NovelToon NovelToon
Kania (Kembalinya Wanita Yang Ternoda)

Kania (Kembalinya Wanita Yang Ternoda)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. ‎Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.

‎Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.

‎Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.

‎Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18

‎Di halaman belakang yang luas dan terbuka, di bawah udara pagi yang dingin menusuk tulang, Victor sudah berdiri menunggu dengan wajah tanpa ekspresi, memegang arloji di tangannya.

‎‎"Mulailah. Lari keliling kawasan ini sepuluh putaran. Jika belum selesai dalam waktu empat puluh menit, tambah lima putaran lagi," perintahnya singkat, suaranya tak terpengaruh oleh embun yang membasahi bahunya.

‎‎Kania mulai berlari. Napasnya terengah-engah saat ia berhasil melewati satu putaran, dadanya terasa sesak, kakinya terasa berat seperti terikat timah. Keringat membasahi wajah dan tubuhnya, namun setiap kali ia melambat atau berhenti sejenak, suara dingin Victor langsung menyusul dari belakang.

‎‎"Lebih cepat! Berhenti berarti menambah hutangmu. Apakah kau ingin selamanya menjadi beban?"

‎‎Kania hanya mengangguk kecil sambil terus berlari. Setelah menyelesaikan larinya, kemudian dilanjutkan dengan latihan ketahanan tubuh, mengangkat beban ringan, dan gerakan kelenturan. Saat otot-ototnya terasa kaku dan nyeri tak tertahankan, ia terjatuh berlutut di tanah, terengah-engah dengan air mata yang menetes bukan karena sedih, melainkan karena rasa sakit yang membakar.

‎‎"Aku… tidak sanggup lagi…" rintihnya lemah.

‎‎Victor berlutut sebentar di hadapannya, tatapannya tetap tajam dan dingin, tidak ada bantuan tangan yang terulur.

‎"Sanggup atau tidak sanggup bukan pilihanmu. Itu kewajiban. Tubuhmu terasa sakit? Itu tanda ia mulai membangun otot baru. Pikiranmu lelah? Itu tanda ia mulai terlatih kuat. Kalau kamu berhenti sekarang, kamu akan kembali menjadi wanita lemah yang bisa diinjak-injak siapa saja. Apakah itu yang kamu inginkan?"

‎‎Ia berdiri kembali dan melanjutkan dengan nada tegas.

‎"Bangun. Berjalanlah sampai ke ruang makan, lalu lanjutkan membaca berkas keuangan sampai kamu paham setiap angka dan istilahnya."

‎‎-

‎-

‎‎Kania sudah duduk berjam-jam meneliti dokumen, menghitung neraca, mempelajari strategi pasar, dan menghafal nama-nama perusahaan serta tokoh penting. Matanya terasa perih, kepalanya berdenyut berat, namun Victor berdiri di sampingnya, memeriksa setiap baris tulisan dengan teliti. Setiap kali ada kesalahan sekecil apa pun, ia langsung mencoretnya dengan pena tinta merah dan mengumpat dengan nada dingin.

‎‎"Bodoh. Konsentrasimu masih setipis kertas basah. Ulangi lagi dari awal sampai tidak ada satu angka pun yang salah. Ingat, di dunia usaha, satu kesalahan kecil bisa menghancurkan seluruh kekayaan. Jika kau ingin membangun kekuatan, kau harus belajar menjadi lebih teliti daripada orang lain."

‎‎Kania mengangguk pelan tanpa menoleh, meski rasa lelah dan perih di matanya semakin tak tertahankan. Ia menyeka keringat dingin di pelipis dengan punggung tangan, lalu menghapus hitungan yang dicoret merah itu dengan hati-hati. Suara Victor yang tajam dan dingin seolah menusuk langsung ke tulang belakangnya, namun ia tak berani mengeluh sedikit pun. Ia tahu, setiap teguran itu adalah langkah kecil menuju kesiapan yang sesungguhnya.

‎‎"Baik, Tuan," jawabnya lirih namun tegas, suaranya sedikit serak setelah berjam-jam tak beristirahat. "Aku akan perbaiki."

‎‎Ia kembali menunduk menatap lembaran kertas, menyusun kembali angka demi angka dengan ketelitian yang dua kali lipat lebih teliti dari sebelumnya. Jari-jarinya menelusuri setiap baris, membandingkan catatan dengan dokumen pendukung, memastikan tak ada selisih sedikit pun. Kepalanya terasa berdenyut hebat, matanya berair karena kelelahan, namun ia mengeratkan gigi dan terus melanjutkan.

‎‎Victor tetap berdiri diam di sampingnya, tak bergerak, tak menawarkan bantuan, namun tak juga pergi. Matanya meneliti setiap gerakan Kania, mencatat setiap kali tangan wanita itu terhenti ragu, atau saat ia harus berkedip berkali-kali untuk memfokuskan pandangan.

