Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mirael di Bawah Takhta
Nama itu menyala pada dinding tangga.
MIRAEL ARVAND.
Jeritan perempuan terdengar lagi dari kedalaman.
Aelora bergerak begitu cepat hingga hampir terlepas dari pelukan Kael.
“Ibu!”
Kael menahan tubuhnya dengan satu lengan.
“Jangan turun sendiri.”
“Itu suara Ibu.”
“Kita belum tahu.”
“Aku tahu.”
Aelora tidak dapat menjelaskan bagaimana ia mengenal suara tersebut. Ingatannya tentang Mirael hanya berupa serpihan—aroma bunga malam, tangan hangat di rambutnya, dan lagu tanpa akhir. Namun rasa sakit di dalam jeritan itu menyentuh sesuatu yang lebih tua daripada ingatan.
Gelang perak pada pergelangan tangannya bergetar.
Cahaya kecil muncul di permukaannya dan mengarah ke bawah.
Elianor mendekati tepi tangga. Rantai bayangan Kael masih melilit kedua tangannya.
“Jika Mirael berada di bawah istana, berarti seseorang telah menggunakan jaringan perlindungan Nocthara untuk menyembunyikannya.”
Orin menatap dinding tempat nama itu terukir.
“Tidak ada ruang dengan nama tersebut dalam peta kerajaan.”
“Ruang ini lebih tua daripada peta,” kata Milo dari bahu Kael.
Daren mengangkat obor bayangan. Nyala hitamnya kembali tertarik ke dasar tangga.
“Pasukan saya turun lebih dulu.”
“Tidak,” kata Kael.
Daren menoleh.
“Segel di bawah mengenali darah,” lanjut Kael. “Semakin banyak orang turun, semakin banyak kehidupan yang dapat digunakannya sebagai bahan.”
“Yang Mulia tidak bisa masuk tanpa pengawal.”
“Aku membawa satu.”
Kael melirik Milo.
Kucing kecil itu mengangkat kepala. “Aku merasa dihormati dan dihina pada saat yang sama.”
Aelora menunjuk dirinya sendiri. “Aku juga ikut.”
“Kau alasan kita turun.”
“Itu tidak terdengar seperti pujian.”
“Memang bukan.”
Kael memandang Eirna.
“Jaga jalur di atas. Jika pintu menutup, jangan mencoba memecahkannya dengan Aether.”
“Kenapa?”
“Karena ruang ini menelan cahaya.”
Eirna melihat noda darah pada pembalut sayap Aelora.
“Putri tidak boleh memakai sihir lagi.”
“Aku mendengar,” kata Aelora.
“Saya berbicara kepada Raja.”
“Aku tetap mendengar.”
Kael mulai menuruni anak tangga.
Orin mengikuti dengan peta dan kristal penanda. Elianor berjalan di belakangnya bersama utusan dua sayap. Daren tetap ikut meskipun Eirna memprotes jahitan di dadanya.
Tangga batu menutup perlahan di belakang mereka.
Suara Eirna terdengar sebelum celah terakhir hilang.
“Kalau ada yang kembali dengan sayap tambahan, saya berhenti menjadi tabib!”
Milo menoleh ke punggung Aelora.
“Ancaman itu secara khusus ditujukan kepadamu.”
“Aku tidak meminta sayap pertama.”
“Sayap kedua juga tampaknya tidak meminta izin.”
Garis hitam di punggung kiri Aelora berdenyut.
Ia memutuskan tidak menjawab.
Tangga turun jauh lebih dalam daripada seharusnya.
Setelah seratus anak tangga, mereka masih belum mencapai dasar. Setelah dua ratus, udara berubah lebih dingin. Batu-batu di dinding mulai memantulkan bayangan orang-orang yang tidak ada.
Aelora melihat seorang anak lelaki bertanduk berjalan di samping Kael.
Wajahnya menyerupai Kael, tetapi jauh lebih muda.
Anak itu memegang tangan seorang perempuan bermahkota.
“Ibumu,” bisik Aelora.
Kael tidak menoleh pada bayangan tersebut.
“Jangan melihat terlalu lama.”
“Dia terlihat sedih.”
“Semua ingatan terlihat sedih jika disimpan cukup lama.”
Bayangan perempuan itu berhenti.
Wajahnya berbalik kepada Aelora.
Bibirnya bergerak.
Cepat.
Dinding bergetar.
Dari atas sana, terdengar dentang lonceng astronomi.
Satu dentang panjang.
