Tahun 2042.
Manusia hidup seperti biasa dengan teknologi modern. Tidak ada yang tahu bahwa energi spiritual di Bumi mulai bangkit kembali setelah menghilang selama ribuan tahun.
Arkana Wijaya, mahasiswa berusia 20 tahun, menjalani hidup biasa hingga menemukan cincin kuno peninggalan kakeknya. Saat darahnya menyentuh cincin itu, jiwa seorang kultivator legendaris dari ribuan tahun lalu terbangun.
Namun, alih-alih mengambil alih tubuh Arkana, jiwa itu justru menghilang setelah mewariskan seluruh ingatan dan teknik kultivasinya.
Arkana menjadi satu-satunya orang yang mengetahui cara kultivasi sejati.
Sementara dunia mulai berubah, organisasi rahasia, keluarga kuno, dan makhluk yang selama ini bersembunyi juga mulai bergerak.
Bumi ternyata hanyalah dunia tingkat terendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Penempaan Fisik dan Dunia yang Berubah
Sinar matahari pagi menembus celah-celah awan Jakarta, menyiram balkon lantai empat gedung kos tua itu dengan cahaya keemasan. Perlahan, kelopak mata Arkana bergerak. Rasa sakit luar biasa yang semalam meremukkan seluruh tubuhnya kini telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh sensasi hangat yang mengalir tenang di bawah kulitnya.
Arkana menarik napas dalam-dalam dan langsung terbatuk hebat.
"Uhuk! Bau apa ini?!" jeritnya, langsung terbangun dan terduduk di lantai balkon.
Bau busuk yang sangat menyengat—perpaduan antara bau belerang, selokan mampet, dan karat logam—menusuk hidungnya tanpa ampun. Arkana menunduk melihat tubuhnya sendiri, dan matanya seketika melebar karena terkejut. Kaos oblong putih dan celana pendek yang ia kenakan semalam kini telah berubah warna menjadi hitam keabu-abuan, basah oleh cairan lengket yang kental dan berbau busuk. Cairan itu keluar dari setiap pori-pori kulitnya, mengering menjadi lapisan kerak yang menjijikkan.
Arkana bergegas bangkit, bermaksud untuk langsung berlari ke kamar mandi. Namun, begitu dia mendorong dirinya untuk berdiri, sebuah fenomena aneh kembali terjadi. Tubuhnya terasa seringan kapas. Lompatan kecil yang biasanya hanya menggeser posisinya beberapa sentimeter, justru membuatnya melesat ke atas hingga kepalanya hampir membentur langit-langit balkon kos.
"Wtf?!" Arkana mendarat dengan canggung, kakinya menapak di lantai beton tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Dia menatap kedua tangannya yang gemetar. Di balik lapisan cairan hitam yang menjijikkan itu, Arkana bisa merasakan struktur otot dan tulangnya telah berubah secara fundamental. Mereka terasa jauh lebih padat, lebih kuat, dan dipenuhi oleh vitalitas yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Tanpa membuang waktu lagi, Arkana bergegas masuk ke dalam kamarnya dan mengunci diri di kamar mandi. Di bawah guyuran air dingin, dia menggosok seluruh tubuhnya dengan sabun hingga tiga kali bilasan. Saat cairan hitam itu perlahan luruh dan mengalir ke lubang pembuangan, Arkana menatap cermin buram di kamar mandinya dengan tatapan tidak percaya.
Pria di dalam cermin itu adalah dirinya, tetapi dalam versi yang jauh lebih sempurna. Lingkaran hitam di bawah matanya akibat begadang berhari-hari telah hilang tanpa bekas. Kulitnya yang dulu agak kusam kini tampak bersih, sehat, dan memiliki rona samar yang memancarkan aura segar. Tubuhnya yang semula kurus dan agak membungkuk akibat terlalu sering duduk di depan komputer, kini tegap sempurna. Otot-otot dada, perut, dan lengannya terbentuk dengan proporsi yang ideal—bukan otot besar yang bengkak seperti binaragawan, melainkan otot yang ramping, padat, dan efisien, mirip seperti seorang atlet bela diri profesional.
