Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Bayangan Yang Terus Muncul
Di saat Amora menghabiskan waktunya seorang diri di apartemen, suasana di kantor pusat Askara Group justru dipenuhi kesibukan. Aktivitas para karyawan berlangsung seperti biasa. Suara langkah kaki, dering telepon, dan percakapan antar divisi berpadu menjadi irama khas hari kerja.
Di salah satu ruangan paling luas di lantai eksekutif, Atharazka sendiri tampak tenggelam dalam pekerjaannya. Duduk tegak di balik meja kerja, ia menatap layar laptop dengan penuh konsentrasi. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, sesekali berhenti untuk memeriksa laporan keuangan yang terbuka di monitor kedua. Raut wajahnya tetap tenang, dingin, dan sulit ditebak seperti biasanya.
Meski begitu, kehadirannya di kantor pagi itu menjadi bahan pembicaraan di beberapa sudut ruangan.
"Pak Razka udah masuk kerja lagi? Bukannya baru nikah beberapa hari yang lalu?" bisik salah seorang staf kepada rekannya.
"Iya, aku juga kaget. Aku kira beliau masih cuti atau lagi bulan madu," sahut yang lain dengan suara pelan.
Obrolan itu langsung terhenti begitu Atharazka melintas di koridor. Tatapan datarnya sudah cukup membuat semua orang kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Bagi Atharazka, komentar orang lain bukan sesuatu yang perlu ia pedulikan. Selama pekerjaannya belum selesai, ia tidak pernah merasa memiliki alasan untuk berlama-lama meninggalkan kantor.
Namun, di balik ekspresinya yang tenang, pikirannya sesekali terpecah oleh sesuatu yang tidak seharusnya mengganggu fokusnya.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan di pintu membuat pandangannya beralih dari layar laptop.
"Masuk," ujarnya singkat.
Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan Sesil yang melangkah masuk sambil membawa tablet berisi jadwal kerja.
"Pak Razka, ini sudah hampir jam istirahat makan siang. Apa Bapak ingin saya pesankan makan siang seperti biasa?" tanyanya sopan.
Atharazka mengalihkan pandangan ke jam digital di sudut monitor, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Pesankan sushi. Minumnya iced americano," jawabnya ringkas.
"Baik, Pak."
Sesil segera mencatat pesanan itu, lalu menganggukkan kepala sebelum keluar dan menutup pintu kembali.
Ruangan kembali lengang. Hanya terdengar suara pendingin ruangan serta bunyi ketikan yang kembali memenuhi ruang kerja.
Atharazka menggerakkan mouse, tetapi jemarinya tiba-tiba berhenti. Tanpa alasan yang jelas, bayangan Amora melintas begitu saja di benaknya.
Alisnya sedikit berkerut.
"Kenapa malah kepikiran dia?" gumamnya lirih.
Ia mengembuskan napas pelan, lalu menggeleng kecil seolah ingin membuang pikiran yang dianggapnya tidak penting.
"Fokus kerja Atharazka," ucapnya pada diri sendiri.
Sesaat kemudian, konsentrasinya kembali tertuju pada tumpukan laporan di layar laptop. Bunyi ketikan kembali memenuhi ruangan, sementara sosok Amora perlahan dipaksanya menghilang dari pikirannya.
Menjelang tengah hari, Amora mematikan televisi yang sejak tadi hanya menjadi suara latar. Ia melirik jam di dinding, lalu tanpa sadar mengusap perutnya yang mulai meminta diisi.
"Hmm... lapar juga."
Pandangannya sempat mengarah ke dapur yang baru saja ia rapikan. Berbagai bahan makanan sudah tersedia di dalam kulkas, tetapi keinginan untuk memasak sama sekali belum muncul.
"Kalau masak sekarang, nanti harus beberes lagi. Ribet," gumamnya pelan. "Pesan makanan online juga pasti nunggu. Mending turun aja."
Akhirnya ia memutuskan makan siang di area food court apartemen. Seingatnya, saat pertama kali datang, ia sempat melihat kalau di lantai dasar ada food court yang mana disana tersedia berbagai pilihan makanan yang rasanya cukup menggugah selera.
Setelah memastikan ponsel, dompet, dan kartu akses sudah dibawa, Amora keluar dari unit apartemen lalu berjalan menuju lift.
Selama lift bergerak turun, matanya sesekali menangkap pantulan dirinya di cermin. Penampilannya cukup sederhana, hanya mengenakan pakaian santai dengan rambut yang kini diikat rapi.
"Ya, lumayan. Masih kelihatan agak rapi," ujarnya pelan sambil terkekeh kecil.