Orin melihat jam pasir kecil yang tergantung di pinggangnya.
“Tiga puluh tujuh menit sebelum ketiga bulan sejajar.”
“Kita sudah berjalan lebih dari tiga puluh tujuh menit,” keluh Aelora.
“Ruang ini membengkokkan jarak,” kata Elianor.
“Bisakah ruang membengkokkan tangga menjadi lebih pendek?”
“Tidak.”
“Ruang ini tidak membantu.”
Kael hampir menjawab, tetapi langkahnya berhenti.
Tangga di depan mereka terputus.
Di bawahnya hanya ada kegelapan tanpa dasar.
Orin mengangkat kristal penanda. Cahaya ungu menyentuh tepi jurang, lalu padam.
“Jalurnya hilang.”
Aelora melihat bayangannya sendiri.
Bentuk kecil itu tidak berhenti di tepi anak tangga. Ia terus memanjang di atas kehampaan, membentuk jembatan hitam.
Kael langsung mempererat pelukannya.
“Jangan gunakan sihir.”
“Aku tidak melakukannya.”
Bayangan Aelora menebal.
Di permukaannya muncul jejak kaki seorang perempuan.
Mirael.
Satu demi satu jejak itu menyeberangi jurang.
“Dia menunjukkan jalan,” kata Aelora.
“Atau seseorang menggunakan wajahnya,” jawab Kael.
Gelang Mirael menjadi hangat.
Suara perempuan terdengar sangat pelan.
“Kael.”
Raja Iblis membeku.
Kali ini bukan hanya Aelora yang mendengarnya.
Orin mengangkat kepala. Elianor juga menahan napas.
“Bawa dia kepadaku,” lanjut suara itu.
Kael menatap jembatan bayangan.
“Kau bisa membuktikan dirimu Mirael?”
Keheningan berlangsung beberapa detik.
Kemudian suara perempuan itu menjawab,
“Kau masih menyimpan surat pertamaku di dalam gagang pedangmu.”
Orin memandang Kael.
Aelora juga menatapnya.
“Kau menyimpan surat Ibu di pedang?”
“Bukan saatnya.”
“Apa isinya?”
“Bukan saatnya.”
Milo mengangkat telinga. “Jawaban itu berarti isinya memalukan.”
Kael melangkah ke atas jembatan.
Bayangan Aelora menahan berat tubuhnya.
Daren dan Orin mengikuti. Elianor terlihat ragu, tetapi utusan dua sayap lebih dulu menyeberang sambil memeluk gulungannya.
Di tengah jurang, suara rantai kembali terdengar.
Aelora melihat ke bawah.
Jauh di kegelapan, ribuan titik emas bergerak seperti mata.
Salah satunya terbuka lebih lebar.
Wajah Lucien muncul di dalamnya.
“Dua puluh sembilan menit,” katanya.
Kael menghentakkan kaki.
Bayangan menyapu permukaan jurang dan menghancurkan mata tersebut.
“Jangan bicara kepadanya,” katanya.
“Aku tidak mau.”
“Bahkan kalau dia memakai suara Mirael.”
Aelora memeluk Piko lebih erat.
“Itu lebih sulit.”
“Aku tahu.”
Mereka mencapai sisi lain.
Begitu kaki terakhir meninggalkan jembatan, bayangan Aelora runtuh. Rasa lelah menghantam tubuhnya. Kepalanya jatuh pada bahu Kael.
“Aelora?”
“Aku cuma mengantuk.”
“Matamu terbuka.”
“Aku bisa mengantuk sambil melihat.”
Kael tidak membantah, tetapi langkahnya menjadi lebih cepat.
Dasar tangga berakhir di sebuah aula bundar.
Tidak ada obor.
Tidak ada rune.
Seluruh ruangan diterangi oleh kristal besar yang menggantung di atas takhta batu.
Di dalam kristal itu terdapat seorang perempuan.
Rambutnya hitam panjang, mengambang seolah berada di dalam air. Gaun gelap menutupi tubuhnya. Kedua tangannya terentang, dirantai oleh tiga jenis ikatan.
Rantai putih mengelilingi tangan kanan.
Rantai hitam mengikat tangan kiri.
Rantai merah menembus dadanya.
Aelora tidak dapat bernapas.
Wajah perempuan itu lebih kurus daripada dalam ingatannya. Kulitnya pucat. Namun bentuk matanya, garis hidungnya, dan lengkung bibirnya sama.
“Ibu.”
Mata Mirael terbuka.
Warnanya ungu keemasan.
