Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.
Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!
"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.
Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.
Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!
Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Lampu gantung kristal setinggi tiga meter di langit-langit grand ballroom Hotel Grand Luminary memantulkan pendaran cahaya keemasan yang megah, menyulap ruangan itu menjadi istana satu malam yang begitu memukau.
Ribuan tangkai mawar putih segar yang diimpor langsung dari Belanda ditata sedemikian rupa, menyebarkan aroma harum yang menenangkan ke setiap sudut ruangan.
Di atas panggung utama, sebuah pelaminan megah dengan dekorasi bernuansa putih-emas sudah berdiri kokoh, siap menyambut sepasang pengantin dari salah satu dinasti bisnis paling berpengaruh di negeri ini - Keluarga Besar Oliver.
Ratusan tamu undangan dari kalangan pejabat, pengusaha papan atas, hingga figur publik berkelas mulai memenuhi area registrasi.
Denting romantis dari permainan grand piano di sudut ruangan mengalun lembut, membaur bersama gumam obrolan elegan dan tawa renyah para tamu yang datang dengan gaun-gaun malam terbaik serta setelan jas mewah.
Malam ini harusnya menjadi malam yang paling sempurna bagi keluarga Oliver. Malam di mana putra sulung kebanggaan mereka, Devon Oliver, akan bersanding dengan seorang wanita pilihan keluarga.
Namun, di tengah kemegahan yang membuai itu, Liam Oliver berdiri agak menjauh dari keramaian dekat pilar marmer besar.
Berbeda dengan para tamu yang tampil formal maksimal, pemuda berusia dua puluh dua tahun itu hanya mengenakan kemeja putih kasual yang dilapisi jas santai berwarna abu-abu muda, tanpa dasi, dengan dua kancing teratas yang sengaja dibuka.
Celana jins hitam pekat dan sepatu sneakers kulitnya mempertegas statusnya sebagai seorang mahasiswa yang enggan terikat oleh protokoler kaku dunia bisnis keluarganya.
Liam menyesap segelas jus jeruk di tangannya, matanya menatap malas ke arah pelaminan. Baginya, acara-acara seperti ini tak lebih dari panggung sandiwara korporat.
"Dua puluh menit lagi acara dimulai, dan si anak emas belum juga memunculkan batang hidungnya," gumam Liam sinis pada diri sendiri.
Ia melirik jam tangan digital di pergelangan tangannya. Devon, sang kakak yang selalu dipuja sebagai penerus takhta Oliver Group yang karismatik dan tanpa cela, seharusnya sudah berdiri di ruang tunggu utama sejak satu jam yang lalu.
Tepat saat Liam hendak berbalik untuk mencari udara segar di balkon luar, sebuah cengkeraman kuat yang gemetar mendarat di bahunya.
Liam menoleh cepat dan terkejut mendapati sang ayah, Papa Bramantyo, berdiri di belakangnya. Wajah pria paruh baya yang biasanya selalu tampak tegas, berwibawa, dan tak tergoyahkan itu kini pucat pasi.
Butiran keringat dingin sebesar biji jagung membasahi pelipisnya, dan napasnya terdengar pendek-pendek, memburu seperti orang yang baru saja berlari maraton.
"Pa? Ada apa? Wajah Papa pucat sekali," tanya Liam, raut sinisnya instan menguap, digantikan oleh kerutan cemas di dahi.
Papa Bramantyo tidak menjawab. Sepasang matanya yang mulai meredup menatap Liam dengan tatapan panik yang belum pernah Liam lihat seumur hidupnya.
Tanpa sepatah kata pun, Papa Bramantyo menarik lengan Liam dengan sisa tenaga yang dimilikinya, menyeret putranya itu menjauh dari area ballroom, melewati lorong VIP yang sepi, menuju ke arah sebuah ruangan privat yang dijaga ketat di ujung koridor.
"Pa, pelan-pelan. Jantung Papa..."
