Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Kanza panik luar biasa.
“NGGAK MAUUU!! Kanza maunya jadi manusia biasa aja yang suaminya ganteng, suka masakin, dan sabar ngadepin istri barbar kayak aku!!”
Lalu tiba-tiba... Kanza terbangun dengan sentakan hebat.
Dengan napas memburu dan keringat dingin di dahi, ia mendapati dirinya kembali di kamar yang tenang.
Lampu masih redup. Hanan Arkan masih tertidur dengan sangat damai di sampingnya.
Kanza mengelus dadanya yang berdegup kencang.
“Ya Allah... Gue baru nyadar... jangan-jangan ini semua gara-gara gue kebanyakan makan tahu isi sama gorengan pas malam-malam…”
Hanan menggeliat pelan, matanya terbuka sedikit, setengah sadar.
“Hm? Kenapa, sayang? Kamu mimpi buruk?”
Kanza langsung menerjang dan mendekap suaminya erat-erat seolah takut Hanan akan berubah jadi ikan cupang.
“Nggak apa-apa Mas… Kanza cuma baru sadar satu hal penting.”
“Apa?” tanya Hanan dengan suara serak khas bangun tidur.
“Kalau misalnya Kanza beneran jadi kecoa... Mas jangan kawinkan aku sama kecoa lain ya... aku maunya tetep jadi istri Mas Hanan aja, meskipun Mas harus peluk aku pake sarung tangan plastik.”
Hanan, yang masih belum sadar sepenuhnya dan nyawanya belum terkumpul, hanya menjawab pelan sambil menepuk-nepuk punggung istriny.
“Iya, Sayang... tidur lagi sana... mimpiin kamu jadi es krim rasa cokelat juga boleh, asal jangan rasa serangga…”
Pagi itu, cahaya matahari mulai menelusup melalui celah tirai, perlahan menghangatkan kamar pasangan muda tersebut dengan semburat jingga yang lembut.
Kanza Arumi menggeliat pelan di balik selimut tebalnya, masih setengah sadar dan merasa nyawanya masih tertinggal di dimensi mimpi absurd semalam.
Hanan Arkan yang sudah bangun lebih dulu, baru saja menunaikan salat Subuh dan tengah melipat sajadahnya dengan rapi.
Ia menoleh ketika mendengar gerutu kecil dari balik tumpukan selimut yang tampak seperti gundukan bantal.
“Kanza, ayo bangun. Kita berangkat bareng ke kampus hari ini, ingat ada jadwal pagi?”
Kanza hanya menggumam tidak jelas.
“Mas… mimpi Kanza semalam aneh banget… ada kecoa naik ikan cupang... terus Kanza dikasih mahkota Ratu Serangga... serem, Mas... traumatik banget…”
Hanan tertawa pelan, suara tawa rendah yang selalu berhasil menenangkan suasana. Ia menghampiri ranjang, lalu mengusap pelan rambut Kanza yang berantakan.
“Makanya, kalau mau tidur itu doa, bukan malah nyimpen sisa gorengan di bawah bantal.”
Kanza menguap lebar, mengabaikan estetika wajahnya di depan suami.
“Enggak nyimpen, Kanza cuma nyicipin sedikit sebagai syarat biar nggak mengigau. Tapi ternyata malah jadi mimpi kolosal.”
Hanan menepuk pipi istrinya pelan, mencoba mengusir sisa-sisa kantuk yang masih menempel erat.
“Ayo mandi dulu. Jangan molor lagi, nanti telat masuk kelas dan kamu bakal kena omel dosen paling galak sedunia, alias Mas sendiri.”
Kanza masih bergelung dalam selimut, menggeleng cepat bak gasing.
“Kanza ngantuk... mager... nggak mau mandi... pengen skip aja satu hari kehidupan ini dan jadi remah-remah kerupuk yang tenang...”
Hanan menatap istrinya dengan tingkat kesabaran yang melampaui batas normal manusia biasa.
Ia lalu berdiri, membuka pintu kamar mandi, dan dengan ekspresi setenang dosen sebelum membagikan lembar ujian, ia berkata pelan namun penuh penekanan.
“Mas mandiin saja, ya?”
Kanza langsung membuka selimut secepat kilat dan menatap suaminya dengan penuh kecurigaan.
“Hah? Mandiiiin? Apa-apaan nih modusnya, Pak Dosen?”
Hanan mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun.
“Daripada tidak bangun-bangun sampai Zuhur, mending sekalian Mas gotong ke dalam. Hemat waktu.”
Kanza buru-buru duduk tegak dan melipat tangan di dada.
“Kanza bisa sendiri! Jangan sentuh! Ini wilayah kedaulatan tubuh yang dilindungi undang-undang pribadi!”
Namun, Hanan Arkan justru berjalan mendekat dengan langkah ringan tanpa beban, seolah sedang melakukan manuver strategis di medan perang.
“Kanza... kita sudah nikah, tahu. Wilayah kedaulatan kita sudah disatukan secara resmi di KUA dan di depan saksi-saksi yang sah.”
“Astaghfiiiiirullah!” Kanza meloncat dari ranjang hendak kabur ke pojok ruangan.
Namun, belum sempat kakinya menyentuh lantai dengan sempurna, Hanan sudah menangkap pergelangan tangannya dan menariknya dengan sangat lembut, namun tak bisa dilawan ke arah kamar mandi.
“Mas... Mas... serius nih... nggak usah sekalian dibikinin akta mandi bareng biar makin birokrasi banget?” teriak Kanza panik sekaligus geli.
Hanan menoleh sebentar, memberikan senyum kecil yang sangat mematikan bagi kewarasan Kanza.
“Kalau bisa sekalian surat keterangan saksi juga, biar legalitasnya diakui di dua negara.”
Dan begitulah, pagi itu kamar mandi menjadi saksi bisu kekisruhan pasangan baru tersebut.
Kanza sangat berisik, cerewet, dan sibuk mengeluarkan seribu satu argumen absurd untuk mengelak, sementara Hanan tetap tenang, sabar, dan entah bagaimana berhasil menjinakkan istrinya yang barbar dan penuh akal itu.
Tak lama kemudian, keduanya keluar dari kamar mandi. Kanza masih cemberut dengan pipi yang mengembung seperti bakpao, mengenakan handuk besar yang melilit tubuhnya, sementara Hanan sudah berganti pakaian dengan kemeja rapi.
“Mas! Ini namanya kekerasan domestik berkedok cinta suci! Kanza merasa diperlakukan seperti boneka mandi!” protes Kanza sambil menunjuk-nunjuk Hanan menggunakan sisir di tangannya.
Hanan hanya tertawa ringan, merapikan kerahnya di depan cermin.
“Tapi kamu jadi segar dan cantik, kan?”
“Segar sih... tapi harga diri Kanza retak seribu. Mas tega sekali pada istri mungilmu ini.”
Hanan mendekat, lalu mencium kening istrinya sekilas dengan penuh kelembutan yang sanggup meluluhkan amarah mana pun.
“Nanti Mas belikan roti bakar keju ekstra susu di kantin sebagai kompensasi atas retaknya harga dirimu.”
Kanza terdiam sejenak, menimbang-nimbang antara harga diri atau makanan enak.
“Oke. Deal.”