Zahira Aulia Utami menikah dengan Galang Putra Hadian. Mereke sudah menikah selama delapan tahun dan di karuniai seorang putri cantik bernama Cantika Alya Putri Hadian, berusia enam tahun. Namun putri mereka memiliki hal yang berbeda dengan putri orang lain pada umumnya. Dia memiliki sesuatu yang spesial.
Rumah tangga mereka sebeanrnya baik-baik saja. Hanya memang satu tahun terakhir Aulia dan Galang sering bertengkar. Dan inti dari masalahnya adalah Cantika, Galang merasa malu memiliki anak yang dia pikir ga-gu. Dan itu semua karena Aulia. Dia menyalahkan Aulia sehingga membuatnya malu saat membawa mereka dalam pertemuan keluarga atau saat acara di kantor.
Semenjak itu, hubungan mereka terasa hambar, Galang seing pulang telat ke rumah.
pertengkaran terus berlanjut, apalagi keluarga Galang juga ikut campur hingga akhirnya Aulia dan Cantika melihat Galang bersama dengan seorang wanita bergandengan mesra. Hati Aulia rasanya semakin membeku. Tak ada lagi alasan untuk bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aulia 23
Di seberang jalan, Belinda menghentakkan kakinya ke aspal dengan gusar. Wajahnya yang semula dipoles riasan cantik kini menekuk masam. Melihat Galang dihalangi oleh pria asing, Ghani dan taksi yang membawa Aulia serta Cantika sudah melaju pergi, Belinda melangkah lebar menghampiri Galang yang masih berdiri mematung di pinggir jalan dengan napas memburu dan wajah pias.
"Mas! Apa-apaan sih?!" pekik Belinda tanpa memedulikan tatapan dingin dari Ghani yang langsung membalikkan badan untuk kembali ke dalam restoran. Belinda menarik lengan kemeja Galang dengan kasar, memaksa pria itu menghadap ke arahnya.
"Kamu tega ya mempermalukan aku di pinggir jalan begini? Kita kan mau ke butik! Kamu janji mau beliin aku gaun baru hari ini!"
"Belinda, diam dulu! Kamu gak tahu situasinya!" bentak Galang frustrasi.
Kepalanya terasa mau pecah. Pikirannya bercabang antara rasa takut rahasianya terbongkar ke keluarga besar, ancaman gugatan cerai yang bisa menghancurkan reputasinya, dan kepanikan melihat tatapan kosong Aulia tadi.
"Aku gak mau diam, Mas!" Belinda justru semakin meninggikan suaranya, melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh.
"Kenapa kamu harus sepanik itu sih? Cuma karena ketahuan sama istri kampungmu itu? Lagipula, anak gagu itu juga ngapain sih ada di sini? Merusak suasana saja!"
Degh.
Kata-kata Belinda barusan seperti menyiramkan bensin ke dalam kepala Galang yang sedang panas. Namun, bukannya membela anaknya, ego Galang sebagai laki-laki yang merasa tersudut justru membuatnya semakin merasa tertekan dan terhina di tempat umum.
"Jaga bicaramu, Belinda!" desis Galang, suaranya bergetar menahan malu karena beberapa orang di sekitar area parkir mulai berbisik-bisik memperhatikan mereka.
"Kenapa? Memang kenyataan, kan? Anak itu memang gagu dan pembawa sial! Gara-gara dia, rencana kita hari ini hancur berantakan!" cecar Belinda tanpa belas kasih. Baginya, Cantika hanyalah penghalang yang merepotkan.
"Sekarang kamu malah mau batalin janji ke butik cuma buat ngejar mereka? Kamu lebih milih pulang ke rumah usang itu dibanding nemenin aku?!"
Galang mengepalkan tinjunya erat-erek. Rasa panik yang luar biasa kini bercampur dengan rasa bersalah yang aneh, namun egonya yang tinggi menolak untuk kalah.
"Aku harus pulang, Belinda! Aulia melihat kita! Kalau dia nekat melapor atau menggugat, reputasiku di kantor bisa hancur!" Galang setengah berbisik dengan nada mendesak, mencoba memberikan alasan logis agar selingkuhannya itu mengerti.
"Kamu pulang naik taksi online dulu. Aku harus beresin kekacauan ini di rumah!"