Lebih dari itu, penglihatannya yang semula sedikit minus kini menjadi sangat tajam. Dia bahkan bisa melihat serat-serat halus pada handuknya yang tergantung di dinding dengan tingkat kejelasan yang luar biasa.
Arkana menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya yang lambat namun sangat bertenaga. Setiap detakan seolah memompa energi hangat ke seluruh penjuru tubuhnya.
"Ini... Body Tempering?" gumam Arkana, mengingat kembali istilah yang semalam terpatri di dalam otaknya.
Dia memejamkan mata dan mencoba fokus. Begitu dia melakukannya, sebuah kesadaran batin langsung terbuka. Di dalam ruang kesadarannya, sebaris informasi dari Kitab Primordial Kaisar Abadi mengambang dengan jelas. Arkana kini tahu bahwa semalam tubuhnya baru saja melewati tahap awal dari Body Tempering Tingkat Pertama. Cairan hitam berbau busuk itu adalah impuritas—racun kimia, sisa makanan tidak sehat, dan sel mati yang selama dua puluh tahun ini menyumbat jalur meridian dan membatasi potensi fisiknya sebagai manusia. Cincin hitam peninggalan kakeknya telah membersihkan semua itu dalam satu malam.
Arkana menatap jari tengah tangan kanannya. Cincin hitam itu masih ada di sana, namun penampilannya kini berubah menjadi sangat biasa, tampak seperti cincin besi murah yang tidak menarik perhatian. Namun, Arkana tahu betul, benda ini adalah pusaka yang bisa menjungkirbalikkan dunia.
Setelah selesai berpakaian, Arkana melangkah kembali ke area utama kamarnya. Dia mengambil tablet transparan di atas meja belajar. Untungnya, perangkat elektronik itu sudah menyala kembali. Sinyal internet yang semalam sempat terputus total kini sudah pulih, tetapi apa yang ada di layar membuat Arkana terpaku.
Dunia luar telah gempar.
Arkana membuka forum berita global dan media sosial. Jutaan unggahan baru masuk setiap detiknya, semuanya membahas kejadian semalam yang kini secara resmi disebut oleh media sebagai "The Great Awakening" atau "Kebangkitan Besar".
Sebuah video viral di Jakarta memperlihatkan sebuah pohon beringin tua di tengah taman kota yang tiba-tiba tumbuh membesar hingga tiga kali lipat dalam waktu satu jam, dengan akar-akar yang menjebol trotoar beton seolah-olah semen itu hanyalah kerupuk rapuh.
Di bagian belahan dunia lain, ada rekaman amatir yang memperlihatkan hewan-hewan kebun binatang—singa dan serigala—memiliki ukuran tubuh yang tidak masuk akal dengan mata yang memancarkan cahaya merah cerah, mengaum dengan gelombang suara yang mampu memecahkan kaca-kaca mobil di sekitarnya.
“Apakah ini tanda kiamat?”
“Radiasi kosmik apa yang menyerang Bumi semalam?”
“Pemerintah menyembunyikan sesuatu! Ini pasti eksperimen militer yang gagal!”
Berbagai spekulasi liar memenuhi kolom komentar. Namun, ada satu jenis unggahan yang menarik perhatian Arkana lebih dalam. Beberapa orang mulai membagikan video di mana mereka bisa mengeluarkan percikan api dari ujung jari, atau mengangkat beban yang beratnya ratusan kilogram tanpa kesulitan berarti.
Dunia luar sedang panik mencari jawaban ilmiah, tetapi Arkana—berkat memori warisan Kaisar Abadi di kepalanya—tahu jawaban yang sebenarnya. Energi spiritual (Qi) yang telah mengering selama ribuan tahun kini telah mengalir kembali ke Bumi. Alam sedang melakukan pemulihan diri, dan semua makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan, sedang dipaksa untuk berevolusi secara massal.