Cahaya memenuhi kristal.
“Aeloria.”
Aelora mencoba turun dari pelukan Kael.
Kali ini Kael membiarkannya, tetapi tetap memegang tangannya.
Kaki Aelora menyentuh lantai.
Ia berjalan dua langkah.
Rasa sakit dari sayap membuatnya berhenti, tetapi ia memaksa maju lagi.
“Ibu?”
Mirael tersenyum.
Senyum itu lemah, tetapi nyata.
“Kau tumbuh.”
Aelora mengusap hidung dengan punggung tangan.
“Aku baru tujuh tahun.”
“Bagiku itu sangat lama.”
Air mata jatuh sebelum Aelora sempat menahannya.
“Kenapa Ibu di sini?”
Mirael melihat Kael.
“Kau membawanya turun.”
“Ruang ini menyebut namamu sebagai tahanan utama altar,” kata Kael.
“Bukan tahanan.”
Rantai merah di dada Mirael berdenyut. Perempuan itu mengerang, tetapi tetap melanjutkan.
“Jangkar.”
Elianor mendekat beberapa langkah. Mata malaikat itu memeriksa simbol-simbol pada dasar kristal.
“Rantai putih mengambil Aether Seraphiel.”
Orin melihat rantai hitam. “Yang ini terhubung dengan takhta Vesperion.”
“Rantai merah?” tanya Daren.
Mirael memandang Aelora.
“Pilihan manusia.”
Aelora tidak mengerti.
Mirael mengangkat tangan sebisanya. Rantai putih menariknya kembali.
“Malaikat memberi gerbang kekuatan. Iblis memberi gerbang bentuk. Namun hanya manusia yang dapat memberinya alasan untuk terbuka.”
“Keinginan,” kata Elianor.
Mirael mengangguk.
“Varion membutuhkan seseorang yang bersedia melakukan apa pun demi keluarganya.”
Aelora merasakan tenggorokannya mengencang.
“Seperti aku.”
“Seperti kita.”
Kristal menunjukkan gambar singkat.
Mirael yang lebih muda berdiri di depan altar. Bayi Aelora berada dalam pelukannya. Seraphiel terluka di satu sisi. Kael berdiri di sisi lain sambil menahan pasukan cahaya.
Mirael mengucapkan sebuah mantra.
Kemudian seluruh gambar dipenuhi cahaya.
“Apa yang Ibu lakukan?” tanya Aelora.
“Aku menyembunyikanmu dari langit.”
“Dengan masuk ke sini?”
“Aku mengikat namaku pada takhta pertama. Selama aku berada di antara hidup dan mati, Elyrion tidak dapat membaca garis keturunanmu dengan utuh.”
Kael menatap rantai merah.
“Kenapa kau tidak memberitahuku?”
“Aku mencoba.”
“Selama tujuh tahun?”
“Waktu tidak bergerak sama di dalam kristal.”
Mirael melihat sekeliling, seolah baru menyadari betapa lama semuanya berlangsung.
“Bagiku baru lewat tiga malam.”
Kael menutup mata sebentar.
Aelora membayangkan tujuh tahun berlalu di luar sementara ibunya hanya menunggu tiga malam.
Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.
“Kalau kita menghancurkan kristalnya, Ibu bisa keluar?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena jantungku menjadi pusat jangkar.”
Aelora menatap rantai merah yang menembus dada Mirael.
“Kalau diputus?”
“Jangkar terbuka.”
“Kalau tidak diputus?”
“Varion menggunakannya saat bulan ketiga sejajar.”
Tidak ada jawaban yang benar.
Aelora membenci pilihan seperti itu.
Orin berjalan menuju takhta batu di bawah kristal. Permukaannya terbelah menjadi dua warna: hitam pekat dan putih keemasan.
Bentuknya sama dengan mahkota yang terbelah setelah Aelora diterima sebagai anak Vesperion.
“Takhta pertama,” katanya.
Milo turun dari bahu Kael.
“Jangkar Nocthara.”
Aelora memandangnya.
“Kita harus mengarahkannya ke Koridor Tanpa Nama.”
Mirael langsung menegang.
“Tidak.”
Semua orang menoleh.
“Koridor itu tidak terhubung kepada dunia mana pun,” kata Aelora. “Gerbang akan kehilangan tujuan.”
“Koridor Tanpa Nama bukan ruang kosong.”
“Aku pernah berada di sana.”
“Karena dia membiarkanmu keluar.”
“Siapa?”
Mirael memandang mural hitam pada dinding.