Pintu lift terbuka, disusul hembusan aroma makanan yang langsung menyambut indra penciumannya. Wangi kopi, kuah hangat, dan roti yang baru dipanggang bercampur menjadi satu.
Area food court ternyata cukup nyaman. Ukurannya memang tidak terlalu luas, tetapi desainnya modern dengan pencahayaan hangat dan meja-meja yang tertata rapi. Suasananya juga bersih sehingga membuat siapa pun betah berlama-lama.
Tidak jauh dari sana terdapat sebuah minimarket yang menyediakan berbagai kebutuhan harian. Amora melirik ke arah toko kecil itu.
"Wah, enak juga. Kalau butuh sesuatu mendadak, enggak perlu keluar kompleks apartemen," pikirnya sambil tersenyum.
Ia kemudian menyusuri deretan stand makanan satu per satu. Ada gerai dimsum yang mengepulkan uap panas, kedai bakmi dengan aroma bawang putih yang menggugah selera, stan batagor, roti bakar, hingga bakso dengan kuah yang masih mengepul.
Amora berhenti di depan papan menu.
"Kayaknya bakmi sama dimsum aja, deh," gumamnya setelah beberapa saat mempertimbangkan.
Tidak lama kemudian, ia memesan semangkuk bakmi pangsit rebus dan seporsi dimsum ayam. Sambil menunggu pesanannya selesai disiapkan, ia masuk sebentar ke minimarket dan mengambil sebotol es kopi susu dari lemari pendingin.
"Cocok buat nemenin makan siang," ucapnya lirih.
Beberapa menit berselang, nomor pesanannya dipanggil. Amora membawa nampan berisi makanannya menuju meja yang berada di dekat jendela. Pengunjung food court siang itu tidak terlalu banyak, sehingga suasananya terasa cukup tenang.
Ia meletakkan minumannya, lalu membuka tutup wadah dimsum. Uap hangat langsung mengepul membawa aroma harum yang membuat perutnya semakin keroncongan.
"Harumnya enak banget," katanya sambil tersenyum tipis sebelum mengambil suapan pertama.
Namun, baru saja hendak melanjutkan makan, terdengar suara yang memanggil namanya.
"Amora?"
Ia menoleh dan sedikit terkejut ketika melihat Kevin berdiri beberapa langkah darinya. Pria yang tinggal di unit apartemen lantai lima belas itu tersenyum ramah sambil membawa segelas kopi.
"Mas Kevin," sapa Amora membalas senyum.
"Lagi makan siang sendirian?" tanyanya. "Kalau enggak keberatan, saya duduk di sini ya?"
"Boleh, Mas. Silakan."
Kevin segera menarik kursi di hadapan Amora dan duduk dengan santai. Gelas kopinya diletakkan di atas meja sebelum ia kembali membuka percakapan.
"Kebetulan saya juga baru sempat istirahat. Biasanya jam segini tempat ini lebih ramai."
Amora ikut memperhatikan keadaan sekitar.
"Iya juga. Mungkin kebanyakan penghuni masih di kantor, ya."
"Bisa jadi," sahut Kevin sambil mengangguk. "Ngomong-ngomong, kamu sudah berapa lama tinggal di apartemen ini?"
Amora tersenyum kecil.
"Baru tiga hari, Mas. Jadi masih belum terlalu hafal lingkungan sekitar."
"Oh, pantes. Saya sendiri udah hampir setahun tinggal di sini," katanya ramah. "Kalau nanti butuh bantuan atau mau tanya soal fasilitas apartemen, jangan sungkan tanya ke saya."
"Wah, makasih, Mas. Soalnya aku memang masih banyak yang belum tahu. Bahkan ke food court ini aja baru pertama kali."
Kevin tertawa pelan.
"Nanti coba juga kafe didepan sana. Kopinya lumayan enak. Terus di belakang gedung ada taman kecil. Kalau sore biasanya adem buat jalan santai."
Amora mengangguk antusias sambil sesekali menikmati makan siangnya. Percakapan mereka mengalir ringan, membahas fasilitas apartemen dan berbagai hal sederhana lainnya.
Meski baru bertemu beberapa kali, Amora merasa Kevin adalah sosok yang mudah diajak berbincang. Sikapnya ramah, sopan, dan tidak berlebihan dalam menjaga percakapan.
Tanpa disadari, makan siang yang awalnya terasa akan dilalui dalam kesendirian berubah menjadi jauh lebih menyenangkan. Untuk sesaat, rasa sepi yang sejak pagi memenuhi apartemen seolah ikut menghilang bersama obrolan ringan mereka.
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