NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN 2 RAHASIA : Antara Ceo Dan Bos Mafia

PERNIKAHAN 2 RAHASIA : Antara Ceo Dan Bos Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:941
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Kinan dan Darwin bertemu pada malam hujan yang penuh bahaya. Untuk menghilang dari masa lalu mereka, keduanya pindah ke sebuah desa dan berpura-pura menjadi suami istri.

Di balik kehidupan sederhana sebagai guru TK dan petugas kebersihan puskesmas, mereka menemukan berbagai kejanggalan yang merugikan warga. Saat berusaha mengungkap kebenaran, perasaan yang awalnya hanya sandiwara mulai berubah menjadi nyata.

Namun tidak ada yang tahu bahwa Kinan adalah bos mafia yang ditakuti, dan Darwin adalah CEO yang sengaja menghilang dari dunia bisnis.

Ketika rahasia mereka terbongkar, mana yang lebih sulit dipertahankan: penyamaran, atau perasaan yang terlanjur tumbuh?

Pernikahan 2 Rahasia: Antara CEO dan Bos Mafia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Masuk Akal

Pak Darto meletakkan sapu di sudut ruangan.

"Darwin."

"Iya, Pak."

"Hari ini bantu bersihkan gudang belakang." Darwin mengangguk.

Gudang itu berada di sisi belakang puskesmas. Pintunya berdebu. Saat dibuka, bau obat bercampur udara lembap langsung menyeruak. Rak-rak besi dipenuhi kardus. Sebagian sudah penyok. Sebagian lagi dibiarkan terbuka.

Darwin mulai bekerja. Ia memisahkan kardus yang masih layak dan yang sudah rusak. Tak lama kemudian, tangannya berhenti. Ia mengambil beberapa kotak obat. Tanggal kedaluwarsanya... Sudah lewat hampir delapan bulan.

Darwin mengerutkan dahi. Obat-obat itu seharusnya sudah dimusnahkan. Mengapa masih disimpan?

Ia meletakkannya di sisi lain. Lalu kembali menyapu. Di bawah tumpukan kardus, ia menemukan beberapa lembar dokumen. Sebagian sudah kusut. Sebagian terkena noda air.

Darwin mengambil salah satunya. Daftar Pengadaan Obat. Ia membaca sekilas. Jumlah obat yang diterima... Jauh lebih banyak daripada yang tersimpan di gudang.

Darwin kembali melihat rak-rak di depannya.

Kosong. Beberapa rak bahkan nyaris tak berisi apa pun. Ia mengambil lembar berikutnya. Laporan Pemakaian Obat. Angkanya juga tidak cocok.

Darwin tidak langsung menyimpulkan apa-apa.

Ia hanya melipat kembali kertas itu. Tatapannya kemudian beralih ke lemari besi kecil di sudut gudang. Lemari itu terkunci. Namun bagian bawahnya dipenuhi debu.

Aneh.

Kalau memang sering digunakan... Seharusnya tidak setebal itu.

"Sedang apa?" Suara seseorang membuat Darwin menoleh. Seorang pegawai administrasi berdiri di ambang pintu.

Darwin mengangkat sapunya. "Bersih-bersih."

Pegawai itu melirik dokumen yang masih berada di tangan Darwin. "Itu bukan urusan petugas kebersihan."

Darwin mengangguk. "Tadi terselip di bawah kardus."

Pegawai itu segera mengambil berkas tersebut.

"Kalau menemukan kertas seperti ini lagi, serahkan saja ke kami." Tanpa menunggu jawaban, pegawai itu pergi.

Darwin memandang punggungnya hingga menghilang. Kemudian... Tatapannya kembali jatuh ke rak obat yang hampir kosong.

Di luar gudang, antrean pasien justru semakin panjang. Seorang ibu keluar dari ruang pemeriksaan sambil berkata kepada suaminya, "Katanya obatnya habis, disuruh beli sendiri di apotek."

Darwin terdiam. Ada sesuatu yang tidak beres di puskesmas itu. Dan firasatnya mengatakan... Ini baru permulaan.

Darwin menutup kembali kardus yang baru saja diperiksanya. Ia mengambil kain lap, lalu mengusap rak besi satu per satu. Debu beterbangan.

