Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Membantu Angkat Barang
Siang itu udara di lobi samping terasa agak panas karena pintu kaca besar dibiarkan terbuka lebar. Sebuah truk pengiriman baru saja berhenti di depan, dan dua orang petugas gudang sedang sibuk menurunkan tumpukan kotak kardus berisi perlengkapan kantor baru. Rima yang kebetulan lewat hendak mengambil berkas di ruang arsip bawah berhenti sejenak melihat mereka.
Salah satu petugas, Pak Joko, sedang berusaha mengangkat satu kotak yang terlihat sangat berat. Kertasnya sudah melengkung ke bawah, dan di sisi luar tertulis label "Buku Laporan & Dokumen Penting". Ia mencoba mengangkatnya sendirian, tapi kotak itu hanya bergeser sedikit. Keringat mulai membasahi pelipisnya.
"Berat sekali ini isinya..." gumamnya pelan sambil memijat pinggangnya. "Kalau nggak buru-buru takut menghalangi jalan masuk."
Rima tidak berpikir dua kali. Ia segera melangkah maju, meletakkan tas bahunya di kursi tunggu dekat pintu, lalu menyapa dengan senyum ramah.
"Pak Joko, biar saya bantu ya! Kita angkat berdua pasti lebih ringan."
Pak Joko menoleh kaget, lalu tersenyum malu. "Waduh Mbak Rima, terima kasih banyak. Tapi ini berat loh, nanti Mbak kelelahan atau rusak seragamnya."
"Nggak apa-apa Pak, seragam bisa dicuci, tenaga bisa diisi lagi nanti!" canda Rima sambil memosisikan diri di sisi lain kotak. "Ayo Pak, hitung sampai tiga ya. Satu... dua... tiga!"
Mereka bersama-sama mengangkat kotak itu perlahan. Rasanya memang sangat berat, membuat otot lengan Rima terasa tegang, tapi ia berusaha tetap kuat. Mereka berjalan beriringan menuju lift barang, lalu turun di lantai dua tempat ruang arsip sementara berada.
Setelah meletakkan kotak itu di atas meja dengan hati-hati, Rima langsung mengusap keringat di dahi dengan punggung tangannya. Punggungnya terasa panas, dan napasnya sedikit memburu. Namun saat Pak Joko mengucapkan terima kasih berkali-kali, wajahnya kembali berseri-seri.
"Terima kasih ya Mbak Rima, sudah mau repot-repot membantu. Biasanya karyawan lain lewat saja dan tidak peduli," ucap Pak Joko tulus.
"Sama-sama Pak! Bapak juga sedang bekerja keras, wajar kalau kita saling bantu," jawab Rima sambil menepuk bahu petugas itu pelan. "Kalau ada yang berat lagi, panggil saya saja ya kalau saya kebetulan lewat."
Ia baru mau berbalik mengambil tasnya saat terdengar suara langkah kaki tenang mendekat dari arah lorong utama. Rima menoleh dan melihat Andre berjalan bersama Dino. Keduanya tampak sedang berdiskusi pelan sambil memegang berkas di tangan.
Mereka berhenti tepat di dekat pintu ruang arsip sementara. Andre melihat Rima yang keringat bercucuran, seragamnya sedikit kusut, berdiri di samping kotak besar yang baru saja diangkatnya. Matanya menyapu sekeliling, lalu menatap Rima yang langsung berdiri tegak dengan wajah sedikit memerah karena kaget.
"Selamat siang Pak Andre, Pak Dino," sapa Rima sopan sambil membungkuk sedikit. Pak Joko juga ikut memberi salam dengan hormat.
Andre hanya mengangguk singkat sebagai balasan, lalu melirik kotak di atas meja. "Kalian mengangkut ini?"
"Iya Pak," jawab Rima jujur. "Tadi Pak Joko kesulitan mengangkatnya sendirian, jadi saya bantu sebentar."
Dino yang berdiri di samping Andre tersenyum tipis, lalu berbisik pelan namun cukup terdengar oleh mereka berdua. "Dia rajin sekali ya Pak. Tidak sungkan membantu siapa saja, bahkan petugas gudang sekalipun."
Andre tetap menatap Rima dengan wajah datar tanpa senyum sedikit pun. Ia melihat keringat di pelipis gadis itu, dan sepatunya yang berdebu karena berjalan dekat area bongkar muat.
"Kerja bagus," ucapnya singkat, lalu nada bicaranya berubah menjadi tegas dan serius. "Tapi ingat ya Rima, tugas tambahan atau membantu orang lain tidak boleh mengganggu pekerjaan utamamu. Kamu di sini sebagai anak magang bagian desain dan administrasi, bukan tenaga angkut barang."
Rima langsung mengerti maksud teguran itu. Ia menunduk sedikit, merasa bersalah karena mungkin telah melalaikan tugas yang seharusnya diselesaikan.
"Maaf Pak Andre," jawabnya pelan tapi jelas. "Saya mengerti maksud Bapak. Tadi kebetulan saya lewat dan pekerjaan saya sudah selesai dikerjakan sebelum makan siang. Saya tidak akan mengulanginya kalau tugas utama saya belum beres."
Andre menatapnya sebentar lagi, seolah memastikan gadis itu benar-benar paham batasannya. Lalu ia mengangguk pelan.
"Bagus kalau begitu. Lanjutkan aktivitasmu."
"Siap Pak! Terima kasih sudah mengingatkan," jawab Rima sopan.
Andre berjalan melanjutkan langkahnya, diikuti Dino. Saat sudah agak jauh, Dino kembali berbisik. "Bapak itu sebenarnya terkesan kan Pak. Mbak Rima tulus membantu tanpa pamrih."
Andre melirik sekilas ke arah Rima yang sudah sibuk memeriksa berkas di meja. "Sifat baik harus disertai dengan prioritas yang tepat. Saya tidak ingin dia terlalu sibuk membantu orang lain sampai lupa mengembangkan kemampuannya sendiri di bidang yang diajukan."
Sementara itu, Rima duduk di mejanya sambil membetulkan posisi duduknya. Awalnya ia sempat takut dimarahi, tapi lama-kelamaan ia paham nasihat Andre.
"Benar juga," gumamnya pelan. "Boleh baik hati, tapi harus tahu mana yang lebih penting dulu. Nanti kalau tugas utama sudah selesai rapi, baru boleh bantu-bantu. Terima kasih sudah mengingatkan Pak Andre."
Ia kembali bekerja dengan semangat baru, kali ini lebih fokus dan teratur, berjanji dalam hati untuk menyeimbangkan kebaikan hatinya dengan tanggung jawab pekerjaannya.
ini namanya waktu kecil lihat orang tua kita suka bon di warung sekarang kita sudah dewasa bisa bon warung sendiri🤣🙏