Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.
Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.
Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DZ~13
Setelah urusannya dengan Abah selesai, Zizan kembali ke asrama. Ia menyempatkan diri mengontrol kegiatan mengaji yang sedang berlangsung di masing-masing tingkatan kelas. Setelah memastikan semua kelas aman, sudah ada ustaz yang mengajar dan tidak ada kelas kosong ia segera masuk ke kamar untuk berganti pakaian karena ingin ikut kerja bakti.
Perasaannya masih campur aduk, rasa bahagia mengingat pesan dari Abah barusan. Sambil berkaca, ia memiringkan topinya ke belakang. Pesona cool-nya memang tidak bisa bohong. "Alhamdulillah, akhirnya aku punya banyak waktu buat persiapan," ujar Zizan bicara sendiri sambil merapikan rambut di depan cermin.
"Ass..."Ucapan seseorang terhenti di ambang pintu. Orang itu melongo melihat Zizan yang sedang senyam-senyum sendiri menatap cermin.
"Assalamu'alaikum," Ares melanjutkan salamnya yang sempat terpotong. Ia melangkah masuk kamar dengan tatapan menyelidik.
"Waalaikumsalam," jawab Zizan santai.
Ares mulai mengitari sahabatnya itu dengan penuh kecurigaan. Ia berjalan merapat dari arah kiri, lalu berputar ke kanan.
Zizan hanya terdiam heran sambil menahan tawa melihat kelakuan ajaib sahabatnya ini.
Plak!
"Apaan sih, woy!" Zizan menepis wajah Ares yang jaraknya sudah terlalu dekat.
"Ih, sakit!" rengek Ares sambil memegangi pipinya yang kena tepis.
"Lagian ngapain lihat-lihat kayak gitu? Kenapa, terpesona sama kegantengan aku, ya?" gumam Zizan narsis. Ia sengaja menaruh dua jari di bawah dagu biar kelihatan eksis.
"Ih, maaf ya, aku masih waras!" ketus Ares kesal.
"Ya terus kenapa, hah?" Keduanya akhirnya duduk di lantai supaya bisa mengobrol lebih rileks.
"Jujur sama aku, Bro. Apa yang lagi kamu pikirin? Kenapa tadi senyum-senyum najis di depan cermin?" selidik Ares dengan nada menginterogasi. "Oh, aku tahu ini. Pasti lagi mikirin si Zia, kan? Mengaku aja kamu, udah nggak bisa mengelak lagi sekarang!"
"Apaan sih, sotoi banget. Nggak, ya!" Zizan mencari alasan. Gemas dengan tuduhan itu, Zizan langsung mengacak-acak rambut Ares.
Ares tentu tidak mau kalah. Ia membalas menjambak Zizan dengan kedua tangannya.
Di saat mereka sedang baku hantam ala anak TK, Dafa tiba-tiba muncul di pintu. Ia baru saja selesai kerja bakti membersihkan halaman depan kompleks putra. Kaosnya tampak agak basah oleh keringat.
"Astaghfirullahalazim!" Dafa syok melihat dua sahabatnya tengah saling jambak rambut. Khawatir terjadi baku hantam beneran, ia langsung pasang badan untuk memisahkan mereka.
"Woy, udah woy! Kenapa sih kalian? Kayak anak kecil tahu nggak!" omel Dafa kesal.
Melihat Dafa yang panik setengah mati, ketegangan itu justru pecah. Zizan dan Ares malah kompak tertawa terbahak-bahak.
"Eh, malah ketawa!" Dafa melongo.
"Lagian kamu serius banget sih, Daf. Orang kita cuma bercanda," jelas Zizan sambil berdiri. Ia kembali menghadap kaca untuk merapikan rambutnya yang sudah acak-acakan akibat ulah Ares.
"Iya, nih. Daf, santai aja kali," sahut Ares yang langsung merebahkan tubuhnya di kasur lantai.
"Aku kira beneran berantem!" gerutu Dafa. Karena telanjur kesal, refleks ia memukulkan topi di tangannya ke paha Ares.
Plak!
"Ih, kebiasaan deh, tangan ringan banget!" ketus Ares, suaranya naik lebih tinggi.
"Udah-udah, jangan ribut. Aku ada pengumuman penting nih," potong Zizan.
Mendengar itu, Ares dan Dafa langsung mengubah mode mereka menjadi serius. Pandangan keduanya tertuju pada Zizan.
"Tentang apa?" tanya Ares kepo.
"Soal kenapa tadi aku dipanggil Abah ke ndalem."
"Oh, aku tahu! Jangan-jangan, kamu mau dijodohin sama Zia, ya?" goda Dafa. Matanya langsung melirik Ares, memberi kode untuk mengajak tos sambil tertawa puas.
"Zia mulu pikiran kalian, ah. Ini serius!" potong Zizan sambil menahan senyum.
"Oke, oke, maaf. Terus, terus?"
Zizan sengaja memasang ekspresi tegang. Ia memperlambat tempo bicaranya untuk memancing rasa penasaran.
"Kata beliauuu..."
Satu detik... dua detik... Zizan masih menggantung kalimatnya.
"Zan!" ketus Dafa, gemas maksimal.
"Iya, iya, sabar... Kata Abah, seleksinya bakal di undurin dua minggu! Jadi aku punya waktu belajar yang lebih panjang, Bro!" jelas Zizan girang.
Kabar itu langsung disambut heboh oleh Dafa dan Ares. Rasa girang mereka bahkan tidak kalah heboh dari Zizan sendiri.
"Alhamdulillah!" seru mereka berdua kompak.