"Diam dan ikut Papa, Liam!" bisik Papa Bramantyo dengan suara yang serak dan bergetar hebat.
Begitu mereka tiba di depan pintu kayu jati tebal ruangan privat tersebut, dua orang pria berbadan tegap dengan pakaian sipil namun memiliki lencana kepolisian yang tergantung di saku dada mereka tampak berjaga. Jantung Liam mendadak berdesir aneh. Perasaan buruk langsung menyergap benaknya.
Cklek....
Papa Bramantyo membuka pintu dan mendorong Liam masuk sebelum mengunci kembali pintu itu dari dalam.
Pemandangan di dalam ruangan itu seketika membuat Liam terpaku di tempat. Di tengah ruangan yang elegan itu, Devon Oliver, sang pengantin pria yang seharusnya mengenakan jas pengantin dengan senyum menawan, kini berdiri dengan kepala tertunduk dalam.
Kedua tangannya yang berbalut kemeja satin putih mewah kini terikat oleh sepasang borgol besi yang dingin. Di kanan dan kirinya, dua orang penyidik kepolisian berpakaian dinas lengkap berdiri tegap dengan wajah tanpa kompromi.
Di atas meja kaca, berserakan belasan berkas dokumen dengan stempel merah bertuliskan 'SITA'.
"Devon? Apa-apaan ini?!" Liam melangkah maju dengan mata membelalak tak percaya. "Pa, kenapa Kak Devon diborgol? Ini pasti bercanda, kan? Acara di luar sudah mau mulai!"
Salah satu petugas kepolisian yang memegang map surat perintah melangkah maju, memotong ucapan Liam dengan nada suara yang sangat formal dan dingin. "Maaf, Saudara Liam Oliver. Kami dari Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus telah memiliki bukti permulaan yang cukup kuat. Saudara Devon Oliver resmi kami amankan malam ini atas dugaan kasus penggelapan dana publik dan pencucian uang skala besar melalui beberapa perusahaan cangkang milik Oliver Group."
"Penggelapan dana? Kak Devon?" Liam menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia menatap kakaknya, berharap pria itu berteriak marah dan membantah tuduhan konyol ini. "Kak! Katakan pada mereka kalau mereka salah tangkap! Kamu tidak mungkin melakukan hal serendah itu! Cerita ini tidak masuk akal!"
Namun, Devon tetap bungkam. Bahunya gemetar, dan ia bahkan tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap mata adiknya sendiri. Bungkamnya Devon menjadi jawaban paling menyakitkan yang menegaskan bahwa semua tuduhan itu bukanlah kekeliruan.
"Kami harus membawa tersangka ke markas besar sekarang juga untuk pemeriksaan lebih lanjut. Mohon kerja samanya," ujar petugas itu lagi, lalu memberi isyarat kepada rekannya untuk mulai menggiring Devon keluar melalui pintu akses rahasia di belakang ruangan.
"Tunggu! Selesaikan ini setelah resepsi! Tolong, demi nama baik keluarga kami, beri kami waktu dua jam saja!" Papa Bramantyo memohon dengan suara yang nyaris habis, harga dirinya sebagai konglomerat besar runtuh begitu saja di hadapan hukum.
"Maaf, Pak Bramantyo. Surat perintah ini harus segera dieksekusi demi mencegah penghilangan barang bukti elektronik lainnya. Permisi."
Dengan langkah cepat dan dingin, para petugas itu membawa Devon pergi. Pintu akses rahasia itu tertutup rapat, menyisakan keheningan yang mencekam dan mengerikan di dalam ruangan.
Kakak laki-lakinya, sosok yang beberapa menit lagi seharusnya berjanji suci di hadapan ratusan pasang mata, baru saja diseret ke penjara bak seorang kriminal kelas teri.