Tanpa menunggu jawaban Belinda yang mulai menjerit protes, Galang berbalik setengah berlari menuju mobil hitamnya. Dia masuk ke kursi kemudi, membanting pintunya dengan keras, dan langsung menancap gas membelah jalan raya. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal, dia harus sampai di rumah sebelum Aulia melakukan hal yang nekat.
Sementara itu, mobil hitam Galang melaju membelah jalanan kota dengan kecepatan di atas rata-rata. Cengkeraman tangannya pada kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam kepalanya, suara Belinda yang melengking menghina Cantika dan tatapan membeku dari Aulia berputar-putar seperti kaset rusak, saling berkejaran dan memicu sakit kepala yang hebat.
"Sial! Sial! Kenapa mereka bisa ada di restoran sejauh itu?!" umpat Galang, memukul kemudi dengan frustrasi.
Dia benar-benar tidak habis pikir. Aulia yang biasanya hanya mendekam di rumah atau paling jauh ke pasar tradisional, tiba-tiba berada di sebuah restoran keluarga kelas atas di pinggir kota. Terlebih lagi, ingatan tentang pria matang yang menghadang langkahnya tadi, pria yang tampak mapan, berwibawa, dan menatapnya dengan pandangan penuh penghinaan. Membuat ego Galang sebagai seorang laki-laki terusik hebat. Siapa pria itu? Mengapa Aulia bisa bersamanya?
Kepanikan Galang kian memuncak saat membayangkan konsekuensi logis dari kejadian ini. Jika Aulia nekat membawa masalah ini ke keluarga besar, atau lebih buruk lagi, mengajukan gugatan cerai dengan bukti perselingkuhan yang nyata, posisinya di perusahaan akan terancam. Di instansi tempatnya bekerja, citra moralitas sangat dijunjung tinggi. Kasus domestik seperti ini bisa menjegal promosi jabatan yang tengah dia incar bulan depan.
"Gak bisa. Aulia gak boleh lepas kendali. Dia harus bisa ditenangkan seperti biasanya," gumam Galang, mencoba menghibur diri dengan mengingat betapa lemah dan penurutnya Aulia selama ini.
Di sisi lain kota, sebuah taksi berhenti tepat di depan pagar rumah minimalis yang tampak sepi. Aulia turun terlebih dahulu, lalu membimbing Cantika keluar. Wajah Aulia kini tampak begitu tenang, ketenangan yang justru terasa mencekam karena lahir dari rasa sakit yang telah melampaui batas puncaknya.
"Maaa... maaaa..." Cantika mendongak, jemari mungilnya meremas ujung baju Aulia. Bocah kecil itu bisa merasakan ketegangan yang menjalar dari tubuh ibunya, meski dia belum sepenuhnya paham apa yang baru saja terjadi di seberang jalan tadi. Aulia berlutut di hadapan putrinya, menyamakan tinggi badan mereka. Dengan lembut, dia merapikan rambut Cantika dan mengusap pipinya.
"Cantika anak pintar, anak kesayangan Ibu. Sekarang Cantika masuk ke kamar dulu, ya? Main sama boneka beruangnya. Ibu mau bicara sebentar sama Papa kalau Papa datang. Cantika jangan keluar kamar sebelum Ibu panggil, ya, Sayang?"
Cantika menatap ibunya lekat-lekat, lalu mengangguk pelan. Seolah mengerti dengan perasaan ibunya, dia juga masih kaget karena melihat papanya berangkulan mesra dengan wanita lain yang tak dia kenal sama sekali.
Aulia menuntun Cantika masuk ke dalam rumah, mengantarnya hingga ke dalam kamar, dan memastikan putrinya merasa aman sebelum dia kembali ke ruang tamu. Tepat saat Aulia mendudukkan diri di sofa, sebuah suara derit ban yang bergesekan kasar dengan aspal terdengar dari depan rumah. Disusul oleh suara hantaman pintu mobil yang ditutup dengan tergesa-gesa.
Braaaakk
Pintu depan rumah terbuka lebar. Galang melangkah masuk dengan napas memburu, penampilannya yang rapi kini tampak sedikit berantakan karena keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Matanya langsung tertuju pada Aulia yang duduk tegak di sofa, menatapnya tanpa ekspresi sedikit pun.
"Aulia!" Panggil Galang dengan suara baritonnya yang menuntut, mencoba mengintimidasi seperti yang biasa ia lakukan untuk menutupi kesalahannya.
"Maksud kamu apa tadi langsung pergi begitu saja?! Siapa laki-laki yang sama kamu di restoran tadi, hah?!"