"Kakek benar..." bisik Arkana dengan mata berbinar. "Dunia yang lama sudah berakhir. Era baru telah dimulai."
Arkana memutuskan untuk menguji seberapa besar kekuatan fisiknya saat ini. Dia berjalan mendekati meja belajarnya yang terbuat dari kayu jati tua yang cukup tebal dan berat. Biasanya, untuk menggeser meja ini saja dia harus menggunakan kedua tangan dan mengeluarkan banyak tenaga.
Arkana mengulurkan tangan kanannya, memegang pinggiran meja dengan hanya menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya. Dia menarik napas, memfokuskan sedikit energi hangat dari dadanya menuju ujung jari.
Sret.
Dengan gerakan seringan mengangkat selembar kertas, meja jati seberat lima puluh kilogram itu terangkat dari lantai. Arkana menahannya di udara selama beberapa detik dengan satu tangan tanpa ada tanda-tanda ototnya menegang atau gemetar. Wajahnya tetap tenang, napasnya tetap teratur.
"Ini baru tingkat awal dari Body Tempering," gumam Arkana, matanya dipenuhi rasa takjub yang luar biasa. "Jika tingkat pertama saja sudah sekuat ini, bagaimana dengan tingkat selanjutnya? Spirit Gathering? Foundation Establishment?"
Sesuai dengan cetak biru ingatan di kepalanya, sistem kultivasi sejati memiliki sepuluh ranah besar, dan dia baru saja menginjakkan satu kaki di anak tangga paling bawah dari ranah pertama. Di dunia modern saat ini, di mana manusia lain baru meraba-raba perubahan energi ini tanpa arah, Arkana sudah memiliki peta jalan yang sempurna menuju puncak keabadian.
BZZZZT.
Tablet milik Arkana bergetar, menampilkan sebuah notifikasi pesan masuk dari grup obrolan kampusnya.
[Grup Angkatan - TI 2040]
Ketua Kelas: "Pengumuman dari rektorat! Meskipun semalam ada gangguan listrik massal, hari ini kampus TETAP BUKA. Kuliah jam 09.00 di Gedung Utama tidak dibatalkan. Harap semua mahasiswa datang tepat waktu karena ada pengumuman penting terkait situasi darurat semalam."
Arkana melihat jam di dinding. Pukul 08.15.
Dia terdiam sejenak, menimbang-nimbang situasinya. Di satu sisi, dunia sedang berada di ambang kekacauan besar akibat kebangkitan energi spiritual. Di sisi lain, dia masihlah seorang mahasiswa miskin yang jika bolos kuliah tanpa alasan jelas bisa terancam kehilangan beasiswanya. Lagi pula, pergi ke kampus mungkin menjadi cara terbaik untuk mengamati bagaimana dampak kebangkitan energi ini pada masyarakat secara langsung.
"Organisasi rahasia, klan kuno... kakek bilang mereka semua akan mulai bergerak," pikir Arkana, mengingat rincian dari memori cincinnya. "Aku tidak boleh terlalu mencolok untuk saat ini. Menjadi mahasiswa biasa adalah penyamaran terbaik sampai kekuatanku cukup kuat untuk melindungi diriku sendiri."
Arkana mengambil tas ranselnya, memasukkan tablet, dan berjalan keluar dari kamar kosnya. Saat dia melangkah ke jalanan Jakarta yang sibuk, dia bisa merasakan atmosfer kota ini telah berubah sepenuhnya. Udara terasa bergetar oleh energi laten yang tak kasat mata, dan di antara kerumunan orang yang berjalan tergesa-gesa dengan wajah cemas, Arkana tahu bahwa takdirnya tidak akan pernah sama lagi.