‎‎"Jangan biarkan rasa lelah menguasaimu," ucapnya tiba-tiba, suaranya tak lagi menegur namun tetap menekan. "Mereka yang akan kamu hadapi takkan memaafkan kesalahanmu hanya karena kamu lelah. Jika kamu ingin menang, kamu harus bekerja lebih keras, lebih teliti, dan lebih tangguh dari mereka."

‎‎Kania menarik napas panjang, membuang rasa berat itu perlahan. Ia mengangkat kepalanya sejenak, menatap ke arah jendela hanya untuk melihat cahaya matahari diluar sana, lalu kembali menunduk dengan tekad yang makin membara.

‎‎"Aku tahu," bisiknya pada dirinya sendiri. "Aku harus lebih kuat dari ini."

‎‎"Bagus." Victor menutup berkas yang dipegangnya perlahan, lalu menatap Kania lekat-lekat sejenak. "Aku akan keluar sebentar untuk menelepon. Teruskan pekerjaanmu."

‎‎Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan melangkah keluar ruangan, pintu ditutup perlahan namun berbunyi nyaris tak terdengar.

‎‎-

-

‎-

‎‎Sinar matahari sore menyinari taman kota yang mulai sepi dengan cahaya keemasan yang suram. Luna berdiri di bawah pohon beringin tua yang rindang, tangannya mencengkeram gagang koper dengan kuat. Jantungnya berdegup kencang, campuran rasa takut, jijik, dan amarah yang tertahan.

‎‎Tak lama kemudian, Bian muncul, berjalan dengan santai seolah yakin gadis itu pasti akan menuruti kemauannya. Ia berhenti tepat di hadapan Luna, menatap koper itu dengan tatapan serakah.

‎‎"Kamu membawa apa yang aku minta?" tanyanya singkat, tanpa basa-basi.

‎‎Luna menyodorkan koper itu kasar ke arahnya, wajahnya pucat namun matanya menatap tajam penuh kebencian.

‎‎"Ini seratus juta yang kamu inginkan!" suaranya bergetar namun tegas. "Ambil dan pergi! Lenyaplah dari hadapanku dan jangan pernah berani muncul lagi di depanku, jangan pernah menghubungiku lagi, atau kamu akan menyesal seumur hidupmu!"

‎‎Bian menyambar koper itu dengan cepat, membukanya sedikit untuk memastikan isinya benar-benar berupa tumpukan uang tunai. Senyum puas terukir di wajahnya saat melihat lembaran uang yang berjejer rapi. Ia menutup kembali kopernya, lalu menatap Luna dengan tatapan meremehkan.

‎‎"Tenang saja, selama kamu menepati janjimu, aku tidak mencari masalah dan tidak akan kembali," ucapnya sinis. "Tapi ingat... jangan pernah berani melawan, karena aku masih menyimpan salinan foto dan video kita di tempat yang aman."

‎‎Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan pergi menjauh dengan langkah cepat, membawa lari beban berat yang selama ini menghimpit dada Luna.

‎‎Setelah menatap punggung Bian yang menjauh, Luna menghela napas panjang. Ia segera merogoh tasnya, menarik kacamata hitam berbingkai tebal lalu memakainya hingga menutupi hampir separuh wajahnya. Langkah kakinya dipercepat menuju mobilnya yang terparkir di sepi jalan, ia masuk dengan tergesa-gesa, membanting pintu hingga berbunyi nyaring, lalu memutar kunci kontak berkali-kali sebelum mesin akhirnya menderu keras. Tanpa menoleh lagi ke belakang, ia menginjak gas dalam-dalam, melesat meninggalkan taman itu.

‎‎Sementara itu, Bian masuk ke dalam mobil miliknya, ia melempar koper berisi uang itu ke kursi penumpang, lalu menepuk-nepuknya sambil tertawa puas.

‎‎"Si bodoh, dia pikir dengan memberi uang ini semuanya selesai?" gumamnya sinis, menyalakan mesin yang berbunyi kasar, lalu melaju santai menjauh.

‎‎Perjalanan berlanjut hingga memasuki jalan pinggiran yang sepi, diapit oleh ladang kosong dan pepohonan rimbun, jauh dari jangkauan pemukiman dan lampu jalan. Tiba-tiba, tanpa peringatan, sebuah SUV besar melesat dari arah persimpangan depan, memotong jalan tepat di hadapan mobil Bian hingga ia terpaksa menginjak rem sekuat tenaga. Ban berdecit keras meninggalkan jejak hitam di aspal, membuat tubuhnya terlempar ke depan. Belum sempat jantungnya berdetak kembali normal, mobil kedua sudah menghadang dari arah belakang, menutup jalan mundurnya.

