NovelToon NovelToon
CAMPUS COUPLE

CAMPUS COUPLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Laila

Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DESEMBER - Part 2

“Ya, udah jalan?” Pagi-pagi Jay menelepon Gea, “aku masih kejebak macet ini,” sambung Jay dari sebrang sana, terdengar agak gusar.

"Udah, Ay. Aku dianter sama Abang kok ini,” jawab Gea dengan nada suara yang terdengar lemas dan sengau.

Efek kehujanan semalam langsung membuat badannya meriang.

“Syukur deh kalo gitu. Maaf ya, aku gak bisa jemput. Kamu ati-ati ya, Ya.”

Begitu sambungan telepon dimatikan oleh Gea, suara ledekan yang berat dan empuk langsung

menggema di dalam mobil.

“Gaya banget anak kecil nih. Ay.. ay.. segala,” tawa Jamal pecah, melirik adik bungsunya jahil. “Abang, ih!” Gea mendorong bahu kakaknya, sementara kedua pipi yang bersemu merah. “Abang nanti jemput gak?”

“Kelar jam berapa hari ini? Balik malem lagi? Lo udah lemes gitu abis keujanan semalem,” ujar

Jamal penuh perhatian.

Gea menggeleng pelan, “gak ada rapat kok hari ini. Paling entar abis ujian aku balik. Mau

nyiapin buat besok presentasi.”

“Ini ujiannya lama gak? Kalo gak lama, gua tunggu di café depan kampus lo aja daripada bolak balik.”

“Cuma satu matkul. Tapi sampe jam 1 siang,” sahut Gea.

Jamal melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 09.20.

“Ya udah, gue tunggu di café aja ya. Nanti kabarin kalo udah beres, langsung abang jemput,” kata Jamal.

“Iya, Bang.”

“Bilang ke kahim kamu, lagi ujian gini jangan rapat terus,” omel Jamal, “kamu begadang terus

jadinya,” lanjutnya.

“Nasib anak arsitek, Bang, pasti begadang-begadang, udah makanan hari-hari aku,” keluh Gea pasrah.

Mendengar jawaban adiknya, tangan kiri Jamal terulur mengusap puncak kepala adiknya lembut, “kasian banget adeknya Abang,” ujarnya disusul tawa ringan.

Jamal memberhentikan mobinya di depan lobi. Dengan gesit, dia membuka pintu kemudi

sambil menggenggam payung di tangan kanan. Setengah berlari, Jamal membukakan pintu untuk adiknya. Ia memayungi sekaligus merangkul bahu Gea erat-erat, memastikan tidak terkena hujan.

“Semangat ujiannya.”

“Iya. Makasih ya, Abang.”

Gea melambaikan tangan dengan senyum tipis, sementara Jamal berdiri di teras lobi sesaat sesaat sebelum berlari kecil menuju mobilnya dan pindah menuju café.

Tinggal 2 mata kuliah lagi. Hari terakhir adalah perencanan dan perancangan atau yang biasa mereka sebut Studio. Di hari itu, seluruh mahasiswa wajib memajang hasil tugas mereka dalam sebuah pameran besar yang disebut kolokium. Mulai dari konsep, lembaran gambar, hingga maket akan di pamerkan di aula besar Gedung Fakultas Teknik.

Ujian Studio saat UAS sebenarnya berlangsung dua kali. Pertama, presentasi di hadapan dua dosen utama mengenai bab satu hingga konsep desain. Kedua adalah saat kolokium besok, di mana dosen penguji, seluruh dosen Arsitektur, hingga praktisi tamu yang diundang jurusan akan berkeliling secara acak untuk melontarkan pertanyaan mendadak. Pertanyaan-pertanyaan di sesi kolokium jauh lebih sulit ditebak, namun masukan baru dari para ahli sering kali membuat mahasiswa bergumam "Ooo..." menyadari celah di desain mereka.

