Dipaksa menjadi pengantin pengganti demi melunasi utang lima miliar keluarga angkatnya, Kiyora Aleena pasrah dibawa oleh penguasa mafia Italia yang paling ditakuti—Salvatore.
Namun, alih-alih dijadikan tawanan atau simpanan, pria dingin nan kejam itu justru memperlakukannya bagai seorang ratu. Puncaknya terjadi saat sebuah bisikan misterual membakar ingatan masa lalunya.
"Aku tidak pernah salah mengenali milikku," bisik Salvatore rendah, menatap gelang perak berbandul merah di pergelangan tangan Kiyora.
"Kamu adalah Istriku. Ratu dari seluruh kerajaanku ... Alaura."
"N-Nama aku Kiyora, Om Tuan Mafia! Salah orang kali!" pekik Kiyora panik dengan mata bulatnya yang berbinar kaget.
Siapa sebenarnya Alaura? Dan mengapa takdir mempertemukannya kembali dengan Salvatore di tengah ancaman perang berdarah antar-klan mafia yang siap membongkar rahasia besar tentang identitas aslinya?
Terlebih, ada bocil cadel menggemaskan yang merecoki kisah percintaan mereka.
"Ini Mama Milooo!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cukuran
Kiyora perlahan terbangun saat sinar matahari pagi menembus celah-celah tirai kamar. Ia mengusap wajahnya yang masih terasa berat oleh kantuk, lalu mengumpulkan kesadaran penuh dan beranjak duduk. Namun, tatapannya seketika membeku saat mengamati sekeliling. Ia berada di sebuah kamar megah yang sama sekali berbeda dari kamar tempat ia tertidur semalam.
Sensasi hangat dan berat di area pinggangnya membuat Kiyora menunduk. Sepasang matanya membelalak kaget mendapati sebuah lengan kekar bertato melingkar protektif di atas perutnya. Perlahan, Kiyora menolehkan kepala untuk melihat siapa pemilik lengan tegap itu.
Salvatore. Don Mafia yang terkenal sangat dingin, kejam, dan tak tersentuh di dunia bawah itu kini tengah terlelap tenang di sisinya.
Dalam heningnya pagi, Kiyora memandangi setiap lekuk wajah pria di sebelahnya. Dimulai dari kelopak mata yang tertutup rapat, alis tebal yang tegas, hidung mancung yang sempurna, hingga bibir tipis yang semalam sempat mencuri ciumannya. Tatapan Kiyora lalu jatuh pada rahang pria itu, di mana kumis dan jenggot tipis mulai tumbuh kasar. Kiyora mengelus bibirnya sendiri secara refleks saat teringat adegan semalam.
"Pantas tajam ...," gumam Kiyora sangat pelan pada dirinya sendiri.
"Apa yang tajam?"
Suara bass yang dalam dan serak khas bangun tidur itu seketika mengejutkan Kiyora! Gadis itu tersentak hebat, menoleh dan menemukan Salvatore yang ternyata sudah membuka mata. Manik mata hitam sepekat malam milik pria itu menatap lurus ke dalam matanya.
Kiyora refleks beranjak dan berniat melompat dari ranjang karena panik. "A-Aku ... aku enggak tahu kenapa bisa tidur di sini!" lirih Kiyora ketakutan dengan napas memburu.
Melihat kepanikan itu, Salvatore dengan cepat mengulurkan tangan. Ia meraih pergelangan tangan Kiyora dan menariknya dengan satu gerakan kuat namun terukur, membuat tubuh mungil Kiyora kembali jatuh melayang tepat di dalam pelukan hangatnya. Kiyora berusaha keras menarik diri dan memberontak, tetapi Salvatore justru mempererat dekapannya di pinggang gadis itu.
Pandangan Salvatore lagi-lagi mengunci bibir mungil Kiyora yang ranum. Menyadari arah tatapan berbahaya pria dewasa tersebut, Kiyora dengan cepat menutupi mulutnya menggunakan kedua telapak tangan.
"Kumis Om tajam, aku gak suka!" cicit Kiyora dari balik celah jari-jarinya.
Mendengar kejujuran polos itu, gerakan Salvatore terhenti. Ia mengangkat tangannya lalu mengusap kumis dan jenggot tipis di sekitar rahangnya. Pria itu beranjak duduk di tepi ranjang, menatap pantulan dirinya pada cermin besar di seberang ruangan.
"Kamu tidak menyukainya?" tanya Salvatore memastikan, suaranya terdengar datar namun menyiratkan perhatian tersembunyi.
Kiyora menggeleng pelan, merasa agak canggung. Melihat respon tersebut, Salvatore langsung berdiri tegap. "Ikut aku."
Salvatore melangkah lebih dulu menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar utama tersebut. Kiyora sempat ragu-ragu, tetapi akhirnya mengekor di belakangnya. Begitu Kiyora melangkah masuk, Salvatore membalikkan badan dan menutup pintu kamar mandi dengan rapat.
Cklek.
Mata Kiyora terbelalak lebar, detak jantungnya berpacu liar karena panik. "O-Om?"
