"Kamu adalah budakku Radini Prastiwi Sukarna dan kamu tidak akan bisa lepas dari cengkramanku!"
"Aku adalah abdi setiamu wahai iblis..."
Radini Prastiwi Sumarna, seorang perempuan keturunan bangsawan yang menjadi pewaris sebuah tradisi keluarga, bukan tradisi sembarangan karena keluarga itu merupakan keturunan perempuan pemuja iblis dan Radini terpilih sebagai penerus keluarga untuk melanjutkan jejak leluhurnya.
Apakah dia akan tetap memegang teguh ritual keluarganya sebagai pemuja iblis atau justru dia akan bertaubat setelah dia bertemu Dirga Bintang Darmawan yang menjadi targetnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepedulian Sagara
"Ini kan... ini jenazah Tarman anaknya pak Unus den" ucap Herman yakin.
Mereka sedang di luar area pagar gaib lahan Bintang, warga juga ada di sana karena sepuluh mayat yang semalam di kalahkan Sahara ada di pinggir jalan pemakaman dan Sahara sengaja membuangnya di luar lahan bahkan sedikit jauh dari lahan Bintang supaya warga tidak menuduh Bintang sembarangan.
Pagi itu juga Herman baru mengunjungi makam Sumi bersama keluarga Darmawan karena nanti malam mereka akan mengadakan tahlilan untuk mendo'akan Sumi.
"Kamu yakin? bukannya dia baru meninggal satu minggu lalu?" tanya Maman
"Yakin kang, soalnya kan waktu itu saya yang bantu menguburkan, dan wajahnya masih bisa di kenali, beda dengan yang lain yang wajahnya sudah tidak bisa di kenali lagi" jawab Herman
"Pantas ada makam yang tiba tiba saja kosong di pemakaman kampung ini, mungkin ini jasadnya, tapi kenapa mereka tiba tiba keluar dan membunuh Sumi?" tanya Yana
"Mungkin karena di kendalikan seseorang" ucap Restu
"Iya, pasti karena ilmu hitam, tidak mungkin mayat tiba tiba hidup kembali" ucap warga
"Harus segera di bersihkan ini, di ruwat saja, Mbah Dimas mungkin mau bantu" ucap seorang warga
"Di ruwat apa sih pak, sudah bagus ini mayat di kubur saja lagi atau di musnahkan saja, kang Herman yang lebih berhak karena mereka sudah membunuh Bi Sumi" ucap Dimas ketus karena warga yang masih percaya perdukunan masih memanggil Dimas dengan sebutan Mbah Dimas.
"Herman, kamu sekarang bebas melakukan apapun pada mayat mayat ini, mereka mungkin di kendalikan orang jahat dan pasti akan kembali di kendalikan lagi meskipun di kubur ulang" ucap Sagara
"Kenapa begitu pak Sagara?" tanya Gilang
"Karena kasus seperti ini pernah terjadi di kampung Mahoni beberapa tahun lalu, dan mayat ini bisa kembali di kendalikan orang yang memegang kendali" jawab Sagara
"Lalu apa yang harus kami lakukan pak Sagara?" tanya warga
"Mayatnya harus di bakar karena tubuh mereka sudah di pasangi sesuatu yang akan membuat mereka kembali bangkit saat si pengendali menginginkan itu" jawab Sagara membuat para warga bimbang.
"Bakar saja, ini demi keamanan kampung, apa kalian mau nasib anak istri kalian seperti Sumi istriku?" tanya Herman.
"Tidak, kami tidak mau anak istri kami di lukai" jawab warga
"Kita ijin dulu pada keluarga jenazah ini, jenazah ini pasti punya keluarga" ucap Bintang
"Cah Bagus para mayat ini adalah orang orang yang pernah di ludahi si Rudin" ucap Sahara membuat Bintang terkejut.
"Jadi itu alasannya, ludah Radini membuat mereka di bunuh Luca dan sekarang mayat mayat itu di kendalikan Radini" ucap Sagara
"Iya, begitu... benar sekali Sagara benar!" ucap Sahara
"Akkhh!"
"Kenapa?" tanya Dimas saat salah seorang warga berteriak.