Sedangkan untuk hari ini adalah ujian manajemen bangunan, selesai. Wajah mahasiswa arsitektur semester tiga itu sudah tidak ada yang segar. Semua terlihat lelah dengan bayangan hitam di bawah mata mereka. Selesai mereka semua mempresentasikan tugas besar mata kuliah ini, dosen keluar dari ruang kelas. Para mahasiswa menghela napas berat mereka dan menyandarkan tubuh di sandara. kursi yang empuk. Mereka tampak seperti zombi dengan bayangan hitam yang kontras di bawah mata mereka.

“Ya, makan dulu yuk,” ajak Jay yang tiba-tiba sudah berdiri di samping meja Gea. “Muka

kamu udah pucet gitu,” tambahnya.

“Hm? Aku langsung balik deh, Ay. Mau ngerapihin buat besok,” Gea merapikan laptopnya.

“Kamu gak laper?”

Gea menggelengkan kepalanya dengan lemah.

“Ya udah ayo aku anter,” tawar Jay lagi.

“Di jemput kok aku,” sahut Gea seraya menggendong tas ranselnya ke bahu dan berjalan keluar kelas.

Jay mengekor di sampingnya dengan kening berkerut. “Gitu?”

“Maaf ya, Ay. Udah lemes banget aku rasanya, pengen cepet-cepet pulang terus rebahan dulu biar nanti malem lanjut ngerjain buat ujian besok,” kata Gea, mencoba memberikan pengertian agar kekasihnya tidak salah paham. “Iya, Ya, gak apa-apa,” jawab Jay datar.

Mereka berjalan beriringan menyusuri tangga dan lorong hingga di area lobi. Di sana, langkah Jay seketika terhenti saat mendapati seorang pria yang familiar sedang menunduk menatap ponsel ditangannya. Pria berkacamata yang kemarin merangkul Gea di lapangan lari.

Mendengar langkah kaki mendekat, kepala Jamal terangkat dari layar ponselnya. Ia segera

mengantongkan ponselnya ke saku dan mendapati adiknya berjalan ke arahnya.

“Pusing?” tanya Jamal begitu melihat wajah sayu Gea.

Gea menganggukkan kepalanya, kemudian berkata, “ngantuk, laper, kepala aku pusing, lemes… tapi presentasi besok belom selesai,” keluhnya manja, langsung menyandarkan diri di rangkulan lengan sang kakak tanpa beban. Mata Jay menyalang seketika melihat pemandangan itu. Darahnya berdesir panas. Jamal yang menyadari kehadiran Jay pun langsung menatap pria itu dengan santai. Tatapan mereka bertemu di udara.

“Temennya Gea?” tanya Jamal berpura-pura tidak tahu, meski sebenarnya ia sudah mengenali wajah Jay dari foto yang pernah diperlihatkan Gea di rumah.

“Pacarnya,” potong Jay dengan nada ketus dan tegas. Ia melangkah maju, mengulurkan tangannya dengan rahang mengeras. “Jay. Lo siapanya Gea? Nempel banget gue lihat-lihat sama pacar gue,” cecar Jay dengan tatapan menyalak, penuh intimidasi yang kentara.

Senyuman miring terlukis di wajah tampan Jamal. Ia menerima uluran tangan Jay dengan cengkraman yang kokoh.

“Orang yang udah kenal Gea dari dia kecil,” jawabnya santai, enggan menjabarkan statusnya.

Jay beralih menatap Gea dengan sorot mata menuntut penjelasan.

“Ya, dia siapa?”

“Apa sih, Aaay…,” sahut Gea lemas. Kepalanya sudah sakit, dia tidak punya tenaga untuk

menghadapi cemburu buta sang kekasih saat ini.

“Gak usah cemburu sama Bang Jamal,” lanjutnya dengan suara pelan, mencoba menenangkan. Gea kemudian berdiri tegak di samping abangnya setelah Jamal melepaskan rangkulannya.

“Abang? Abang ketemu gede maksud kamu?!” sambar Jay, mulai kehilangan kendali atas

emosinya. Nada suaranya meninggi. Dia tahu kekasihnya itu adalah perempuan supel yang ramah pada siapa saja. Tapi melihat bagaimana manjanya Gea dan bagaimana dia membiarkan pria asing itu merangkul tubuhnya membuat harga diri Jay terinjak-injak.

