Arga Mahendra dikenal sebagai CEO termuda sekaligus paling menyebalkan di kota. Wajahnya tampan, hartanya melimpah, tetapi sifatnya dingin, arogan, dan perfeksionis. Semua orang takut padanya… kecuali satu orang. Namanya Nayla Pramesti. Gadis pemberani yang mulutnya lebih cepat daripada otaknya. Saat pertama kali bertemu, Nayla tanpa sengaja menyiram kopi ke jas mahal Arga. Bukannya minta maaf, ia malah berkata, “Kalau jalan jangan kayak punya trotoar sendiri, Pak CEO.” Sejak hari itu, Arga bersumpah akan membuat hidup Nayla sengsara. Takdir justru mempertemukan mereka lagi ketika Nayla diterima bekerja di perusahaan Arga. Setiap hari kantor berubah menjadi medan perang. Mereka saling mengejek, saling menjahili, dan tak ada yang mau mengalah. Namun di balik pertengkaran itu, Arga mulai melihat sisi lembut Nayla yang selalu disembunyikan di balik sikap bar-barnya. Sementara Nayla mulai menyadari bahwa di balik wajah dingin CEO itu, ada luka masa lalu yang belum sembuh. Saat cinta mulai tumbuh, muncul seorang tunangan pilihan keluarga Arga dan mantan kekasih Nayla yang berniat merebutnya kembali. Akankah dua orang keras kepala ini akhirnya mengakui perasaan mereka, atau justru kehilangan satu sama lain karena gengsi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syah_runi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Di ruang kontrol CCTV…
Puluhan monitor memenuhi dinding.
Operator keamanan memutar rekaman beberapa menit sebelum listrik padam.
“Lihat baik-baik.”
Arga berdiri tepat di belakang operator.
Rekaman menunjukkan Nayla keluar dari ruang administrasi.
Ia berjalan menuju lift sambil memainkan ponselnya.
Beberapa detik kemudian…
Layar CCTV mendadak dipenuhi gangguan.
Garis-garis hitam memenuhi monitor.
“Pak…”
“Rekamannya diretas.”
Arga mengepalkan tangannya.
“Lanjutkan.”
Setelah gambar kembali normal…
Lorong sudah kosong.
Nayla menghilang tanpa jejak.
Dimas menggeleng pelan.
“Pelakunya sangat profesional.”
“Mereka sengaja mematikan listrik dan meretas CCTV dalam waktu yang bersamaan.”
Arga menatap layar monitor tanpa berkedip.
“Lukas tidak mungkin bekerja sendirian.”
Sementara itu…
Di sebuah bangunan tua yang tak terpakai di pinggir pelabuhan…
Nayla perlahan membuka matanya.
Kepalanya terasa berat.
Pandangannya masih buram.
Ia mencoba menggerakkan tangan.
Namun kedua tangannya terikat longgar di kursi kayu.
“Aduh…”
Ia mengingat kembali kejadian di kantor.
Lorong gelap.
Bayangan seseorang.
Lalu…
Seseorang membekap mulutnya dengan kain.
Nayla menarik napas dalam-dalam agar tidak panik.
“Aku harus tenang.”
Ruangan itu cukup luas.
Dindingnya terbuat dari beton tua.
Beberapa jendela sudah pecah.
Di sudut ruangan terdapat lampu redup yang berkedip-kedip.
Tidak lama kemudian…
Pintu besi terbuka.
Seorang pria masuk membawa sebotol air mineral.
Bukan Lukas.
Melainkan pria muda yang wajahnya belum pernah dilihat Nayla.
Pria itu meletakkan botol di atas meja.
“Minum.”
Nayla menatapnya tajam.
“Kenapa saya dibawa ke sini?”
Pria itu tidak menjawab.
“Pak Lukas akan datang.”
“Lepaskan saya.”
“Maaf.”
“Itu bukan keputusan saya.”
Nayla memperhatikan wajah pria itu.
Tatapannya tidak sekejam Riko.
Bahkan terlihat seperti sedang merasa bersalah.
