NovelToon NovelToon
BUNGA TANPA MAHKOTA

BUNGA TANPA MAHKOTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Pengganti
Popularitas:59.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Min Ziy. Minfiatin FauZiyah

Di malam kelulusan sekolahnya, Yaressa mendapat perlakuan buruk dari Arsaka -kekasihnya- yang mabuk. Kesuciannya direnggut paksa, menjadikannya seorang korban pemerk*sa'an.

Namun Arsaka tak bersedia bertanggung jawab dengan menikahi Yaressa, ia justru pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.

Dan Bara, kakak Arsaka, terpaksa menikahi Yaressa, kekasih sekaligus korban pemerkosaan adiknya, menggantikan Arsaka yang telah pergi, sedangkan Bara sendiri memiliki Kanaya, wanita yang ia cintai jauh di kota lain sana.

Kisah yang rumit, tentang perjuangan, pengorbanan, keikhlasan, akan melengkapi cerita cinta mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Bara mengambil Tikar di dekat lemari dengan penerangan layar ponsel yang ia nyalakan, cukup remang, karena hanya layar depan, kemudian menggelarnya di depan meja, bersebelahan dengan ranjang tidur Yaressa.

"Ini," Yaressa mengulurkan bantal tanpa merubah posisi, masih membelakangi Bara. Bara menerima bantal yang Yaressa berikan.

"Itu masih baru, Mak Eva yang membelikannya, untukmu,"

"Terimakasih,"

Bara menaruh bantal di atas tikar, kemudian ia kembali melangkah menuju lemari, membuka benda itu, dan menyorot menggunakan flash ponsel untuk melihat isi dalamnya.

Beberapa tumpuk baju yang terlihat bagus dan modern tertata rapi memenuhi lemari, Bara mencari jaket pria yang tadi dimaksud Yaressa, ketemu. Sebuah jaket berwarna hitam.

"Apa itu pas?" tanya Yaressa, meski ia tak menoleh, tapi dengan mendengar suara grasak-grusuk Bara Yaressa tahu jika Bara mengenakan jaket Papahnya, apalagi saat suara resleting yang tadi ditarik ke atas oleh Bara.

"Pas." jawab Bara singkat.

"Berarti kamu lebih besar dari Papah, karena itu kebesaran saat Papah yang memakainya."

Lagi-lagi Bara mengulas senyum.

'Cerewet juga,' batinnya.

"Kalau kamu penasaran, kamu bisa membalikkan badan untuk melihatku," goda Bara menahan tawa.

"Tidak, aku hanya,,,," Yaressa menjeda kalimatnya.

"Merindukan Papah." suara Yaressa terdengar lirih.

Bara menatap punggung Yaressa yang sama sekali tak bergerak. Ia menghela napas kasar, tanpa satu orang pun tahu, bahwa sampai saat ini Bara juga masih mengingat Bapaknya yang meninggalkan dirinya di masa kecil dulu, dan Bara merindukannya.

Dan tentang Yaressa, ia kehilangan kedua orang tuanya, terluka oleh terbongkarnya perselingkuhan Papahnya, lalu diper.ko.sa Arshaka adiknya, kekasih Yaressa sendiri, pria yang Yaressa cintai, lalu ditinggal pergi, patah hati mana lagi yang Yaressa belum terima? Apalagi Bara juga menyadari posisi dirinya saat ini yang menjadi suami Yaressa tanpa bisa memberikan cinta untuk gadis itu. Kasihan. Satu kata yang bisa Bara pendam untuk Yaressa.

"Tidurlah, agar kau lekas sembuh, selamat malam."

Bara memutus obrolan mereka dengan membaringkan tubuh di tikar lantai, menyilangkan kedua tangan di bawah kepala, menatap atap genteng kamar Yaressa yang gelap tanpa cahaya.

Pikirannya menerawang jauh pada sosok Kanaya yang sangat ia cinta, gadis cantik yang sangat ia rindukan saat ini.