‎‎Pintu-pintu kedua mobil itu terbuka serentak. Empat pria bertubuh kekar berjaket kulit hitam turun dengan langkah tegas, wajah mereka dingin tanpa ekspresi. Bian menatap mereka lewat kaca jendela, keringat dingin seketika membanjiri tubuhnya. Ia mencoba memutar setir, menginjak gas berharap bisa menabrak jalan samping, namun mobilnya terhenti, ban belakang sudah terjepit batu besar yang tak ia lihat.

‎‎"Jangan ada yang berani mendekat!" teriaknya panik saat salah satu pria mendekat, memegang besi pipa di tangan. "Jika kalian berani menyentuhku, aku akan melaporkan kalian ke polisi!"

‎‎Belum selesai kalimatnya, besi itu menghantam kaca jendela sampingnya dengan keras hingga pecah berantakan. Angin malam dan debu seketika menyergap masuk. Tangan kasar segera mencengkeram kerah bajunya, menariknya paksa keluar hingga terjatuh keras ke aspal kasar.

‎‎"Apa masalah kalian?! Aku tidak punya musuh!" teriaknya meronta, menendang kaki ke segala arah, mencoba memukul dengan tangan yang bebas. "Lepaskan aku! Aku punya uang, ambil saja kopernya tapi jangan sakiti aku!"

‎‎Salah satu pria menekan dadanya dengan sepatu bot berat hingga napasnya terasa sesak. "Kami tidak butuh uangmu," ucapnya dengan suara rendah dan berat. "Kami hanya ditugaskan untuk membawamu ke hadapan bos kami."

‎‎Bian terbelalak ngeri. "Ini... ini perintah siapa? Luna? Atau ibunya?!"

‎‎Tak ada jawaban. Salah satu pria menyodorkan kain tebal ke mulutnya, menekannya kuat hingga teriakan meredam menjadi gumaman tak jelas. Tangan dan kakinya dililit tali tebal dengan simpul yang tak mungkin ia lepas sendiri. Dalam perjuangan terakhirnya, ia menendang betis pria di dekatnya, namun hanya mendapat tamparan keras yang membuat kepalanya pening dan pandangannya kabur. Dalam hitungan detik, tubuhnya diangkat seperti karung goni, dilemparkan kasar ke kursi belakang mobil gelap yang jendelanya tertutup rapat tirai gelap.

‎‎Pintu dibanting tertutup. Mobil itu melaju kencang membelah kegelapan, menjauh dari jalan utama menuju tempat yang tak seorang pun tahu. Sementara itu, salah satu pria yang tersisa berjalan menuju mobil Bian, membukanya dengan kunci duplikat yang sudah disiapkan, menyalakan mesin, lalu mengemudikannya menjauh ke arah jurang yang dalam.

-

-

-

Bersambung...

1
MamDeyh
Dihh Hariss... Lakik pengecut.. 😒
Rizky Manik
ternyata mama Haris juga kek Dajjal ya🤣
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
Rizky Manik
bukan Kania memang lun tapi kanaya😏
Rizky Manik
bukan Kania memang lun tapi kanaya😏
〈⎳ FT. Zira
kamu nanyaaa/Speechless/
〈⎳ FT. Zira
bukan hanya mirip, ya emang Kania🤧
〈⎳ FT. Zira
bentar lagi juga kamu bakal liat, siapin jantung aja
〈⎳ FT. Zira
mana mau Vic deketin kalo hatinya dah tertanam buat wanita lain.
〈⎳ FT. Zira
melihat, tapi gak dianggap ada🤣
partini
akhir nya bertemu
Agunk Setyawan
kelamaan x mau bongkar aja nunggu ber bab" /Pooh-pooh/ thor
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
apa ini emang rencana ibu tirinya buat nyingkirin kania 😠
Rizky Manik
lanjut thor🤭
Rizky Manik
tik tak tik tok
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
〈⎳ FT. Zira
panggungmu belum tersedia ternyata bapak🤣
〈⎳ FT. Zira
bisa pakai banget, buktinya kamu sampe gelisah kan.😏
W I 2 K
bisa dipercepat g sih pestanya...., dlm hitungan 1,2..3 gtu mulai.... 🤣🤣💃💃💃
Rizky Manik
aduh thor GK sabar ni malam dipesta
lanjut dong thor🤭🤭
🔥Violetta🔥: Bentar lagi kak pestanya 😁
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mau nguji buat dijadikan istri sah🤭
〈⎳ FT. Zira
dah telat... hari saat Haris diam saar insiden menimpa Kania, semua dah berakhir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!