“Apa kamu punya keluarga?”
Pria itu terdiam.
“Punya.”
“Kalau begitu…”
“Bayangkan kalau adik perempuanmu diperlakukan seperti ini.”
Pria itu menundukkan kepala.
Namun beberapa detik kemudian tetap berjalan keluar tanpa berkata apa-apa.
Pintu kembali dikunci.
Di kantor…
Clara Mahendra datang dengan wajah panik setelah mendapat kabar.
“Arga!”
“Apa benar Nayla hilang?”
Arga mengangguk singkat.
Clara menggenggam tangan putranya.
“Kamu jangan menyalahkan diri sendiri.”
Arga mengembuskan napas panjang.
“Semua ini karena aku, Bu.”
“Kalau Nayla tidak mengenalku…”
“Dia tidak akan mengalami semua ini.”
Clara menatap putranya dengan lembut.
“Arga.”
“Dengar Ibu.”
“Bukan kamu penyebabnya.”
“Orang jahat akan tetap menjadi jahat.”
“Yang harus kamu lakukan sekarang adalah membawa Nayla pulang.”
Kalimat itu membangkitkan kembali semangat Arga.
Ia mengangguk mantap.
“Aku akan menemukannya.”
Sementara itu…
Dimas berlari masuk membawa sebuah map.
“Pak!”
“Kami menemukan sesuatu.”
“Apa?”
“Saat memeriksa parkiran belakang…”
“Kami menemukan truk pengiriman palsu.”
“Di dalamnya ada alat pemutus listrik.”
Arga membuka foto-foto yang dibawa Dimas.
Matanya berhenti pada sebuah stiker kecil di sisi pintu truk.
PT Samudra Logistik.
“Tunggu…”
Arga mengernyit.
“Perusahaan ini…”
Dimas mengangguk.
“Dulu pernah menjadi vendor Skyline Consulting.”
“Lukas lagi.”
“Tapi ada yang lebih menarik.”
Dimas menunjukkan GPS yang ditemukan di bawah dashboard truk.
“Alat ini masih aktif.”
Arga langsung berdiri.
“Bisa dilacak?”
“Masih.”
“Titik terakhir berada…”
“…di kawasan pelabuhan lama.”
Tanpa membuang waktu, Arga mengambil kunci mobilnya.
“Dimas.”
“Kumpulkan tim.”
“Kita berangkat sekarang.”
Di gudang tua…
Lukas akhirnya datang.
Langkahnya pelan.
Tangannya membawa map berwarna cokelat.
“Nayla.”
Nayla menatapnya penuh kebencian.
“Kenapa Anda melakukan semua ini?”
Lukas tersenyum tipis.
“Karena Arga harus merasakan kehilangan.”
“Saya bukan siapa-siapa buat dia.”
“Oh ya?”
Lukas mengeluarkan beberapa foto.
Foto Arga memeluk Nayla.
Foto Arga menjaga Nayla di rumah sakit.
Foto Arga menatap Nayla dengan penuh kekhawatiran.
“Kamu masih yakin?”
Nayla terdiam.
Lukas mendekat.
“Arga mungkin belum mengaku.”
“Tapi matanya tidak bisa berbohong.”
Nayla menggigit bibir.
Entah mengapa, mendengar kalimat itu justru membuat dadanya berdebar.
Namun ia segera menggeleng.
“Tidak.”
“Pak Arga hanya orang baik.”
Lukas tertawa kecil.
“Kalau begitu…”
“Kita lihat seberapa jauh dia mau mempertaruhkan hidupnya demi menyelamatkanmu.”
Di jalan menuju pelabuhan…
Mobil Arga melaju dengan kecepatan tinggi.
Dimas yang duduk di samping terus memperhatikan titik GPS.
“Pak.”
“Kita tinggal lima menit lagi.”
Arga tidak menjawab.
Pikirannya hanya dipenuhi satu nama.
Nayla.
Ia teringat saat gadis itu pertama kali masuk kerja.
Berani membantahnya.