Salvatore mulai mendekatinya perlahan, memaksa Kiyora melangkah mundur secara refleks untuk menjaga jarak. Namun, baru beberapa langkah, bagian belakang tubuh Kiyora sudah menabrak pinggiran meja wastafel marmer. Ia tersudut, tak punya jalan keluar lagi.
Saat wajah Salvatore semakin mengikis jarak, Kiyora yang ketakutan memejamkan matanya rapat-rapat. Tangan mungilnya yang bergetar secara tak sadar meraih gagang sikat gigi di samping wastafel, membalikkan ujungnya yang tajam sebagai bentuk pertahanan diri.
Namun, hal tak terduga justru terjadi.
Salvatore tidak menyakitinya. Pria itu justru menyelipkan kedua tangan kekarnya di bawah ketiak Kiyora, lalu mengangkat tubuh ringan gadis itu dengan sangat mudah dan mendudukkannya di atas meja wastafel marmer.
Srett.
Salvatore menyambar tabung krim cukur dan sebuah pisau cukur manual berkualitas tinggi, lalu mengulurkannya tepat di hadapan Kiyora.
"Lakukan," perintah Salvatore singkat. Tatapan mata elangnya menatap lekat pada wajah Kiyora yang kini nampak sangat tertekan dan bingung.
Menatap pisau cukur berbilah tajam di tangan Salvatore, Kiyora menelan ludahnya kasar. Nyalinya ciut. Perlahan, ia melepaskan sikat gigi yang sempat ia pegang erat dan meletakkannya kembali ke tempat semula. Tangan gemetarnya terangkat untuk meraih pisau cukur tersebut.
Salvatore menyemprotkan krim cukur lembut berbusa putih ke telapak tangannya sendiri, lalu secara perlahan mengoleskan busa tebal itu ke area sekitar bibir dan rahang tegasnya. Pria tegap itu kemudian sedikit menundukkan kepalanya, menyisakan jarak hanya beberapa sentimeter di hadapan Kiyora.
"Cukur dengan bersih," gumam Salvatore pelan.
Kiyora menghela napas panjang untuk menenangkan dadanya yang bergemuruh. Jemari mungilnya yang halus mulai terangkat, memegang pisau cukur itu dengan sangat hati-hati. Dengan penuh kehati-hatian, Kiyora menarik garis cukuran pertama dari pipi atas Salvatore menuju bawah. Busa putih terangkat, menyisakan kulit mulus pria itu.
Jarak mereka yang sangat dekat membuat Kiyora bisa merasakan hembusan napas hangat Salvatore yang menerpa permukaan kulit lehernya. Setiap kali mata mereka bersibobok, Salvatore tak pernah mengalihkan pandangannya sedikit pun dari wajah polos Kiyora. Tatapan Don Mafia yang biasanya memancarkan aura kematian itu kini meredup, berganti menjadi sebuah pancaran kehangatan, kelembutan, dan rasa keintiman yang amat mendalam.
Kiyora mengulum bibirnya, benar-benar fokus menyapu bersih setiap helai bulu di wajah Salvatore. Senyuman tipis tanpa sadar terukir di bibir Salvatore saat melihat betapa seriusnya raut wajah gadis kecilnya ini ketika merawatnya.
"Selesai," bisik Kiyora lega setelah sapuan terakhirnya.
Kiyora menyambar selembar handuk kecil yang sudah dibasahi air hangat. Dengan perlahan dan sangat lembut, jemari Kiyora mengusap sisa-sisa busa krim yang menempel di rahang dan sekitar bibir Salvatore hingga benar-benar bersih sempurna.
Salvatore menegakkan kembali posisinya, membiarkan jemari halus Kiyora meraba kulit rahangnya yang kini terasa amat halus dan bersih.
"Bagaimana? Apa aku tampak tampan?" tanya Salvatore pelan, menatap lurus ke dalam manik mata Kiyora.
Kiyora terpaku. Ia memandangi wajah Salvatore yang kini benar-benar bersih tanpa kumis maupun jenggot tipis. Tanpa adanya bulu halus di rahang tegasnya, wajah Salvatore terlihat jauh lebih segar, sangat tampan, dan kelihatan beberapa tahun lebih muda dari usianya. Aura mengerikan sang Don Mafia seolah terkikis, menyisakan pesona pria dewasa kelas atas yang mampu membuat jantung wanita mana pun berdesir hebat.
Kedua pasang mata itu saling mengunci dalam keheningan yang magis selama beberapa detik ... sampai tiba-tiba sebuah gedoran keras dan teriakan melengking dari luar kamar mandi mengagetkan mereka!
DUB BRAK! DUB BRAK!
"ONTYYYY! ONTYYY! ANGKEEEEL, JANGAN CEMBUNYIKAN ONTY MILOOO! BIALKAN DIA MAKAN CALAPAAAN, JANGAN CIKCA ANAK OLAAAANG!"
Jeritan histeris Milo menggelegar menembus pintu, seketika merusak momen manis dan intim yang baru saja terbangun di antara keduanya.
Kiyora tersentak kaget dan refleks menarik tangannya dari wajah Salvatore dengan raut memerah canggung, sementara Salvatore hanya bisa menghembuskan napas kasar seraya memijat pelipisnya, merutuki gangguan dari keponakan kecilnya yang selalu merusak suasana.
kiyora 😭