"Kak,,,," lirih Yaressa memanggil namanya membangunkan Bara yang tenggelam dalam pikiran tentang Kanaya.

"Iya,"

"Apa,,,, aku boleh melanjutkan kuliah?"

Bara melirik Yaressa yang masih meringkuk membelakanginya di atas ranjang sana.

"Kau ingin kuliah?"

"He em, aku sudah mendaftar dan melakukan tes, tinggal menunggu hasil akhir."

"Di mana?"

"Universitas kabupaten."

"Apa kamu sudah memikirkannya matang?"

"He em, tentu."

Hati Yaressa berdebar, takut jika Bara tidak akan mengijinkannya.

"Kalau begitu belajarlah dengan sungguh-sungguh."

Nyesss.

Senyum Yaressa mengembang, Bara mengijinkannya.

"Kakak akan memberikan kamu uang setiap bulannya sebagai uang nafkah, dan juga uang kuliah kamu,"

'DEG.'

"Bukan itu maksud aku, Kak. Aku mendaftar jalur beasiswa, dan aku masih memiliki sedikit simpanan perhiasan Mama, aku juga akan bekerja paruh waktu untuk biaya kuliahku, jadi,"

"Berhenti bicara ngawur, kamu itu istriku, sudah menjadi tanggung jawabku untuk memenuhi semua kebutuhanmu, termasuk uang kuliah, jangan aneh-aneh pakai mau kerja segala, kalau mau kuliah, kuliah saja dengan benar, dan," kalimat Bara menggantung.

"Dan?" lirih Yaressa.

"Dan jaga diri selama tidak bersamaku, aku tahu, kita tidak saling mencintai, tapi kehormatanku sebagai seorang suami adalah tergantung perilaku kamu sebagai seorang istri."

Yaressa mencoba mencerna kalimat Bara, dia mengerti dan dia menyanggupi.

"Terimakasih," ucap Yaressa tulus.

"Tidurlah, selamat malam."

"Selamat malam."

Bara kembali menatap genting kamar Yaressa, dan lagi-lagi pikirannya kembali pada sosok Kanaya, entah apa nanti yang akan terjadi di antara mereka jika Kanaya mengetahui pengkhianatan yang Bara lakukan.

Bara meminta Kanaya menunggu, namun kini ia malah berstatuskan suami orang. Yang jelas, Bara tidak akan sanggup jika Kanaya sampai meninggalkannya, mengakhiri hubungan mereka. Karena Bara sangat mencintai Kanaya. Hanya Kanaya.

***

Malam semakin larut, dan seperti malam-malam sebelumnya, Yaressa kesulitan untuk tidur, sebab saat ia mulai memejamkan mata, maka peristiwa naas itu kembali terbayang, dan juga mimpi buruk Arshaka yang mengejarnya seolah ingin menghabisinya terus hadir menghantui lelapnya. Membuat Yaressa enggan, bahkan takut untuk tidur jika bukan karena saking ngantuknya.

Terdengar dengkuran halus dari Bara, pria itu telah lelap, Yaressa merubah posisi tidurnya, cukup pegal ketika ia harus berbaring menyamping pada satu posisi tanpa pergerakan.

Di bawah Bara sudah tertidur dengan posisi membelakangi ranjang, Yaressa hanya dapat melihat punggung Bara, benar, dia pria dewasa yang tinggi dan besar, lebih gagah dari Papahnya, apalagi dibanding Arshaka yang baru lulus SMA.

'Drrttt,,,, drrttt,,,,'

Sebuah ponsel di atas meja bergetar dengan layar menyala. Itu ponsel Bara.

Yaressa melongok melihat ponsel itu, mungkin saja seperti cerita di novel ia akan melihat kekasih suaminya menelepon malam hari, tapi Yaressa salah.

