Darah Pewaris Dewa
Atlas dan Oliver menjalani hidup sebagai manusia biasa, hingga kematian ibu mereka membangkitkan kekuatan kuno yang tersembunyi dalam darah mereka.
Mereka ternyata adalah pewaris terakhir dari pendekar legendaris yang pernah melindungi Alam Dewa dari kegelapan.
Namun saat rahasia masa lalu mulai terbuka, mereka menemukan bahwa para dewa menyimpan pengkhianatan besar yang mengubah sejarah.
Dengan ancaman yang semakin dekat, Atlas dan Oliver harus mencari kebenaran tentang warisan mereka...
sebelum kekuatan dalam darah mereka menjadi penyebab kehancuran dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UJIAN SANG SUMBER
Cahaya keemasan menelan seluruh ruang.
Atlas, Oliver, Aeron, Kael, Elyon, dan Seraphion berjalan melewati gerbang menuju inti Sumber Darah Pertama.
Namun tempat yang mereka masuki bukanlah ruangan.
Bukan dunia.
Bukan dimensi.
Tempat itu adalah sebuah cermin dari keberadaan mereka sendiri.
Tidak ada langit.
Tidak ada tanah.
Hanya ruang luas yang dipenuhi cahaya dan bayangan.
TEMPAT YANG MELIHAT JIWA
Penjaga Sumber berdiri di hadapan mereka.
"Di tempat ini, kekuatan tidak memiliki arti."
"Pedang tidak akan membantu."
"Energi tidak akan melindungi."
"Yang diuji bukan kemampuan kalian."
"Melainkan alasan kalian menginginkan kekuatan."
Mereka semua terdiam.
Karena untuk pertama kalinya...
mereka tidak bisa menyembunyikan apa pun.
UJIAN SERAPHION
Sebuah cahaya muncul di depan Seraphion.
Ia melihat dunia yang sempurna.
Tidak ada perang.
Tidak ada kejahatan.
Tidak ada penderitaan.
Semua makhluk hidup bahagia.
Namun di tengah dunia itu...
Seraphion berdiri sebagai satu-satunya pengendali.
Sebuah suara bertanya:
"Jika kau memiliki kekuatan untuk menciptakan dunia tanpa penderitaan..."
"apakah kau akan mengambil kebebasan mereka?"
Seraphion terdiam.
Selama ribuan tahun...
ia selalu yakin dengan jawabannya.
Namun sekarang...
ia melihat wajah-wajah yang tersenyum.
Mereka bahagia.
Tetapi mereka tidak memilih kebahagiaan itu.
KERAGUAN SERAPHION
"Aku hanya ingin menyelamatkan mereka."
Suara itu menjawab:
"Atau kau hanya ingin menghilangkan rasa sakit karena kau tidak sanggup melihatnya?"
Kalimat itu menghantam Seraphion.
Karena jauh di dalam dirinya...
ada ketakutan yang tidak pernah ia akui.
Ketakutan kehilangan orang yang ia lindungi.
UJIAN ATLAS
Sementara itu...
Atlas berdiri di sebuah medan perang.
Ribuan makhluk memintanya bertindak.
"Kami membutuhkanmu."
"Gunakan kekuatanmu."
"Hentikan semuanya."
Atlas melihat tangannya.
Ia memiliki kemampuan untuk mengakhiri perang dalam satu keputusan.
Namun ia mengingat Aurelian.
Kekuatan bukan untuk menentukan hidup orang lain.
Atlas menutup matanya.
"Aku akan membantu."
"Tapi aku tidak akan mengambil pilihan mereka."
Medan perang perlahan menghilang.
UJIAN OLIVER
Oliver berada di tengah lautan waktu.
Di hadapannya terdapat satu garis waktu sempurna.
Dalam garis itu...
tidak ada seorang pun yang terluka.
Namun Oliver melihat sesuatu.
Tidak ada perubahan.
Tidak ada pertumbuhan.
Tidak ada kesempatan untuk menjadi lebih baik.
Suara ujian berkata:
"Tidakkah lebih mudah memilih satu masa depan sempurna?"