"Lihat tangan mereka bergerak!" jawab Yana menunjuk tangan para mayat itu yang kembali bergerak karena masih dalam pengaruh Luca dan Radini.
Dirga dan Sigit segera mengikat mayat mayat itu sebelum mereka menyerang warga dan masih lemah, mereka juga meminta warga untuk menjauh dan tidak menatap mata mayat mayat itu yang kosong tidak terdapat mata di dalamnya.
"Segera bakar karena ini demi kebaikan kita bersama" ucap Sagara dan semuanya setuju.
Warga mulai menggali tanah di dekat pemakaman, mereka membuat lubang yang cukup besar supaya bisa menampung mayat mayat itu yang sudah mulai kembali bergerak dan berusaha untuk lepas dari ikatan, tapi Sagara, Bintang, Dimas dan Dirga menahan mereka dengan cara di ikat lagi supaya mereka tidak bisa menyerang siapapun.
"Om, lubangnya sudah siap" ucap Sigit
"Masukkan mereka!" teriak Sahara
"Badaruddin, Jalaga, energi kalian akan membuat mereka tidak bisa keluar lagi dari dalam tanah" ucap Kalandra
"Kami akan bantu sampai mayat mayat itu menjadi tanah" jawab Badaruddin yang juga ikut geram dengan apa yang menimpa Sumi.
Badaruddin membuat jaring dari energi miliknya, Jalaga mengikat api yang di masukkan ke dalam lubang supaya api itu membakar habis mayat mayat itu dan membuat para warga yakin kalau mayat mayat itu memang di kendalikan orang yang jahat.
Pyar.
"Ini tidak mungkin, lihat mereka tetap bergerak meskipun api sudah membakar mereka" kaget Panji
"Itulah ilmu hitam, apa yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin tapi itu menyesatkan" ungkap Sagara
"Ggrrr... kalian semua akan celaka!" bisik sosok Luca di telinga para warga.
"Aaakhhh! ampuni kami, kami terpaksa membakar mayat mayat itu!" teriak warga bersimpuh di depan lubang yang masih ada api berkobar di dalamnya.
"Kalian jangan sampai terhasut, itu bisikan iblis" ucap Sagara
"Tapi pak Sagara..."
"Jangan pernah takut karena ketakutan itu lah yang di Inginkan para Iblis itu" ucap Sagara
"Iya, itu hanya ancaman saja, dia tidak mau mayat mayat ini terbakar habis dan dia tidak punya alat untuk menakut-nakuti kita" ucap Dirga
"Kami takut nak Dirga, kami ini tidak punya pegangan apapun selain agama kami" ungkap seorang warga.
"Itu sudah cukup pak" ucap Sagara
Sagara menundukkan kepalanya, dia memejamkan matanya, dia tahu mungkin apa yang dia lakukan tidak akan banyak membantu warga, tapi dia ingin melakukan sesuatu untuk melindungi warga kampung Curug supaya Radini tidak melukai mereka ataupun membuat teror di kampung yang akan membuat keluarga Bintang di benci di sana.
Jadi dia memutuskan untuk meminta pasukan tanpa nama milik Lintang tinggal di kampung Curug sampai masalah Radini berakhir dan kampung itu kembali aman.
"Mayatnya sudah tidak bergerak lagi" ucap Sigit
"Itu tandanya pengaruhnya sudah lepas" ucap Sagara
"Para warga, sebaiknya kalian kembali dan tolong hadir nanti di tahlilan Sumi" ucap Bintang
"Baik pak Bintang" jawab semuanya
Brak.
"Sagara, apa yang kamu lakukan?" tanya Rukmini saat Sagara menghentakkan kakinya di area pemakaman yang sekarang sudah sepi karena warga di minta kembali ke rumah mereka masing masing.
"Saya ingin melakukan sesuatu untuk melindungi warga di sini nek, mereka yang sudah mengenal agama kita akan di jaga oleh pasukan tanpa nama, supaya mereka tetap bisa menjalankan aktifitas mereka dengan baik" jawab Sagara
"Tapi kamu tahu kan kalau musuh yang kita hadapi sekarang ini sangat kuat dan berbahaya" ucap Badaruddin yang masih terus fokus memperhatikan para mayat yang di bakar supaya mayat mayat itu habis bersatu dengan tanah.