Tidak pernah takut padanya.
Selalu membuatnya kesal…
Sekaligus membuat hari-harinya terasa berbeda.
Baru kali ini Arga benar-benar menyadari satu hal.
Ia tidak hanya ingin melindungi Nayla karena tanggung jawab.
Ia takut kehilangan Nayla.
Takut untuk selamanya.
Arga menggenggam setir lebih erat.
“Bertahanlah…”
“Aku pasti datang.”
Di dalam gudang…
Suara kendaraan terdengar dari kejauhan.
Lukas tersenyum.
“Sepertinya tamu kita sudah datang.”
Ia menoleh kepada anak buahnya.
“Siapkan semuanya.”
“Pak.”
“Kalau terjadi baku tembak?”
Lukas tersenyum dingin.
“Tidak akan.”
“Aku ingin Arga memilih.”
“Memilih perusahaan yang dibangun keluarganya…”
“Atau perempuan yang mulai ia cintai.”
Sementara itu, di balik pintu gudang yang tertutup rapat, Nayla diam-diam berhasil menggesek tali yang mengikat tangannya ke ujung besi kursi yang tajam.
Sedikit demi sedikit…
Talinya mulai terurai.
Harapan mulai muncul di matanya.
Di luar gudang, suara mobil Arga akhirnya berhenti.
Ia turun bersama Dimas dan beberapa anggota kepolisian.
Tatapan Arga langsung tertuju pada bangunan tua di hadapannya.
Dengan napas berat, ia berkata,
“Apapun yang terjadi…”
“Hari ini Nayla harus pulang bersamaku.”
Ia melangkah menuju pintu gudang.
Dan tepat saat tangannya hendak menyentuh gagang pintu…
Dor!
Satu suara tembakan memecah kesunyian malam.
Arga membeku.
Suara itu…
Berasal dari dalam gudang.
Dor!
Suara tembakan memecah keheningan malam di kawasan pelabuhan tua.
Jantung Arga seolah berhenti berdetak.
“Nayla!”
Tanpa memedulikan peringatan polisi yang masih bersiap di belakangnya, Arga menendang pintu gudang hingga terbuka lebar.
Brak!
Pintu besi tua menghantam dinding dengan suara keras.
Debu beterbangan memenuhi ruangan.
Gudang itu jauh lebih besar daripada yang terlihat dari luar. Cahaya lampu gantung yang redup hanya menerangi sebagian ruangan, sementara sudut-sudut lainnya tenggelam dalam bayangan. Bau kayu lapuk, oli, dan karat memenuhi udara.
“Periksa semua sisi!” teriak Dimas kepada anggota polisi.
“Siap!”
Beberapa polisi segera berpencar.
Namun perhatian Arga hanya tertuju pada satu orang.
“Nayla!”
Suaranya menggema memenuhi gudang.
Tidak ada jawaban.
Yang terdengar hanya suara air menetes dari atap yang bocor.
Di balik tumpukan peti kayu…
Nayla memejamkan mata sambil menahan napas.
Tangannya masih berusaha melepaskan sisa tali yang mengikat pergelangan tangan.
Beberapa menit sebelum Arga datang, ia berhasil menggesek tali itu ke ujung besi kursi hingga seratnya mulai putus.
Saat mendengar suara tembakan, seluruh tubuhnya langsung gemetar.
“Siapa yang ditembak?”
“Pak Arga?”
Pikiran itu membuat matanya berkaca-kaca.
Dengan sisa tenaga, ia menarik tali itu sekuat mungkin.
Krek…
Tali akhirnya putus.
Nayla hampir menangis lega.
Namun ia belum sempat berdiri ketika langkah kaki seseorang terdengar mendekat.
Tok…
Tok…
Tok…
Ia segera berjongkok di balik peti kayu.
Seorang pria bertubuh besar berjalan melewatinya sambil membawa pistol.
“Nggak mungkin dia jauh.”
“Cari!”
Suara itu membuat Nayla menggigit bibir agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
jd senam jantung🤧