Saat menggeser sebuah lemari ke sudut ruangan, terdengar suara benda keras bergesekan.

Krek...

Darwin berhenti. Ia menunduk. Di balik lemari itu terdapat sebuah pintu kayu kecil setinggi pinggang orang dewasa. Warnanya hampir sama dengan dinding sehingga sekilas tak terlihat.

Engselnya masih baru. Darwin menyentuh gagangnya. Terkunci.

"Darwin." Suara Pak Darto terdengar dari luar.

Darwin segera menarik tangannya. "Iya, Pak."

Pak Darto masuk sambil membawa dua gelas teh hangat. "Istirahat dulu."

Darwin menerima gelas itu. "Pak."

"Hm?"

"Gudang ini sering dipakai?"

Pak Darto mengangguk pelan. "Dulu sering. Sekarang jarang."

Darwin melirik pintu kecil tadi. "Itu ruangan apa?"

Pak Darto ikut menoleh. Wajahnya berubah sesaat. "Itu... Gudang lama. Sudah lama dikunci."

"Kenapa dikunci?"

Pak Darto menggeleng. "Saya juga tidak tahu. Sejak kepala puskesmas yang sekarang menjabat, ruangan itu tidak pernah dibuka lagi."

Pak Darto kemudian menepuk bahu Darwin.

"Sudahlah. Tugas kita hanya membersihkan."

Darwin mengangguk. Namun matanya belum lepas dari pintu kecil itu.

Di saat yang sama... Dari luar gudang terdengar suara seorang ibu memohon.

"Pak, anak saya demam tinggi. Tolong beri obatnya."

Suara petugas terdengar datar. "Stoknya habis."

"Tapi kemarin juga habis. Saya harus beli di mana?"

"Di apotek."

Langkah ibu itu perlahan menjauh.

Darwin mengepalkan gelas teh di tangannya.

Gudang dipenuhi kardus obat. Laporan pengadaan menunjukkan jumlah yang besar.

Namun pasien justru diminta membeli obat sendiri. Sesuatu tidak cocok.

Dan Darwin tidak pernah bisa mengabaikan sesuatu yang tidak masuk akal. Ia kembali melirik pintu kecil itu. Entah mengapa... Perasaannya mengatakan, jawaban dari semua kejanggalan itu berada di balik pintu yang terkunci tersebut.

Darwin kembali meraih kain lap. Rak demi rak dibersihkannya tanpa banyak bicara. Debu yang menempel bertahun-tahun perlahan menghilang.

Pak Darto sudah lebih dulu keluar untuk membantu membersihkan halaman.

Ia mengamatinya beberapa detik pintu itu, lalu mengembalikan lemari ke posisi semula.

"Darwin." Suara Pak Darto terdengar dari luar.

"Iya, Pak."

"Bantu angkat kardus yang di teras."

"Saya ke sana."

Darwin meninggalkan gudang seolah tidak menemukan apa pun.

...****************...

Menjelang siang, pekerjaan hampir selesai. Pak Darto menyeka keringat di dahinya. "Kau istirahat saja dulu. Aku mau menyapu halaman depan."

Darwin mengangguk. Namun langkahnya justru kembali menuju gudang. Ia menutup pintu perlahan. Pandangannya kembali jatuh ke arah lemari tadi.

Tanpa suara, ia menggesernya sekali lagi.

Grek...

Pintu kecil itu kembali terlihat. Darwin memperhatikan lubang kuncinya. Kunci model lama. Ia meraih sepotong kawat tipis yang tergeletak di atas rak.

Beberapa detik kemudian...

Klik.

Kuncinya terbuka. Darwin mendorong pintu itu perlahan. Engselnya berderit pelan. Ruangan di baliknya tidak besar. Hanya sekitar tiga kali tiga meter.

Lampunya mati. Darwin membuka sedikit jendela kecil di samping. Cahaya matahari masuk melalui celah.

Sorot matanya langsung tertuju pada rak-rak yang memenuhi ruangan. Kotak obat. Vitamin.

Susu ibu hamil. Susu balita. Alat tes gula darah.