Oliver tersenyum.
"Kesempurnaan yang tidak memberi ruang untuk berubah..."
"...bukan kehidupan."
UJIAN AERON
Aeron kembali ke masa lalunya.
Ia melihat semua kehilangan yang pernah ia alami.
Semua hal yang ingin ia lupakan.
Sebuah suara berkata:
"Hapus semuanya."
"Kau bisa memulai kembali tanpa rasa sakit."
Aeron menatap bayangan masa lalunya.
Dulu ia mungkin akan menerima tawaran itu.
Namun sekarang...
ia mengerti.
"Luka bukan sesuatu yang harus kuhapus."
"Luka adalah bukti bahwa aku pernah bertahan."
UJIAN KAEL
Kael memasuki ruang terakhir.
Ia melihat dirinya sendiri.
Namun versi yang tidak pernah mengalami kesulitan.
Versi yang memiliki kehidupan sempurna.
"Kau bisa menjadi aku."
Kael menatap bayangan itu.
"Tapi aku tidak ingin menjadi seseorang yang tidak pernah belajar."
Bayangan itu tersenyum.
"Jawabanmu berubah."
Kael mengangguk.
"Karena aku juga berubah."
AKHIR BAGIAN 1
Kelima pewaris telah menghadapi ujian pertama.
Namun Sumber Darah Pertama belum selesai menilai mereka.
Penjaga Sumber melihat mereka satu per satu.
"Menarik."
"Kalian tidak mencari kekuatan untuk diri sendiri."
"Tapi masih ada satu ujian terakhir."
Cahaya di tengah ruangan berubah.
Sebuah bayangan besar muncul.
Bayangan Aurelian.
Dan di sampingnya...
muncul sebuah kebenaran yang selama ini disembunyikan.
Asal mula darah Aurelian.
Bayangan Aurelian berdiri di tengah cahaya Sumber Darah Pertama.
Namun kali ini...
bukan sosok legenda yang selama ini mereka kenal.
Mereka melihat Aurelian sebelum menjadi penjaga.
Sebelum memiliki kekuatan.
Sebelum namanya dikenal seluruh Alam Dewa.
Hanya seorang pemuda yang memiliki satu keinginan sederhana.
Melindungi orang-orang yang ia sayangi.
AWAL MULA DARAH AURELIAN
Penjaga Sumber berbicara.
"Sebelum para dewa."
"Sebelum para penjaga."
"Sebelum seluruh dunia terbentuk..."
"Ada satu energi yang menjadi awal kehidupan."
Cahaya di belakang Aurelian berubah.
Muncul sebuah inti cahaya kuno.
"Itulah Sumber Darah Pertama."
Atlas melihat inti tersebut.
"Jadi Aurelian mendapatkan kekuatannya dari sini?"
Penjaga Sumber menggeleng.
"Tidak."
"Kesalahan terbesar makhluk hidup adalah mengira kekuatan membuat seseorang menjadi besar."
PILIHAN AURELIAN
Bayangan masa lalu kembali bergerak.
Aurelian muda berdiri di depan Sumber Darah Pertama.
Saat itu...
ia diberikan pilihan.
Mengambil seluruh kekuatan sumber.
Menjadi makhluk tertinggi.
Mengatur seluruh dunia.
Atau meninggalkan sebagian besar kekuatan itu.
Dan membiarkan dunia memiliki kehendaknya sendiri.
KEPUTUSAN PERTAMA
Seraphion menatap bayangan itu.
Untuk pertama kalinya...
ia melihat alasan kakaknya.
Aurelian berkata:
"Aku bisa menciptakan dunia sempurna."
"Tapi dunia sempurna yang tidak memiliki pilihan..."
"...bukan dunia yang hidup."
Lalu Aurelian menolak kekuatan penuh tersebut.
Ia mengambil hanya sebagian.
Bagian yang cukup untuk melindungi.
Bukan untuk menguasai.
RAHASIA DARAH KELIMA
Elyon terlihat terkejut.