“Varion.”
Nama itu membuat kristal bergetar.
“Koridor Tanpa Nama adalah tempat Varion dikurung setelah Perang Pertama. Ia tidak memiliki tubuh di sana, hanya kehendak.”
Elianor memucat. “Kalau jangkar diarahkan ke koridor—”
“Kita akan membuka penjaranya,” kata Kael.
Aelora merasakan seluruh rencana runtuh.
“Lalu kita arahkan ke mana?”
Mirael menatapnya melalui kristal.
“Ada satu tujuan yang tidak dapat digunakan Varion.”
“Tempat apa?”
“Waktu yang sudah mati.”
Milo merendahkan tubuh.
“Tidak.”
Aelora menoleh kepadanya.
Kucing itu mundur dari takhta.
“Jangan dengarkan.”
Mirael menatap Milo untuk pertama kalinya.
Wajahnya berubah.
“Kau berhasil kembali.”
Milo tidak menjawab.
“Milo?” panggil Aelora.
Mirael menyentuhkan telapak tangan pada kristal.
“Dia membawa koordinatnya.”
“Koordinat apa?”
“Timeline yang telah dihancurkan.”
Aelora merasakan hawa dingin menyusuri punggungnya.
Milo menatap Mirael dengan mata ungu yang mulai berubah merah.
“Kalau jangkar dikirim ke sana, seluruh altar akan mengikuti.”
“Dan gerbang gagal terbuka,” kata Mirael.
“Dengan harga apa?” tanya Kael.
Milo diam.
Kael melangkah mendekati kucing kecil itu.
“Dengan harga apa?”
Milo melihat Aelora.
“Timeline mati tidak memiliki pintu keluar.”
Aelora mulai memahami.
“Jadi seseorang harus membawa jangkar ke sana.”
“Ya.”
“Siapa?”
Tidak ada yang menjawab.
Dentang lonceng terdengar dari atas.
Bulan-bulan hampir sejajar.
Takhta pertama menyala.
Rantai merah di dada Mirael menegang. Ia menjerit. Cahaya putih mengalir dari kristal menuju lantai.
Aelora berlari mendekat.
“Ibu!”
Kael menangkap pinggangnya sebelum ia menyentuh takhta.
Di atas mereka, langit-langit aula berubah transparan.
Tiga bulan Nocthara terlihat berada pada garis yang hampir lurus.
Dua puluh menit telah habis.
Mungkin waktu di bawah takhta bergerak lebih cepat.
Wajah Lucien muncul di dalam cahaya.
“Sudah waktunya memilih.”
Pedang di leher Seraphiel menekan lebih dalam.
Darah emas menetes ke altar.
Rantai Mirael menyala.
Takhta pertama terbuka seperti mata.
Dari dalamnya keluar jalan gelap menuju sebuah dunia yang sudah menjadi abu.
Aelora mengenal tempat itu.
Istana Bulan Merah yang runtuh.
Langit tanpa bulan.
Timeline tempat Kael telah mati.
Milo berdiri di depan jalan tersebut.
Lambang mahkota pada dahinya bersinar.
“Aku membawa koordinatnya karena aku berasal dari sana.”
Aelora mengguncang kepala.
“Tidak.”
“Aku adalah pecahan terakhir yang masih hidup dari waktu itu.”
“Tidak.”
“Kalau aku masuk membawa jangkar, altar akan mengikuti dan timeline itu akan tertutup selamanya.”
“Kau tidak bisa kembali.”
“Aku memang tidak seharusnya berada di sini.”
Aelora melepaskan diri dari Kael dan mengangkat Milo.
Kucing kecil itu terasa terlalu ringan.
“Kau tidak boleh memutuskan sendiri.”
“Aku belajar dari keluargamu.”
“Itu bukan lucu.”
“Aku tidak sedang bercanda.”
Mata Milo berubah merah sepenuhnya.
Suara Kael masa depan keluar dari mulutnya.
“Aelora.”
Kael yang sekarang membeku.
Milo menatap wajah anak itu.
“Pada kehidupan yang lama, aku terlambat menyelamatkanmu.”
Jalan menuju timeline mati melebar.
Angin penuh abu menarik mantel mereka.
“Kali ini,” lanjut Milo, “biarkan aku tiba tepat waktu.”
Lambang mahkota pada dahinya terlepas menjadi cahaya.
Dan sebelum Aelora mampu memeluknya lebih erat, tubuh Milo mulai berubah menjadi ribuan pecahan bayangan.