NovelToon NovelToon
Sembilan Tahun Pelarian

Sembilan Tahun Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Lari Saat Hamil
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.

Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Sementara itu, di restoran tempatnya bekerja, kepanikan luar biasa sedang mendera Arin.

Sudah lebih dari satu jam sejak bel pulang sekolah berbunyi, tetapi Zayyan belum juga sampai di mes. Jantungnya mencelos ketika ponselnya berdering dan driver ojek online yang ia pesan memberi tahu bahwa Zayyan tidak ada di gerbang sekolah.

"Mbak, saya sudah tanya satpam dan keliling cari, tapi anak bernama Zayyan sudah gak ada di sekolah," kalimat driver tu terus terngiang, membuat sekujur tubuh Arin mendadak dingin.

Tanpa memikirkan penampilannya yang masih memakai celemek, Arin berlari setengah bergegas menuju lantai atas, langsung menuju ruang kerja Fahri. Dengan napas memburu dan tangan gemetar, ia mengetuk pintu dengan kasar sebelum langsung menerobos masuk.

Brak!

"Pak Fahri... maaf," ucap Arin terbata-bata dengan wajah pucat pasi.

"Saya... saya mau minta izin pergi sekarang, Pak. Zayyan... Zayyan hilang. Ojek yang saya pesan bilang Zayyan gak ada di sekolahnya."

Fahri yang sedang memeriksa berkas di mejanya langsung mendongak. Bukannya terkejut mendengar kata 'hilang', ekspresi wajah pria itu justru berubah tegang, lalu sedetik kemudian ia mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat berat.

"Pasti Regan..." desah Fahri pelan, hampir tak terdengar.

Arin yang sedang panik tidak terlalu menangkap gumaman Fahri. Ia hanya mondar-mandir di depan meja dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata.

Fahri segera berdiri dan menyambar kunci mobilnya di meja. "Arin, kamu tenang dulu. Gini, biar saya ikut bantu cari Zayyan sekarang. Ayo, kita pakai mobil saya."

Tanpa banyak tanya, Arin mengangguk cepat. Sepanjang perjalanan menuju sekolah dasar Zayyan, Arin terus meremas jemarinya hingga memutih. Bibirnya tak henti merapalkan doa. Namun, begitu mobil Fahri berhenti di depan gerbang sekolah, hantaman kenyataan pahit menyambut mereka. Halaman sekolah sudah sepi. Gerbang besi bahkan sudah dirantai setengah. Zayyan benar-benar tidak ada di sana.

Arin turun dari mobil dan sempat bertanya pada satpam yang berjaga, namun hasilnya nihil. Begitu kembali ke dalam mobil Fahri, pertahanan Arin runtuh. Tangisnya pecah seketika.

"Zayyan ke mana, Pak...? Ini salah saya. Harusnya saya yang jemput dia sendiri tadi," ratap Arin sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

"Sekarang saya harus cari Zayyan ke mana lagi, Pak Fahri? Kalau terjadi apa-apa sama anak saya gimana...?"

Melihat Arin yang sudah menangis histeris, Fahri menjadi sangat tidak tega. Rasa bersalah mulai menggerogoti hatinya karena selama ini ia ikut menyembunyikan pergerakan Regan.

Fahri memutar tubuhnya menghadap Arin, memegang kemudi dengan sebelah tangan. "Arin, dengarkan saya. Tolong tenang dulu, ya? Jangan nangis. Saya tahu... saya tahu Zayyan ada di mana sekarang."

Tangis Arin mendadak terhenti. Ia menurunkan tangannya dari wajah, menatap Fahri dengan mata yang basah dan merah. Otaknya yang cerdas langsung menangkap kejanggalan dari ucapan sang atasan.

"Pak Fahri tahu Zayyan di mana?" tanya Arin dengan suara bergetar, menatap lurus ke dalam mata Fahri. Tatapan yang semula penuh keputusasaan kini berubah menjadi penuh tuntutan.

"Bapak... Bapak sebenarnya sembunyiin sesuatu dari saya, kan?"

Pertanyaan menohok itu membuat Fahri langsung gelagapan. Wajahnya mendadak salah tingkah, dan ia buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah jalanan di depan, menghindari kontak mata dengan Arin.

"B-bukan begitu, Rin. Saya gak sembunyiin apa-apa," jawab Fahri terbata-bata, mencoba memikirkan alasan yang logis. Ia memutar kunci kontak dan langsung menginjak pedal gas memutar arah mobil.

"Sudah, yang paling penting sekarang kita jalan dulu. Yang penting Zayyan ketemu dan aman sekarang. Kamu tenang ya, kita langsung ke sana."

Arin hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat di pangkuan. Kecurigaannya semakin menguat, dan nama satu orang pria kini mendadak melintas di kepalanya dengan paksa, memicu rasa amarah yang luar biasa di balik rasa takutnya.