"Lalu kenapa aku diberikan kemampuan menyatukan semua kekuatan?"
Penjaga Sumber menjawab:
"Karena Aurelian tahu suatu hari..."
"...seseorang akan membutuhkan jalan kembali."
"Darah kelima bukan dibuat untuk menjadi yang terkuat."
"Darah kelima dibuat untuk mengingatkan semua pewaris tentang pilihan pertama Aurelian."
Elyon terdiam.
Selama ribuan tahun...
ia mengira dirinya adalah kesalahan.
Namun sekarang...
ia memahami.
Ia adalah pengingat.
SERAPHION MELIHAT KEBENARAN
Seraphion menatap Aurelian muda.
"Jadi selama ini..."
"kau tidak pernah menganggapku musuh."
Bayangan Aurelian menjawab:
"Aku tidak pernah takut padamu karena kekuatanmu."
"Aku takut karena kau terlalu rela kehilangan dirimu sendiri demi tujuanmu."
Seraphion menunduk.
UJIAN TERAKHIR
Penjaga Sumber mengangkat tangannya.
"Semua telah melihat masa lalu."
"Sekarang waktunya melihat masa depan."
Ruang berubah.
Muncul dua kemungkinan.
Kemungkinan pertama:
Dunia tanpa perang.
Tanpa konflik.
Tanpa penderitaan.
Namun semua keputusan berada di tangan satu orang.
Seraphion.
Kemungkinan kedua:
Dunia penuh tantangan.
Ada kesalahan.
Ada kegagalan.
Namun semua makhluk memiliki kebebasan.
Para pewaris.
PILIHAN YANG SAMA
Penjaga Sumber menatap mereka.
"Mana dunia yang benar?"
Tidak ada yang menjawab.
Karena mereka tahu...
jawabannya tidak sesederhana itu.
Seraphion melihat dunia pertama.
Ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.
Namun ia melihat wajah makhluk di dalamnya.
Mereka tersenyum.
Tetapi bukan karena pilihan mereka.
PERUBAHAN SERAPHION
Untuk pertama kalinya...
Seraphion ragu.
"Aku..."
Ia berhenti.
"Aku tidak tahu."
Semua terdiam.
Karena seseorang seperti Seraphion...
akhirnya mengakui bahwa ia tidak memiliki semua jawaban.
SUMBER DARAH MEMILIH
Cahaya inti mulai bersinar.
Penjaga Sumber menatap mereka.
"Jawaban yang dicari sumber bukanlah siapa yang paling kuat."
"Melainkan siapa yang mampu menerima bahwa dirinya bisa salah."
Cahaya perlahan bergerak.
Namun sebelum memilih...
sebuah energi asing memasuki tempat itu.
Energi yang tidak berasal dari mereka.
Energi yang bahkan Sumber Darah Pertama tidak mengenalinya.
Penjaga Sumber menoleh.
"Tidak mungkin..."
Karena ada seseorang yang berhasil masuk ke tempat yang tidak boleh dimasuki siapa pun.
Cahaya Sumber Darah Pertama tiba-tiba bergetar.
Seluruh ruang yang sebelumnya tenang berubah menjadi tidak stabil.
Penjaga Sumber menatap ke arah kegelapan yang muncul di ujung dimensi.
"Mustahil..."
Untuk pertama kalinya sejak keberadaannya...
Penjaga Sumber menunjukkan kewaspadaan.
TAMU DARI LUAR HUKUM DUNIA
Sebuah retakan terbuka.
Bukan gerbang.
Bukan portal.
Sesuatu yang lebih aneh.
Sebuah jalan yang seharusnya tidak ada.
Dari balik retakan itu muncul seseorang.
Bukan dewa.
Bukan pewaris.
Bukan makhluk kehampaan.
Namun keberadaannya membuat Sumber Darah Pertama bereaksi.
Sang Pengamat muncul.
KEDATANGAN SANG PENGAMAT
Atlas terkejut.
"Bagaimana kau bisa masuk?"
Sang Pengamat melihat mereka.
"Aku juga tidak tahu."