Mendengar bentakan itu, senyum di wajah Jamal lenyap seketika. Atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah mencekam. Jamal melangkah maju, memangkas jarak di antara

mereka. Postur tubuhnya yang sepuluh senti lebih tinggi, membuat Jay terpaksa mendongak. Jamal menatap lurus ke dalam manik mata Jay dengan pandangan yang dingin.

“Jangan pernah lo naikin nada suara lo dan kasar sama Gea kalo lo gak mau berhadapan sama gue,” bisik Jamal. Suaranya pelan, namun sarat akan ancaman yang mutlak dan berbahaya. Jamal bisa melihat dengan jelas bagaimana kepalan tangan Jay di sisi tubuhnya mengeras hingga buku-buku jarinya memutih, lengkap dengan otot rahang yang mengencang menahan amarah.

Namun, Jamal hanya memberikan senyuman tipis penuh kemenangan, lalu melangkah mundur. Ia kembali merangkul bahu adiknya. “Yuk, balik, Dek.”

“Ay, aku pulang duluan ya. Kamu juga langsung pulang dan kabarin aku,” pamit Gea, cemas situasi akan semakin runyam di tambah kepalanya sudah sangat pusing.

Jay tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kaku, menatap nanar lambaian tangan Gea yang perlahan menjauh dan masuk ke dalam mobil Jamal. Setelah mobil itu hilang dari gerbang, Jay mengacak rambutnya kasar membuat tatanannya berantakan. Ia mengerutuki kebodohannya, namun di saat yang sama emosinya masih membuncah hebat di dada. Rasanya ia ingin berteriak saat itu juga agar dunia tahu bahwa ia tidak sedang gila karena mencemburui kedekatan yang tidak wajar itu.

Malam harinya, setelah sempat tidur beberapa jam dan meminum obat penurun demam, kondisi Gea berangsur membaik. Teringat akan kekasihnya, ia segera mengirimkan pesan untuk

mengabari Jay.

Namun, alih-alih sambutan suara lembut penuh perhatian yang biasa ia terima, Gea justru disambut oleh suara Jay yang teramat dingin dan ketus di ujung telepon. Malam itu, tanpa aba-aba, Jay langsung menumpahkan amarahnya. Ia memarahi Gea habis-habisan karena dianggap terlalu memberikan ruang bagi cowok lain, dan menegaskan bahwa tidak seharusnya Gea membiarkan laki-laki mana pun merangkul tubuhnya.

Gea memilih diam, menarik napas dalam-dalam, dan membiarkan Jay menumpahkan seluruh unek-unek serta rasa frustrasinya sampai tuntas. Barulah setelah emosi Jay agak mereda, Gea membuka suara dengan nada sedatar mungkin.

“Dia itu Bang Jamal, Ay. Kakak kandung aku. Anak kedua Ibun sama Papa,” jelas Gea tenang,

namun ada nada kecewa yang terselip di sana. “Dia itu kerja di kapal pesiar dan baru pulang. Makanya kamu belum pernah ketemu dia sebelumnya. Bukan abang-abangan atau 'abang ketemu gede' yang kamu tuduh tadi."

Keheningan yang mencekam mendadak merayap di seberang saluran telepon. Jay terbungkam total. Fakta itu menghantam telak egonya hingga hancur berkeping-keping. Namun, alih-alih melunakkan suaranya, meminta maaf atas tuduhan kasarnya, atau menyesali bentakannya di lobi kampus tadi siang, Jay justru mengeraskan egonya yang telanjur terluka.

“Ya pokoknya... jangan pernah kamu sedekat itu lagi sama cowok lain, Ya. Gak suka aku,” potong

Jay final, suaranya terdengar kaku dan dingin.

Setelah mengucapkan kalimat itu, Jay langsung mematikan sambungan telepon. Meninggalkan

Gea yang termangu menatap layar ponselnya di dalam kamar, menyadari untuk pertama kalinya

bahwa hubungan yang baru seumur jagung ini ternyata menyimpan celah yang begitu rumit dan melelahkan.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!