"Sialan!" Liam memukul meja kaca dengan kepalan tangannya hingga menimbulkan bunyi berdentang yang keras. Amarahnya meluap-luap. Bagaimana bisa sebuah badai sebesar ini datang tepat di detik-detik menjelang acara paling sakral?
Namun, kemarahan Liam mendadak lumpuh saat mendengar suara erangan tertahan dari arah belakang.
Uhuk! Uh...
Liam berbalik dan mendapati Papa Bramantyo sudah terduduk di sofa dengan satu tangan mencengkeram dada kirinya erat-erat.
Wajah pria paruh baya itu kini berubah menjadi kebiruan, bibirnya bergetar, dan napasnya terdengar seperti orang yang tercekik. Matanya mendelik ke atas, menahan rasa sakit yang luar biasa yang menghantam jantungnya.
"Papa!" Liam menjatuhkan dirinya di depan sang ayah, menyangga tubuh Papa Bramantyo yang mulai lunglai. "Pa! Buka mata Papa! Di mana obat Papa?!"
Dengan tangan yang gemetar hebat, Papa Bramantyo mencengkeram kerah kemeja Liam. Suaranya terdengar putus-putus, terengah-engah di antara rasa sakit yang mematikan. "Li-Liam... di... di luar... ada menteri... ada kolega... nama... nama baik keluarga kita..."
"Jangan pikirkan acara di luar dulu, Pa! Kita ke rumah sakit sekarang!" Liam berteriak panik, bersiap merengkuh tubuh ayahnya untuk digendong.
"Tidak!" Papa Bramantyo menggeleng dengan sisa kekuatannya, air mata frustrasi mengalir di sudut matanya yang menua. "Jika... jika pernikahan ini batal... jika berita Devon ditangkap menyebar malam ini... Oliver Group akan hancur besok pagi... saham kita akan anjlok... ribuan karyawan kita... Papa... Papa lebih baik mati malam ini daripada melihat kehancuran itu, Liam!"
Cengkeraman tangan Papa Bramantyo di kerah baju Liam semakin mengencang, menarik wajah putranya itu agar mendekat. Tatapan mata sang ayah kini beralih, bukan lagi sekadar kepanikan, melainkan sebuah permohonan yang teramat berat, sebuah beban hidup dan mati yang diletakkan langsung ke atas pundak Liam.
"Hanya... hanya kamu, Liam. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan kita..." bisik Papa Bramantyo dengan napas yang kian menipis, sebelum matanya perlahan terpejam dan tubuhnya mendadak lemas tak berdaya dalam dekapan Liam.
"Pa? Papa!! Buka mata Papa!" Teriak Liam mengguncang tubuh ayahnya, sementara di luar ruangan, sayup-sayup terdengar suara pembawa acara melalui pengeras suara yang menggema ke seluruh hotel, mengumumkan bahwa prosesi akad nikah akan segera dimulai dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Liam terpaku. Di dekapannya ada tubuh ayahnya yang sekarat menahan serangan jantung, di luar ruangan ada ribuan pasang mata yang menanti pengantin pria, dan di kepalanya, dunia yang ia kenal sebagai mahasiswa biasa baru saja hancur berkeping-keping.
Badai utama telah tiba, dan Liam tidak punya pilihan selain masuk ke dalamnya.
...----------------...
To Be Continue ....
**Haaay para pembaca tersayang! Terima kasih sudah mampir ke pelukan kisah Istri Pengganti yang Terluka**.
**Di bab pertama ini, kita akan langsung diajak menyelami badai utama yang mengubah takdir dua insan. Cerita ini ditulis dengan penuh cinta dan emosi, semoga bisa menyentuh hati kalian semua, ya**.
**Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan lewat like, vote, dan komentar di setiap episodenya agar Author makin semangat mengetik kelanjutan kisah mereka! Selamat membaca semuanya**....
**See You**...
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼♀️😅
padahal bagus Liam
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤
emangnya seperti apa?