Mayor Calling,,,,

"Kak, kak Bara!" Yaressa berusaha membangunkan Bara, dengan memanggil-manggil namanya berulang, namun Bara tak bergeming.

"Kak Bara!" sekali lagi Yaressa memanggil, dan tetap tak berhasil.

'Apa aku harus menyentuhnya?'

Yaressa hendak mengulurkan tangan untuk menggoyang bahu Bara, namun Bara tiba-tiba bergeliyat, dan Yaressa reflek mundur, kembali berbaring membelakangi Bara, menarik selimut menutup seluruh tubuhnya sampai kepala.

Rupanya Bara mulai mendengar getaran ponselnya. Bara bangun, melihat Yaressa yang ia kira masih tidur.

"Hormat, Kapten Bara Ady Pratama."

",,,,,"

"Baik, siap laksanakan. Hormat."

Yaressa masih terus diam dengan posisi yang sama.

"Yaressa, Yaressa!" Bara mencoba membangunkan Yaressa, namun Yaressa memilih untuk tetap diam berpura-pura tidur.

Setelah itu Bara menghubungi seseorang, dan Yaressa tetap mendengarkan dalam diam.

"Fiki,"

",,,,,,"

"Kita berangkat malam ini."

",,,,,"

Mata Yaressa melebar, berangkat? Itu artinya dia akan pergi?

Bara mematikan sambungan teleponnya, lalu kembali menghubungi seseorang.

"Bu, Bara harus berangkat tugas, Bara ingin menitipkan Yaressa, tolong ibu datang menjemput Yaressa besok, tapi, jika Yaressa ingin tetap di rumah Lek Nasir, tidak apa-apa. Biarkan saja dia di sini semau dia,"

",,,,,,"

"Oh ya, Bu. Yaressa meminta ijin untuk kuliah, Bara sudah mengijinkannya, jika Yaressa mengalami kesulitan selama Bara bertugas, Bara memohon bantuan ibu,"

",,,,"

"Terimakasih, Bu. Maaf harus menyulitkanmu."

Hati Yaressa bergetar, Bara memperlakukannya dengan baik, padahal jelas-jelas dia mengakui memiliki wanita lain yang ia cintai. Dan mereka tahu, pernikahan mereka itu karena dasar keterpaksaan.

Setelah itu Yaressa mendengar Bara membuka jaket dan keluar dari kamar, pintu ditutup rapat.

'Apa dia sudah pergi?' Yaressa mendengar suara motor menyala, itu pasti motor Bara. Dan dia tidak tahu harus melakukan apa. Jadi Yaressa hanya diam hingga kantuk menyerang membawanya terlelap dalam tidur.

***

Pagi terlewati, Yaressa bangun saat siang menjelang, kondisinya sudah membaik. Yaressa pergi mandi dan menemui Mak Eva yang membungkus kerupuk di dapur setelah rapi.

"Mak," sapa Yaressa mendudukkan diri pada bangku kecil buatan Lek Nasir yang terbuat dari kayu, tingginya hanya satu jengkal dari tanah.

"Gimana badan kamu, Ca? Sudah baik?"

"Sudah, Mak." Yaressa membantu membungkus kerupuk.

"Lah kamu lak belum makan toh? Makan dulu sana, iki wes dadi urusannya Mak, wong ya tinggal sedikit ae kok. Udah sana, ambil nasi, makanno dulu."

"Nanti, Mak. Belum lapar."

"Oh ya, tadi malam Nak Bara ada panggilan tugas mendadak, katanya kamu sudah coba dibangunin tapi susah, jadi Nak Bara hanya pamit sama Lek Nasir sama Mak. Katanya hari ini Ibu mertuamu akan datang menjemputmu, mau dibawa pulang ke rumah mereka."

"Itu kalau Yaressanya mau, Mak!" sahut Bu Ayumi yang sudah berdiri di ambang pintu dapur.