Jawaban itu membuat semua diam.
Makhluk yang mampu melihat seluruh dunia...
tidak mengetahui bagaimana ia bisa berada di tempat ini.
Penjaga Sumber menatapnya.
"Tempat ini berada di luar pengamatan."
Sang Pengamat menjawab:
"Itulah alasan aku datang."
PESAN TERAKHIR
Sang Pengamat melihat Sumber Darah Pertama.
"Selama ini aku mengira aku memahami seluruh keberadaan."
"Tapi tempat ini membuktikan bahwa masih ada sesuatu yang tidak bisa dihitung."
Seraphion menatapnya.
"Dan apa yang kau cari?"
Sang Pengamat diam.
Lalu menjawab:
"Jawaban yang sama dengan kalian."
"Apakah dunia yang tidak sempurna..."
"...masih layak dipertahankan?"
KEPUTUSAN SUMBER
Cahaya Sumber Darah Pertama mulai menyebar.
Penjaga Sumber berbicara.
"Semua yang datang ke tempat ini memiliki satu kesamaan."
"Kalian semua ingin menyelamatkan dunia."
"Tapi kalian memiliki cara berbeda."
Cahaya terbagi menjadi enam bagian.
Atlas.
Oliver.
Aeron.
Kael.
Elyon.
Seraphion.
Dan satu cahaya terakhir untuk Sang Pengamat.
WARISAN SEJATI
Namun bukan kekuatan yang diberikan.
Melainkan pemahaman.
Mereka melihat ribuan dunia.
Melihat kehancuran.
Melihat kelahiran kembali.
Melihat makhluk kecil yang tetap memilih berbuat baik meski dunia tidak sempurna.
Sang Pengamat terdiam.
"Aku selalu menghitung kehancuran."
"Tapi aku lupa menghitung harapan."
SERAPHION MENGAKUI KESALAHANNYA
Seraphion menatap dunia yang ia ciptakan dalam pikirannya.
Dunia sempurna.
Dunia tanpa penderitaan.
Lalu ia melihat dunia lain.
Dunia yang penuh masalah.
Namun penuh dengan pilihan.
"Aku ingin melindungi mereka..."
"Tapi aku hampir mengambil alasan mereka untuk hidup."
Elyon menatap saudaranya.
"Setidaknya sekarang kau memahami."
PILIHAN SUMBER DARAH PERTAMA
Penjaga Sumber akhirnya berbicara.
"Sumber tidak memilih penguasa."
"Sumber memilih penjaga."
Cahaya besar memasuki lima darah Aurelian.
Namun kekuatannya tidak membuat mereka menjadi dewa.
Justru membuat mereka lebih memahami batas.
SUMPAH TERAKHIR
Atlas berdiri bersama para pewaris.
Mereka mengucapkan sumpah baru.
"Kami tidak akan menciptakan dunia berdasarkan keinginan kami."
"Kami tidak akan menghancurkan dunia karena ketakutan kami."
"Kami akan menjaga kesempatan bagi semua makhluk untuk memilih."
Sumber Darah Pertama bersinar terang.
AKHIR PERJALANAN SUMBER
Ketika mereka keluar dari tempat itu...
mereka bukan lagi sekadar pewaris.
Mereka adalah penjaga baru dari keseimbangan seluruh Alam Dewa.
Namun sebelum kembali...
Atlas melihat sesuatu.
Sebuah bayangan jauh di luar semua dunia.
Seseorang yang bahkan Sumber Darah Pertama tidak bisa jelaskan.
Oliver melihat perubahan waktu.
Wajahnya langsung berubah.
"Ada masalah."
Semua menatapnya.
"Apa yang kau lihat?"
Oliver menjawab:
"Ini bukan ancaman dari masa lalu."
"Ini sesuatu yang belum pernah lahir."
Langit Alam Dewa perlahan retak.
Dan dari balik retakan itu...
muncul tanda baru.
Tanda yang bukan milik dewa.
Bukan milik kehampaan.
Bukan milik darah Aurelian.
Sebuah kekuatan baru mulai bangkit.