Perban. Cairan infus. Semuanya masih tersegel rapi.

Darwin mengambil satu kotak antibiotik. Tanggal kedaluwarsanya masih dua tahun lagi. Ia mengerutkan dahi. Pagi tadi... Seorang ibu diminta membeli obat di apotek karena stok puskesmas disebut habis. Padahal... Puluhan kotak obat yang sama tersusun rapi di hadapannya.

Darwin meletakkan kembali kotak itu. Tatapannya menyapu ruangan. Di sudut belakang berdiri sebuah lemari arsip berwarna abu-abu.

Lemarinya tidak dikunci. Saat pintunya dibuka, berkas-berkas map tersusun berdasarkan nama dusun. Darwin menarik salah satunya. Di dalamnya terdapat daftar nama warga. Nama.

Alamat. Luas tanah. Status kepemilikan. Beberapa nama diberi tanda merah.

Di sampingnya terdapat catatan singkat. Bersedia. Proses negosiasi. Menolak. Jari Darwin berhenti pada satu nama.

Linda.

Di bawahnya tertulis rapi. Pemilik sawah 1,8 hektare. Status: Menolak menjual. Pendekatan melalui suami.

Tatapan Darwin berubah. Ia membuka lembar berikutnya. Masih ada puluhan nama lain. Sebagian besar adalah warga yang tinggal di sekitar desa.

Di halaman paling belakang terselip secarik kertas tanpa kop. Hanya ada satu kalimat. Target penguasaan lahan minimal 80% sebelum akhir tahun.

Darwin menutup map itu perlahan. Ruangan mendadak terasa jauh lebih sunyi. Semula ia mengira hanya menemukan gudang obat yang disembunyikan.

Ternyata...Ada seseorang yang menggunakan puskesmas bukan untuk melayani warga, melainkan sebagai tempat menyusun rencana menguasai tanah mereka.

Darwin segera mengembalikan semua map ke tempat semula. Lemari arsip ditutup. Pintu kecil dikunci kembali.

Darwin keluar dari balik lemari sambil membawa sapu. Belum sempat melangkah.

"Hei!"

Darwin mengangkat kepala.

Pegawai administrasi yang tadi mengambil berkas berdiri di ambang pintu. Tatapannya turun ke arah lemari yang baru saja bergeser beberapa senti.

"Kamu sedang mencari apa?"

1
Kayla Rane
tambah seruuu lihat aksi Kinan. kak indah mau masuk grup author gak. kalau mau chat japri yuk. tukeran no wa
Kayla Rane
lanjutt Thor tmbah seru
Kayla Rane
tuh kan bener. keukehh waeee... 🤨
Kayla Rane
huuuh dsr Roni rese. mau nyulik Sasa, ntar jd jaminan lagi nyuruh Linda kudu nandatangani surat lahan 😤
Kam1la: terimakasih kak...sudah berkomentar 👍👍
total 1 replies
Kayla Rane
Yee Kinan pahlawan wanita. gak nyangka ih Thor Kinan trnyata ahli bela diri /Joyful//Bye-Bye/
Kam1la: kan bos dia...😄
total 1 replies
Kayla Rane
Kinan ayo bantu Sasa! kasian ibunya
Kayla Rane
kesel si Roni, maksa pisan heuuh
Kayla Rane
bagus Linda lawan aja suamimu yg TDK tanggungjawab tapi sok tanggung jawab 😤
Kayla Rane
kasar ih s Roni, GK tau diri ga tau malu🤨
Kayla Rane
🥺 ya kasian linda
Kayla Rane
Andika siapa tiba2 Dateng, jahat apa baik ga ya orangnya /Scream/
Kayla Rane
yee keren banget kinan🤭💪
Kayla Rane
lanjut seru 🤭
Kayla Rane
haha lucuu/Joyful/ darwin
Kayla Rane
keren lanjutkan k😇
Kam1la: siap..
total 1 replies
SANG
Lanjut ya dek💪👍
Kayla Rane
lanjutkan k😍
Kayla Rane
😍🤭 Darwin kapan jatuh cinta sama Kinan nya?
Kayla Rane
yeey udah nikah juga 😍
SANG
Keren 💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!