"Loh, Bu Ayumi sudah datang toh?" Mak Eva bergegas bangun, berdiri mengelap tangan lalu bersalaman dengan Bu Ayumi.

"Saya panggil-panggil dari depan nggak ada jawaban, tahunya lagi ngobrol di sini,"

Yaressa menyalim khidmat punggung tangan Bu Ayumi, mereka lantas menuju ruang tamu, di sana sudah ada Pak Hardhana yang duduk di tikar lantai ruang tamu rumah Mak Eva.

Sama seperti yang dilakukan Yaressa pada Bu Ayumi, Yaressa pun mencium khidmat punggung tangan Pak Hardhana.

***

"Lek Nasir di mana, Mak?" tanya Pak Hardhana basa-basi.

"Lek Nasir ke sawah, Pak. Ngasih pupuk jagung,"

"Wah,,,, nandur jagung,"

"Iya, Pak." tawa ringan terdengar bersahutan.

Mereka terus ngobrol sampai pada tujuan awal Pak Hardhana dan Bu Ayumi mendatangi rumah Mak Eva.

"Jadi, gimana Sa? Kamu bersedia ikut tinggal di rumah kami?" tanya Bu Ayumi pada Yaressa.

Jantung Yaressa berdetak lebih cepat, tinggal di rumah Pak Hardhana yang juga menjadi rumah Arshaka? Bukankah nanti dia akan melihat banyak hal tentang Arshaka yang akan membuat batinnya terluka? Meski saat ini Arshaka tengah berada di Amerika.

"Saya,,,,"

Yaressa nampak berpikir.

"Saya akan tinggal di asrama, Bu. Saya akan kuliah di kabupaten,"

DEG

Pak Hardhana, Bu Ayumi dan Mak Eva saling pandang terkejut atas jawaban yang Yaressa berikan.

***

1
Nona Aan Chayank
sedih banget jadi Yaressa. 😥
Semoga author cepat nulis lagi dn buat Bara menyesali sikap dn kata2nya pada Yaressa
Teguh Sayangnya
lanjut
Atik Nurdiana
ayo dong kak up lagi,,jgn lama"
Sue ciutt..
Bila sambungan ceritanya...
Frida Fairull Azmii
semoga author nya dalam keadaan sehat dan karena Lg sibuk yaa...
jgn karena apa"..khawatir jg karena gda kabar Lg dri novel nya
Erlin Novianti Ahmad
3bln..nggk up.. up... digantung trs.. smoga authornya sehat selalu jd bsa berkarya lagi... aamiin...
andima
apa thor nya sakit yaa
atau gmna, gaa ada kejelasan novel ini
padahal udah ditunggu tiap hari kelanjutan nya
klo thor nya sakit, semoga lekas sehat yaa thor, qta semua menunggu karya mu
semangat 💪💪💪
andima: iyaa
kan kesel yaaa , udah terlanjur gini
setengah jalan
paling ngga kasih lha pnjelasan ke qta2
total 2 replies
Ridha Anugrah
Ayo dong Thor up lagi ceritanya😭😭😭😭😭😭
Erlin Novianti Ahmad
up.. up. up.. sdh 2bln nih..
Erlin Novianti Ahmad
up.. up. up.. sdh 2bln night..
Ridha Anugrah
ayo dong lanjut lagi Thor lagi seru-serunya nihh
Mohammad Badrul
baik
Mohammad Badrul
lanjutan
Mohammad Badrul
lanjutan donk
Emelia Franciska Silalahi
aduhhhh.....digantung
Nona Aan Chayank
kenapa gk dilanjutkan up ya??
padahal ceritanya sangat bagus,,,
konflik nya lain daripada yang lain,,,
Emelia Franciska Silalahi
yachh...digantung..
Emelia Franciska Silalahi
lama menunggu tak kunjung up..
Emelia Franciska Silalahi
udah ga up lg yach thor
Emelia Franciska Silalahi
belom up ya thor...ceritanya bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!