Sepanjang sisa perjalanan, Arin hanya menatap kosong ke luar jendela. Namun, begitu mobil Fahri berbelok masuk ke sebuah kawasan perumahan elite yang sangat familier, napas Arin mendadak tercekat. Ingatannya langsung terlempar ke masa sembilan tahun lalu, saat ia dan Regan masih terikat pernikahan siri. Regan pernah membawanya ke kawasan ini, menunjukkan sebuah kavling besar dengan bangunan yang baru setengah jadi.

Rumah masa depan kita, bisik Regan kala itu.

Cengkeraman tangan Arin pada sabuk pengaman mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah dan rasa dikhianati kini membakar dadanya, menggantikan rasa takut yang sempat melumpuhkannya tadi.

"Pak Fahri, saya tahu ini arah ke rumah siapa," ucap Arin, suaranya terdengar begitu dingin dan bergetar menahan ledakan emosi. Ia menoleh patah-patah, menatap Fahri dengan sorot mata kecewa yang mendalam.

"Jangan bilang... selama ini Bapak bersekongkol dengan Regan?"

Fahri tersentak. Ia tidak berani menoleh sedikit pun ke arah Arin. Alih-alih menjawab iyanatau membantahnya, Fahri justru mengalihkan pembicaraan dengan gugup sambil memarkirkan mobil tepat di depan pagar kokoh rumah mewah itu

"Rin, yang penting kita fokus ke keselamatan Zayyan dulu, ya? Ayo turun."

Begitu mobil berhenti sempurna, Arin langsung membuka pintu dan turun dengan langkah lebar yang dipacu oleh kemarahan yang membubung tinggi. Fahri buru-buru menyusul di belakangnya. Arin melangkah menaiki teras dan langsung menekan bel rumah bertubi-tubi tanpa jeda, seolah ingin merubuhkan pintu jati di hadapannya.

Sementara itu di lantai dua, Regan yang semula tertidur lelap di samping Zayyan terusik oleh suara bel yang berdering kasar dan berisik. Ia mengerjap, melirik putranya yang masih terlelap nyaman karena kelelahan. Dengan langkah santai dan setengah mengantuk, Regan turun ke lantai satu. Ia mengira itu adalah kiriman paket atau David yang datang.

Namun, begitu selot pintu digeser dan daun pintu baru terbuka setengah....

"Anjing!"

Brak!

Belum sempat Regan membuka suara atau sekadar memperjelas pandangannya, sebuah tubuh menerjangnya dengan kekuatan penuh hingga ia kehilangan keseimbangan dan jatuh telentang di atas lantai marmer ruang tamu.

Itu Arin. Wanita itu menindihnya dan langsung melayangkan pukulan membabi buta ke dada, bahu, bahkan wajah Regan dengan kepalan tangan kecilnya yang bergetar hebat karena amarah. Air mata kemarahan mengalir deras di pipi wanita itu.

"Hey! Arin, tenang! Stop! Kamu kenapa?!" seru Regan kaget, mencoba menghalau pukulan-pukulan Arin yang meski tidak terlalu kuat secara fisik, namun terasa sangat menyakitkan di dadanya karena luapan emosi wanita itu.

"Pria bajingan! Brengsek kamu, Regan! Berani-beraninya kamu sentuh anak saya! Mau kamu apa, hah?!" caci Arin berteriak histeris, menyumpah serapah dengan kalimat-kalimat kasar yang belum pernah Regan dengar keluar dari mulut lembutnya selama ini. "Kamu monster! Kamu mau hancurin hidup aku lagi?!"

Melihat Arin yang sudah kehilangan kendali dan terus memukulnya sambil terisak histeris, Regan tidak punya pilihan lain. Ia menggunakan kekuatan fisiknya untuk menangkap kedua pergelangan tangan Arin, lalu dengan cepat membalikkan posisi dan mendekap tubuh wanita itu dengan erat ke dalam pelukannya, mengunci pergerakan Arin agar tidak menyakiti dirinya sendiri.

"Lepasin saya, Regan! Lepas! Bajingan!" jerit Arin, meronta-ronta di dalam dekapan erat Regan. Dadanya naik turun dengan napas memburu, air matanya membasahi kemeja yang dikenakan Regan. "Ke mana kamu bawa anak saya?! Di mana Zayyan, Regan?! Balikin anak saya!"

1
Anonim
ANJING PENGEN BUNUH REGAN ... DEMI TUHAN PENGEN BUNUH REGAN
Lina Asm
lanjut kak
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
🤣🤣 didikan mu jelek rin 🤣 pantes anak mu berontak harusnya klo ada yg nginjak lawan. bego bukan diem😒 di bully diem. ya bloon
falea sezi
lagian goblok nya harusnya pergi dr suami bawa uang banyak biar anak mu gk menderita bawa fto nikah di pajang gede biar orang kampung tau lu bersuamii😒 begooo MC nya menye
falea sezi
anak g tau diri😒 baru baca uda kesel anak gk pernah di didik. ya gini
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🌹
Mutaharotin Rotin
mampir thor 🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰😭😭
Mutaharotin Rotin
karya baru ya🥰🥰🥰 mampir ya 🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!