"Akhirnya, Bro! Tos dulu dong!" ajak Dafa sambil mengacungkan tangannya ke udara. Mereka bertiga pun melakukan tos bersama dengan tawa yang memenuhi seisi kamar.
Kadang Zizan berfikir, hidup di pesantren bakal sehambar apa kalau tidak ada Ares dan Dafa. Mereka bertiga ini seperti paket lengkap yang tidak sengaja disatukan oleh nasib. Suka berantem hal tidak penting seperti anak kecil, tapi selalu kompak kalau urusan saling dukung. Rasa lega yang Zizan bawa dari ndalem tadi mendadak berlipat ganda begitu dibagi dengan dua kepala ini. Bahagia itu ternyata sesederhana bisa tos bareng setelah dapat kabar baik, sebelum akhirnya harus sadar realitas kalau mereka masih punya utang kerja bakti yang belum selesai.
Moment hangat tersebut akhirnya buyar karena kehadiran sosok Mas Charis yang sedang patroli, Mas Charis sedang mengecek setiap ruangan kamar, beberapa sudah kosong tandanya sudah berangkat kerja bakti, namun, Tiba-tiba suara tawa terdengar keras dari kamar Zizan. Dengan sigap Mas Charis pergi ke kamar tersebut dan...
Tanpa kata, tanpa suara, hanya diam di ambang pintu dengan tubuh tegak, tatapan dingin. Mampu membuat tawa ketiga sahabat ini terdiam tak berkutik.
Semua terdiam, menundukkan pandangan. susana semakin tegang "mampus kita," batin Dafa lirih.
"Yang kemarin masih kerasa banget takut sama malunya, jangan lagi ya allah amin." Batin Zizan tak kalah heboh.
"Gimana, nih. Mampus aku." batin Ares lirih.
***
Setelah Sinta dan Salsa sampai di kamar, Sinta langsung menggelar karpet agar Salsa bisa selonjoran dan istirahat. Pas Salsa baru duduk dan Sinta sudah siap-siap mau balik lagi ke dapur, tiba-tiba langkahnya tertahan.
"Sin..."Sinta menoleh. "Iya, Mbak?"
"Kenapa kamu harus bohong sama Zia tadi?" tanya Salsa. Terlihat sekali dia tidak nyaman.
Sinta mengernyit. Agak habis pikir juga dengan jalan pikiran seniornya ini. "Ya jelas takut Zia cemburu lah, gimana sih, Mbak Sal," gerutu Sinta dalam hati.
Tapi di depan Salsa, Sinta justru menjawab dengan nada ketus. "Nggak apa-apa, Mbak. Aku cuma nggak mau Zia kepikiran aja setelah tahu semua kejadian tadi."
"Kejadian apa? Itu kecelakaan, Sin. Aku juga nggak sengaja," potong Salsa cepat, nadanya meninggi karena sedikit emosi mencoba mencari pembelaan. "Lagian kita nggak ngapa-ngapain kok. Dia cuma bantu aku, dan dia tetap jaga pandangan. Sama sekali nggak ada sentuh-sentuhan. Jadi, apa yang perlu dikhawatirin?"
Sinta menarik napas panjang. Dadanya mulai terasa sesak menahan dongkol. Jari-jarinya mengepal di balik jilbabnya. Dia mencoba menahan diri, masih mencoba menghargai Salsa yang posisinya adalah senior dia sendiri.
Sinta melangkah maju dua baris, sengaja membuat jarak di antara mereka terasa lebih dekat agar tidak terdengar dari luar. Matanya menatap lurus wajah Salsa penuh penekanan membuat Salsa melotot ketakutan tanpa berkedip. Tatapannya dingin sekali.
"Mbak, jangan pikir aku nggak tahu apa yang selama ini Mbak lakuin di belakang kita," bisik Sinta. Suaranya pelan, tapi justru terdengar menakutkan karena penuh penekanan. "Mungkin teman-teman yang lain nggak tahu. Mungkin Zia juga nggak tahu. Tapi aku tahu semuanya, Mbak. Se_ mua_ nya." ia sengaja memutus-mutus kalimat tersebut.
Salsa langsung bungkam. Lidahnya mendadak kelu.
"Jadi, aku ingetin sekarang," ancam Sinta terang-terangan. "Tolong jangan pernah sekalipun Mbak punya niat buat sakiti Zia. Karena kalau sampai itu terjadi, aku yang bakal maju paling depan."
Suasana kamar mendadak sunyi senyap. Salsa cuma bisa terpaku, tidak berkutik sama sekali. Dadanya terasa sangat sakit, dan ada rasa panik yang mendadak menyerang pikirannya.
"Sinta tahu semuanya? Dari mana dia bisa tahu? batin Salsa, mulai ketakutan.
Sebelum Salsa sempat membela diri, Sinta sudah mengalihkan pandangannya ke wajah Salsa. Dia memaksakan senyum tipis yang terlihat sangat hambar.
"Assalamu'alaikum, Mbak." Tanpa nunggu jawaban, Sinta langsung balik badan dan jalan ke arah dapur. Meninggalkan Salsa yang dari tadi cuma bisa melongo bingung melihat keributan mendadak itu.
Sementara itu, Salsa masih duduk mematung.
dengan menjawab lirih "waalaikumsalam." Jarinya tanpa sadar meremas ujung karpet tipis-tipis, berusaha menyembunyikan tangannya yang mulai agak gemetar. Pikirannya langsung kacau, mengingat-ingat lagi rahasia besar yang selama ini dia simpan rapat-rapat. Rahasia yang dia pikir aman dan tidak akan pernah ketahuan, ternyata malah justru sudah diketahui oleh Sinta.
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca