menangkap keraguan yang menyayat hati di mata Zacheriyya.
"Apa maksudmu berkata seperti itu, Sayang?" tanya Evander dengan suara bergetar pelan, memegang kedua tangan Zacheriyya dan meremasnya erat. "Tentu saja kau akan hamil lagi! Aku... aku akan berusaha setiap malam agar baby kita segera hadir kembali bersama kita, Sayang."
Zacheriyya tetap terdiam. Namun, detik berikutnya, kedua kelopak matanya yang biasanya memancarkan ketegasan militer mendadak memerah basah di hadapan Evander. Air mata bening membendung di sudut matanya, siap menetes.
"Apa... apa mungkin aku tidak akan pernah bisa hamil lagi, Evander?" bisik Zacheriyya dengan suara pecah yang teramat sedih, menahan tangis yang membendung di dadanya. "Lihat... siklus menstruasiku baik-baik saja. Tapi minggu ini... sama sekali tidak ada tanda-tanda kalau kita berhasil. Bagaimana kalau rahimku rusak?"
Melihat kekasihnya yang begitu tangguh di lapangan kini rapuh dan menangis karena rasa takut akan kegagalan menjadi seorang ibu, dada Evander serasa dihantam oleh belati tumpul. Rasa bersalah dan penyesalan mendalam kembali mencubit jiwanya.
"Sayang... dengar aku," bisik Evander penuh kesungguhan. Pria itu naik ke atas ranjang, membawa tubuh Zacheriyya ke dalam pelukan hangatnya, mengusap punggung wanita itu dengan begitu lembut. "Kehamilanmu yang kemarin butuh waktu bertahun-tahun saat kita tidak menggunakan pengaman. Jangan khawatirkan soal itu, please... Jangan menyiksa dirimu sendiri."
Evander mencium rambut Zacheriyya berkali-kali, meratapi setiap beban mental yang harus ditanggung wanita pahlawannya.
"Maafkan aku, Honey..." ujar Evander parau di celah leher Zacheriyya. "Aku sama sekali tidak keberatan kalau kau tidak ingin menikah sekarang, atau bahkan jika kau belum mau menikah sampai tahun depan sekalipun. Kita rencanakan semua ini baik-baik. Pensiunmu... setelah itu kita menikah secara resmi dan fokus pada keluarga kita."
Zacheriyya mengangguk perlahan di dada Evander, air matanya perlahan mengering.
Mereka memang pernah membahas rencana ini jauh di masa lalu. Pada usia dua puluh tujuh tahun nanti, Zacheriyya akan pensiun dini dari dinas kemiliteran EOD, melepaskan seragamnya, dan menikah penuh dengan Evander untuk fokus membangun keluarga kecil mereka. Dan kehamilan akan menjadi fokus utama dari fase hidup barunya itu.
Namun, usia dua puluh tujuh tahun itu... jatuh pada tahun depan.
Evander melepaskan pelukannya sedikit, mengusap sisa air mata di pipi Zacheriyya dengan ibu jarinya, lalu menatap perut wanita itu dengan lembut.
"Apa perutmu sakit hari ini?" tanya Evander perhatian, mengingat ini masih hari-hari awal menstruasi Zacheriyya.
Zacheriyya meringis tipis, mengangguk pelan. "Sedikit kram dari tadi sore..."
"Kemari dan tidurlah," bisik Evander manis, merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menarik Zacheriyya untuk berbaring di sampingnya. "Aku akan mengusap perutmu agar nyerinya berkurang."
Zacheriyya mengangguk pasrah, menyandarkan kepalanya di dada tegap Evander dan membiarkan tangan hangat suaminya merayap masuk ke balik kemejanya, mengelus permukaan perut bawahnya dengan gerakan melingkar yang amat lembut dan menenangkan.
Di dalam keheningan kamar yang hangat itu, Zacheriyya melirik wajah Evander dari samping.
"Evan..." panggil Zacheriyya pelan.
"Hmm?"
"Apa... Gabriella tidak akan lagi datang mengganggu kita setelah kejadian tadi?" tanya Zacheriyya, mengingat ancaman dan tindakan gila mencekik yang dilakukan Evander pada wanita hamil itu.
Evander menyunggingkan senyuman miring yang begitu dingin namun penuh kepastian, jemarinya terus mengelus lembut perut Zacheriyya.
"Aku jamin... dia benar-benar kapok kali ini, Honey," sahut Evander dengan nada suara bass yang begitu mantap. "Dia tidak akan pernah berani memunculkan batang hidungnya lagi di depan kita selamanya."
Zacheriyya tersenyum tipis, merapatkan tubuhnya di dalam pelukan hangat pria pilihan hatinya, membiarkan kantuk dan rasa aman perlahan membawanya tertidur lelap di bawah dekapan sang kekasih.
omg evander aku padamu😘😘
gemes deh ama merka berdua